AST

AST
PHASE 10




 


 


“Clibanarii,” gumam Jo sambil berjalan menyusuri beberapa bangunan semi permanen yang ditinggali oleh penduduk.


Matanya memandang ke sana kemari, melihat berbagai macam aktivitas yang dilakukan orang-orang saat ini. Beberapa teknisi masih sibuk dengan pekerjaannya, padahal petang telah datang menghampiri. Sayup-sayup terdengar kicau burung yang akan kembali ke peraduannya di antara desir angin yang berembus.


Spot tersebut nampak seperti spot pada umumnya. Namun, yang menjadikannya terlihat berbeda adalah karena keberadaan Tarnnet yang menjadi pelindung spot ini dari ancaman luar. Tarnnet menyamarkan keberadaan spot sampai tidak terlihat sama sekali oleh penglihatan musuh. Burung-burung yang nampak terbang pun sesungguhnya terbang di permukaan jaring tidak kasat mata itu, bukan di dalamnya.


“Wah, kau orang yang diselamatkan oleh Letnan Jason, ‘kan?” tanya seseorang yang bergegas menghampiri Jo.


Jo beralih menghadap pria tersebut sembari mengangguk. Ia menerka usia pria itu dua tahun lebih muda dari Jason, dan kemungkinan ia mengenal Jason dengan baik sebelum Jo sampai ke tempat ini. Otaknya tidak bisa berhenti menerka. Ia kembali memandangi tiap jengkal pakaian yang digunakan pria tersebut.


“Aku Sam, ketua teknisi di spot ini,” ucap pria itu mengenalkan diri.


“Ketua ... teknisi?” gumam Jo penasaran.


“Ah, ya. Spot ini adalah satu-satunya spot terbesar jika dibandingkan spot yang lain. Kau harusnya mengenal spot ini lebih baik lagi. Ayo, kuajak berkeliling!”


Sam merangkul pundak pemuda itu dan mengajaknya melihat para teknisi lain yang tengah sibuk dengan pekerjaan


yang mereka lakoni. Ada beberapa orang tengah fokus pada layar gawai yang tersambung pada kerangka besi di dekatnya. Sebagian yang lain tampak membenahi beberapa kotak mesin.


“Ngomong-ngomong, siapa namamu?” tanya Sam.


“Jo. Panggil saja aku Jo,” jawab pemuda bersurai hitam itu sambil memperhatikan sekitarnya. “Anu ... mereka


sedang apa?”


“Menyiapkan peralatan untuk sesuatu,” timpal Sam tangkas. Jo mengernyit ke arahnya. “Clibanarii. Kau pernah


dengar nama itu?”


Jo tersentak sejenak. “Clibanarii?” gumamnya.


Pemuda itu turut serta menyamai langkah Sam hingga menuju ke sebuah bangunan besar yang ia kira gudang. Bola matanya menyalang kala melihat sesuatu di balik rolling door yang dibuka perlahan oleh Sam. Sebuah robot humanoid raksasa berdiri gagah di bangunan besar tersebut.


“Inilah Clibanarii,” ucap Sam seraya mendekati robot tersebut dan menyentuhnya. “Clibanarii hanya digunakan


pada saat-saat tertentu saja. Dan, untuk sekarang, sepertinya belum waktunya untuk menggunakannya,” ujarnya kemudian.


“Kenapa? Kenapa tidak digunakan untuk melawan aliansi barat?” Berondong Jo bertanya pada Sam seketika. “Kenapa dia hanya disimpan di sini? Kau tahu, banyak orang-orang di luar sana berjuang menyelamatkan diri dari serangan aliansi barat. Tapi kenapa robot sebesar ini hanya disimpan di sini dan tidak digunakan sepenuhnya?”


Sam memandang lurus ke arah pemuda di dekatnya itu sambil berpikir sejenak.


