AST

AST
PHASE 4



Seorang pemuda tengah memandang keluar jendela kaca pada sesuatu yang tengah ia naiki sekarang. Mata gelapnya berfokus pada sebuah planet biru dan serpihan bebatuan melayang di sekitarnya. Tak hanya itu, banyak pula kerikil besi dan pecahan berbagai macam benda turut bertaburan, menyurai hening ruang anti gravitasi tak terbatas itu.


Pikirannya melayang, merujuk pada seseorang yang gagal ia temui beberapa waktu lalu. Bibirnya sesekali tergigit


kecut—kesal tiada tara. Napasnya kadang memburu seiring detak jantungnya yang telah normal. Sudah tiga bulan, dan ia harus segera turun ke planet biru itu untuk menjemput seseorang yang selalu merumitkan otaknya.


“Adnan?”


Seseorang memanggil namanya. Jelas sekali. Pemuda itu berbalik dan seperti biasanya, ia selalu tahu siapa sosok


yang memanggilnya dengan nama ‘Adnan’.


“Kau melamun lagi?”


“Tidak.” Adnan menjawab cepat. Ia berjalan mendahului pemuda bersurai cokelat itu.


“Jangan mengelak dariku, Ad!”


“Berhentilah menanyaiku seperti itu, Erick!” cela Adnan sigap berbalik pada pemuda yang menegurnya barusan; Erick. Sejenak ia setengah menunduk dan mengatur ritme napasnya. “Maaf,” imbuhnya lirih.


Erick bernapas lega. “Tak apa,” katanya sambil menepuk pundak Adnan. “Ayo, bergegaslah!”


***


Jo memberikan sebuah plastik berisi roti kepada seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah di salah satu


kamp pengungsian. Gadis itu masih tertunduk dalam diam, bahkan sejak jarum dan selang infus dilepas dari tubuhnya. Ia tak menerima roti yang diberikan Jo, hingga mengharuskan pemuda itu duduk di sebelahnya.


“Kau tak mau makan?” tanya Jo. “Nanti diinfus lagi, lho!”


Gadis itu masih terdiam. Bahkan sesuatu tampak dipikirkan olehnya.


“Kenapa?” tanya Jo lagi. Gadis itu masih membisu. Jo sejenak melihat ke sekelilingnya.


Kamp pengungsian itu merupakan satu-satunya spot yang bisa menyelamatkan korban bencana dari segala


kekurangan, termasuk untuk mengobati trauma mereka pascabencana yang menyebabkan sebagian besar wilayah planet biru ini binasa. Ada sekitar sepuluh kamp di sana. Tiga di antaranya untuk menyimpan persenjataan dan bahan makanan. Selalu ada yang pergi, dan selalu ada yang tinggal setiap harinya. Pergi untuk mencari celah dan menemukan spot lain ataupun bantuan. Kadang mereka kembali, kadang pula tidak. Spot yang kini mereka tinggali pun tak luput dari kecemasan dan rintih ketakutan setiap detiknya. Peluru nyasar selalu menghantui penghuni kamp. Atau bahkan, gas beracun yang sewaktu-waktu menghampiri mereka.


“Aku akan pergi besok,” kata Jo. “Kuharap kau menjaga Jun dengan baik.”


Gadis di sebelahnya menaikkan pandangan, memandang ke arah Jo dengan bola mata cekungnya. Terlihat sekali


bahwa ia benar-benar kurang gizi selama ia berada di kamp itu. Jo menoleh dan membentuk lekuk menanjak pada tepi bibirnya.


“Jun-lah yang menemukanmu. Kau harus berterima kasih padanya,” ucap Jo mengambang. Menahan detik duka dalam hatinya.


“Adara.”


Jo tersentak. “K-kau ....”


“Namaku ... Adara.”


Tak terbendung lagi, Jo tersenyum lepas. Bahagia sekali karena ia tahu jika gadis itu bisa bicara. Sejak ditemukan, gadis berseragam sekolah itu tak pernah sekali pun membuka mulutnya.


“Kupikir ... kau ... ah, yang benar saja kau tak bisa bicara! Bodohnya aku pernah mengatakan ini pada Jun.” Jo mengetuk-etuk dahinya, seakan menyalahkan dirinya sendiri. “Maaf, aku minta maaf.”


“Kenapa minta maaf?”


Jo menghentikan tindakannya dan menatap Adara. Bola mata terang gadis itu memandangnya penuh lugu. “Aku ... ah, lupakan saja,” jawabnya kikuk. “Jadi bagaimana? Kau mau kan menjaga Jun untukku?” tanyanya kemudian merubah topik pembicaraan.


Adara tersenyum menahan tawa. “Kau sudah seperti mau mati saja,” katanya.


Pemuda itu tersentak. Ia setengah menunduk sendu.


“Kembalilah dengan selamat.”


Ucapan itu membuat Jo kembali mengangkat pandangannya, menatap Adara penuh keraguan sekaligus takut. “Tak ada yang kembali jika sudah keluar dari ....”


“Ssst.” Adara mengunci mulut pemuda itu dengan telunjuknya, lalu menggeleng.


