
Alan terkekeh menanggapi. Pria itu menyandarkan punggung lengannya di pagar pembatas gedung, sama seperti yang dilakukan Erick sejak tadi.
Sementara itu, Erick mengernyit. “Kau ....” Erick menggantung ucapannya. Netra terangnya mengamati setiap inci tulisan pada kertas yang ia pegang. “Tak mungkin, ‘kan?” gumamnya.
Alan menoleh ke arah pemuda tersebut. “Faktanya memang begitu,” timpalnya.
“Dia masih hidup?” Erick menatap pria di dekatnya itu tidak percaya.
Senyum tipis terukir di sudut bibir dokter tersebut.
“Dari mana kau mendapatkannya?”tanya pemuda 17 tahun itu.
“Kau tak perlu mengetahuinya,”jawab Alan.
Lagi, kening Erick mengerut sekejap. Sampai akhirnya, pemuda itu menurunkan pandangan dan menatap lantai hitam yang dipijakinya sekarang. “Tapi ... kenapa kau memberitahukannya padaku?” tanyanya menggumam. “Kau tahu bagaimana diriku, ‘kan?”
Alan kembali memandangi Erick usai melemparkan pandangannya sejenak ke luar jendela kaca gedung. “Kau
berebut oksigen dengan Adnan, bukan berarti kau juga tak mau memberi waktu padanya untuk bernapas, ‘kan?” tanya pria itu.
Erick mengangkat pandangannya menatap sang dokter. Ucapan pria itu justru membuatnya berpikir keras.
“Kau masih tak mengerti?” tanya Alan lagi seraya berbalik dan bersandar pada pagar pembatas. “Kau dan Adnan sama-sama menginginkan kekuasaan. Tapi kalian adalah rekan sejak lama. Saling membantu satu sama lain. Apa kau tak ingin membantunya lagi setelah dia dikirim ke Cosmo?”
“Aku tidak menginginkan itu,” ucap Erick.
“Bohong.” Alan menyela. “Sudah jelas kalau kau benar-benar ingin mengontrol Sarkan. Kau sendiri sudah tahu, kalau ingin membawa Clibanarii itu kau harus mendapatkan jabatan penting, entah itu di Cosmo atau pangkalan ini—”
“Meski aku bisa melihatnya, aku tak mungkin bisa mengontrolnya, Alan,” potong pemuda itu setengah mendesah. “Kau sendiri sudah tahu hal ini, ‘kan?”
Alan bergeming dan mengembuskan napas panjang. Ia mengangguk mafhum. “Aku bekerja di proyek itu bersama mereka. Melihat mereka bekerja sama setiap saat. Aku yakin, kematian Harris pasti karena suatu sebab,” ucapnya tanpa menatap pemuda di sebelahnya.
Erick lantas memandangi dokter muda tersebut. Kacamata tipis yang bertengger di pangkal hidung Alan menghalangi pandangan pemuda itu untuk melihat matanya.
“Aku tahu jika Clibanarii seperti Sarkan sudah diatur sedemikian rupa hingga hanya orang-orang tertentu yang bisa mengontrolnya,” ucap pemuda itu.“Ayah juga bilang padaku, kalau percuma jika aku bisa melampaui Adnan. Aku tidak akan pernah bisa sepertinya—”
“Kau tahu juga soal hal ini?” sela Alan.
Erick berdeham dan mengangguk menimpali. “Profesor Harris sendiri, ‘kan, yang merancang Clibanarii itu?” tanyanya memastikan.“Ayah memang tak pernah memberitahunya, tapi aku mencari tahunya sendiri. Orang seperti Ayah tidak pandai menyembunyikan rahasia. Sedikit demi sedikit pasti terbongkar juga.”
“Kau bahkan jauh lebih pintar dariku, Erick,” ucap Alan seraya memandangi Erick. “Tapi kenapa kau malah setengah hati berpihak pada ayahmu?”
Erick bergeming. Sesuat mendadak mengganjal relung hatinya. “Bukannya setengah hati, aku hanya ....” Pemuda
itu lagi-lagi menggantung ucapannya. Tatapannya tertuju pada seorang pria yang berjalan menghampiri mereka. Dia mafhum benar siapa sosok berambutcokelat yang mirip dengannya itu.
