
Jo keluar dari sebuah ruangan dengan segelas kopi hangat. Ia menyandarkan kedua lengan pada pagar pembatas gedung bertingkat tempatnya berada saat ini. Matanya mengedarkan pandangan, menyapu keseluruhan sisi spot besar yang telah menyelamatkan mereka beberapa hari yang lalu. Ia tertegun. Rasanya sudah seperti mimpi. Ingatannya beberapa hari lalu kembali terngiang. Dirinya, Jun, dan Adara, melangkahkan tungkai demi mencari spot untuk menyelamatkan diri dari neraka di luar sana. Peluh, lapar, dahaga, mungkin sudah menyatu dan membuatnya lupa dengan duka yang dirasakan karena kehilangan orang tuanya.
Pemuda itu masih beruntung memiliki Jun. Gadis kecil yang tidak tahu bagaimana rasa luka akibat kehilangan itu
tetap ceria, seakan tidak ada beban dalam hidupnya. Ia tidak seperti Jo yang terkadang tidak bisa menahan emosi, dan seringkali pesimis terhadap usaha yang dilakukannya.
Sesekali Jo meneguk kopi, merasakan kehangatan yang perlahan membasahi ruang kerongkongannya. Netra pemuda itu masih memandang jauh ke beberapa bangunan semi permanen di dekat gedung bertingkat yang ia pijaki. Banyak orang lalu-lalang, sibuk dengan pekerjaan mereka. Area ini bisa dibilang aman dari bahaya luar untuk sementara waktu, sampai pihak berwajib mampu menghubungi markas pusat dan mengungsikan penduduk ke sana.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya seseorang setengah mengejutkan pemuda tersebut.
Jo memandang pria yang baru saja datang dan tidak pernah mengganti seragamnya sejak kali pertama mereka bertemu. Ia mafhum identitas pria itu yang sebenarnya, dan kini benar-benar merasa canggung berhadapan dengan pria yang rambutnya selalu terlihat berantakan itu.
“Anu ... Letnan ....”
“Panggil Jason saja,” potong pria itu sekejap. “Aku hanya prajurit biasa sekarang.”
Jo tersentak sejenak, sebelum akhirnya kembali ke posisinya semula. “Maaf,” lirihnya.
“Untuk apa?” tanya Jason sembari menyandarkan kedua lengan pada pagar di dekatnya.
“Aku tak tahu kalau kau ....”
“Sudah melepas jabatanku,” sela Jason kembali. Ia menatap lekat ke arah pemuda di sampingnya itu sejenak.
“Meski baru beberapa bulan, tapi menurutku itu sudah lama,” katanya, “aku lebih memilih berjuang bersama prajurit lain daripada harus berpangku tangan di balik kemudi. Perang saat itu ... adalah perang pertamaku menjadi seorang prajurit biasa.”
Jo beralih memandang Jason. Wajah tegas pria itu menandakan bahwa selama ini ia telah banyak mempertaruhkan nyawa di neraka sana.
“Lalu ... apa yang kau lakukan di luar spot saat menyelamatkan kami kemarin?” tanya Jo.
“Bunuh diri ... mungkin,” jawab pria itu enteng. Lekuk menanjak pada kedua belah bibirnya terbentuk sejenak, seperti sedang meledek diri sendiri. “Egois. Tampaknya aku seperti itu. Saat perang pun aku lebih memilih menyelamatkan diri sendiri ketimbang rekanku.”
Jason mendecih sejenak. Sorot matanya menyendu, memandang jauh ke arah langit senja di mana terlihat siluet burung-burung yang mulai bergerak menuju ke peraduannya.
Sementara, Jo menelan liur. Jejak cairan hitam yang barusan ia telan masih terasa di rongga mulut. Matanya turut
memandang bola mega di ufuk barat.
“Kalau kau egois, kau tak mungkin menyelamatkan kami kemarin,” katanya kemudian.
Pria itu mengangguk lemah. Ia terdiam, merangkul kesunyian sesaat, sebelum sekian detik kemudian berbalik.
