
Adnan memandang beberapa tombol dan kaca depan kokpit di hadapannya. Dirinya menunggu aba-aba sembari
mengontrol kendali burung besi yang ia naiki kini. Beberapa detik, bahkan menit, pemuda itu larut dalam pikirannya. Otaknya mengingat kejadian sebelum ia menerbangkan pesawat ini. Seluruh prajurit, bahkan komandan pun menjadi berbeda dari biasanya. Jika biasanya mereka berusaha untuk menutup kebencian terhadap Adnan, kini rasa benci itu terang-terangan tertuju padanya.
“Kedudukanmu bukan lagi sebagai kapten, Adnan!” sahut salah seorang prajurit.
“Kau hanya prajurit biasa sekarang. Sama seperti kami!” sahut yang lain.
“Tapi ... siapa yang berani menurunkan jabatanku?!” sergah Adnan kesal. “Tak mungkin kalian, ‘kan?!”
“Aku!” seru seseorang tidak jauh di belakang pemuda bersurai hitam itu.
Adnan berbalik, memandang kejut seorang pria yang berdiri tegap tidak jauh dari posisinya kini. Pria itu datang
bersama dengan pemuda bersurai cokelat yang ia kenal.
“Aku sendirilah yang menurunkan jabatanmu,” ucap pria itu lagi.
“Hubert ...,” desis Adnan geram. Ia tidak peduli jika menyebutkan langsung nama panggilan komandannya sendiri.
“Ada apa?” tanya Hubert seraya melayangkan pandangan menantang pada pemuda itu. “Ada masalah, Tuan muda
Harris?”
Adnan lantas menegapkan tubuhnya. “Jadi, siapa yang akan menggantikanku?” tanyanya cukup serius.
Hubert bergeming. Ia hanya mengarahkan pandangannya kepada pemuda yang sejak tadi bersamanya. Tentu saja,
hal itu membuat Adnan kembali mendecih kesal. Rasa anehnya terhadap pemuda itu terjawab kini. Terlebih, saat menatap pemuda yang bahkan membuang muka darinya itu. Tentu saja Erick terlihat berbeda dengan seragam yang dipakainya sekarang. Jelas secara terang-terangan bahwa pemuda itu telah menggantikan posisi Adnan dalam pangkat keprajuritan detik ini.
Adnan menggebrak kasar papan pengontrol di hadapannya dan hampir saja mengubah jalur kendali pesawatnya. Ia
merangkul kesadarannya kembali dan tangkas mengembalikan kontrol burung besinya kesemula.
“Sial!” geramnya seorang diri.
Ia terdiam, mengunci mulut dalam kesunyian. Manik matanya memandang lurus ke depan di mana dirinya bisa melihat hamparan tanah tandus dengan reruntuhan gedung di sekitarnya. Adnan beralih memandang ke arah lain di mana sesuatu menarik perhatiannya. Buru-buru pemuda itu menekan tombol pada earphone yang terpasang di telinganya.
“Musuh di arah jam sembilan,” ucapnya pada rekan-rekannya.
“Dikonfirmasi!”
Adnan mengubah haluan pesawat menuju ke satu arah di mana tampak beberapa burung besi yang ia kenal
bermanuver di sana.
“Adnan,” panggil seseorang melalui earphone.
Pemuda bersurai hitam itu mafhum dengan suara yang memanggilnya barusan.
“Ada apa ... Kapten?” tanyanya membalas suara pemuda itu dengan nada yang dibuat-buat.
Tentu saja Adnan tengah meledek kapten baru itu sekarang. Pemuda itu setengah meringis mendengar Erick mendecak kasar usai dipanggil dengan jabatan barunya.
“Aku ingin kau yang menembak mereka!” titah Erick tanpa basa-basi.
Adnan bergeming. Seringai terukir jelas pada tepi bibirnya. Kontrol pesawatnya semakin mantap terlihat. Burung
besi yang ia kendarai semakin cepat bermanuver menuju sasaran.
Pemuda itu sengaja membuat pesawatnya berputar, melakukan rotasi bagai sebuah sirkus udara, lalu melontarkan beberapa misil setelah bidikannya tepat. Tiga buah pesawat milik aliansi timur berhasil ia ledakan dalam sekali hentakan.
“Bodoh!” sergah Erick beberapa detik setelah melihat ledakan tersebut. “Kenapa kau tembak habis pesawatnya, hah?!”
Adnan bungkam, tidak menanggapi hardikan kapten baru tersebut. Kernyihnya masih jelas terlihat.
“Kita harus membawa mereka ke pangkalan dalam keadaan hidup-hidup, dan kau malah meledakan semuanya!” Erick kembali menyergah dengan nada baritonnya.
