
Sesuatu tampak merambati permukaan tanah. Butiran-butiran partikel saling bertautan dan bergumul saling menyatu. Layaknya berlari, menerjang semua yang berada di hadapannya. Tanpa ampun. Tanpa penyesalan. Keseluruhan tindakannya diiringi oleh desir angin yang berembus semakin kencang, meraupi segala hal yang terjadi di permukaan. Suhu semakin panas. Lambat laun semakin mencekam, menghabisi keseluruhan makhluk yang menghuni titik itu. Badai pasir yang terjadi setiap hari semakin membuat manusia ketakutan.
Inikah dunia baru yang dimaksud?
“Badai pasir terjadi di timur laut, dan kemungkinan akan sampai ke area ini sekitar lima belas menit,” ujar salah seorang pria. “Pastikan kalian kembali, atau berlindung di tempat yang aman!”
“SIAP!”
Adnan tengah menyiapkan senjatanya. Ia terturut memijakan kaki seperti para pejuang lain di sekitarnya, lalu berjalan di suatu area yang tampak mati. Kening pemuda itu mengerut sekejap, diiringi dengan pandangannya yang menyapu keseluruhan sisi tempat tersebut. Sesekali ia menelan liur, berusaha membasahi kerongkongan yang mengering.
Lima belas menit.
Seharusnya Erick sudah menghubungiku saat ini. Tapi ke mana bocah itu?
Pemuda itu kembali berjalan, sampai akhirnya terhenti di depan sebuah reruntuhan. Bangunan itu mungkin dulunya amat tinggi. Namun karena bencana mega yang terjadi beberapa waktu lalu, menyebabkan pondasinya yang kuat terkikis dan sebagian runtuh, menyisakan sisi lain yang masih berdiri kokoh berselimut pasir dan tanaman merambat.
Adnan bergegas masuk dan menyelisiknya. Beberapa prajurit juga turut bersamanya. Manik mata pemuda itu sesekali melihati rekannya. Tidak ada yang tahu identitasnya kini. Anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya padanya.
“Lalu, kenapa kita kemari?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja menepuk pundak pemuda tersebut.
Adnan terkejut sampai membuat netra mereka saling berpandangan. Matanya sejenak melebar, tahu jika orang di
balik topeng di hadapannya kini adalah seorang perempuan. Lebih tepatnya, seorang gadis yang mungkin saja seusia dengannya.
“Jangan memandangku seperti itu!”
“Ah, maaf.”
Selang beberapa detik, mereka melanjutkan penelusuran. Reruntuhan itu benar-benar mati. Tidak ada jejak kehidupan, hanya lumut dan paku yang bernyawa di sana. Sinar matahari pun hanya berupa seberkas cahaya yang merasuk melalui celah-celah sisi bangunan yang terkikis karena rapuh.
“Memangnya di sini ada monster?” tanya si gadis yang sejak beberapa menit yang lalu berjalan bersama Adnan.
“Mana kutahu,” jawab Adnan.
“Lalu kenapa kita kemari, huh? Menyebalkan sekali!” gerutu gadis itu. “Tak ada manusia. Tak ada monster. Keberadaan kita hanya sebagai pengacau di sini, ‘kan?”
Adnan bergeming. Ia tidak ingin terlalu banyak bicara jika tidak mau identitasnya diketahui perempuan itu. Bagaimanapun, ia cukup terkenal di pangkalan. Banyak orang sudah pasti mengenalnya, dan mungkin saja gadis ini termasuk ke dalam kalangan itu.
Gadis itu berhenti, lalu menurunkan senjatanya dan terdiam sejenak. “Megan,” katanya, “panggil aku dengan nama itu.”
Adnan masih mengunci mulut. Dilihatnya gadis itu masih terdiam pada posisinya.
“Apa?!” Megan memelototi pemuda yang terpaku memandanginya itu. “Kubilang, jangan memandangku seperti itu!”
Gertakan itu menjadi akhir dari perkenalan mereka. Megan melanjutkan penelusuran, sementara Adnan turut
menyertainya. Sebenarnya, pemuda itu tidak ingin mengenal seorang pun dalam kelompok prajurit itu. Namun, mau bagaimana lagi, ini juga demi identitasnya yang masih disembunyikan.
