BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 32



Setelah berusaha keras mencari di rumah sakit mana Nabila dirawat, Sultan pun harus mencari kembali ruangan mana tempat wanita menginap. Setelah memastikan informasi dari perawat, Sultan pun bergegas menuju ke ruangan VVIP. 


Sebelum masuk ke sana, Sultan terlebih dahulu mengatur napasnya yang tersengal karena berlarian tadi. 


"Sul," panggil Zahra terkejut melihat kedatangan Sultan. Nabila yang saat itu hendak tertidur pun, kembali membuka mata. 


Tatapannya tidak sekalipun lepas dari Sultan yang sedang berjalan mendekat, begitupun dengan Sultan. 


Sultan menyalami Zahra terlebih dahulu. Lalu berdiri di tepi brankar dan menatap sang istri dengan sangat lekat. Wajah Nabila masih tampak pucat dan lemas. Bahkan tatapan wanita itu pun terlihat sayu. 


"Silakan kalian bicara baik-baik. Mama keluar dulu." Zahra bangkit dan keluar dari ruangan untuk memberi waktu kepada mereka berdua membicarakan semuanya. 


Ia berharap, masalah itu segera selesai apa pun keputusan yang akan mereka ambil nantinya. Zahra hanya mendoakan kebahagiaan putrinya. 


Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Sultan pun segera duduk di samping brankar. Ia hendak menyentuh tangan Nabila, tetapi wanita itu segera menyingkir dengan cepat. Membuat Sultan terpaku dan mengurungkan niatnya. 


"Kenapa lu enggak bilang kalau masuk rumah sakit?" tanya Sultan. 


Nabila memaksa senyumnya. "Emang itu penting buat lu? Lagian, gue baik-baik aja, Sul. Enggak perlu ada yang dikhawatirkan." 


"Lu masuk rumah sakit, bahkan sampai rawat inap dan lu masih bilang baik-baik saja? Lu ...." 


"Pergilah, Sul. Gue mau istirahat." Nabila menarik selimut sampai sebatas leher. Lalu berpura-pura memejamkan mata. 


"Na ... gue minta maaf sama lu." Suara Sultan terdengar lirih, tidak sekeras tadi. 


"Maaf buat apa, Sul? Lu enggak salah apa pun. Justru gue yang bersalah di sini. Seharusnya gue sadar sejak awal bahwa memaksa menikah dengan lu maka gue harus siapin hati gue buat terluka, tapi gue masih aja ngeyel." Nabila terdiam sesaat untuk mengambil napas dalam. 


"Gue baru sadar tentang ucapan yang selama ini gue dengar. Lebih baik dicintai daripada mencintai. Karena saat kita dicintai maka kita tidak akan pernah merasakan sakit seperti saat mencintai orang yang tidak pernah mau menatap kepada kita, apalagi menaruh hati pada kita. Selama ini harapan gue terlalu tinggi. Gue pikir bisa naklukin hati lu. Gue pikir lu bisa ngelihat cinta gue dan membalasnya, tapi ternyata gue salah." 


"Na, gue udah bilang sejak awal kalau gue enggak bisa mencintai lu karena gue udah punya nama wanita lain di hati gue," kata Sultan. 


Nabila memejamkan mata. Ia berusaha menghalau agar tidak ada cairan bening yang menetes. Walaupun ia tidak yakin bisa melakukan itu. 


"Makanya gue bilang, terlalu tinggi bermimpi. Gue lupa, kalau jatuh pasti sakit." Nabila menghirup napas dalamnya lagi. "Sul, gue minta maaf ke elu karena selama menjadi istri lu, gue kagak pernah bisa baik. Gue selalu aja buat lu emosi dan kesal. Mungkin dengan kepergian gue, lu bakal bahagia dan enggak ada lagi penghalang untuk mengejar cinta Hanum." 


Menyebut nama wanita lain dalam setiap obrolan mereka, sungguh membuat hati Nabila selalu saja merasa sakit karenanya. 


"Na ...." 


"Gue udah berusaha sebisa mungkin, tapi gue gagal. Jadi, enggak ada lagi alasan buat gue bertahan denganmu, Sul. Gue bersumpah kalau gue enggak pernah bilang kepada Hanum kalau kita udah nikah. Gue bahkan enggak pernah ketemu Hanum. Tapi, lu tenang aja, Sul." Nabila mengusap wajah barangkali ada cairan bening di sana. Lalu ia tersenyum getir ke arah Sultan. 


"Gue udah janji bakal bantu lu buat bersatu sama Hanum. Gue akan berusaha sekeras mungkin agar kalian bisa bersatu. Gue juga akan ngeyakinin Mama Kurap bahwa Hanum adalah wanita yang paling cocok buat lu. Bukan gue. Setelah gue udah nepati janji itu maka gue akan pergi dari kehidupan lu."


"Na, fokuslah pada kesehatan lu dulu. Jangan bahas ini." Sultan mulai merasa tidak tega. Apalagi saat melihat sorot mata Nabila yang tampak sendu.


Ia sungguh merasa bersalah. Mungkin ia sudah terlalu kejam karena menyakiti Nabila sampai sedalam itu. Namun, ia pun tidak bisa memaksa hatinya yang tidak—belum—mencintai wanita itu. 


