AST

AST
PHASE 37 . KEKACAUAN



Suara sirine bahaya kembali berdering. Seluruh lampu merah di ruangan kontrol menyala dan berkedip. Beberapa operator tampak mengoperasikan layar hologram di depan masing-masing.


“Apa informasi sudah sampai?” Li Yue tampak mengklik sebuah tombol hingga menampakkan sebuah layar lain di depan sana. Seorang operator mengirimkan sesuatu dan membantu komandan itu membukanya.


“Kami terpaksa meretas kamera depannya, Pak,” ucap operator pria tersebut.


Layar yang baru saja muncul tiba-tiba memperlihatkan pemandangan mengejutkan. Wajah dari Clibanarii utama milik aliansi barat yang sedang berhadapan langsung dengan robot yang dikontrol oleh Jason Kim. Adara dan Naomi terperanjat.


“A-apa yang terjadi?” tanya Naomi pada pria di sampingnya.


“Sarkan?” Adara bergumam. Matanya tidak lepas dari layar di depannya.


Li Yue berdecih. Dia bungkam sambil terus melihat ke arah layar. Pertarungan itu berlangsung sengit hingga membuat komandan utama aliansi timur tersebut merasa aneh.


“Cek kamera di sisi kanan!” titahnya pada operator.


Pria yang sejak tadi duduk di sebelah Li Yue itu mengangguk, lantas menjalankan titah atasannya tersebut. Sebuah


layar lain tampak di sebelah layar sebelumnya. Namun, layar kali ini hanya menunjukkan warna hitam tak berarti. Kening Li Yue berkerut.


“Apa yang terjadi pada Jason?” gumamnya.


Sementara itu, Adara meneguk saliva. Pertempuran yang dilihatnya membuat sisi maskulin dalam dirinya menegang. Entah kenapa, ada yang berbeda dari Sarkan.


Benarkah pengontrolnya adalah Adnan?


Gadis itu menggeleng getir. Sebenarnya, dia benar-benar tidak menginginkan hal ini terjadi. Namun, sesi


berpikir berlebihan yang didukung oleh monster-monster di kepalanya membuat tubuhnya serasa berat seketika.


Belum sempat Adara mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja seseorang menggebrak pintu dan masuk ke ruangan. Semua orang menoleh, termasuk gadis berambut hitam tersebut.


“Sam?” Adara bersuara, meski pada akhirnya memanggil nama pria yang barusan masuk itu.


Sam tampak menoleh kepada gadis itu, sebelum akhirnya dia memandang Li Yue. Napasnya tersengal dan kelihatan sekali kalau dia sedang terburu-buru. “Paladin,” ucapnya dengan sorot mata tertuju kepada komandan aliansi timur itu.


Adara mengernyit. Baru saja tadi dia meninggalkan CB-222, robot itu masih hening dan dia juga tidak melakukan apa pun. “Apa yang terjadi padanya?” tanyanya inosen.


Naomi menghela napas. “Keberadaan Sarkan pasti sudah mengaktifkan kontrolnya sekarang,” ucapnya, bahkan tidak dimengerti oleh putrinya sendiri. Dia menoleh ke arah Adara yang berdiri di sebelahnya. “Kau lupa sesuatu?”


Kening Adara makin menyatu. Dia berusaha mengingat-ingat bagaimana proses latihannya selama di pusat aliansi timur sebulan ini. Sesuatu yang menjadi obrolan Jason, Kei, Sam, dan dirinya kala itu.


***


Adara baru saja turun dari simulator Clibanarii. Dia mendapati Kei yang baru saja dating dan menyapa Jason serta Sam. Dua pria itu menunggunya di luar ruangan simulasi.


“Oh, hai, Adara!” sapa Kei. Dokter itu tampak sangat semringah hari ini. “Bagaimana latihanmu?”


Gadis itu bukannya menjawab malah menoleh ke arah Jason dan Sam. Dua pria itu lantas tersentak.


“Ah, sudah cukup baik menurutku,” jawab Sam seraya menoleh kepada Kei. “Kau hanya perlu melemaskan otot-ototmu agar pergerakan Clibanarii tidak kaku.”


Jason berdeham menimpali. “Ada beberapa sistem di Paladin yang nantinya akan berbeda dengan simulator yang kau pakai, Adara,” ujarnya menarik atensi gadis tersebut.


Adara yang baru saja meneguk minumannya lantas menelannya dengan cepat. “Apa itu?” tanyanya.


“Dulu, aku sempat mengobrol dengan ayahmu ketika dua Clibanarii itu akan dirilis. Mereka punya semacam … bounding, kau tahu?” kata Jason dengan kedua tangannya yang saling bertangkup di depan. “Ini semacam Entanglement. Kalau yang satu aktif, maka itu akan menarik keaktifan yang satunya lagi. Kalau yang satu mati, maka yang lain akan berusaha menarik sisanya. Kau paham maksudku?”


Kei mendesah jengah. “Jangan gunakan bahasa tingkat tinggimu saat berbicara dengan Adara, Bodoh,” sarkasnya.