Berkas cahaya mentari masih merasuki rongga reruntuhan, tetapi kini sudah berpindah arah. Adnan mafhum jika matahari sudah mencapai titik kulminasinya. Sementara, penelusuran mereka bahkan tidak membuahkan hasil. Ia sendiri merasakan keanehan pada misi kali ini. Tanpa tujuan yang pasti, dan tentunya tanpa komando dari pihak pusat.
“Kau melamun?” tanya Megan memecah keheningan. Gadis itu berlutut dan tampak mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya. “Apa kau merasakan sesuatu?” tanyanya lagi, kali ini menatap pemuda di belakangnya.
Adnan juga menatap gadis itu. Ia mengangguk menimpali.
“Komandan bilang, misi kali ini bertujuan untuk mencari penduduk dari aliansi timur. Tapi, coba, deh, kau pikirkan. Mana ada manusia yang bisa bertahan hidup di neraka ini, hah?”
Megan kembali memandangi sesuatu di hadapannya. Sebuah sobekan kain yang terjepit di antara reruntuhan bangunan dengan tanaman berbunga yang tumbuh di sisinya. Letaknya persis di bawah berkas sinar matahari yang menembus langit-langit bangunan.
“Perang,” gumamnya berlanjut. “Apa itu yang mereka inginkan?”
Adnan memandangi Megan dalam keheningannya. Begitu lama, sampai kesunyian tempat itu menjadi saksi bisu
mereka berdua. Setelah diperhatikan, ternyata hanya ia dan Megan yang berhasil menelusuri gedung itu sampai ke bagian terdalam.
Sesuatu berhasil ditangkap oleh liang pendengaran Adnan. Pemuda itu melemparkan pandangan ke berbagai arah,
lalu menelisik bahkan menebak sesuatu yang terjadi di luar gedung saat ini. Sampai akhirnya, sesuatu tampak aneh terjadi di balik celah gedung yang menghantarkan sinar matahari dari permukaan. Partikel-partikel kecil mulai jatuh
dari celah tersebut, diiringi oleh suara gemuruh. Pemuda itu bergejolak memandang celah yang berada tepat di atas Megan yang tengah termangu. Tungkainya melangkah cepat, dengan kedua tangan yang tangkas menyambar tubuh gadis itu.
“AWAS!!!”
Bunyi gemuruh merajai keheningan dalam sekejap. Celah itu semakin melebar dan kini menyebabkan sesuatu di
bawahnya tenggelam dalam kebisuan. Berkas matahari hampir tidak bisa menembus debu dan percikan partikel yang disebabkan oleh runtuhnya celah tadi.
Adnan memejamkan netra, dan membuatnya terbuka perlahan saat gumulan partikel di hadapannya mulai sirna. Pandangannya terangkat, melihat celah yang kini seperti lubang angin di mana pasir dan partikel kecut lain mampu menerobos lubang tersebut.
Napasnya tersengal, saling memburu bersama detak jantung. Sementara kedua tangannya masih memeluk tubuh gadis tadi. Setidaknya, Adnan bisa bernapas lega karena berhasil menyelamatkan Megan dari runtuhan itu. Namun, ia sendiri malah meringis, merasakan nyeri di kepalanya akibat benturan tadi.
Megan menggeliat, lalu melepaskan diri dari pelukan pemuda itu. Ia terduduk kaku saat berbalik dan melihat titik
semula. Tidak ada sobekan kain dan tanaman berbunga. Mahkota bunga yang ia pegang beberapa detik yang lalu, kini telah tersebar menjadi potongan-potongan kecil berselimut pasir dan debu.
Ia berbalik, kembali pada sang penolong sesaat setelah membuka helm yang menutupi kepala serta wajahnya.
“K—kau!!!”
Adnan mencoba terduduk sembari meringis. Ia terdiam, sontak memegangi kepalanya. Helm pelindung telah lepas
dari kepala dan terlempar tidak jauh darinya. Sementara, cairan merah terasa mengalir menuruni permukaan pelipisnya.
“Sial,” gumamnya.
“K—kau!!!” Lagi-lagi Megan memekik kejut. Telunjuknya mengarah sempurna kepada pemuda itu.
Adnan memandangnya sejenak, lalu menghela napas jengah. “Aku ketahuan juga akhirnya,” lirihnya.
“Kapten tak seharusnya di sini, ‘kan?!” seru gadis itu. “Aku tidak salah lihat, ‘kan?! Apa aku sudah mati?!”
Megan mengamati dirinya sendiri. Ia mengangguk bodoh. “Aku pasti sudah mati.”