“Berapa lama lagi harus menunggumu mengumpulkan niat, huh?” tanya pria itu. Pandangannya tertuju pada amplop yang dipegang oleh Erick. “Apa itu?”
Erick bergegas memberikannya pada Alan. “Hanya data pemeriksaan biasa,” jawabnya menahan gugup.
Hubert—pria yang barusan datang itu—memicing ke arah putranya sendiri.
“Apa aku terlihat berbohong?” Erick melayangkan tatapannya langsung pada pria di hadapannya.
Pria itu berdecak. “Segeralah ke hanggar!” titahnya, “aku tidak ingin namamu tercoreng karena keterlambatanmu mengambil keputusan.”
Erick bergeming. Tangannya masih mengepal erat, bahkan setelah Hubert berlalu meninggalkan mereka berdua.
“Misi apa yang dia tugaskan kali ini?” bisik Alan.
Pemuda itu menunjukkan remasan memo yang berada di kepalan tangannya. Alan hanya mengangkat kedua alis menanggapinya. “Hancurkan koloni aliansi timur di area 24,” ucap Erick. “Aku lupa itu area mana.”
Alan lantas melihat amplop yang kini dipegangnya, lalu kembali menatap pemuda berambut cokelat itu. “Kau naik Analemma?” selisiknya.
Erick mengangguk.
“Sambungkan saluran komunikasimu denganku saat sudah mendekati area 24,” pinta Alan. “Aku akan mengawasi jalur tembakmu dari ruang kendali pribadiku.”
“Hm?” Erick mengerutkan keningnya sekejap. “Bagaimana caranya? Anu ... maksudku ....”
“Jangan bodoh!” celetuk pria berkacamata itu. “Sebelum menjadi dokter, aku adalah rekan ayahmu dan Harris. Kau tak perlu pikirkan bagaimana caraku nanti, karena yang harus kau cemaskan adalah ....”
“Apa?”
Alan memandang lurus ke arah Erick hingga mereka bersemuka cukup lama.
“Kemungkinan gadis yang kalian cari ... berada dalam koloni itu.”
***
“Ada apa?” tanya Jason seraya menyerobot melihat layar besar di dashboard .
“Ada beberapa pesawat kemari, Pak,” jawab salah satu petugas.
“Sudah kalian cek mereka dari mana?”
“Kami sudah mencobanya, tapi karena keterbatasan sinyal, rupa mereka tidak begitu jelas—”
“Bisa dipastikan kalau itu pesawat musuh,” sahut Jo memotong ucapan petugas di sampingnya itu. “Aku akan meminta yang lain untuk segera bersiaga.”
Jo menekan sebuah tombol untuk memberikan sinyal ke APC dan Clibanarii lain yang juga telah siap sejak beberapa saat yang lalu.
“Aku ke Clibanarii-ku dulu,” pungkas Jason sembari berbalik hendak keluar APC.
“Jangan terlalu ceroboh bertindak, Kapten,” ucap Jo tanpa memandang pria yang hampir menuju pintu itu.
Jason berbalik sejenak sembari berdecih. “Kau semakin pintar saja,” gumamnya sebelum akhirnya keluar dari sana.
Jo hanya tersenyum tipis merespons ucapan pria itu sebelum kembali fokus pada dashboard di depannya.
***
Sementara di sisi lain, Erick telah siap dengan Analemma. Burung besi itu membawanya menuju area 24 bersama para prajurit lain. Langit biru yang terselimuti oleh hawa kering dan panas itu ditembus dengan cepat. Setidaknya ada sepuluh pesawat termasuk Analemma yang bermanuver detik ini.
Pemuda itu sesekali melihat sebuah memo yang sengaja dia tempelkan di dashboard. Titah sang ayah pada tulisan
di kertas itu masih terlihat jelas meski sudah diremas kuat olehnya. Sesekali ia menghela napas, melepas semua hal yang tersangkut dalam emosinya kini.
Pernyataan Alan mengenai lokasi gadis itu membuatnya kalut. Jika memang benar area 24-lah tempatnya berada, maka dirinya harus berhati-hati menembak. Namun, lain hal dengan rekan-rekannya. Mereka pasti menembak beruntun asalkan mengenai sasaran. Hal itulah yang ditakutkan oleh Erick kini, entah dia bisa menyelamatkan Adara, atau malah turut membuatnya meregang nyawa.
