AST

AST
49 . PENYELAMATAN



Sebuah sirine mengejutkan seorang pemuda yang meringkuk di balik selimut. Mata birunya terbuka perlahan, sedikit mengernyit ketika mendapati sinar merah berkedip di salah satu sudut kamarnya. Dia mendesah sejenak, lalu kembali melihat lampu merah itu.


“Misi lagi?” gumamnya. “Kenapa Oscar tidak memberitahukanku sebelumnya?”


Adnan bergegas bangun. Disingkirkan selimut yang menutupi dadanya yang berotot itu. Dia segera membasuh diri dan mengenakan seragam seperti biasanya. Baru saja pemuda itu mengenakan earphone, sebuah panggilan diterimanya. Itu dari sang kakak dan terdengar jelas kalau pria itu sedang terburu-buru.


“Aku segera ke sana.”


***


Seorang pria berbalik ketika Adnan memasuki ruangannya. Pemuda itu tampak menghampiri dengan tergesa-gesa.


“Ada apa?” tanya Adnan.


Oscar tidak menimpali. Dia kembali fokus pada layar di depannya. Satu tangannya menunjuk ke arah layar.


“Komandanmu di pangkalan membuat kita kerja paksa hari ini,” katanya.


Adnan menatap layar. Matanya membola sekejap. Kerongkongannya tercekat melihat beberapa titik merah di layar.


“Itu ….”


“Aku punya firasat buruk soal ini, Ad,” ucap Oscar yang masih mengarahkan pandangannya lurus ke titik-titik merah tersebut. Dia menoleh, menatap sang adik dengan beribu kata yang hendak diungkapkan.


Adnan mengangguk. “Berikan aku akses ke pesawat siluman yang Cosmo punya. Akan kutangani mereka,” pintanya.


“Tidak, Ad.” Pria berambut hitam itu menyangkal.


Namun, belum sempat Oscar melanjutkan ucapannya, seorang pria masuk ke ruangan. Tatapan tajamnya jelas


mengarah pada kakak-beradik itu sekarang.


“Biar aku yang mengurusnya,” ucap pria berambut blonde tersebut.


“T-tapi ….”


Morgan, komandan angkatan udara di Cosmo saat ini, menoleh kepada pemuda 17 tahun tersebut. “Oscar sudah


memberitahuku tentang situasi di pangkalan saat ini,” ucapnya. “Tugasmu adalah membebaskan Erick, Ad.”


Adnan lagi-lagi terkungkung dalam kagetnya. Tidak biasanya Morgan bersikap seperti ini padanya seolah rasa


kemanusiaannya kembali begitu saja. Akhirnya, Adnan hanya bisa mengangguk menyetujui rencana pria tersebut.


“Baiklah. Adnan.” Oscar memanggil sang adik. “Pakailah Raider milikku dan susul Erick di pangkalan. Aku akan meminta beberapa anak buahku untuk mengawalmu ke sana.”


Adnan mengangguk, lalu membungkukkan tubuh sejenak kepada dua pria di hadapannya sebelum akhirnya


berlalu ke luar ruangan setelah Morgan memberikannya sebuah amplop. Sementara itu, Morgan dan Oscar saling bersitatap. Morgan menghela napas panjang.


“Jika sesuatu terjadi padaku, jagalah Boris untukku,” ucap Morgan.


Oscar tertawa kecut. “Kau tidak akan mati kali ini,” katanya.


“Kau tahu bagaimana sosok Frederick Hubert, dan aku … aku mungkin harus membawanya ke neraka kali ini.”


Oscar lantas terdiam. Mata Morgan yang tajam seperti elang itu tampak sangat tegas. Jika pria itu sudah mengatakan keinginannya, maka Oscar tidak punya pilihan lain selain menurut. Pria itu berdecak lirih. Tangannya mendarat di pundak Morgan dengan mantap seolah tidak ada jeda di antara hubungan mereka.


“Kembalilah dengan selamat,” ucap Oscar. Mata birunya tampak berkilat.


Morgan bungkam. Keputusannya memang tidak dapat diganggu gugat, tetapi Oscar adalah satu-satunya orang yang bisa dipercayainya saat ini. Dia mengangguk, lalu tersenyum tipis.


***


Kokpit Raider lebih kecil dari Analemma ataupun pesawat tempur lainnya. Ya, memang pada dasarnya Raider adalah pesawat siluman yang digunakan untuk mengintai dan menjatuhi musuh secara diam-diam. Namun, kali ini Adnan tidak menggunakan pesawat itu untuk menguntit Hubert. Dia bersama anak buah Oscar akan mengobrak-abrik pangkalan angkatan darat aliansi barat demi menyelamatkan Frederick Add.


