
"Je, semua manusia pasti akan mengalami kematian. Setiap pertemuan pun pasti ada perpisahan. Enggak ada yang abadi di dunia ini," ujar Ariel berusaha menenangkan hati Jeje.
"Ya, tapi aku takut kalau nikah ...."
"Jangan berpikir sampai sejauh itu. Yakinlah kalau mama elu itu bakal terus baik-baik aja. Meskipun lu udah nikah atau belum. Mungkin, mama lu pengen lihat lu nikah karena usia lu yang udah mateng buat nikah. Dia takut lu kagak laku," seloroh Ariel.
Jeje mendelik tajam kepada lelaki itu. "Kamu nyebelin!"
"Lah, biasanya lu yang nyebelin. Udah galak, nyebelin pula. Gue yakin yang jadi suami lu pasti ngenes tuh tiap hari diomeli mulu," celetuk Ariel disertai gelakan tawa. Namun, itu hanya sesaat karena Jeje sudah menendang tulang kaki Ariel hingga membuat lelaki itu mengaduh kesakitan. "Gila lu, Je! Sakit!"
"Rasain! Lagian, cuma ditendang gitu aja kamu udah sakit, padahal kamu dah ngerasain sakit yang lebih dari ini ya 'kan?"
"Apa maksudnya?" tanya Ariel belum paham.
"Kamu 'kan lagi sakit hati karena ditinggal Nabila nikah sama Sultan. Haha." Jeje tertawa lepas. Merasa puas karena sudah membuat Ariel kesal.
"Asem emang lu!" protes Ariel. Ingin sekali ia merem*s gadis itu, tapi tidak jadi. Kasihan juga anak orang direm*s-rem*s seperti anu.
Jeje kian tergelak keras apalagi saat melihat raut wajah Ariel yang dipenuhi kekesalan. Ariel yang awalnya sangat kesal pun pada akhirnya tersenyum melihat Jeje yang tertawa lepas.
Hubungan Jeje dan Ariel memang tidak sedekat dengan Sultan ataupun Nabila. Bahkan, Ariel dan Jeje jika bertemu seringkali berselisih dan beradu argumen. Itulah mengapa, kedua orang itu jarang sekali bertemu jika bukan di acara penting atau suasana seperti ini.
"Nah, gue seneng lihat lu senyum gini. Lebih cantik daripada waktu lu cemberut," puji Ariel tanpa sadar.
"Ciee ... jadi udah ngakuin kalau gue cantik nih, ye." Jeje mengibaskan rambutnya ke belakang dengan gaya centil dan hanya disambut dengkusan kasar oleh Ariel.
Senyum Ariel mengembang ketika melihat Jeje sudah mulai memakan makanannya. Itu artinya, suasana hati gadis tersebut sudah lebih baik.
***
Setelah kejadian waktu itu, hubungan Nabila dan Sultan pun kian membaik meskipun masih diselingi perdebatan seperti biasa. Namun, setidaknya perasaan Nabila sedikit lebih tenang karena merasa tidak ada lagi nama wanita lain yang tersemat di hati Sultan. Wanita itu menyakini bahwa suaminya bisa ikhlas melepas Hanum, dan bagi Nabila pula, ia memiliki kesempatan lebih besar untuk membuat Sultan jumpalitan jatuh cinta padanya.
"Dasi gue mana?" tanya Sultan saat ia baru selesai memakai kemeja.
Pertemuan mendadak dengan klien membuat Sultan menjadi sangat terburu bahkan ia mandi pun hanya modal 'byur tiga kali saja'.
"Sebentar, sih. Belum ketemu dari tadi. Lu jangan bikin gue gugup." Bukannya mengambil dasi dari lemari, Nabila justru mengacak rambutnya kasar. Jujur, ia merasa sangat pusing karena melihat Sultan.
"Lama!" seru Sultan. Mengambil dasi sendiri dan segera memakaikannya.
"Biar gue pakein," tawar Nabila. Namun, Sultan langsung menolak karena baginya hanya akan membuang waktu.
"Gue berangkat dulu. Lu mulai kerja besok aja." Sultan melangkah hendak pergi dari kamar, tetapi saat mengingat satu hal, ia pun langsung kembali mendekati Nabila.
"Kenapa? Ada yang kurang?" tanya Nabila terheran. Sultan tidak menjawab, hanya kecupan di kening Nabila lah, yang menjadi jawaban pertanyaan wanita itu.