“Aliansi barat memiliki Clibanarii jauh lebih unggul dibanding kita. Dengan penyerangan dari burung besi mereka


pun bisa membuat kami kewalahan menyelamatkan para penduduk di luar sana. Jika kita menggunakan Clibanarii sebagai serangan balik terhadap pesawat mereka, akan beresiko lebih besar jika nantinya mereka melancarkan aksi balasan menggunakan Clibanarii milik mereka,” tuturnya serius.


“Hah?”


“Paladin. Clibanarii berteknologi mumpuni milik kita pun kalah telak dengan Clibanarii milik aliansi barat saat operasi militer lima tahun lalu.”


Jo tersentak sekejap. Ingatannya terngiang kala mendengar nama yang diucapkan oleh pria di dekatnya itu barusan. “Pa—Paladin?”


Sam mengangguk. “Paladin, Clibanarii yang dikontrol oleh mendiang Kapten Yusagi hancur total karena operasi


militer saat itu. Dia diserang mati-matian oleh Clibanarii milik aliansi barat saat berjuang mempertahankan wilayah yang sebelumnya sudah kita kuasai,” tuturnya, “dan sampai saat ini, Paladin berada di markas pusat dan entah bagaimana kondisinya. Aku tidak tahu apakah ia sudah diperbaiki, atau belum.”


“Kapten ... Yusagi ....” Jo tercenung memikirkan sesuatu.


“Iya. Beliau meninggal pada saat operasi militer yang menghancurkan Paladin itu.” Sam menyusuri setiap jengkal


tubuh robot humanoid raksasa di dekatnya. “Ia benar-benar meninggal secara terhormat. Yang kutahu, dia adalah kapten kebanggaan aliansi timur dan hampir saja mendapatkan jabatan barunya. Sayang sekali, ‘kan, ia gagal karena kematiannya itu.”


Liur Jo tertelan sempurna. Ia berhasil mengingat sesuatu yang sejak beberapa detik yang lalu memenuhi otaknya.


“Ng ... Letnan Jason bilang padaku bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menggunakan Paladin. Apa itu benar?” tanyanya kemudian.


“Yap, itu benar!” Sam mengangguk. “Paladin sudah diatur sedemikian rupa hingga hanya segelintir orang yang bisa


mengontrolnya. Meskipun kau lulus beberapa tes, belum tentu kau ditakdirkan untuk memegang kendali Paladin. Kemungkinannya sangat kecil.”


Sam mengerlingkan matanya ke arah Jo sejenak. Sementara, pemuda di dekatnya itu kembali berkutat dengan pikirannya.


“Jangan melamun!” tegur Sam sembari memeriksa salah satu bagian Clibanarii berwarna abu-abu itu. “Kondisi


“Kenapa?” tanya Jo penasaran.


“Ah, sepertinya kau benar. Meskipun sekarang belum waktunya Clibanarii ini dipakai, lebih baik kuperiksa saja pengontrolnya.” Sam menimpali sembari memasuki kokpit robot humanoid raksasa itu. Sementara, pemuda yang bersamanya tadi menunggu di bawah dan tampak termenung.


“Apa kau sudah pernah mempelajari soal ini di sekolah?” tanya Sam dengan jemarinya yang sibuk menekan beberapa tombol di ruangan yang hanya muat untuk satu orang saja itu. “Jo!”


“Ah, be—belum,” jawab Jo melirih. “Aku hanya bersekolah di sekolah umum saja.”


“Tak apa,” ucap pria bersurai cokelat itu. “Aku bisa mengajarimu kalau kau mau.”


Raut wajah Jo mendadak binar. Ia mendongak, menatap Sam yang tubuhnya sedikit tersembunyi di kokpit.


“Aku sempat mengontrol Clibanarii sebelum bencana besar itu terjadi. Dan sekarang, karena Clibanarii masih belum diperlukan, aku jadi harus berpindah haluan pekerjaan,” ujar Sam, “kalau kau mau, aku bisa mengajarimu teknik kontrol dasarnya. Sesungguhnya, semua generasi muda harus mempelajari ilmu kemiliteran untuk membela aliansi ataupun diri sendiri di masa depan. Tapi kebanyakan orang tak memedulikan hal itu. Bagaimana?”