Liur Adnan tertelan sempurna. Ia masih mengunci mulutnya detik ini.
“Kapten, bagaimana?” tanya salah satu prajurit memotong pembicaraan.
Erick mengembuskan napas panjang sejenak. Kontrol emosinya masih belum stabil bahkan jika Adnan menanggapi
sergahannya tadi.
“Kita cari yang lain,” titahnya kemudian.
Sementara, Adnan yang mendengar ucapan pemuda itu menyeringai semakin lebar. Kikikan geli hampir saja lepas
dari kedua belah bibirnya.
“Aku seperti sedang bermain tembak-menembak dengan bocah sekarang,” ucapnya hingga terdengar oleh Erick
yang tengah menerbangkan pesawat di dekatnya.
Erick melirik tajam ke arah pesawat Adnan sejenak. Ia beralih memfokuskan saluran komunikasi hanya kepada pemuda bersurai hitam itu.
“Apa maksudmu?” selisiknya tajam.
Adnan tersenyum tipis, mencibir pemuda bersurai cokelat itu.
“Sekarang kau kapten,” kata Adnan dengan santainya, “kenapa kau putus saluran komunikasi dengan prajuritmu, huh?”
“Bukan urusanmu!” sergah Erick. “Apa maksud ucapanmu tadi, hah?! Kau meledekku?!”
“Memang kenyataannya begitu,” timpal Adnan sekenanya.
Erick mendecak geram. “Kau!!!”
“Sambungkan lagi saluranmu dengan yang lain,” potong Adnan. “Musuh di arah jam satu!”
Adnan mengubah kembali manuver pesawatnya, memisahkan diri dengan pesawat milik Erick. Sementara, pemuda
bersurai cokelat itu masih berusaha menahan emosinya yang hampir saja meledak karena cemoohan Adnan barusan.
Erick semakin geram tatkala pemuda bersurai hitam itu malah tertawa usai memutar arah manuver pesawatnya yang kini menghalangi jalur terbang miliknya.
“Kau ingin bermain-main denganku, ya?” Erick memicing dan malah membidik pesawat Adnan.
“Kapten!” seru prajurit membuyarkan fokus Erick seketika.
“Musuh mendekat!” sahut prajurit lain.
Erick mendecih sejenak, sebelum sepersekian detik kemudian mengubah haluan pesawatnya. Adnan melirik cepat ke arah burung besi milik pemuda bersurai cokelat itu yang terbang cepat mendekati pesawat musuh yang jumlahnya amat banyak dari yang ia kira sebelumnya.
“Cih! Kau mau bunuh diri, ya? Dasar bodoh!” geramnya seraya menambah kecepatan pada pesawatnya agar terbang menyusul burung besi milik Erick.
Tembakan beruntun diluncurkan dan beberapa di antaranya mengenai pesawat aliansi timur. Erick tersentak, dan
menyadari jika tembakan itu berasal dari pesawat Adnan yang menuntun prajurit lainnya.
Kenapa?
Kenapa ia malah menembaki aliansinya sendiri?
Erick semakin terkejut saat melihat Adnan kembali meledakan pesawat musuh.
“Kapten!” seru Adnan, menyadarkan lamunan Erick seketika. “Kita mundur sekarang! Musuh terlalu banyak!”
“I—iya,” balas pemuda itu terdengar gugup.
***
Kondisi pangkalan kembali normal, tetapi tidak dengan langit yang mengubah aura menjadi lebih tegang dari
sebelumnya. Bola mata Adnan memandang ke arah bentangan biru yang dihiasi oleh gumulan kapas putih di mana ia bisa melihat beberapa pesawat aliansi timur bermanuver sejenak di sana, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan titik jenuh.
Ia berbalik, kembali berjalan memasuki gedung usai memarkirkan burung besinya di hanggar. Sesekali pemuda itu
menggerakkan indera gerak dan juga lehernya, berusaha melemaskan otot-otot dan persendian. Perhatiannya kini berubah setelah melihat Erick yang berjalan mendahului dirinya tanpa menghiraukan keberadaannya. Adnan berhenti, memandang punggung Erick yang perlahan menghilang dari koridor tersebut, dan merubahnya menjadi sesosok pria yang ia kenal.
Pria itu melirik kepergian Erick sejenak, lalu beralih ke arah Adnan. “Bagaimana?” tanyanya, “lancar?”
Alan—dokter pribadi Adnan—mengangkat kedua alisnya seketika. “Kalian ... kenapa?” tanyanya lagi usai menangkap keanehan pada hubungan dua pemuda itu.
Pemuda bersurai hitam itu membuang muka, memandang keluar kaca koridor dengan napas kesal yang menerobos sempurna dari lubang pernapasannya. “Tanyakan saja pada putra Komandan itu!” cerocosnya. Ia tidak sadar jika tingkah lakunya sudah seperti seorang gadis yang kesal dengan temannya sendiri.
