
Tidak ada kebahagiaan yang dirasakan oleh Nabila selain mendengar ucapan Sultan bahwa ia akan belajar membuka pintu hatinya dan membalas perasaan wanita itu. Sungguh, Nabila merasa sangat senang. Tak lupa ia mengabari Ariel dan menceritakan semuanya. Tentang kebahagiaan yang akhirnya ia raih.
Wanita itu tidak tahu kalau lelaki tempatnya bercurhat ria ternyata menyimpan perasaan lebih dari sekadar rasa sebagai sahabat padanya. Dengan pintarnya berpura-pura, Ariel menanggapi cerita Nabila dengan antusias. Seolah ia adalah lelaki paling bahagia ketika mendengar cerita itu.
"Gue seneng, Na. Akhirnya tuh Bisul bisa ngebuka hatinya buat lu. Kalau dia tetep ngejar tuh cewek dan nyakitin lu, gue beneran enggak akan segan-segan buat dia kehilangan masa depan. Gue potong burungnya sampai habis," kata Ariel penuh emosi.
"Yaelah, Riel. Lu udah kayak psikopat aja. Gue juga enggak nyangka kalau Sultan akhirnya buka hatinya. Gue pikir, tadinya bakal susah dan Hanum bakalan terus ngejar Sultan, eh ternyata dia gadis yang sangat dewasa, Riel. Pantesan aja Sultan termehek-mehek sama dia." Nabila terkekeh. Meskipun masih ada sisa luka di hatinya, tetapi ia mencoba untuk biasa saja dan ingin memperbaiki semuanya bersama sang suami tercinta.
Ciee ....
"Semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, Na," kata Ariel.
"Iyalah, Riel. Gue cuman mikirnya kalau gue bisa bersikap dewasa kayak si Hanum, pasti Sultan dari dulu udah jatuh hati sama gue, iya 'kan?" Nabila menaik-turunkan alisnya. Meminta Ariel agar mengiyakan ucapannya.
Ariel pun menghela napas panjangnya. "Na, jangan pernah membayangkan dirimu jadi orang lain. Jadilah diri lu sendiri. Mau lu kayak anak kecil, mau lu ceroboh dan lainnya, itu emang karakter lu dan jadi ciri khas lu sendiri. Semua orang memiliki keunikan sendiri-sendiri. Seandainya Sultan enggak nerima lu, tenang aja. Pasti ada lelaki yang lebih baik dari Sultan, yang bisa nerima lu apa adanya."
"Gaya lu beneran udah kayak orang tua, Riel. Pinter banget ceramah," ledek Nabila dan disambut dengkusan kasar oleh Ariel.
"Na, gimana kalau kita kerjain Sultan," usul Ariel. Bibirnya tersenyum licik hingga membuat Nabila mengerutkan kening karena bingung.
"Ngerjain gimana?" tanya wanita itu penasaran.
"Lu ikut gue jalan-jalan ke luar kota. Kebetulan ada perjalanan bisnis selama seminggu dan gue butuh temen. Lu 'kan pengangguran sekarang," ujar Ariel.
Nabila diam untuk menimang. "Tapi, gue enggak yakin bisa nemenin lu jalan kayak dulu, Riel."
"Ish! Jangan bilang lu makin bucin sama Sultan. Na, justru dengan hal ini lu bisa yakin dan percaya sama perasaan Sultan. Kalau lu pergi jauh dari dia, tanpa memberi kabar. Dia bakal gimana? Sama kayak apa yang dia lakuin ke lu kemarin." Ariel tetap ngotot.
Lelaki itu hanya ingin mengetahui apakah Sultan memang serius pada ucapannya atau tidak.
"Gue justru takut kalau Sultan bakal pergi dari hidup gue, Riel." Nabila terlihat ragu. "Susah payah gue dapetin dia, masa iya ...."
"Percayalah, kalau emang Sultan sayang sama lu, dia enggak akan pernah pergi ninggalin lu lagi. Yang ada, dia malah akan makin ngejar lu karena ngerasa lu sangat penting dan layak untuk dikejar." Ariel terus mengompori. Ucapannya terdengar sangat menyakinkan hingga membuat Nabila pun setuju pada keinginan lelaki itu.
"Baiklah. Besok pagi gue jemput lu, tapi lu jangan bilang ke Sultan kalau bakalan pergi sama gue, dia pasti enggak bakal ngasih izin. Lu bilang aja sama dia kalau kita udah di jalan," perintah Ariel lagi. Nabila pun mengangguk mengiyakan.
Gue sengaja bawa lu pergi buat mastiin apakah Sultan bener-bener udah ngebuka hatinya buat lu apa enggak, Na. Gue enggak mau kalau dia cuma jadiin lu pelampiasan. Setelah gue pastiin Sultan bisa nerima lu dengan tulus dan kalian hidup bahagia, gue akan belajar ngehapus rasa cinta gue buat lu dari hati gue. Gue janji.
