AST

AST
PHASE 6



Dentuman kembali berkecamuk, merangsang otak untuk bangkit dengan tangkas. Gelap masih membayang, meski


cercah bola api mulai merona di ufuk timur. Ledakan berlanjut yang entah dari mana asalnya. Burung-burung seakan meninggalkan sarang, menuju langit dunia. Begitu cepat. Bergumul sampai hampir tidak terhitung jumlahnya.


Adara mendongak ke langit, lalu menuju ke satu arah. Otaknya berpikir jika ada sesuatu yang membuat burung-burung itu terbang tinggi dan menyingkir dari suatu tempat. Gadis ini berjalan keluar dan terkesiap saat mendapati seseorang memergokinya.


“Kenapa kau keluar?”


“Ah, Jo. Kau mengejutkanku saja.”


Jo mengernyit aneh. Sesuatu pada gadis itu menarik perhatiannya. Sebuah tali dari benang merah yang dililit sedemikian rupa dan dikalungkan pada leher Adara. “Itu ... untuk apa?” tanyanya. “Apa kau miskin sampai tak bisa membeli kalung?” lanjutnya meledek.


Adara menggenggam kalung yang dipakainya. “Tak perlu kuberitahu. Nanti malah kau menertawakanku!” gerutunya


menimpali. “Ini untuk menghubungkan jiwa orang terdekatku yang terpisah.”


“Orang terdekat? Memangnya ada mitos seperti itu?”


Gadis itu mengangguk dan membuat Jo berpikir sesuatu tentangnya.


“Kau sudah punya pacar rupanya,” ledek pemuda itu sambil berlalu.


“Hey!” Adara mengelak. Wajahnya bersemu merah sampai membuat Jo hampir menertawakan dirinya. “Dia bukan


pacarku,” katanya sedikit bersungut, “hanya teman.”


Kedua alis Jo terangkat sekejap. “Hanya teman?” selisiknya, “apa dia menggigit lehermu sampai terluka begitu


jika statusnya hanya teman?”


Adara mengernyit. Jemarinya merambati leher hingga sesuatu terasa perih olehnya. “A-apa ini?” ringisnya.


Jo mendekati gadis itu, lalu mengulurkan tangannya demi menelisik luka yang terbentuk di leher Adara. “Lukanya baru terbentuk. Kau tidak makan apa-apa sejak tadi, ‘kan?” tanyanya.


“Makan angin.”


“Jangan bercanda!” cela Jo cepat. Ia beralih menilik Jun yang baru saja terbangun dari tidurnya dan cepat-cepat


memeriksa tubuh bocah itu. Luka yang sama ditemukan di beberapa bagian.


“Ada apa?” tanya Adara.


Jo sigap menggendong adiknya yang sudah lemas. Jun hanya menggeliat lemah sambil meringis menahan sakit di


tubuhnya. “Kita harus cepat pergi dari sini,” katanya menggurui.


“Kenapa?”


“Tempat ini sudah tak cocok lagi untuk kita.”


“Hah?”


Jo memandang Adara. Lekat, selama beberapa detik. Tangannya terangkat mengusap puncak kepala gadis itu. “Jangan mati sebelum sampai ke spot selanjutnya, ya.”


Pemuda itu berbalik dan melangkah pergi mendahului Adara. Gadis itu terdiam. Netranya memandangi punggung pemuda tersebut. Ia sendiri tidak mengerti dengan ucapan Jo barusan.


***


“Mau ke mana kita?” tanya Adara penasaran.


Sejak tadi Jo sama sekali tidak membuka mulut, hanya membisu sambil mempercepat langkahnya. Padahal, Adara sendiri merasa dirinya semakin lelah. Namun ia masih bisa menyusul langkah pemuda itu meski napasnya kian tidak teratur.


“Jo ....”


Jo berhenti. Ia berbalik dan memandang gadis berkucir itu. Rambutnya amat berantakan, ditambah rupanya yang


sudah memburuk. Lukanya semakin melebar dan tentu saja membuat pemuda itu semakin khawatir. Selang beberapa detik, ia melempar pandangan ke segala arah, berharap menemukan sesuatu.


“Kita mau ke mana?” tanya Adara lagi. “Aku lelah.”


“Mencari spot,” jawab Jo, “seharusnya ada spot di sekitar sini. Beberapa waktu lalu aku mendapat


informasi jika ada banyak spot tersebar.”