“Tidurlah yang nyenyak malam ini,” ucapnya.
“Anu ... bolehkan aku bertanya?” Jo menegapkan tubuh seraya menghabiskan cairan kopi terakhirnya.
“Apa?”
“Penyerangan aliansi barat,” kata pemuda itu, “apakah masih berlanjut?”
Jason bergeming sejenak. “Selama kau di spot ini, semuanya akan aman,” timpalnya.
“Apa kita sama sekali tak melakukan serangan balasan?” tanya Jo lagi.
Pria itu kembali terdiam dan dipandangnya Jo selama beberapa detik. “Kita tak punya banyak senjata di sini, kecuali ....”
Kening Jo saling bertaut. “Kecuali apa?”
“Kecuali kau bisa menggunakan Paladin.”
Jason kembali memandang Jo hingga kedua mata mereka bersirobok. Cukup lama.
“Paladin?” gumam Jo penasaran.
“Paladin. Clibanarii yang tersimpan sejak lama bahkan sebelum bencana besar saat itu terjadi. Sang pelindung, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menggunakannya. Lima tahun lalu ada orang yang berhasil mengendarainya. Tapi ....”
Jason bergeming, mengacak-acak surainya. Ia kembali menatap Jo yang kini tengah berpikir keras.
“Sudahlah, tak usah dipikirkan,” katanya, “lagipula, setahuku, Paladin sekarang berada di markas pusat dan kalau pun kau ditakdirkan untuk menggunakannya, kau belum bisa menyentuhnya sekarang.”
Ia menepuk mantap pundak Jo. Senyumnya yang menggurat tipis tampak jelas, sebelum akhirnya berbalik dan beranjak pergi dari tempat tersebut.
Jo sendiri masih terdiam memikirkan ucapan Jason. Paladin. Clibanarii. Kedua kata itu kini saling bertaut dalam sebuah tanda tanya besar di otaknya.
***
“Kau sudah berhasil menghubungi orangtuamu?” tanya Jason beberapa detik setelah ia kembali ke sebuah ruangan.
Adara yang masih memandang lekat ke arah peralatan di depannya menggeleng menimpali. Sementara, beberapa orang di sekitarnya masih tampak duduk di kursi kerja dengan kesibukan mereka masing-masing.
Jason mendesah panjang seraya menghampiri gadis itu. “Bencana itu memutus hampir seluruh saluran komunikasi dunia. Kita bisa saja menghubungi beberapa spot besar untuk menyampaikan pesan ke markas pusat. Tapi kita juga harus sabar karena pembicaraan pasti akan terputus-putus. Dan ...,” ujarnya menggantung kalimat terakhirnya.
“Dan apa?” Adara memandang serius ke arah pria yang kini berdiri di dekatnya itu.
“Dan data dari jumlah spot besar yang masih bertahan, hanya sedikit yang berhasil kami kumpulkan,” lanjut Jason.
Jemari pria itu beralih pada sesuatu di hadapannya, bergerak lincah menekan beberapa tombol yang ada hingga
memunculkan gambar peta dunia pada layar besar di depannya. Ada beberapa titik merah berdenyut menampak di layar tersebut. Jason menekan salah satu tombol ketika kursor di layar mengarah ke salah satu titik merah hingga memunculkan sebuah data.
“Itu adalah jumlah penduduk yang tinggal di spot tersebut. Tapi ini adalah data terakhir yang kami kumpulkan satu
bulan yang lalu. Sejak saat itu, sampai detik ini pun pihak kami tak pernah mendapatkan konfirmasi resmi dari sana. Baik itu tentang kondisi spot, dan juga kehidupan yang ada di sana. Kami juga terus menghubungi markas pusat untuk mengirimkan pertolongan kemari. Tapi, kau sudah membuktikannya sendiri, ‘kan? Jaringan komunikasi tak begitu lancar sekarang, dan kita harus bersabar soal itu,” ulas Jason.
