
Sultan menatap sang papa dengan lekat. Ia bisa melihat kilatan amarah yang terpancar dari sorot mata papanya. Sultan yakin, masalah antara dirinya dengan Nabila pasti sudah terdengar sampai ke telinga kedua orang tuanya termasuk mertuanya.
"Kenapa, Pa?" tanya Sultan berlagak polos.
"Kamu masih tanya kenapa? Apa kamu tidak bisa berpikir dengan baik? Kamu sudah menyakiti Nabila. Membuat mama dan papa malu kepada Om Arga dan keluarganya, Sul." Setiap kata yang terlontar dari mulut Pandu, memiliki penekanan yang kuat sebagai tanda bahwa lelaki itu sedang marah sekarang ini.
"Pa ...."
"Pergilah temui mamamu di kamar. Papa tidak mau terus di sini karena papa rasanya gatal sekali ingin memukulmu." Pandu memejamkan mata dan memijat pelipis karena tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut.
Tidak ingin makin menambah kemarahan sang papa, Sultan pun bergegas menuju ke kamar utama. Ketika masuk ke sana, ia melihat sang mama yang sedang berbaring di atas ranjang. Wanita itu terlihat sangat sedih hingga membuat hati Sultan merasa tidak karuan. Bahkan, ia merasa sangat bersalah karena sudah membuat mamanya sedih seperti itu.
"Ma," panggil Sultan lirih.
Rasya pun sontak membuka mata dan ketika melihat Sultan sedang berdiri sambil menatapnya, Rasya dengan segera berbalik untuk membelakangi Sultan. Hal itu makin membuat Sultan tidak tenang dan merasa bersalah.
"Maafkan aku, Ma." Sultan menyentuh bahu Rasya dan berharap wanita paruh baya itu mau menoleh kepadanya. Namun, Rasya tetap pada posisinya. "Ma ...."
"Pergilah, Sul. Jangan datang temui mama lagi." Rasya berbalik. Ia menatap putranya sangat lekat.
"Kenapa?" tanya Sultan bingung.
"Kamu tanya kenapa? Sul, kamu sudah membuat kesalahan yang benar-benar membuat malu keluarga kita."
"Malu bagaimana, Ma? Aku tidak melakukan apa pun." Sultan memberi penegasan dalam setiap kalimatnya. "Kalau soal Nabila, seharusnya kalian tahu kalau ini akibat dari pemaksaan. Bukankah dulu aku sudah menolak untuk menikahi gadis ceroboh itu. Tapi, kalian memaksa maka jangan salahkan aku kalau akhirnya jadi seperti ini."
Rasya menghela napas panjang. Lalu sedikit menunduk untuk menahan air matanya.
"Ya, memang seharusnya mama yang disalahkan dalam masalah ini karena sudah egois. Mama dan Tante Zaenab sudah memaksa kalian menikah. Harusnya sejak awal pernikahan ini memang tidak pernah terjadi. Sungguh, mama memang sangat bodoh," ujar Rasya. Sultan pun terdiam karena ia menyadari bahwa ucapannya terlalu keras untuk sang mama.
"Maafkan aku, Ma."
"Kamu tidak perlu minta maaf, Sul. Harusnya mama yang minta maaf kepadamu karena sudah membuat kamu tersiksa. Bahkan, Nabila juga. Bayangan mama terlalu tinggi. Mama pikir, Nabila yang sangat mencintaimu bisa membuat hatimu luluh saat sudah menikah nanti. Sama seperti mama dan papamu dulu, tapi ternyata mama salah." Rasya menghentikan ucapannya sesaat untuk mengambil napas dalam.
"Bukannya membuat kamu ataupun Nabila bahagia. Mama justru membuat kalian seperti ini. Terutama Nabila. Mama sangat merasa bersalah padanya karena sudah membuat hatinya sangat terluka. Mama sudah gagal, Sul." Rasya memejamkan mata saat merasakan ada cairan bening yang hendak keluar dari setiap sudut matanya.
"Ma, anggap saja aku dan Nabila memang tidak berjodoh karena aku tidak akan pernah bisa mencintai Nabila sampai kapan pun, Ma."
"Ya, mama tahu itu karena kamu sudah mencintai wanita lain. Seorang gadis pengurus panti, bukan?"
"Da-dari mana mama tahu?" Sultan tampak terkejut dan tidak menyangka sang mama sudah mengetahui soal Hanum. "Pasti Nabila yang sudah mengadu kepada mama 'kan? Dasar tukang ngadu," tukas Sultan kesal.