Sam menampakan sedikit kepala hingga setengah wajahnya terlihat oleh Jo. “Kau mau?”


Sepersekian detik kemudian, ia kembali sibuk dengan layar kontrol di depannya usai mendapat balasan anggukan


mantap dari Jo. Gurat menukik lebar terukir jelas di tepi bibir pria itu  hingga hampir menampakan deretan gigi giginya yang rapi.


“Kau berhasil menemukan rekan, Sam,” katanya seorang diri.


***


Jason menutup pintu ruangan usai mengantar Adara kembali ke kamar rawat, di mana di sana sudah ada Jun yang


menunggu. Ucapan Adara masih terus berkutat di pikirannya. Terlebih, saat dirinya kembali teringat dengan nama seseorang yang diucapkan oleh gadis tersebut.


“Yusagi ... Richard,” gumamnya dengan keningnya yang saling bertaut.


“Hey! Sibuk sekali dirimu!” seru seseorang yang baru saja datang. Ia menghampiri Jason yang tengah diliputi kegundahan.


Jason melirik sejenak pria berjas dokter yang ia kenal itu, lalu kembali memegangi kepalanya yang sedikit pusing.


“Istirahatlah hari ini, Letnan,” ucap pria itu.


“Apa kau tak punya obat penenang, Dokter Kei?” Jason kembali mengarahkan matanya yang menyipit kepada pria yang berdiri di dekatnya itu.


Kei—sang dokter—menghela napas panjang. “Obat hanya membuatmu menjadi candu,” katanya menimpali. “Tidur sana!”


“Ah, aku butuh obat itu sekarang!” sahut Jason meninggikan nada bicaranya.


Kei menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal sambil berdecak dan menggelengkan kepala. “Serangan saat itu benar-benar membuatmu kehilangan kendali, Letnan,” katanya enteng.


Jason sigap merangkul Kei dan melemaskan tubuhnya hingga membuat dokter itu hampir tumbang. Matanya memejam dengan sengaja, membiarkan dokter itu menuntun tubuhnya.


“Argh!!! Kau benar-benar mengerjaiku!” keluh Kei sembari menuntun paksa Jason menuruti langkahnya pergi


dari tempat tersebut. Sementara, pria bersurai berantakan itu meliriknya dengan senyum tipis terukir di bibir.


***


“Kau belum tidur?” tanya Adara pada seorang gadis kecil yang tengah meringkuk di ranjang.


“Di mana Kak Jo?” Gadis kecil itu balik bertanya sambil memandang Adara dengan wajah polosnya.


“Entahlah,” jawab Adara sembari duduk di dekat Jun, gadis kecil itu. “Dia sedang mencari udara segar di luar—”


“Dan tak mengajakku?” sela Jun.


Adara tersenyum tipis. Tangannya menyisir lembut helai rambut Jun. “Bagaimana? Kau merasa baikan?” tanyanya


kemudian.


Jun mengangguk. “Rasanya lelah sekali seperti habis berjalan jauh,” katanya, “lebih nyaman kalau kita pergi menggunakan mobil besi seperti saat itu, Kak.”


Gadis berkucir di dekatnya tersenyum lebar. “Besok pagi kau akan melihatnya kalau kita berkeliling. Bagaimana? Kau mau?”


Jun menganggukan kepala berkali-kali, menyetujui tawaran Adara.


Sementara, gadis itu kembali terdiam. Manik matanya memandang celah jendela yang membuat sinar sang dewi


malam merasuk ke ruangan dengan bebas. Ia teringat kembali kepada seseorang—bukan orangtuanya. Hatinya bertanya-tanya tentang keadaan sosok yang selalu membuat dadanya terasa sesak. Seringkali, kepalanya pun terasa pusing karena mengingat sosok itu.


***