BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 59



Jeje merebahkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya melayang entah ke mana. Ia seperti orang yang sedang memikirkan banyak hal padahal ia sendiri tidak tahu hal apakah itu.


"Ya Tuhan, kenapa ribet banget jadi cewek gini. Belum nikah, repot. Dah nikah, repot," keluh Jeje. "Astaga. Aku tidak boleh ngeluh. Dosa."


Jeje pun berpindah posisi menjadi tengkurap lalu memainkan ponselnya. Ada pesan masuk dari Ariel. Sebuah pesan berisi candaan yang membuat senyum Jeje perlahan mengembang.


"Ini orang nyebelin banget ya." Jeje terus saja tersenyum sambil berbalas pesan. Ia bahkan sampai tidak mengetahui kalau sang mama sudah masuk dan duduk tepat di sampingnya.


Agnes sengaja diam saja karena ia mengintip dan penasaran dengan apa yang membuat Jeje tersenyum seperti itu. Saat melihat siapa yang sedang bertukar pesan dengan putrinya, seketika Agnes pun tersenyum menggoda.


"Ciee ... Ariel."


Jeje tersentak saat mendengar suara sang mama. Bahkan, ia sampai melemparkan ponselnya secara sembarangan.


"Ma-Mama sejak kapan di sini?" tanya Jeje gelagapan. Seperti maling yang ketahuan mencuri.


"Sejak kamu senyum sendiri karena berbalas pesan dengan Ariel bahkan kamu pun sampai tidak tahu mama masuk ke sini. Hayoo, kamu pasti ada sesuatu dengan Ariel ya?" Agnes menunjuk wajah Jeje. Membuat wanita itu makin merasa gugup.


"Apaan sih, Ma. Jangan ngarang," bantah Jeje. Ia memalingkan wajah karena tidak mau bertatapan dengan sang mama.


"Halah, jangan bohong. Kalau memang kamu mau sama Ariel, tidak apa. Mama justru senang karena setidaknya lelaki yang menjadi suami kamu itu, lelaki baik-baik dan kita sudah mengenal dengan baik pula. Daripada kamu melakukan kencan buta itu, mama tidak setuju," kata Agnes.


"Enggak, Ma. Sumpah, aku enggak ada hubungan spesial apa pun dengan Ariel kecuali sebagai teman," balas Jeje.


Agnes tidak lagi mendesak putrinya. Ia pun tidak akan menyuruh putrinya untuk menikah dengan siapa. Biarlah Jeje menikah dengan lelaki pilihannya sendiri.


Setelah dari kamar Jeje, Agnes pun mengobrol banyak hal kepada Gatra. Bagaimanapun, Jeje adalah putri mereka satu-satunya karena setelah melahirkan Jeje, Gatra tidak mau punya anak lagi. Bukan karena ia tidak ingin, tetapi ia hanya terlalu khawatir dengan kesehatan Agnes.


Ia tidak mau jika harus kehilangan wanita itu karena hamil dan melahirkan bukanlah proses yang mudah apalagi untuk wanita yang memiliki penyakit jantung bawaan seperti Agnes. Walaupun Agnes bersedia untuk hamil lagi, tetapi Gatra tetap saja menolak. Biarlah ia memiliki satu putri saja. 


"Mas, sudahlah. Jangan lihat masa lalu. Kisah kamu dengan Zety hanyalah sebatas masa lalu. Kalian sudah sama-sama hidup bahagia dengan pasangan masing-masing. Kalau memang suatu saat nanti Jeje dan Ariel berjodoh, kamu tidak akan bisa melarangnya," kata Agnes memberi nasehat.


Gatra pun langsung memeluk Agnes dengan sangat erat. "Aku tidak menyangka kalau kamu bukan lagi seperti bocah. Bahkan, jalan pikiran kamu saja sekarang sudah dewasa. Aku jadi semakin cinta padamu," katanya.


"Makasih, Mas. Aku juga mencintaimu saat ini dan selamanya. Semoga kita selalu bersama sampai ajal menjemput." Agnes mencium bibir Gatra sekilas. Namun, semua tidak hanya sampai di situ karena Gatra langsung mengajak Agnes untuk anu.


Ciee .... inget umur, oe.


***


"Ya ampun, Riel. Aku itu sebal karena kamu selalu saja datang ke sini. Bahkan, wajahmu selalu saja terlihat jelek seperti itu. Merusak moodku saja," kata Jeje kesal.


Ini bukan hanya sehari dua hari Ariel datang mengunjunginya, tetapi hampir setiap hari Ariel datang bahkan terkadang sampai tiga kali sehari seperti minum obat. Membuat Jeje terkadang jengah meskipun terkadang pula ia menunggu kedatangan lelaki itu apalagi saat restoran sedang sepi. 


"Gue mau pamitan sama lu." Ariel menatap Jeje lekat sebelum akhirnya memalingkan wajah ketika Jeje menoleh kepadanya.


"Pergi ke mana? Tumben banget pamit sama aku." Jeje bertanya heran karena ini tidak seperti biasanya.


"Ke luar kota. Mau ada perjalanan bisnis. Sebenarnya gue pengen ngajak lu daripada kesepian. Kalau dulu gue selalu ngajak Nabila, tapi sekarang gue enggak mungkin ngajak dia lagi," kata Ariel disertai helaan napas panjang. "Tapi gue yakin lu pasti bakal nolak. Jadi, gue milih pamitan aja." 


"Yakin banget aku bakal nolak. Kamu bahkan belum menawariku," timpal Jeje membuat Ariel langsung menoleh padanya. 


"Lu mau ikut gue ke luar kota?" tanya Ariel ragu. Jeje terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk antusias. Ariel pun tersenyum senang dan mereka segera bersiap untuk pergi bersama. 


Ciee yang mulai dekat. iihhiiirrr.