BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 24



"Sultan, kamu harus ke rumah nanti dan jelaskan kepada papamu, kenapa mobilmu bisa kecelakaan!" perintah Rasya dari seberang telepon. 


"Iya, Ma. Mama, telepon langsung memberi perintah tanpa bertanya keadaanku terlebih dahulu. Mama macam apaan itu," protes Sultan. 


"Kamu ini sama orang tua sudah berani?" Suara Rasya terdengar melengking hingga membuat Sultan dengan cepat menjauhkan ponselnya. "Eh, tapi memang iya, mama lupa. Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" 


Sultan mendengkus kasar. "Ish! Telat!" 


"Maaf, mama lagi nge-blank tadi. Tapi, kayaknya kamu baik-baik saja, deh." 


"Aku memang baik karena yang kecelakaan itu bukan aku, tapi Nabila—"


"Apa! Katakan sekali lagi!" 


"Nabila yang kecelakaan." 


"Katakan sekali lagi!" perintah Rasya dengan nada yang lebih keras. 


"Katakan peta, katakan peta," seloroh Sultan hingga membuat Nabila yang mendengar itu tak kuasa menahan tawa. 


"Bima Sultan Andaksa! Mama sedang tidak bercanda," omel Rasya. 


"Aku juga, Ma. Habisnya, Mama tanya udah kayak Dora aja. Katakan, katakan mulu," cibir Sultan. 


"Dah, Mama tidak mau bahas hal yang tidak penting. Jadi, Nabila yang kecelakaan? Bagaimana keadaan dia, apa baik-baik saja? Apa ada terluka? Mama akan datang untuk menjenguknya." Rasya mencecar dengan banyak pertanyaan. 


"Baik saja, Ma." Sultan menjawab singkat, pada, dan jelas. 


"Ya Tuhan, Bisul! Mama bertanya sepanjang itu dan kamu hanya menjawab sesingkat itu?" Rasya mulai terdengar menaikkan nada bicaranya. 


"Ma, nanti aku akan pulang bersama Nabila ke rumah. Jadi, Mama tidak perlu khawatir. Aku matikan dulu." 


Sultan langsung mematikan panggilan tersebut. Ia tidak mau mendengar omelan sang mama yang bisa saja lebih panjang dari rel kereta api. Setelahnya, Sultan menatap ke arah Nabila yang masih terlihat menahan tawa. 


"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Sultan kesal. Ia bangkit berdiri dan berjalan mendekati meja Nabila. 


"Tidak. Aku hanya sedang menertawakan cicak kawin," kata Nabila. Masih disertai kekehan hingga membuat Sultan menaruh rasa curiga. 


"Mana ada cicak kawin? Kamu berbohong? Bilang saja kalau kamu ingin kawin." Sultan memajukan wajahnya mendekati Nabila. Hingga jarak mereka sangatlah dekat, seperti hari Minggu ke Senin. 


Bahkan,  Nabila bisa merasakan sejuknya napas Sultan yang menerpa wajahnya. Tak kuasa menahan, Nabila pun langsung mendaratkan ciuman di pipi lelaki itu. Tanpa rasa malu. 


"Kadal, jangan membuatku gemas padamu," kata Sultan. Makin mendekatkan wajahnya. "Ternyata kamu sangat bernapsu." 


"Apaan! Minggir! Jangan dekat-dekat, kamu bau keringat." Nabila mendorong perlahan tubuh Sultan. 


Mendengar ucapan Nabila tersebut, Sultan pun langsung berdiri tegak dan mencium tubuhnya. Ia tidak mencium bau badan padahal ia sudah mengendus terus menerus. Yang ada bau parfum mahalnya. Nabila pun kembali tertawa terbahak-bahak. 


"Kamu berbohong!" Sultan meninggikan suaranya. Bukannya takut, Nabila justru bangkit dan berlari untuk menghindar dari kejaran Sultan.


Kedua manusia yang berbeda genre itu, saling berkejaran seperti kucing dan tikus. 


"Kena kamu!" Sultan merengkuh pinggang Nabila dan mereka berdua pun rebahan di atas sofa dengan saling bertindihan. 


Napas Nabila tersengal. Ia jarang sekali olahraga, hingga hanya berlari sebentar saja, ia sudah kelelahan seperti habis maraton berpuluh-puluh kilometer. 


Sementara Sultan terdiam sambil menindih tubuh istrinya. 


"Lu tahu, eh lupa ini di kantor. Maksudku, kamu tahu, Sul. Dengan posisi seperti ini, kita seperti sepasang suami istri yang habis bercinta. Bermandikan peluh bersama dan saling beradu desah*n dan erang*n hingga kita mencapai puncak—"


Nabila terdiam ketika Sultan sudah mencium bibirnya secara tiba-tiba. Gadis itu merasakan sebuah gelayar aneh ketika bibir mereka saling beradu. Hal yang baru pertama kali mereka lakukan. Bahkan, tanpa sadar Sultan memejamkan mata dan makin membenamkan ciumannya. 


Ternyata bibir si Kadal manis juga, dan membuatku tidak ingin melepaskan ciuman ini


Arrggh! 


Ketika kesadarannya kembali, Sultan langsung membuka mata dan melepas ciuman tersebut. Ia pun menatap Nabila yang berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin karena tadi ia menahan napas. 


"Ternyata ciuman itu enak, Sul. Jadi, pengen nambah." Nabila melipat bibir untuk menahan tawa. 


Merasa Nabila sedang meledeknya, Sultan pun bangkit berdiri dan merapikan jasnya yang kusut. Namun, Nabila menahan tangan Sultan ketika lelaki itu hendak kembali ke mejanya. 


"Apa?" tanya Sultan menghindari pandangan dari bibir Nabila yang merona dan menggoda. Seolah sedang meminta untuk disentuh lagi. 


"Mau lagi," rengek Nabila seperti anak kecil. 


"Dasar ganjen!" Sultan mencium bibir Nabila sekilas. Kemudian, berjalan tergesa kembali ke meja sebelum wanita itu menahannya lagi dan ia bisa saja lepas kendali. 


"Ciee ... mulai ada rasa, nih, ye." Nabila menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda. 


"Diamlah."