Adara mengembuskan napas panjang sejenak. Ia termenung, memandangi beberapa tombol di hadapannya. Sementara, Jason masih menatap gadis itu. Matanya memandang jeli setiap jengkal rupa Adara hingga membuatnya teringat seseorang.
“Boleh kutanya, kenapa kau tidak tinggal bersama orangtuamu di markas pusat?” tanyanya.
Gadis bersurai hitam itu berpikir sejenak. “Setelah ayahku meninggal dalam operasi militer lima tahun lalu, ibuku mulai bekerja keras dan markas pusat meliriknya untuk bekerja sebagai peneliti di sana. Ibu memintaku untuk turut dengannya ke markas pusat dan bersekolah di sana. Tapi aku tidak menginginkan hal itu. Militer ... membuatku mengingat Ayah, dan aku belum bisa melupakannya,” ujarnya menimpali.
“Yusagi Richard,” jawab Adara sembari memandang lurus ke arah Jason. “Kapten Yusagi Richard.”
***
Derap langkah terdengar menggema di salah satu koridor markas aliansi barat. Erick mendadak gusar dengan sesuatu yang telah dilakukan oleh pihak berwajib markas tersebut. Misi yang dijalankan saat ini pun sepertinya gagal karena para prajurit belum kembali setelah seharian penuh dikirim keluar sana.
Erick mempercepat langkahnya menuju salah satu sisi pangkalan di mana ia biasa melihat kendaraan pengangkut
terparkir di sana.
“Hey! Mau ke mana kau!” pekik salah seorang petugas.
Pemuda itu tidak menghiraukan petugas yang berusaha mencegahnya menggunakan salah satu kendaraan pengangkut.
“Berisik!” hardiknya kepada petugas itu. “Katakan pada pusat kendali untuk mendata ulang jumlah prajurit yang menjalankan misi saat ini!” titahnya, sebelum akhirnya memacu kendaraan besi itu keluar pangkalan.
“Bagaimana mungkin radar milik Adnan bisa lenyap begitu saja? Apa sesuatu terjadi dengannya?” batin pemuda itu
gusar.
***
“Anu ....” Megan menggantung ucapan. Manik matanya memandang punggung seorang pemuda yang berjalan di
depannya. “Bagaimana jika kita kembali ke titik awal, Kapten?” tanyanya kemudian.
Adnan menghentikan langkah, memandang sejenak remahan dinding bangunan di dekat kakinya. “Kalau saja kembali ke titik awal bisa memudahkan kita mencari bantuan, itu sih tak masalah,” katanya seraya berbalik menghadap Megan.
“Masalahnya, seluruh peralatan pemancar yang kita bawa pun tak berguna sekarang. Jadi, kalau kau mau kembali
ke titik awal silakan saja. Kecuali, kalau kau benar-benar ingin dimangsa oleh penghuni bangunan itu,” lanjutnya, lalu berbalik dan berjalan kembali—disusul Megan.
“Tapi, bukankah kalau di luar begini ....”
“Erick akan menjemput kita. Kau tenang saja,” sela Adnan sigap. “Kalau kita terus-menerus di dalam gedung. Maka
itu akan mempersulit dirinya menemukan kita.”
Megan mengernyit. “Erick? Bukankah dia ...,” ucapnya sambil mengingat sesuatu. “Ah, dia putra Komandan Add, ‘kan? Frederick Add, itu namanya, ‘kan?”
Sejenak, Adnan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Add adalah nama panggilan Erick yang sebenarnya dan bukan nama komandan,” timpalnya, “komandan sendiri bernama Frederick Hubert.”
Gadis itu mengangguk paham. “Frederick Hubert, ya,” gumamnya.
Sesekali, Adnan memperhatikan sekitar. Tanah tandus dengan reruntuhan gedung itu bagai neraka di planet ini. Desir angin berembus menyertai serpihan debu dan kristal pasir di antaranya. Sementara, petang mulai menghampiri. Pemuda itu tercenung. Hatinya meresapi setiap jejak yang ia buat di tanah tandus itu dan bertanya-tanya tetang misi bodoh yang dijalaninya saat ini.