Adara menyebarkan pandangan. Tidak ada apa pun di sekitarnya. Hanya tanah kosong yang panas karena tersengat paparan sinar matahari. Bencana itu benar-benar membuat Bumi seperti neraka. Kosong dan panas, dengan segala kehampaan mengisinya.


“Kupikir hanya bencana kecil saja, tapi kenapa sampai separah ini?” gumam gadis itu.


Jo menatap Adara amat lekat, lalu menelan liurnya sejenak. “Apa? Itu bencana terparah yang tak pernah kulihat


sebelumnya. Wajar saja efeknya sampai separah ini!”


“Kupikir hasil letusan itu bisa menyuburkan—”


“Jangan mengigau!” tegur Jo. “Beruntung kita masih hidup sekarang. Asalkan kita menemukan spot, maka kita


akan selamat.”


Jo setengah tertunduk. Sesekali memandang getir gadis di dekatnya. Seharusnya ia bisa menemukan spot lain di


tempat ini. Namun, sejauh perjalanan mereka sejak tadi pun tidak menemukan apa pun. Hanya tanah kosong. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana gadis itu dan Jun mati mengenaskan di tempat ini. Lalu akhirnya, ia hidup seorang diri dan berakhir dengan mati ditembak atau disiksa oleh aliansi barat yang


menemukannya.


Pemuda itu berdecih kesal. Kelabilan pikirannya membuat Jo semakin membenci dirinya sendiri.


“Ayo, kita lanjutkan ....”


Adara melirih, lalu meraih tangan pemuda itu dan memandangnya lekat. Ada sorot keyakinan di sana dan membuat Jo sedikit menghilangkan pikiran rumitnya. Ia mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


***


Markas aliansi barat yang berdiri kokoh membuatnya terlihat kontras di tengah hamparan tanah luas yang tidak


berpenghuni. Panas dan suhu yang berubah-ubah tampaknya tidak menjadi masalah di gedung tersebut. Para pekerja masih terlihat sibuk dengan tugas. Ada pula yang sedang bersantai sambil menunggu waktu mereka dibebani misi oleh atasan.


Erick bertanya pada seorang pemuda yang tengah berdiri menyandar pada pagar gedung sambil membawa secangkir kopi susu yang masih mengepul. Ia masih mengenakan seragam militer meski tugasnya sudah usai sejak beberapa jam yang lalu. Matanya memandang lurus—kosong.


“Uy!” seru Erick menyadarkan lamunan rekannya itu. “Adnan!”


Pemuda itu tersentak lalu menoleh ke arah Erick.


“Melamun saja terus!”


Adnan mendesah jengah. “Aku tidak melamun kok!”


“Serius? Masa sih?” Erick memicing tajam pada Adnan sampai pemuda itu mengernyitkan dahinya. Sedetik kemudian, ia terkekeh. “Jangan banyak melamun. Atasan mengomel, tuh!”


“Karena aku?”


“Tidak sih. Dia mengomel karena kinerja kita yang lamban,” jawab Erick. Ia bergeming sejenak. “Aliansi barat


hanya ingin Bumi segera musnah,” katanya kemudian. Pandangannya lurus ke depan—kaku.


“Apa aku mendapat mandat lagi?” Adnan masih getol bertanya. Dilihatnya Erick menggeleng. “Aku ingin kabur


rasanya,” lirihnya mendesah.


“Kalau kau kabur lalu aliansi timur menemukanmu, apa yang akan kau lakukan? Memberi tahu identitasmu? Lalu


jika aliansi barat tahu kau berpihak pada mereka, apa yang kau lakukan?” Erick memberondong pertanyaan pada rekannya itu.


Adnan menatap pemuda bersurai cokelat itu. “Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan kalau mereka tahu kau


membenci aliansi barat? Apa kau mengiyakan? Kalau kau mengiyakan, toh pada akhirnya kau akan mati juga di tangan negaramu sendiri,” balasnya sembari menyeringai.


Erick memukul keras kepalan tangannya pada pagar gedung hingga menimbulkan bunyi menggema darinya. “Jangan membuatku emosi, Adnan!”


Pemuda berambut hitam itu tertawa puas, bahkan tidak jadi menyeruput kopi susunya karena tidak bisa menahan tawa. Sementara, Erick mengerutkan kening ke arahnya—menggerutu. Sepersekian detik selanjutnya pemuda itu meredakan emosi dengan mengembuskan napas panjang sejenak.


“Ada kesempatan untuk kau kabur dari sini dan menemukan pacarmu,” katanya kemudian. Membuat Adnan kembali tidak jadi menyeruput minumannya.


