BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 70



Setelah acara tembak menembak alias pengungkapan cinta. Hubungan Ariel dan Jeje masih biasa saja meskipun ada yang sedikit berbeda. Ariel tetap seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa, sedangkan Jeje pun berusaha bersikap biasa meskipun ia merasa agak canggung. 


Tidak ada pembahasan soal cinta, apalagi rasa. Ariel memang sengaja tidak membahasnya karena tidak ingin membuat Jeje merasa tidak nyaman. Biarlah, semua ia pasrahkan kepada Tuhan. Ia yakin yang namanya jodoh tidak akan ke mana. 


Kalau memang ternyata Jeje bukanlah jodohnya maka ia akan terus berdoa semoga gadis itu akan menjadi jodohnya. Agar ia tidak merasa ngenes karena selalu menjaga jodoh orang lain. 


"Je, kita nonton, yuk. Mumpung weekend." Ariel mengajak wanita itu. 


"Film apa?" tanya Jeje. 


"Lu suka romantis atau horor? Kebetulan ada dua genre film itu yang diputar," tawar Ariel. Jeje terdiam untuk memilih. 


Jika memilih film romantis, pasti dia akan merasa iri dengan adegan-adegan romantis yang akan mengguncang jiwa kejombloannya. Namun, jika menonton film horor, Jeje tidak yakin mentalnya akan kuat.


"Horor aja." Jeje membalas cepat. Ia lebih memilih untuk melihat hantu, daripada adegan uwu. 


"Yakin?" tanya Ariel tidak percaya. Jeje mengangguk cepat.


Pada akhirnya, Ariel pun memesan tiket horor. Bahkan, mereka duduk di bangku paling depan. Membawa popcorn dan minuman ringan. 


Namun, selama film itu berlangsung, Ariel tidak bisa tenang karena Jeje terus saja bersembunyi di ketiaknya lalu kembali bersembunyi. Apalagi jika hantunya keluar, Jeje akan mencengkeram lengan Ariel cukup kuat. Ariel pun hanya bisa tertawa melihat wanita itu. Sungguh, ini sangat menghibur hati Ariel. 


***


"Makasih untuk waktunya, Je. Lu udah nemenin gue nonton," kata Ariel. 


Saat ini mereka masih di dalam mobil, tepat di depan rumah Jeje. 


"Tidak perlu berterima kasih, Riel." Jeje tersenyum simpul, tetapi sorot matanya penuh arti hingga membuat Ariel merasa heran. "Riel ... ada yang mau aku omongin ke kamu." 


"Soal?" tanya Ariel. Membalas tatapan Jeje dengan lekat. 


Jeje menyandarkan kepala, menatap ke depan untuk menghindari tatapan Ariel. Raut wajahnya tampak penuh dengan keraguan. Bahkan, wanita itu beberapa kali terlihat menghela napas panjang.


"Soal pernyataan cinta kamu waktu itu. Apa itu masih berlaku?" tanya Jeje. Ia belum berani menatap Ariel. 


"Em, tentu saja. Bahkan, sampai saat ini gue masih nunggu jawabannya. Gue emang sengaja enggak bahas sama elu karena gue enggak mau buat lu ngerasa enggak nyaman. Gue enggak mau hubungan kita jadi renggang. Emangnya kenapa? Lu mau ngasih jawaban?" Ariel tidak sekalipun melepaskan pandangan dari sosok wanita itu. 


Jeje mengangguk lemah. "Ya," ujarnya lirih. 


"Kalau lu mau ngasih jawaban, gue pengen jawaban itu emang dari dasar hati elu, Je. Bukan karena terpaksa apalagi karena enggak enak hati. Gue enggak papa kalau lu tolak karena emang elu belum ada rasa. Itu lebih baik daripada ngejalanin hubungan yang terpaksa." Ariel berbicara dengan serius. 


