
..."Tidak mudah menyatukan dua hati, sedangkan hanya satu hati yang mencintai. Namun, meskipun terkadang hal itu terkesan mustahil, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak, dan jalan takdir memang tertulis untuk bersama. Aku bahagia, kini telah menjadi milikmu seutuhnya dan aku percaya bahwa kita akan selalu bahagia. Hidup bersama dengan anak-anak kita kelak—semoga."...
..._Nabila Kanesh Dalila_...
...****************...
Kebahagiaan yang dirasakan oleh Nabila sangatlah luar biasa. Wanita itu sudah merasakan bagaimana menjadi pasangan suami-isteri yang sesungguhnya. Melakukan hubungan yang memang seharusnya sudah dilakukan sejak ijab kabul terucap walaupun baru sekarang terlaksana. Nabila yang awalnya berpikir itu akan menyakitkan, ternyata membuatnya ketagihan.
Sekarang, harapan Nabila adalah semoga ia lekas diberi momongan. Seorang bayi yang mungil dan lucu agar hubungannya dengan Sultan kian mengerat. Agar pondasi rumah tangganya dengan Sultan kian kokoh.
Semoga lekas hamil ya. Aamiin. Hihi
"Lu kagak mandi?" tanya Sultan setelah cukup lama mereka berdua beristirahat seusai melakukan siang yang panas.
Matahari terik oe!
"Ntar dulu, lah. Capek, Sul. Habis lu garap," sahut Nabila. Menarik selimut sampai sebatas leher tanpa membuka mata.
"Jorok sekali." Sultan pun membopong Nabila secara paksa. Membawanya ke kamar mandi lalu berendam dalam satu bath-up.
Bukan hanya berendam. Tahulah, ke mana arah dan tujuan pengantin baru yang sudah nina-ninu. Selain mandi bersama.
Dah, stop.
***
Ariel duduk termenung di meja kerjanya. Ia tidak bisa fokus pada pekerjaan yang sudah menumpuk. Ia terus saja kepikiran Nabila. Walaupun ia merasa senang karena Nabila sudah hidup bahagia bersama Sultan. Namun, dalam hati kecilnya terbesit sedikit rasa belum ikhlas.
Masih banyak kalimat andai yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Andai yang pada akhirnya hanya menjadi angan semata.
"Seenggaknya, lu udah bisa hidup bahagia bersama Sultan, Na. Gue akan terus belajar supaya bisa melepas lu dengan hati yang benar-benar ikhlas."
Ariel mulai memijat pelipis perlahan saat ia merasa ada denyutan di sana. Ia pun menghentikan semua pekerjaan yang sedang dilakukan karena merasa semua percuma. Ia tidak bisa memaksa dirinya bekerja jika sedang tidak fokus seperti ini. Yang ada nantinya, semuanya akan ambyar seperti nasi kucing tidak dikareti.
"Aishh! Dasar Jeje!" dengkus Ariel ketika melihat nama Jeje tertera di layar. Ia pun menerima panggilan tersebut dengan bermalasan.
"Riel! Aku pikir kamu tidak akan angkat teleponku," ujar Jeje dari seberang telepon.
"Harusnya iya. Gue enggak terima telepon dari lu, tapi gue takut lu nangis. Repot kalau harus cariin lu permen buat ngebujuk." Ariel menjawab santai, tetapi mampu membuat Jeje berdecak kesal.
"Emang sialan kamu, ya."
"Udah. Aku cuma mau minta tolong sama kamu. Anterin aku, yuk."
"Ke mana? Ke KUA?" tukas Ariel.
"Ish! Emang asem. Ogah aku, mah. Pasti makan hati nikah sama kamu," cebik Jeje.
"Lah, emangnya kenapa? Bukannya enak kalau makan hati, bukan cuma makan telur atau tempe tahu." Ariel terus saja menggoda gadis itu.
"Kamu aja belum bisa move-on dari Nabila. Pasti ngenes, tuh. Status udah nikah, tapi yang dipikirkan masih istri orang lain," kata Jeje jujur.
Ariel pun terdiam sesaat. Ia tahu bahwa ucapan Jeje memang benar adanya. Ia belum tentu bisa membuka hati untuk wanita lain karena hatinya sudah terNabil-Nabil.
"Oe! Riel! Ngalamun ya? Astaga!" Jeje mengeraskan suaranya hingga mengejutkan Ariel.
"Apaan, sih! Bikin gue jantungan aja," protes Ariel.
"Kamu jadi mau anterin aku tidak? Aku butuh keputusan kamu sekarang." Jeje terus saja mendesak.
"Anterin ke mana dulu? Kalau ke ...."
"Aku serius, Ariel! Ih! Kamu emang ngeselin ya." Jeje benar-benar menjadi gemas sendiri. Mendengar suara kesal Jeje, membuat Ariel sontak tertawa keras.
Lelaki itu membayangkan wajah Jeje yang cemberut karena kesal. Pasti itu sangat lucu.
"Emangnya anterin ke mana? Gue serius ini." Ariel pun berhenti menggoda gadis itu.
"Anterin aku ketemu sama cowok. Aku mau kencan buta, tapi aku takut karena ini baru pertama," kata Jeje lirih.
"Apa!" Ariel memekik tidak percaya. "Lu yang bener aja!"
***
Biar enggak bosen, diselingi kisah Ariel ya. Hehe.
Takutnya, tidak bisa tahan diri sama pasangan pengantin yang baru jebol gawang. Hehe
Lagi puasa, tahan diri nih ye.