Alan terkekeh menanggapi. “Ada masalah?” selisiknya tampak santai. “Kalian seperti sedang terlibat sesuatu
yang tidak kalian inginkan.”
“Apa bedanya dia dengan seorang anak yang meminta papanya untuk merebut mainan temannya sendiri?!” tanya Adnan masih sedikit kesal seraya melempar pandangan pada Alan.
Dokter itu mencoba menerka sejenak pikiran Adnan. “Erick ... merebut posisimu?” tebaknya.
Adnan membuang muka lagi dalam gemingnya. Tentu saja hal itu membuat Alan mengerti sumber permasalahan kedua remaja itu sekarang.
“Untuk apa Erick melakukannya?” tanyanya kemudian.
Adnan tidak menjawab. Kali ini, Alan teringat sesuatu mengenai Erick. Pembicaraan ia dengan pemuda itu beberapa waktu lalu.
Sarkan.
Mata dokter itu masih memandang Adnan yang membuang muka dan lebih memilih untuk melihat pemandangan tandus di luar gedung.
“Kau harus lebih berhati-hati sekarang,” ucap Alan. “Tentang keberadaanmu, dan juga identitasmu.”
Adnan meneguk ludah. “Apa yang akan mereka lakukan jika tahu identitasku yang sebenarnya?” tanyanya berpaling menghadap sang dokter.
“Entahlah,” jawab Alan seraya mengedikan bahu. “Kecuali jika Komandan benar-benar sudah tahu yang sebenarnya. Kau bisa saja—”
“Dibuang?” potong pemuda itu.
Alan tangkas membisu. Dilihatnya mimik wajah Adnan yang teraut serius itu. Sementara, Adnan kembali menelan
salivanya dan menghela napas sejenak. Kebiasannya itu membuat suasana obrolan menjadi dingin. Cukup lama, sampai sesuatu mengejutkan mereka berdua.
Dering sirine yang amat kencang terdengar menggema di koridor. Adnan sigap melempar pandangannya keluar gedung di mana ia bisa melihat burung besi yang ia kenal terbang meninggi, meninggalkan pangkalan.
“Siapa yang membawa pesawatmu?” tanya Alan penasaran. “Itu pesawatmu, ‘kan?”
Adnan tidak menghiraukan pertanyaan Alan. Ia berbalik dan berlari kembali ke hanggar. Seluruh prajurit dan beberapa teknisi lantas melemparkan pandangan saat dirinya tiba di sana. Alan terturut menyusul langkah pemuda itu.
“Kapten!” seru seorang gadis sembari menghampiri Adnan.
“Megan?” Adnan mengarahkan tatapannya pada gadis yang mengenakan seragam sama sepertinya.
“Apa yang terjadi?” tanya Alan menyahut.
“Erick membawa kabur pesawat Anda, Kapten,” jawab Megan tersengal. “Kami sudah berusaha menahannya, tapi ....”
Adnan bergeming. Tatapannya terarah pada jalur keluar pesawat miliknya yang terbuka lebar.
“Untuk apa dia membawa pesawat Adnan?” Alan kembali bertanya.
“Salah satu teknisi mendengar jika dirinya kukuh ingin menangkap musuh, Dokter,” jawab gadis itu. Sesekali ia memperhatikan Adnan yang hanya geming membisu, sampai akhirnya ia menyenggol kasar lengan pemuda itu.
“Hey, Kapten!” serunya kemudian.
“Adnan, ini tidak baik,” ucap Alan pada pemuda di dekatnya itu.
Adnan berusaha menahan emosi. Liurnya tertelan sempurna pada kerongkongannya yang tercekat. Alih-alih menimpali ucapan Megan dan Alan, ia malah berbalik meninggalkan kedua orang itu.
“Siapkan pesawat lainnya!” titahnya pada beberapa prajurit di sana. Sementara, para prajurit dan juga teknisi yang
ada di tempat itu hanya bergeming memandangnya seribu arti.
“Kapten!” seru Megan menghentikan langkah pemuda bersurai hitam itu. “Anda tak bisa lagi menggunakan kendaraan dan perangkat apa pun selain Analemma,” ucapnya.
Adnan berbalik. Keningnya sudah saling bertaut kini. “Apa?” selisiknya, “apa kau bilang?”
“Saya harap Anda paham dengan keputusan Komandan setelah beliau menurunkan jabatan Anda, Kapten,” ucap gadis itu lagi. “Komandan melarang seluruh prajurit ataupun teknisi untuk menuruti perintah Anda. Dan juga ... ia melarang Anda untuk menggunakan seluruh perangkat yang ada di pangkalan ini kecuali Analemma, pesawat milik Anda. Itu sudah menjadi peraturan baru yang ada di sini ... terhitung sejak Frederick Add menjadi kapten.”