“Kapten, area 24 sudah terlihat.”
Sebuah suara mengejutkan Erick. Pemuda itu paham benar sang pemilik suara. Seorang wanita yang berusia tiga tahun di atasnya dan menjadi salah satu rekannya saat mereka meledakkan Spot Ankaa beberapa waktu lalu.
“Baiklah,” timpal Erick. “Fokuskan serangan pada Clibanarii mereka terlebih dahulu.”
“Diterima!”
Erick mengubah haluan komunikasi seketika. Diamasih mengingat permintaan Alan sebelum dirinya berangkat tadi, meski hatinya masih dilema dengan titah sang ayah yang benar-benar harus dilaksanakan olehnya.
“Kau sudah mendekati titiknya?” tanya Alan usai saluran komunikasi keduanya tersambung.
Pemuda Frederick itu berdeham.
“Akan kukirimkan sinyalnya,” ucap sang dokter yang bergerak di sebuah ruangan gelap dengan banyak tombol dan layar besar di hadapannya.
Erick mulai menerbangkan Analemma hampir mendekati sebuah koloni yang tengah berjalan. Embusan angin kering bersama dengan debu dan putiran pasir mulai menghalangi penglihatannya. Pemuda itu mengubah haluan pesawatnya bersama dengan burung besi milik prajurit lain. Sampai akhirnya, sesuatu menarik perhatian Erick. Sebuah titik merah tiba-tiba muncul di layar dashboard.
“Itu adalah Adara,” sahut Alan.
Pemuda itu mengerutkan keningnya sekejap.
“Semua tergantung padamu, apa kau akan melenyapkannya ... atau tidak,” lanjut dokter tersebut. “Buatlah keputusan dengan bijak, Erick.”
Alan memungkasi ucapannya sebelum memutus saluran komunikasi, sementara Erick menelan saliva. Entah kenapa, dirinya benar-benar dilema. Jempolnya tidak ingin menekan tombol misil pada tuas yang ia genggam saat ini, tapi mengingat tugas yang dititahkan oleh sang ayah membuatnya harus berpikir dua kali lipat. Dia juga penasaran, kenapa dokter seperti Alan bisa dengan mudahnya mendapatkan akses Adara begitu cepat dari perkiraan. Sesuatu pasti dirahasiakan olehnya dan tentu saja orang seperti Erick tidak mungkin langsung diberitahu apalagi ini berhubungan dengan keinginan pemuda tersebut.
“Kapten.”
Lagi-lagi seseorang mengurai lamunan Erick. Suara misil mulai bersahut-sahutan. Rekan-rekannya dari pesawat lain terus-menerus meluncurkan misil dan dibalas langsung oleh koloni aliansi timur itu.
Erick mulai memfokuskan pandangannya pada satu titik merah di mana berasal dari salah satu APC. Lagi, pikirannya merunyam tentang bagaimana caranya gadis itu bisa memiliki pendeteksi semacam ini. Dia menduga betapa spesialnya gadis itu dan wajar saja bila Adnan maupun Alan terus mencarinya meski tidak mendapatkan kabar dirinya sekali pun.
“Kalian fokus saja pada Clibanarii-nya. Biar aku yang fokus pada APC-nya,” titah Erick kembali mengubah haluan Analemma.
“Baik.”
Analemma terbang menjauh sejenak, sebelum akhirnya bermanuver mendekati koloni aliansi timur kembali. Erick memegang erat tuas pengontrol di sampingnya. Jempolnya sudah siaga menekan tombol di puncak tuas tersebut.
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi kening. Erick tahu bahwa yang dilakukannya ini salah, tapi demi sesuatu yang tidak bisa diberitahukannya pada siapa pun—bahkan sang ayah sendiri—ia harus melakukannya. Dia tidak bisa berpikir jernih detik ini sampai akhirnya tidak sadar menekan tombol peluncur misil tepat ke arah APC di mana Adara berada.
Sementara itu, Adara yang berada di APC yang sama dengan Jo dan Jun sontak mengalihkan atensipada sebuah suara yang semakin mendekati kendaraan pengangkut mereka. Matanya menyalang dengan keterkejutannya yang terbentuk sekejap.
“ADARA!!!”
***