"Gimana kalau ternyata aku menerima cinta kamu," ujar Jeje. Membuat bibir Ariel terbungkam saat itu juga. Bahkan, lelaki itu kian menatap Jeje dengan sangat lekat seolah mencari kesungguhan di sana. 


"Lu-lu serius?" tanya Ariel memastikan. 


Jeje kembali mengangguk. "Ya. Setelah aku pikir-pikir, aku memang sudah menaruh rasa padamu, Riel. Hanya saja waktu itu aku belum yakin dan butuh waktu untuk benar-benar memikirkannya, tapi sekarang aku sudah merasa yakin bahwa aku tidak bisa jauh darimu." 


"Jadi, lu udah yakin bakal nerima gue?" tanya Ariel sekali lagi. Mengulangi pertanyaan yang sudah jelas-jelas jawabannya. 


Jeje mengangguk cepat. "Ya. Tentu saja." 


"Terima kasih, Tuhan." Ariel mengucap syukur dan tersenyum bahagia. Hal itu pun membuat Jeje merasa terharu. 


Ariel meraih tangan Jeje. Menggenggamnya dengan sangat erat. "Gue janji akan berusaha buat elu ngerasa bahagia, Je." 


"Makasih." 


***


Sultan baru saja bangun tidur, tetapi ia terkejut ketika melihat istrinya sudah berdandan rapi. Lelaki itu bergegas bangun karena khawatir istrinya akan kabur. 


"Kamu mau ke mana?" tanya Sultan.


"Jalan-jalan. Hari ini kamu libur, 'kan? Aku bosen di rumah terus," rengeknya. 


Kan, mulai lagi. Padahal Sultan ingin sekali di rumah saja dan bergelung di bawah selimut seharian bersama istri tercinta. Namun, sang istri justru meminta keluar. 


"Memangnya kamu mau jalan-jalan ke mana?" Sultan tampak bermalasan. Wajahnya saja masih dipenuhi muka bantal, rambutnya acak-acakan dan itu justru membuat Sultan terlihat semakin tampan. 


"Ke mana saja. Aku mau nyari makanan yang enak," kata Nabila santai. 


Hadeh, soal makanan lagi. Kalau ini Sultan udah mulai malas karena jika menyangkut makanan, permintaan istrinya pasti ada-ada saja yang membuatnya pusing kepala. 


"Lah, katanya kamu mau nyari makanan, tapi enggak tahu apa yang mau dimakan. Kamu gimana," balas Sultan mulai memainkan nada bicara ketus. 


"Ya makanya aku mau nyari. Kan belum jelas apa yang mau dimakan. Udahlah, jangan banyak protes. Kalau kamu tidak mau juga tak apa. Aku bisa berangkat sendiri." Nabila berjalan meninggalkan meja rias begitu saja. 


Ia merajuk, dan berjalan keluar. Sementara Sultan masih duduk anteng di atas ranjang. Namun, ketika baru saja keluar pintu, Nabila sudah masuk lagi. Kakinya menghentak-hentak sambil tangannya bersedekap. 


"Bisulan! Kenapa kamu enggak ngejar aku?" tanyanya penuh kekesalan. 


"Lah, katanya kamu mau pergi sendiri," balas Sultan santai seolah tanpa beban. 


"Ih, dasar suami tidak peka!" Nabila benar-benar kesal. "Pokoknya aku mau marah sama kamu. Kalau kamu enggak ngejar aku maka entar malem kamu tidur di bawah, aku di atas." 


"Nah, enak, tuh. Woman on top." Sultan masih saja berani menanggapi ucapan istrinya, seolah tidak takut wanita itu mengeluarkan tanduk. 


"Kamu mesum!" balasnya. 


"Dah, diem. Adik gue bangun, nih." Sultan menyingkap selimut dan terlihat tonjolan di celana lelaki itu. Nabila awalnya menoleh, tetapi ia pun menatapnya lekat setelah itu. "Nah, pengen 'kan?" 


"Dasar Bisulan nyebelin!!"