BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 65



..."Aku tidak menyangka akan mendapat kejutan seindah ini darimu. Dari lelaki yang bahkan hanya kuanggap sebagai orang biasa. Di tengah rasa bahagiaku, ada sebersit rasa khawatir. Aku takut bila hal ini akan membuatku sakit suatu saat nanti. Aku takut perhatianmu padaku membuatku berharap bisa memilikimu padahal aku tahu, hatimu untuk siapa. Jika memang tidak ingin hadir, aku mohon ... jangan beriku perhatian lebih karena aku tidak ingin menaruh rasa yang suatu saat hanya akan meninggalkan perih dan lara. ...


..._Jelita Aurellia_...


...****************...


Jeje masih terpaku di tempatnya dalam waktu cukup lama. Ia berusaha mencermati semuanya. Tentang kejutan ulang tahun yang diberikan oleh Ariel. Ia masih belum percaya pada semua ini. 


"Je, kenapa ngelamun?" tanya Ariel. Membuyarkan lamunan Jeje seketika. 


"Em ... enggak papa. Aku cuma kaget aja mendapat kejutan seindah ini," kata Jeje. Binar matanya tidak bisa membohongi bahwa wanita itu sedang merasa sangat bahagia sekarang ini. 


Ariel pun mengajak Jeje untuk duduk agar suasana lebih nyaman dan romantis. Di meja itu sudah tersaji beberapa hidangan dan sebuah kue ulang tahun yang sangat cantik. Memang tidak terlalu mewah, tetapi justru terkesan elegan dan romantis. Apalagi lilin-lilin kecil itu membuat suasana kian romantis dan membuat seolah Jelita Aurellia terhanyut. Namun, sebisa mungkin Jeje menahan perasaannya. 


"Riel, kamu yang siapin semuanya?" tanya Jeje masih belum percaya. 


"Tentu saja. Emang lu pikir siapa lagi?" Ariel justru berdecak. Pertanyaan itu sepertinya merusak suasana romantis mereka. 


"Jangan ngambek gitu. Harusnya aku yang ngambek karena kalian sudah membohongiku. Nesya bilang kamu di rumah sakit, eh ternyata kamu di sini. Aku sampai sangat mencemaskan keadaan kamu," ujar Jeje panjang lebar. 


Ariel tersenyum simpul mendengar ucapan wanita itu. Sungguh, ia merasa bahagia ternyata Jeje sangat mengkhawatirkannya. Itulah hal yang membuat Ariel makin merasa mantap untuk membuka hatinya.


"Gue emang sengaja. Haha." Ariel tergelak, berbeda dengan Jeje yang sudah cemberut. "Gue pengen lihat lu khawatir." 


"Dasar nyebelin!" 


"Biarin." Ariel tiba-tiba menggenggam tangan Jeje sangat erat hingga membuat wanita itu merasa sangat grogi sekaligus bingung.  


"Riel ...." 


"Je, ada yang pengen gue omongin ke elu. Ini hal penting." Ariel menjeda ucapannya untuk mengambil napas dalam. "Gue pengen ngomong tentang perasaan gue dan hubungan kita setelah ini." 


Mulut Jeje memang terbungkam rapat, tetapi jantung wanita itu berdebar sangat kencang bahkan seperti tidak terkendali. Ia bingung sekaligus cemas. Hal penting apa yang membuat Ariel yang biasanya 'slengean' kini tampak serius. 


"Maksud kamu?" tanya Jeje bingung. 


"Ri-Riel, apa ini maksudnya kamu sedang nembak aku?" tanya Jeje berusaha mencerna ucapan Ariel.


Ariel mengangguk lemah. "Bisa dibilang begitu. Gue pengen kita hidup bersama dan hubungan kita lebih dari sekarang ini, Je." 


"Ma-maaf, Riel." Jeje menarik tangannya. Wajah Ariel pun terlihat terkejut meskipun lelaki itu berusaha agar tetap terlihat biasa saja setelahnya. "Aku tidak bisa." 


Sebuah penolakan. 


Ariel sudah menyiapkan hatinya untuk ini. Ia sadar tidak semudah itu menjalin hubungan dengan hati yang baru. Ia sadar bahwa resiko orang mengungkapkan perasaan itu ada dua, diterima atau ditolak. 


"Tidak apa. Gue enggak akan maksa lu buat mau nerima cinta gue. Yang terpenting, sikap lu ke gue enggak pernah berubah, Je." Ariel mendes*hkan napas ke udara secara kasar. 


"Riel, aku sangat menghargai niat baikmu. Tapi, aku ingin jika kita menjalin sebuah hubungan suatu saat nanti, itu karena dari dasar hati dan aku tidak ingin ada bayang-bayang masa lalu di antara kita," ucap Jeje. Menatap Ariel dengan sangat lekat. "Aku tahu, semua orang punya masa lalu, tapi aku tidak ingin jika perasaan untuk masa lalu itu, akan menjadi masalah dalam hubungan kita nanti," imbuhnya. 


"Je, percayalah kalau gue enggak akan jadiin elu pelampiasan rasa. Gue emang sempat susah menghapus perasaan yang masih tersisa  buat Nabila. Tapi sekarang, semenjak gue deket sama lu, gue ngerasa ada yang lain. Bahkan, hal yang belum pernah gue rasain waktu sama Nabila." Ariel memajukan wajahnya, menatap Jeje yang masih betah terpaku dan mendengarkan ucapan lelaki itu. 


"Gue ngerasa galau kalau lu enggak ngasih kabar ke gue. Tapi sekali lagi, gue sadar kalau cinta enggak akan pernah bisa dipaksa dan gue pun enggak akan maksa lu. Kalau emang lu mau nolak gue, tidak apa. Anggap aja gue enggak pernah ngomong apa pun jadi hubungan kita tetep baik kaya kemarin." 


Jeje membalas tatapan Ariel yang penuh harap. Setiap ucapan lelaki itu dan sorot matanya pun menunjukkan sebuah kesungguhan. Membuat Jeje mendadak bimbang. 


"Kalau gitu. Lebih baik sekarang kita makan malam dulu karena lu harus siapin diri buat kejutan selanjutnya," ujar Ariel. Lelaki itu terlihat memaksa senyumnya. 


"Kejutan apa lagi?" tanya Jeje penasaran. 


"Ya pokoknya ada. Kalau gue bilang sekarang namanya bukan kejutan lagi. Dah, sekarang kita harus bersikap biasa saja." Ariel pun menyalakan lilin di kue ulang tahun itu. 


Meskipun sedikit terasa canggung, tetapi mereka berdua sama-sama berusaha menikmati. 


Aku harus yakinin perasaanku dan perasaanmu dulu, Riel. Aku tidak ingin harus mengambil resiko yang besar karena yang kutahu jika menyangkut tentang perasaan itu pasti akan susah. Aku tidak mau gegabah dan akhirnya menyesal nantinya. 


Jeje menatap Ariel dengan tatapan yang sudah dijelaskan.