“Jika saja aku bisa membaca peluang keberhasilan misi ini, maka aku memilih untuk tidak menuruti rencana
bocah itu,” pikirnya, “misi untuk mencari penduduk aliansi timur di tanah gersang ini? Cih! Mustahil ada yang bisa bertahan lama di neraka ini.”
“Anu ... sebenarnya, kalau boleh tahu, untuk tujuan apa kita dikirim kemari?” tanya Megan setengah menggumam.
“Mengurangi jumlah penghuni pangkalan mungkin,” jawab Adnan sekenanya.
“Hah? Itu tidak benar, ‘kan?” selisik gadis itu dengan mimik bodohnya. “Aku sudah bekerja keras selama ini, dan berakhir di tempat seperti ini. Yang barusan kau katakan itu tidak benar, ‘kan?”
Langkah Adnan mendadak terhenti. Bola matanya tertuju ke arah langit di mana beberapa burung besi tampak
bermanuver tidak jauh dari posisi mereka sekarang. Fokus pandangannya menajam seketika, menelisik rupa pesawat bermoncong lancip tersebut.
“Aliansi timur?” gumamnya.
“Ada apa? Kenapa berhenti?”
Adnan berbalik, sigap menarik tangan Megan dan membawa serta gadis itu bersembunyi di salah satu reruntuhan
bangunan di sekitar mereka. Konyol sekali untuk prajurit berpangkat kapten sepertinya yang harus bersembunyi dari pasukan musuh.
Tidak.
Dirinya tidak bisa mengatakan jika aliansi timur adalah musuhnya saat ini. Aliansi timur sejatinya adalah kelompok
asalnya. Namun kali ini kondisinya berbeda. Adnan benar-benar tidak ingin kelompok asalnya itu menemukannya dalam keadaan menggunakan seragam prajurit aliansi barat.
Sementara itu, netra Megan terturut memandang ke arah yang sama dengan pemuda di dekatnya itu. “Pesawat
aliansi timur,” katanya setengah berbisik. “Kupikir mereka sudah punah sejak bencana itu.”
Adnan berbalik dan berusaha menenangkan diri. Embusan napas panjang menerobos keluar dari hidung dan
mulutnya sejenak.
“Mungkin saja itu dari markas pusat,” ucapnya.
“Markas pusat aliansi timur?” tanya Megan. Pemuda itu mengangguk mengiyakan.
“Mereka pasti punya banyak waktu dan strategi untuk melancarkan serangan balik jika dibandingkan dengan kita yang hanya berpangku tangan dengan teknologi yang ada dan juga penguasaan Cosmo. Apa kita terlalu gegabah melancarkan aksi sampai mereka bisa mengirim penjaga dan bermanuver serendah itu? Tapi, bukankah dengan ketinggian itu, mereka bisa ketahuan oleh pihak kita?” cerocos gadis itu dengan mata yang masih melihat ke
arah langit. “Cosmo bahkan tak bisa menjaga perdamaian dunia dan malah dikuasai oleh kita. Ini benar-benar rumit.”
Adnan masih bergeming. Otaknya merumit sejak beberapa detik yang lalu, berpikir bagaimana cara mereka untuk melarikan diri dari tempat ini dan apa yang sesungguhnya diincar oleh ketiga pesawat bermoncong runcing itu.
Sampai akhirnya, sesuatu membuyarkan lamunannya. Decak peluru beruntun terjadi beberapa jarak dari
posisi mereka. Adnan sigap bangkit, melemparkan pandangan kepada sesuatu yang tengah di tembaki oleh pesawat-pesawat itu. Bola matanya melebar tangkas setelah mengetahui objek sasaran ketiga burung besi yang kini malah mendekati posisinya. Sementara, tangannya tergerak hendak kembali menarik lengan gadis di
sampingnya. Namun, sesuatu terjadi pada gadis tersebut, tepat di hadapan kedua mata Adnan kini.
“MEGAN!!!”
***