"Bukan. Itu tidak penting dari mana mama tahu semuanya. Sul, kalau memang kamu mau memilih wanita itu maka mama akan membantu mengurus perceraianmu dengan Nabila," kata Rasya. Sultan sedikit terkejut mendengar ucapan sang mama.
"Mama setuju aku bercerai dari Nabila?" tanyanya tidak percaya.
"Kenapa harus Ariel?" tanya Sultan dengan nada tinggi. Mendengar nama Ariel disebut membuat hati Sultan merasa panas karenanya.
"Karena Ariel sangat mencintai Nabila dengan tulus. Jadi, mama yakin kalau dia tidak akan pernah menyakiti Nabila seperti apa yang kamu lakukan ini. Sekarang, kalau memang kamu mau memilih gadis pengurus panti itu, mama tidak akan melarang. Kejarlah dia sampai kamu mendapatkannya, tapi setelah itu jangan sekalipun kamu temui mama. Bahkan, jika mama mati nanti, mama tidak mau kamu datang ke kuburan mama."
"Jangan berbicara seperti itu, Ma!" bentak Sultan. Membuat Rasya terdiam kala itu juga.
"Jangan membentak mamamu, Sul!" Pandu yang baru masuk kamar pun balik membentak Sultan. Ia merasa geram karena putranya sudah berani kurang ajar. Sementara Rasya hanya diam.
"Pa, tapi mama ...."
"Mama apa? Bukankah papa sudah bilang kepadamu jangan pernah membuat masalah. Masalah seperti ini bukan hanya membuat malu keluarga, tapi hubungan mama dan sahabatnya jadi renggang," sela Pandu.
"Aku yang salah karena sudah menyetujui semua keinginanmu. Seharusnya memang kamu tidak pernah membuat rencana konyol. Hingga semua jadi seperti ini. Aku pusing, mendengar kamu mengeluhkan Nabila yang disakiti oleh putra kita. Hubunganmu dengan Zahra jadi renggang, aku pun merasa tidak enak hati kepada Arga," omel Pandu.
Sultan terdiam. Ia justru merasa bersalah karena sudah membuat mamanya bertengkar dengan sang papa. Padahal yang ia tahu selama ini, papanya sangat bucin kepada sang mama. Kalaupun marah, ia hanya diam bukan mengomel.
Sungguh, hal ini justru membuat Sultan menjadi sangat khawatir pada hubungan keluarganya.
"Sekarang aku tidak tahu mau menaruh di mana mukaku di depan Arga. Bahkan, saat Nabila dirawat di rumah sakit, putra kita yang merupakan suami Nabila, tidak datang menjenguk apalagi menemaninya."
"Pa? Apa maksudnya? Nabila dirawat?" tanya Sultan menyela.
"Kamu tidak tahu kalau Nabila masuk rumah sakit?" tanya Pandu. Sultan menggeleng cepat. "Suami macam apa kamu ini!"
"Aku sungguh sangat tidak tahu, Pa. Di mana Nabila dirawat?" Wajah Sultan terlihat penuh kekhawatiran.
"Kamu cari sendiri saja," perintah Pandu.
"Ma." Sultan menatap memohon kepada sang mama.
"Mama tidak mau memberi tahu di mana Nabila dirawat, karena mama tidak mau jika sampai kamu membuatnya sedih lagi. Lebih baik, kamu kejar saja wanita pujaan hatimu itu dan jangan pernah dekati Nabila lagi."
"Arrggh!!" Sultan menggeram kesal. Lalu bergegas pergi dari kamar sang mama.
"Lihatlah, Mas. Putramu itu sudah jatuh cinta dengan Nabila, tapi masih gengsi aja. Sama kayak kamu." Rasya terkekeh.
Pandu dengan gemasnya menghujami banyak ciuman di wajah istrinya.
"Kenapa kamu pintar sekali bersandiwara di depan putramu? Apa kamu tidak kasihan dengannya, hm?"
"Tidak. Aku yakin Sultan dan Nabila pasti akan hidup bahagia setelah ini. Karena Sultan itu sebenarnya mencintai Nabila, dan hanya kagum kepada gadis pengurus panti itu." Rasya menghela napas panjang.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan." Pandu menciumi wajah istrinya lagi. "Sekarang kamu tidur, dan aku akan menunggu kabar dari Arga"