“Aku saja tidak mengerti,” sahut Sam yang masih duduk di depan dashboard operator.


Adara terdiam dan sambil berpikir. “Jadi, meski tidak ada yang mengontrol, apakah mereka tetap bisa dikendalikan oleh salah satunya?”


Pria bermarga Kim itu mengangguk. “Kecuali pada saat yang sama, ketika seseorang mengontrol Sarkan, kau juga ikut mengontrol Paladin,” jawabnya sembari menunjuk gadis di depannya. “Itu mungkin akan sedikit mengurangi Entanglement di antara keduanya.”


“Tunggu dulu.” Kei menyelip pembicaraan. “Jika yang kau maksud itu adalah hukum tarik-menarik, kenapa pada


saat operasi militer waktu itu hanya Paladin yang hancur?”


Jason terdiam, berusaha merengkuh semua yang ada dalam ingatannya. “Itu karena ….”


“Um …, salah satu pengontrolnya enggan berperang?” sahut Sam yang sejak tadi berpikir keras. “Jadi ketika Engtanglement itu terjadi, maka hanya salah satu pihak saja yang bisa mengontrolnya dan itu membuat pihak yang bersangkutan bisa menghancurkan Paladin yang memang tidak dikontrol oleh siapa pun. Atau dalam arti lain, pengontrol Sarkan menitahkan Paladin untuk … bunuh diri?”


Adara sedikit tersentak. Tidak hanya dirinya, Jason dan Kei turut memandangi Sam.


“Aku pernah mencoba sistem ini ke beberapa Clibanarii saat masih di Spot Ankaa dan hasilnya, seperti yang kukatakan barusan. Jika hanya ada satu Clibanarii yang dikontrol dan dia bisa mengontrol yang lain, maka dia bisa saja meminta Clibanarii lain untuk melakukan Kamikaze. Kalian tahu Kamikaze, ‘kan?” lanjut pria yang mengenakan


seragam astronot berwarna biru itu.


Tentu saja Adara memahami setiap inci dari perkataaan Sam. Dia justru berpikir, bagaimana jika perkataan Sam ada benarnya? Bagaimana kalau ternyata ayahnya dulu bukan gugur dalam perang, melainkan dibunuh dengan kedok bunuh diri?


“Kau tahu, Sam.” Jason bersuara. Tatapannya memandangi simulator Clibanarii di dalam ruangan. “Sejak resmi dirilis, belum ada yang bisa mengendalikan Sarkan selain Reynald. Itulah yang kutahu dari Richard,” katanya. “Sedangkan Reynald, meninggal sebelum operasi militer itu terjadi. Jadi, menurutmu siapa yang mengontrol Sarkan saat itu? Sarkan dan Paladin didesain hanya untuk orang-orang tertentu yang ditakdirkan mengontrolnya—”


“Apa keduanya punya kendali lain selain kontrol manual yang biasa kita pakai di Clibanarii lainnya?” potong Sam. “Sejak dipindah kemari pun aku belum pernah memeriksa bagian kokpit Paladin, Kapten.”


Jason tersentak. Raut wajahnya yang 180 derajat berubah itu menarik atensi Adara dan Kei sekaligus. Dia terdiam.


“Kau … membuatku teringat sesuatu, Sam,” ucapnya kemudian.


“Um … aku punya pikiran, bagaimana kalau kendali yang kau maksud adalah melalui kontrol dari sistem pengontrolnya?” sahut Kei.


Jason lantas memejamkan mata. Dia menghela napas sesaat. “Kau benar, Kei,” ucapnya.


“Apa? Aku?” Kei tampak kebingungan, padahal dia baru saja membuka mulut.


“Sarkan dan Paladin punya kendali menggunakan sistem EWF,” ucap Jason. “Aku ingat, Richard pernah memberitahuku soal sistem ini sebelumnya.”


“Hah? EWF?” Sam mengernyit.


“Energy Wave Frequency. Ini sistem yang hanya bisa digunakan dengan cara mentransfer energi pengontrolnya


sebagai pemasok tenaga Clibanarii tersebut,” jawab Jason.


“Apa itu sama saja seperti kita sendiri yang mengontrolnya? Seperti game simulasi?” sambung Adara.


“Bahkan lebih parah dari itu,” timpal Jason. Dia mendesah, lalu menggeleng. “Yang penting, jangan sampai kau


gunakan itu besok!”


“Hah?”


Kei kembali mendesah jengah. Dia menepuk pundak Jason. “Kau terlalu overthinking, Jason,” ucapnya. “Begini,


memangnya resiko apa yang akan terjadi nantinya kalau pengontrolnya menggunakan EWF? Kau bahkan belum memberitahukan kami!”


Jason sedikit menggeram. “Aku ….”


“Kau tahu sesuatu, ‘kan?” selisik Kei sampai membuat pria yang rambutnya acak-acakan itu tersenyum getir padanya. “Setidaknya beritahu kami agar kami bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, Jason.”


***