Adnan menggeleng menanggapi gadis itu. Sementara tangannya meraba darah yang mengalir di pelipis, mencari sumber kekacauan pada tengkoraknya. Benturan tadi mungkin saja mememarkan sedikit tulang tengkorak, tapi tidak berakibat fatal untuknya. Sumber bahaya utama nanti adalah, saat ia dan Megan kembali ke titik awal dan gadis itu membocorkan identitas penyamarannya.
“Kau tak apa?” tanya Megan.
Pemuda itu mengangguk, lalu bangkit. Megan turut mengikutinya.
Adnan memeriksa keadaan setempat. Badai pasir tadi tidak hanya menyebabkan salah satu celah runtuh. Namun, banyak sisi yang runtuh bahkan menutupi jalan masuk yang mereka lalui beberapa waktu lalu. Pemuda itu berdecak kasar sejenak. Ia berbalik, kembali pada Megan.
“Apa tak ada jalan keluar?” tanya Megan ragu.
Adnan mengangguk. Kesialan ini seperti menggandakan diri untuknya. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah yang
ia rasakan sekarang.
“Kapten.” Megan kembali membuka mulutnya. “Kau seharusnya dilarang untuk misi darat, ‘kan?” tanyanya segan.
Megan mengepalkan tangan. Seharusnya ia tahu sejak awal mengenai identitas pemuda di dekatnya itu. Ia menundukkan setengah badan seketika.
Adnan tersentak. Ia terpaku sejenak sebelum salah satu tangannya menggaruk tengkuk pelan. “Ng ... ini bukan
salahmu,” katanya kemudian.
Gadis itu menegapkan tubuhnya. “Harusnya saya mengetahuinya sejak awal,” timpalnya, “maafkan saya.”
“Jangan terlalu kaku begitu,” lirih Adnan sembari membuang muka.
Manik mata pemuda itu mengarah pada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia sigap mengecek earphone dan beberapa alat yang setidaknya bisa menyambungkan titik keberadaannya dengan pihak pusat.
“Mati?”
“Punyaku juga, Kapten!” sahut Megan.
Adnan menatap Megan sejenak.
Sial!
Bahkan Erick tak kunjung menghubungiku. Apa yang terjadi sebenarnya?
“Tadi, Kapten bilang kalau badai akan sampai ke titik ini lima belas menit kemudian. Tapi, kupikir kita masih punya waktu lima menit untuk kembali ke titik awal—”
“Siapa yang bisa menebak kecepatan badai? Tak ada yang bisa menebak kapan bencana akan datang,” potong Adnan.
Megan memandang lurus ke arah pemuda yang pelipisnya masih bernodakan cairan merah itu. Pemuda itu tampak
tidak menghiraukan lukanya. Megan ingin bertindak, tapi ia sendiri bingung harus melakukan apa di saat genting seperti saat ini.
“Ayo bergegas! Kita harus temukan jalan keluar sebelum malam tiba.”
Adnan mulai bergerak, menyisir kembali reruntuhan. Megan mengangguk mantap menimpalinya. Tidak ada yang bisa dilakukan gadis sepertinya selain membantu kapten muda tersebut.
***
Erick membungkam. Mulutnya terkunci rapat, sedang kepalanya setengah tertunduk. Bola matanya masih menatap
tungkai-tungkai yang berdiri di hadapannya. Ada yang masih berdiri terpaku, ada pula yang berjalan ke sana kemari.
“Sedang apa kau di sana?” tanya pria yang sejak tadi berjalan layaknya setrika di hadapannya.
Erick bergeming, tidak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu.
“Tinggalkan kami!”
Pria itu meminta kepada rekan-rekannya untuk keluar dari ruangan, meninggalkan ia dan juga Erick yang masih berlutut di hadapannya.
“Erick!” gertak pria bersurai cokelat itu. “Apa kau melupakan nasihatku, hah?!”
Pemuda itu masih saja menutup mulut, bahkan setelah dirinya tersentak saat pria di hadapannya menggertak barusan.
“Kau sudah tahu jika bocah brengsek itu adalah anak dari Harris. Kenapa kau masih bergaul dengannya?!”
Erick sontak mengangkat pandangannya menghadap pria tersebut. Ia sigap bangkit dari posisi. “Tapi Adnan sama sekali tak melakukan kesalahan apa pun!” balasnya sedikit menaikkan nada bicara.