“Peraturan macam apa itu?!” hardik Adnan seketika, membuat seluruh orang yang ada di tempat itu mendadak terkejut dengan responsnya yang tidak biasa.
Adnan menyalangkan matanya ke arah Megan dan juga Alan, lalu terarah pada orang-orang di sana. Sengal napasnya tertampak, seiring dengan degup jantungnya yang mencepat. Pemuda itu bergeming, mengontrol emosinya sejenak. Selang beberapa saat kemudian, ia berbalik dan berlalu dari tempat tersebut.
“Kapten,” lirih Megan hendak menyusul pemuda itu sebelum sepersekian detik kemudian Alan menahannya. Ia
memandang dokter yang menimpalinya dengan gelengan larangan itu.
“Sebenarnya, apa yang terjadi?” tanya gadis itu kemudian. “Beberapa waktu lalu, hubungan mereka masih baik-baik saja kok.”
Alan mengedikan bahunya. “Entahlah,” jawabnya.
Belum selesai urusan mereka, tiba-tiba sebuah sirine peringatan kembali berdering keras. Megan dan Alan
beranjak keluar dari tempat itu. Langkah mereka terhenti mendadak setelah mendapati sebuah pesawat tinggal landas dari salah satu hanggar dan bermanuver dengan cepat meninggalkan pangkalan.
Seorang prajurit berlari menghampiri mereka dengan napas tersengal. “Adnan membawa kabur salah satu pesawat,” katanya tergopoh-gopoh.
***
“Erick brengsek, mau kau apakan pacarku itu, huh?” desis Adnan beberapa saat setelah berhasil membawa kabur
salah satu pesawat di pangkalan. Beruntung sekali burung besi yang ia naiki masih menggunakan kunci manual dan pilot mungkin saja lupa menarik anak kunci pengendalinya.
Jemari Adnan berusaha menekan beberapa tombol di hadapannya demi melakukan sesuatu. Selang beberapa detik kemudian, bola matanya membinar usai berhasil menyambungkan saluran komunikasi dari pesawat itu ke Analemma miliknya.
“Oi,oi!” serunya mengetes saluran komunikasi itu.
Erick sendiri hampir terkejut dan melepas kontrol pesawat yang dibawanya kini. Terlebih, ia mengenali suara lawan
bicaranya kini.
Apa yang dia lakukan?
Bola matanya turut melebar kejut saat mengetahui sebuah burung besi aliansinya terbang di sisi pesawatnya.
“A—apa?” gumamnya setengah gugup.
“Kembali sekarang, Erick!” seru Adnan melalui jalur penghubung komunikasi.
“A—apa yang kau lakukan?!” sergah Erick.
Adnan terkekeh menanggapi. “Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan dengan Analemma, hah?”
tanyanya enteng. Ia masih terus mengontrol pesawatnya di sisi Analemma yang ukurannya jauh lebih besar dari burung besi yang dikontrolnya sekarang.
Erick mendecih dalam kebisuan. Ia berharap bisa memutus sambungan komunikasi itu secara sepihak. Namun rasanya tidak mungkin, karena dirinya tengah gugup dan tidak bisa mengendalikan emosi sekarang.
Sebuah ledakan tercipta di hadapannya. Erick hampir saja menabrak ledakan itu sebelum menukikan Analemma
menjauhi posisinya semula. Ia terdiam, dengan napas dan degup jantungnya yang saling memburu.
“Kau hampir melukai pacarku barusan,” ucap Adnan.
“Hah?” Erick mencoba memfokuskan pendengarannya.
“Biaya perbaikan Analemma sangat besar dan kau malah memperparah kondisi ekonomi kita jika barusan kau
menabrakan pacarku itu ke bukit,” ujar pemuda bersurai hitam itu.
Erick terdiam. Mulutnya seperti terkunci rapat saat ini.
“Kau takkan bisa menangkap orang-orang aliansi timur dengan kursi tunggal seperti itu,” kata Adnan lagi.
“Analemma didesain untuk bertarung, bukan pengangkut.”
Liur Erick tertelan sempurna. Seharusnya, ia menyadari sejak awal sebelum menggunakan pesawat bermoncong
lancip itu.
“Ayo pulang,” lirih Adnan. “Kita takkan bisa bertukar pesawat di tempat ini.”
Adnan mengembuskan napas panjang dan terdiam. Manik matanya yang terang itu menatap Analemma yang perlahan bermanuver kembali ke jalur asal. Ia turut menyusul Erick dan terbang di belakang pesawat besar miliknya itu.
***