Atau mungkin sisanya akan mengikuti.


Adnan bergegas melajukan pesawat hitam tersebut ke luar dari pangkalan, meluncur bebas ke ruang hampa udara di luar sana. Bebatuan luar angkasa yang hampir bersinergi dengan sampah Bumi berupa bekas satelit-satelit bergerak leluasa di sekitarnya. Kontrol Raider lebih mudah jika dibandingkan dengan Analemma dan ini membuat Adnan tidak mengalami culture shock atau jetlag karena baru pertama kali mengontrolnya.


Titik-titik putih yang terlihat di radar merupakan pesawat yang dinaiki anak buah Oscar. Setidaknya ada 5 burung besi yang terbang bersama Raider saat ini, salah satunya adalah pesawat angkut.


Suara kemeresak terdengar di earphone Adnan seketika. Dia menekan sebuah tombol mungil di dekat pengeras suara di telinganya itu.


“Ada apa, Oscar?” tanyanya.


“Aku telah memberikan informasi kepada asistenku di pangkalan. Kau bisa terhubung dengannya ketika sudah sampai pada area radar pangkalan,” ucap Oscar.


Adnan berdeham. “Dimengerti,” timpalnya.


Raider memelesat menembus tujuh atmosfer Bumi dan melayang dengan landai di langit. Adnan merotasikan Raider dan mengarahkannya pada satu arah, disusul oleh beberapa burung besi di belakangnya. Namun, beberapa menit berselang, sebuah pemandangan menarik perhatian pemuda 17 tahun tersebut.


Asap mengepul memenuhi langit, diiringi kilatan merah yang bukan merupakan sumber petir.


Adnan mengerutkan kening. Sejurus kemudian, matanya membola. Rahang pemuda itu menegang seketika. Tangannya hampir mengalihkan laju Raider sebelum akhirnya suara Oscar memecahkan fokusnya.


“Fokus pada misimu, Ad!”


Adnan berdecih kesal. Dia tidak punya pilihan lain sekarang meski sisi lainnya ingin melakukan suatu hal yang mungkin bisa membuat dirinya memberontak dari aliansi barat. Pemuda itu mengarahkan Raider ke satu arah di mana pangkalan aliansi darat berada.


Bangunan berwarna hitam yang tersembunyi di antara gurun pasir itu tampak sangat kontras ketika badai menghilang dari sekitarnya. Debu beterbangan menghalangi pandangan ketika banyak sekali pesawat mengitari langit-langitnya.


Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Adnan. “Tikus 1. Megan Crush di sini!”


Pemuda itu tersentak. “K-kau?” gumamnya.


“Tikus 1. Megan Crush di sini!” ulang suara gadis itu.


Adnan tentu mengenal suara tersebut. Siapa lagi kalau bukan sosok yang bertemu dengannya saat misinya


mencari Adara yang sembunyi-sembunyi waktu itu? Namun, kenapa? Apa asisten yang dimaksud Oscar adalah Megan?


“Megan?” Adnan membuka percakapan.


“Ah, kau masih hidup rupanya,” ucap Megan dari balik panggilan. “Tikus 1. Megan Crush telah menerima panggilan.”


“A-apa maksudmu dengan tikus 1?” Adnan menyahut.


“Maaf, Kapten, tapi aku tidak bisa menjelaskannya sekarang,” jawab gadis tersebut. “Kau bisa memarkirkan pesawatmu dan yang lain di pangkalan hangar 25.”


Adnan meneguk saliva. Dia akhirnya menurut dan memberikan informasi pada anak buah Oscar secepat mungkin.


Namun, ketika pemuda itu berhasil mendaratkan Raider di pangkalan, hal yang tidak terduga terjadi. Apalagi ketika dirinya turun dari kokpit pesawat siluman tersebut. Para prajurit berdiri menghadang sambil mengacungkan senjata ke arahnya dan beberapa orang yang datang bersama Adnan. Anak buah Oscar juga melakukan hal yang sama


seperti mereka.


Adnan memberi isyarat kepada anak buah sang kakak, lalu mengangkat tangan dan berjalan ke arah para prajurit. Mereka tentu saja mengenal pemuda yang pernah menjadi kapten misi aliansi barat tersebut. Ekor mata Adnan mendapati Megan yang keluar dari salah satu pintu hangar. Gadis itu hendak berlari ke arahnya, tetapi dicekal oleh beberapa prajurit.


“Aku kemari atas titah dari Komandan angkatan udara di Cosmo. Sebastian Morgan.”


***