Pria itu mengerutkan kening, memandang penuh tanya pada pemuda di hadapannya. “Apa dia juga telah mencuci
otakmu, huh?” selisiknya.
Erick berdecih. Emosinya seakan meluap ke permukaan, tapi ia masih berusaha menahannya.
“Apa yang Ayah tahu tentang hubungan kami?!” tegasnya. “Ayah bahkan tak pernah mengangkat panggilanku selama ini. Dan sekarang, kenapa Ayah kemari menanyakan hal itu padaku?!”
Pria itu terdiam. Bibirnya tercekat seketika.
“Kau masih sama seperti dulu. Terlalu mencampuri urusan orang lain,” katanya kemudian.
Erick kembali tersentak. Saliva meluncur sempurna di kerongkongannya. Sementara, pria yang ia panggil ‘Ayah’ itu terdiam sejenak.
“Keberadaan Cosmo terancam,” katanya memecah keheningan.
Erick melebarkan bola matanya sekejap. Kaku, dan juga terperanjat. Sampai di detik selanjutnya, sang ayah kembali menatap lurus padanya.
“Kau tentu sudah tahu jika aliansi kita menyatakan perang terhadap aliansi timur. Dan kini, Cosmo berada dalam
kekuasaan kita. Meski begitu, akan ada waktu di mana mereka akan mengkudeta tempat itu. Dengan situasi sekarang, kemungkinan adanya penyusup ke dalam kelompok kita demi menghancurkan Cosmo sangat—”
“Apa maksud Ayah ... pihak timur mengirimkan mata-mata ke Cosmo?” potong Erick seketika.
Pria bersurai cokelat itu melirik tajam kepada Erick. Ia tampak merogoh sesuatu dari saku dan melemparnya ke arah pemuda itu.
Secarik kertas.
Erick bergegas membuka dan membaca sesuatu yang tertulis di dalamnya. Ada beberapa percikan darah di sana. Bola mata Erick melebar sejenak kala membaca tulisan di kertas tersebut.
“Tapi ... siapa yang mengirimkan ini?” tanyanya.
Pria itu berdecak sejenak. “Siapa yang tahu? Jika surat itu ditujukan kepada aliansi barat, maka kemungkinan besar memang ada penyusup yang sudah tahu gerak-gerik kita selama ini,” katanya, “kalau begini terus, keberadaan Cosmo akan semakin terancam.”
Erick terdiam dan berpikir sejenak.
“Bukankah Cosmo ada untuk perdamaian dunia?” gumamnya. “Lalu kenapa sekarang kita saling memperebutkannya? Untuk apa?”
“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Si Brengsek itu?!”
Erick tersentak. Ayahnya sigap menyambar kertas yang ia genggam dan bergegas melenggang pergi menuju pintu
keluar. Sepersekian detik selanjutnya, pria itu berhenti sejenak.
“Harris menyulutkan api di antara kita,” katanya. “Camkan itu!”
Pemuda bersurai cokelat itu terdiam kaku. Air liurnya hampir saja tercekat di kerongkongan. Mendengar
perkataan ayahnya yang terakhir membuat emosi Erick memuncak. Namun ia tahu bahwa tidak boleh membuat api di tempat ini. Pangkalan ini adalah bagian dari kekuasaan aliansi barat—kelompoknya—dan apa pun yang akan ia lakukan meski itu berkaitan dengan Adnan sekali pun, itu akan dianggap sebuah larangan.
Erick sendiri tidak mengerti kenapa begitu banyak orang membenci Harris, termasuk ayahnya sendiri. Namun ia
tidak pernah memedulikan itu karena Adnan menyakinkannya untuk jangan terpengaruh terhadap hal-hal yang menyinggung soal Harris—ayah pemuda bersurai hitam itu.
Dalam kekalutannya, Erick terperanjat. Ia harus segera kembali ke ruang kendali untuk menghubungi Adnan. Pemuda itu pasti sudah menunggu dirinya.
Langkahnya dipercepat, menuju ke salah satu ruangan di mana sang ayah berhasil menemukannya tadi. Erick
buru-buru menyambar knop pintu, membukanya, dan masuk ke ruangan itu. Ia mengerahkan seluruh kemampuan dan kepintarannya demi kembali melacak keberadaan rekannya itu. Namun, sesuatu membuat bibirnya tercekat seketika.
Manik matanya terbuka lebar—memelotot. Napas dan degup jantungnya saling memburu kala melihat sesuatu pada layar besar di hadapannya.
“Adnan?”
***