AST

AST
62 . PERGERAKAN



Adnan melangkah tepat di antara beberapa petugas yang mengantarnya menuju ke satu arah, mungkin menemui


Oscar. Dia terdiam dengan beberapa poin dalam pikiran yang bisa membuatnya bergerak sebentar lagi. Percakapan penuh kode antara dirinya dengan Erick tadi benar-benar membuat pikirannya terbuka.


Erick memang tidak memberitahukan inti informasi yang diberikan Hubert padanya karena memang dia belum membukanya sama sekali. Namun, pemuda itu cukup pintar, bahkan Adnan menduga kalau selama ini Erick lebih pintar darinya soal strategi. Sedangkan Adnan, dia tiba-tiba bisa nge-blank dan menjadi naif terhadap keadaan sekarang. Namun, berkat pertemuannya dengan pemuda Frederick tersebut, jalan pikiran Adnan mulai terbuka perlahan.


Dan sekarang … adalah waktunya.


***


“Apa Oscar sudah menungguku?” tanya pemuda berambut hitam itu.


Salah satu petugas berdeham menimpali.


“Dia ada di ruangannya sekarang,” kata yang lain.


“Kalian benar-benar betah menjadi budaknya, ya?” ledek Adnan. “Lagipula, untuk apa? Untuk apa tinggal di bangunan besi melayang seperti ini? Bukankah tak ada bedanya dengan penjara?”


Salah satu petugas mendengkus. “Meskipun kau terpaksa, maka takkan ada tempat tinggal lain selain di sini sekarang,” katanya.


“Bumi sudah hancur. Lebih baik di sini, kan?” sahut yang lain.


“Aku cukup terkesan dengan pilihanmu tadi,” kata salah satu petugas yang berjalan di depan Adnan.


“Hm? Soal?” Adnan menimpali.


“Soal pilihan ini,” kata teman di sebelahnya. “Kalau saja kau menolak, mungkin kau tidak bisa menyelamatkan


pacarmu, kan?”


Yang lain tertawa membalas. Adnan mendengkus.


“Ada satu hal yang mungkin bisa membuat kalian dilema pada saat-saat tertentu,” katanya kemudian.


“Apa itu?” tanya petugas yang di belakang.


“Jika aku bergerak sekarang dan mengambil alih semuanya, apakah kalian akan ikut denganku?”


Petugas yang berjalan di depan berdecih. “Jangan membual! Kau hanya tikus kecil di sini sekarang.”


Adnan tersenyum picik. Dia menggeleng, menafsirkan segala hal atas ucapan para petugas tersebut.


“Meski kau berusaha merebut keadaan, semuanya tidak akan ada yang beru—”


BUKKK!!!


Satu tendangan telak didapatkan petugas tersebut. Membuat yang lain terkejut dan berusaha menahan Adnan. Namun, dasarnya Adnan adalah remaja yang masih memiliki kekuatan dan otot yang kuat, dia dengan leluasa menendang, mendorong, bahkan memukul para petugas tersebut.


“Sial! Dasar kau—”


BUKKK!!!


BUKK!!!


Adnan melihat sebuah id card salah satu petugas dan mengambilnya. Dia berlari ke arah mula, menuju sebuah


sel tempat di mana sosok pemuda telah menunggunya.


“Adnan!”


Adnan bergegas memasang id card pada sensorik di samping pintu sel hingga pintu itu terbuka. Erick tampak


keluar darinya.


“Kau baik-baik saja?” tanya pemuda itu.


Adnan mengangguk. “Kita harus cepat!”


“Selatan!” titah Erick. “Itu menuju ke pintu kontrol ke-2!”


Keduanya berlari menuju ke arah lain. Memang, meski sudah 4 tahun berada di sana, bukan berarti mereka tidak tahu apa pun. Erick yang pernah mendapati pendidikan dan berkesempatan menjelajahi semua lokasi di Cosmo masih ingat detail denah torus perdamaian tersebut. Sementara Adnan, dia hanya bertugas mengikuti arah yang ditunjukkan rekannya sambil menyusun strategi acak dalam otaknya.


“Awas!”


Adnan menarik Erick menuju ke balik dinding ketika intuisinya menyatakan beberapa orang tengah berjalan di koridor itu. Benar saja, sekitar tiga petugas tengah berpatroli di sana. Keduanya bergeming selama sekian menit sampai petugas itu melewati mereka dan benar-benar hilang di balik persimpangan.


Adnan meraih alat yang dipasangkan Oscar di cuping telinganya, lantas menghancurkannya dengan menginjaknya. Erick yang melihatnya hanya bisa memelotot, sebelum pemuda itu membalasnya dengan mengendikan bahu.


“Ke mana lagi?” bisik Adnan.


“Dua belokan lagi, kita akan keluar dari sel ini,” balas Erick. “Tapi ….”


“Apa?” Adnan menatap pemuda beriris cokelat itu.


“Kau selamatkan Adara, aku akan menuju ruang kontrol untuk mengecek apakah ada pesawat yang bisa kita gunakan untuk keluar dari sini.”


“Kau gila!” balas pemuda bermata biru tersebut. “Aku tidak ingin kita terpisah lagi. Jangan bodoh!”


“Adnan, ini kesempatan kita!”


Adnan bergeming dalam kebisuan. Tangannya mencengkeram kerah seragam Erick dengan kesal lantas mendengkus kasar.


“Lima belas menit,” ucap Erick. Dia merogoh saku dalam seragamnya, mengeluarkan dua perangkat earphone dan


memberikan yang satunya pada Adnan. Sementara itu, yang lain  dipasang di telinganya.


“Apa?” tanya Adnan. “Apa maksudmu lima belas menit?”


“Jika lima belas menit aku tidak ada kabar, bawalah Adara ke hangar,” ucap Erick.


“Jangan menyuruhku!”


Erick menoleh, mendapati tatapan serius dari mata biru rekannya itu. Dia tersenyum kecut. “Aku tahu. Kau juga, jangan menyruhku!” ucapnya, lalu menepuk pundak Adnan. “Ayo!”


***