“Apa?” Adnan memastikan.


“Kuberitahu, ada kesempatan untukmu kabur dari tempat busuk ini, Pria tampan!” ulang Erick sedikit kesal.


Adnan mengernyit. “Kapan?” tanyanya sedikit menahan tawa. “Jangan bilang kalau saat aku membawa pesawat.


Atasan takkan mengijinkanku terbang lagi kalau aku membawa kabur pesawatnya.”


“Memangnya mau kau daratkan di mana pesawatmu kalau kau membawanya kabur? Aku suka kebodohanmu, Ad.


Benar-benar natural dan tidak dibuat-buat!”


Adnan terkekeh geli mendengar ocehan Erick. Pemuda itu selalu saja bisa membuatnya tertawa, bahkan dengan


lawakan receh sekali pun.


“Jadi apa?” tanyanya kemudian.


Erick melempar pandangan ke sana kemari mengecek sesuatu, lalu kembali menatap rekannya itu. “Dua hari lagi markas akan mengirim beberapa orang untuk menyelidiki wilayah ini karena diduga masih ada orang yang hidup di sini. Lebih tepatnya, aliansi barat akan menyandera orang-orang negaramu yang berhasil ditemukan besok sebagai jaminan perdamaian dunia. Aneh memang, tapi memang begitulah informasinya,” ujarnya sedikit


berbisik.


Pemuda bersurai hitam itu mengerutkan kening. “Sandera? Perdamaian dunia? Bukankah aliansi barat membenci


perdamaian?” tanyanya menyelisik.


Erick mengangkat sejenak bahunya. “Mana kutahu!”


Adnan berpikir sejenak. Terasa aneh baginya, karena selama ini aliansi barat tidak pernah memikirkan perdamaian. Hanya menjadi perusak dan pemancing gejolak api di setiap bagian wilayah—meski itu masih merupakan bagian dari aliansi barat sendiri. Cosmo mungkin bergidik sampai akhirnya berhasil tunduk di bawah kaki mereka. Adnan


berdecih, seakan menyalahkan dirinya sendiri—untuk apa ia bergabung dengan aliansi barat jika akhirnya begini?


“Bagaimana?” Erick kembali memecah keheningan. “Kalau kau mau, kau bisa menyamar menjadi salah satu prajurit besok. Dan aku akan menjaga keberadaanmu di sini.”


“Hm? Kau tak ikut?”


Mereka saling bertatapan. Hening sejenak merengkuh keduanya.


“Jika aku ikut, usai sudah rencana busuk kita, Ad,” jawab Erick. “Kau mungkin takkan bisa menemui Adara lagi.”


Adnan beralih memandang sisi lain markas di sekitarnya. “Bagaimana jika mereka tahu bahwa kau menyembunyikan semua rencana ini?” gumamnya.


Kau mungkin akan mati, Erick.


“Aku akan baik-baik saja.” Erick menepuk pundak rekannya itu mantap. Kurva menanjak terukir di bibirnya. “Tak


perlu cemas. Yang perlu kau cemaskan itu pacarmu. Bukan aku.”


Adnan menepis tangan Erick dari pundaknya dan memandang tajam pada pemuda tersebut. Sementara Erick terkekeh menanggapinya.


“Kenapa dengan mukamu itu!” tukas pemuda bersurai cokelat itu sembari tertawa terpingkal-pingkal.


“Aku serius, Erick.”


Erick menghentikan tawanya lalu memandang Adnan sejenak. Ada sedikit kecemasan dalam dirinya kini, begitu pun pada diri Adnan. Mau bagaimanapun juga hubungan mereka hanya sebatas teman atau sahabat, tidak lebih dari itu. Meski di sisi lain, mereka saling menyimpan suatu rahasia yang tersembunyi dalam lubuk hati mereka dan mungkin akan meledak suatu saat nanti.


“Aku juga.”


Erick melihat penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. “Dua hari lagi, kutunggu kau di gudang


perlengkapan. Ada yang ingin kuberikan padamu sebelum kau pergi.”


Pemuda itu kembali menepuk pundak Adnan sebelum ia melenggang pergi. Adnan mengamati dengan hampa punggung Erick. Ada sebuah kenyataan pahit tersendiri di sana yang tidak  ditunjukkan kepada dirinya. Entahlah, tapi hal itu benar-benar membuat Adnan semakin pusing sekarang. Ia kembali bersandar pada pagar gedung dan meratapi secangkir kopi susunya yang hampir mendingin.


***