Awalnya Nabila terpaku, tetapi ia tersipu malu setelahnya. "Ciee, udah mulai bucin nih, ye."
"Dah, jangan banyak bicara. Gue udah telat." Sultan pun kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Nabila yang bergeming di tempatnya.
Setelah pintu kamar tertutup rapat, Nabila pun dengan gegas mengambil ponsel dan menghubungi sahabatnya untuk mencurahkan isi hatinya yang sedang berbunga-bunga.
"Arriieeel!" teriak Nabila saat panggilan itu baru saja terhubung.
"Astaga, Na. Lu teriak kenceng banget. Bikin kuping gue berasa budek," cibir Ariel dari seberang telepon.
Nabila terkekeh dan merasa senang karena berhasil membuat Ariel kesal. "Mangap, Riel."
Ketika baru saja terhubung, Ariel langsung disambut oleh wajah Nabila yang penuh dengan senyum. Wanita itu memang belum bercerita, tetapi Ariel tahu dengan pasti hal apa yang membuat Nabila sebahagia itu. Apalagi kalau bukan Sultan.
"Napa lu senyum mulu udah kayak orang gila? Udah kagak perawan lu? Udah ngerasain pusaka sakti mandraguna milik Sultan? Ngerasain merem melek digenjot Sultan?"
"Yaelah, Gevariel! Mulut lu kenapa gitu amat. Otak lu konslet?" Nabila mendes*hkan napas kasar, tetapi Ariel tidak peduli. Tetap memasang wajah stel kalem. "Gue belum kawin."
"Gue kagak percaya," timpal Ariel tanpa mengubah raut wajahnya.
"Kalau lu kagak percaya ya udah. Gue enggak nyuruh lu buat percaya. Emangnya gue harus live streaming gitu pas making love sama Sultan biar lu percaya," kata Nabila mulai ada nada-nada kesal dalam ucapannya.
"Boleh banget, tuh. Ntar kalau gue pengen, gue samperin lu buat ikutan main. Hahaha," celetuk Ariel asal.
"Edan lu, Riel! Nyebelin!"
Ariel terkekeh ketika melihat Nabila yang sedang mengerucutkan bibir. Menandakan bahwa wanita itu sedang merajuk.
"Dah, lah. Capek juga godain lu, tapi lu kagak kepincut sama gue. Ke mana si Bisul?" tanya Ariel berusaha mengalihkan pembicaraan. Apalagi sejak bertelepon dengan Nabila, ia tidak melihat Sultan sama sekali.
"Ada pertemuan penting sama klien. Barusan dia berangkat aja udah kayak orang dikejar setan. Gue sampai pusing lihatnya," sahut Nabila.
"Loh, lu enggak ikut? Kliennya cewek apa cowok?" tanya Ariel curiga. Sebenarnya, ia hanya ingin memanasi Nabila.
"Mana gue tau. Gue ini pengangguran sampai nanti malam. Besok pagi gue baru mulai kerja," ucap Nabila santai tanpa curiga terhadap senyuman licik Ariel.
"Na, jangan-jangan klien Sultan itu cewek cakep, bohai, dan mau ngerayu Sultan buat dijadiin Sugar Dady lagi ...."
"Sialan!"
Tut Tut Tut
Panggilan itu pun terputus begitu saja. Nabila sengaja mematikan panggilan itu karena ingin memastikan ucapan Ariel hanyalah bualan belaka. Ia pun segera menghubungi Sultan, tetapi tidak diangkat sama sekali. Nabila pun beralih memanggil asisten Sultan untuk memastikan suaminya.
"Hallo, di mana Sultan?" tanya Nabila tanpa basa-basi.
"Lagi mengobrol dengan klien, Nona." Lelaki itu menjawab sopan.
"Apa kliennya cewek?" tanya Nabila lagi. Seolah belum puas.
"Iya, Nona."
"Apa dia cantik?" tanya Nabila tidak sabar.
"Iya, Nona."
"Apa dia bohai?"
"Iya, Nona."
"Apa dia masih gadis? Atau sudah ...."
"Janda anak lima, tapi masih terlihat cantik menggoda, Nona."
"Apa!" pekik Nabila tidak percaya. "Gue harus nyusul Sultan sekarang."
Nabila pun mematikan panggilan itu sebelum akhirnya bersiap untuk menyusul Sultan.