***
"Sul, lu udah pulang?" tanya Nabila saat melihat Sultan baru masuk kamar. Nabila yang tadi sedang bermain ponsel pun langsung menaruh benda pipih itu di atas ranjang.
"Ya, capek banget rasanya. Hari ini jadwal di kantor sangat padat." Sultan melepas jas yang dikenakan lalu merebahkan diri tepat di samping Nabila.
"Sini gue pijetin," kata Nabila. Sultan yang kala itu baru memejamkan mata pun langsung menoleh ke arah Nabila.
"Emangnya lu bisa? Gue kagak yakin." Sultan meremehkan.
"Yaelah, Bisul. Lu kagak percaya kalau gue bisa mijet. Kecil itu, mah. Dah, mendingan sekarang lu mapan." Nabila sedikit mendorong tubuh Sultan agar lelaki itu tengkurap.
"Turun, Kadal! Lu mau ngapain?" Sultan meminta Nabila agar turun, tetapi gadis itu justru menahan tubuhnya.
"Gue cuma mau mijetin lu astaga. Pikiran lu buruk amat. Udahlah, diem. Gue beneran enggak akan perkosa lu," kata Nabila sambil memulai memijit punggung Sultan.
Lelaki itu yang awalnya meminta Nabila untuk turun pun akhirnya diam saat merasakan betapa enaknya Nabila memijat. Bahkan, Sultan sampai memejamkan mata.
"Enak, Sul?" tanya Nabila tanpa menghentikan pijatannya.
"Lumayan juga," kata Sultan. Tubuhnya mulai merasa tidak karuan ketika Nabila terus memijat sambil bergerak-gerak. Ia merasakan sebuah rasa yang aneh ketika adik kecilnya tertahan. Apalagi diberi sedikit goyangan, membuatnya merasakan ahh......
"Turun, Na." Sultan memaksa Nabila agar turun. Ia tidak bisa jika terusan seperti ini. Bisa Jadi, adik kecilnya muntah tanpa masuk kamar pribadinya yang sempit.
"Emang udah enakan? 'Kan baru kupikir bentar," kata Nabila.
"Badan gue udah enakan, tapi adek gue yang jadi enggak enak." Sultan mendengkus kasar. Nabila pun mengarahkan pandangan ke arah pangkal paha Sultan dan melihat ada tonjolan di sana. Seketika tawa Nabila meledak.
"Bisa-bisanya, Sul? Gue mijet punggung lu, tapi yang bangun malah adik kandung lu." Nabila benar-benar tertawa puas meledek Sultan. Namun, dia langsung terdiam ketika Sultan tiba-tiba menindihnya. "Lu-lu mau apa, Sul?"
"Lu harus bertanggung jawab. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab."
"Ma-maksudnya? Apa yang gue perbuat? Gue cuma mijet lu."
Sultan tidak menjawab, ia justru meraup bibir Nabila dengan rakus. Bibir yang selalu membuatnya terbayang karena baru sekali Sultan merasakannya.
Sebenarnya ia ketagihan, tetapi gengsi. Haha gengsi digedein, sih. Anu dong yang digedein. Wkwk
Walaupun masih terasa kaku, tetapi Nabila berusaha untuk mengimbangi permainan Sultan. Ia berusaha membalas ciuman itu walaupun beberapa kali hampir menggigit lidah Sultan. Ketika sudah merasa puas, Sultan pun segera melepaskan ciuman tersebut.
"Dah, Sul. Gue engap." Napas Nabila tersengal.
"Astaga, ini baru permulaan. Karena pas lu jebol perawan, lu harus sedikit nahan rasa sakit sebelum rasa nikmat datang," ujar Sultan. Ia membuka kancing kemejanya.
"Lu mau ngapain lagi, Sul? Astaga," tanya Nabila bingung.
"Tentu saja ngelakuin hal yang seharusnya dilakuin oleh suami-istri. Bercocok tanam," sahut Sultan sudah bertelanjang dada.
"Ish! Gue, sih, mau aja lu genjot-genjot sampai belingsatan, tapi sayangnya sekarang kita enggak bakal bisa ngelakuin itu," ucap Nabila.
"Kenapa?" tanya Sultan tidak sabar.
"Karena percintaan panas kita terhalang oleh palang merah. Gue lagi haid dan minggu depan baru selesai biasanya," sahut Nabila santai.
"Apa? Arrgghh! Sial!"
"Sabar, Bisulan. Anggap aja ini cobaan." Nabila terkekeh, sedangkan Sultan langsung ke kamar mandi untuk berendam dengan air hangat sekaligus menidurkan adik kecilnya.
Tiada lembah kenikmatan, sabun mandi pun jadi. Haha.