Sultan pun tidak lagi membuka suara. Ia lebih memilih untuk diam agar Nabila tidak lagi berbicara macam-macam. Ia hanya ingin Nabila fokus pada kesembuhannya. 


Gue harus cari tahu siapa yang udah bilang ke Hanum kalau gue udah nikah. Gue bakal bikin perhitungan buat dia, karenanya gue jadi kena banyak masalah kayak gini. 


"Pa, apa yang ingin papa bicarakan." Sultan menatap ragu ke arah Arga yang sejak tadi menatapnya. 


Padahal dalam hati Sultan sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh papa mertuanya tersebut. 


"Tuan Muda," panggil Arga. 


Sultan terpaku ketika mendengar panggilan Arga yang tiba-tiba berubah padanya. Ia tahu, setelah ini pasti tidak akan baik untuknya. 


"Pa, kenapa memanggilku tuan muda?" Tatapan Sultan begitu menelisik hingga membuat Arga mendes*hkan napas ke udara secara kasar dan berkali-kali. "Jangan pernah memanggilku seperti itu karena aku sangat membencinya." 


"Baiklah. Aku tidak mau berbasa-basi lagi denganmu, Tuan Muda. Aku tahu pernikahanmu dengan Nabila masih seumur jagung. Tapi, jika memang kalian hendak berpisah. Aku akan sangat ikhlas," ujar Arga. Suaranya terdengar berat.


"Maafkan aku, Pa." 


"Tidak perlu meminta maaf karena bagiku semua salah di sini. Dari awal aku sudah bilang, jangan pernah menyakiti Nabila. Kalau memang kamu tidak bisa mencintainya maka biarkan dia kembali padaku. Aku akan menerima dengan tangan terbuka karena sampai kapan pun, dia tetaplah putriku yang paling ku sayangi." Arga menghela napas panjang saat merasakan dadanya sakit. 


"Kamu akan mengerti bagaimana posisiku jika sudah memiliki seorang putri suatu saat nanti. Kamu pasti akan ikut merasakan sakit, ketika putrimu disakiti oleh lelaki lain meskipun ia adalah suaminya. Aku sudah berusaha membesarkan Nabila dengan penuh kasih sayang dan tidak pernah membentaknya. Awalnya kupikir kamu bisa membuat Nabila bahagia, tetapi salah. Mungkin dengan kalian berpisah, itu akan membuat kalian bahagia dengan jalan masing-masing." Arga berbicara panjang lebar. Jika menyangkut Nabila, lelaki itu pasti akan seperti wanita yang sedang mengomel. 


"Pa, jika aku berpisah dengan Nabila, apakah hubungan keluarga kita tetap baik-baik saja?" tanya Sultan hati-hati. 


Arga tersenyum sinis. "Bisa iya ataupun tidak. Semua hanya waktu yang akan menjawabnya, tapi kuharap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat jangan sampai menyesal di kemudian hari." 


"Aku tidak mau bercerai dengan Sultan dalam waktu dekat ini, Pa!" 


Kedua lelaki itu terkejut ketika melihat Nabila yang berada di ambang pintu. Wanita itu duduk di kursi roda karena tubuhnya masih sangat lemah. 


"Na, kenapa kamu ...." 


"Aku tidak mau bercerai dengan Sultan sebelum aku yang memintanya secara langsung," kata Nabila. Ia mendekati kedua lelaki itu.


Nabila hanya bisa menunduk ketika melihat tatapan kecewa dari bola mata Arga. 


"Kamu tidak sayang papa?" 


"Aku sangat sayang sama Papa. Tapi, Pa, bukankah setiap rumah tangga pasti ada masalahnya masing-masing dan aku ingin berdua dengan Sultan untuk saat ini. Menyelesaikan semua ini," sahut Nabila. 


Tanpa berbicara apa pun, Arga pergi meninggalkan mereka. Membawa rasa kesal karena putrinya yang keras kepala. 


"Kenapa lu enggak mau pisah sama gue? Padahal kedua orang tua kita sudah sama-sama setuju." Sultan merasa sangat geram kepada Nabila. 


Namun, bukannya marah. Wanita itu justru tersenyum simpul. "Lu tenang aja, Sul. Setelah gue nepati janji gue buat nyatuin lu dan Hanum. Gue bakal pergi dari kehidupan lu dan mengurus surat perceraian kita. Gue sadar, puncak tertinggi dari rasa cinta adalah melihat orang yang kita cintai bahagia meskipun bukan dengan kita. Gue hanya sedang berusaha ngelakuin itu. Asal lu bahagia, gue udah seneng, Sul." 


"Na ...." 


"Gue pergi dulu. Besok gue masih tetap akan pulang ke rumah kita dan gue bakal ngomong sama orang tua kita bahwa gue masih ingin meneruskan pernikahan ini." 


Nabila pun meninggalkan Sultan yang hanya terpaku di tempatnya. 


Apa pun akan gue lakuin buat elu, Sul. Agar kepergian gue nanti dari hidup lu, memberi kesan tersendiri. Gue emang bodoh, tapi entahlah. Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi bodoh. Sama sepertiku.