Jo mengangguk paham. Seperti ada yang menguatkan dirinya. Tapi tetap saja, rintih keraguan masih membuncah dari lubuk hatinya. Entah kenapa pemuda sepertinya sangat rapuh. Bahkan, pada kenyataannya, tak hanya dirinyalah yang serapuh ini. Para lelaki di sana pun hampir seperti dirinya. Hanya karena mereka lelaki, sudah seharusnya mereka berada di garis depan bahkan di garis pertahanan.


“Aku baru saja sadar seminggu yang lalu. Bisa kau antar aku berkeliling kamp?”


Kalimat Adara kembali menyurai lamunan Jo. Pemuda itu mengangguk mengiyakan.


***


“Sejak peristiwa itu, aku dan Jun kehilangan orangtua kami. Kami beruntung bisa selamat karena sedang berada di


rumah sakit saat itu. Jun mendadak demam. Karena orangtua kami sibuk dengan pekerjaan mereka, makanya aku mengalah untuk mengantarkan Jun ke dokter ....”


Jo menggantung ucapannya. Sejenak bibir bawahnya tergigit mengambang. Ia mendadak diam sambil menahan sesuatu yang mungkin saja memaksa keluar dari pelupuk mata dan relung hatinya. Selang beberapa detik kemudian, ia tersenyum hampa. Lalu menggeleng dan sedikit tertunduk.


“Astaga ... kenapa aku secengeng ini!” celanya seorang diri. Ia bahkan membuang muka tak ingin menunjukkan semu merah di wajahnya kini pada gadis di dekatnya itu. “Aku minta maaf,” imbuhnya.


Adara mafhum benar dengan apa yang dirasakan oleh Jo. Di pikirannya sekarang pun turut terbesit kecemasan pada kedua orangtuanya yang entah berada di mana kini. Sejak setahun yang lalu lebih tepatnya, ia hidup terpisah dari orangtua dan tak pernah mendengar kabar ayah dan ibunya meski mereka sering mengiriminya uang untuk kebutuhan hidupnya. Bahkan, sekarang pun, Adara tak pernah mendapat pemberitahuan bahwa ayah dan ibunya mencari dirinya. Semuanya kosong. Hampa. Ia bagaikan seekor anak kucing yang hidup sendiri dalam kekalutan.


“Kak Jo!”


Seorang bocah perempuan menyurai gundah kedua remaja itu. Jun—adik Jo—sepertinya tak terlihat takut. Maklum, bocah seusianya masih gemar bermain dan menganggap semua yang terjadi di depannya hanyalah sebuah imajinasi saja. Bocah perempuan dengan rambut pendek itu berlari menghampiri Jo.


“Aku mendapat sesuatu!” katanya semringah.


Jo berlutut menyamai tingginya dengan Jun. “Kau dapat apa?” tanyanya sembari mengubah mimik wajahnya menjadi bahagia. Yah, kebahagiaan dengan senyum palsunya.


“Adara,” sambung Adara dengan senyum manisnya. Tentu saja ia tersenyum untuk mengelabui Jun bahwa hatinya


kini bagai teriris pisau melihat situasi di sekitarnya kini.


“Kakak bisa bicara, ya?”


“Ssst.” Jo menyumpal cepat bibir mungil bocah perempuan yang cerewet itu hingga membuat Adara tertawa geli


melihatnya.


“Sudah-sudah. Ayo, tunjukkan pada kami apa yang kau dapatkan!”


Jun tersenyum lebar. Amat lebar. Ia berlari menuju suatu arah. “Ayo, Kak, ke sini!” serunya girang.


Sebuah kardus berukuran sedang berisi makanan kaleng. Jo tak paham dengan yang dilakukan bocah perempuan


seusia Jun saat anak itu menjauh darinya sejak tadi pagi. Seharusnya bocah seumurannya tak keluar dari spot seorang diri untuk mencari sekardus makanan kaleng dengan situasi buruk yang terjadi sekarang. Ia mengambil salah satu kaleng dan mengamati tanggal kadaluarsanya.


“Kau dapat dari mana?” tanyanya penasaran.


“Ketua memberinya padaku, Kak.” Jun menjawab sigap.


“Ketua?”


Jun mengangguk mantap. Sementara Jo dan Adara saling berpandangan. Mengernyit dalam rasa penasaran mereka. Saling memberi isyarat tentang bagaimana bisa makanan kaleng yang masih terbilang baru ini bisa didapat oleh seseorang yang Jun sebut ‘ketua’ itu. Sampai akhirnya, fokus mereka menyurai saat Jun terbatuk kasar. Berkali-kali sampai wajahnya memerah.


“Jun. Ada apa?”


Jo menempelkan punggung tangannya di dahi bocah itu. Jun tak demam. Ia juga tidak berkeringat dingin. Tapi batuk yang ia keluarkan semakin menjadi-jadi dan membuat Jo khawatir setengah mati.


“Ada apa dengannya?” tanya Adara turut berlutut memeriksa keadaan Jun.


Jo sigap menyebarkan pandangannya ke berbagai arah. Matanya menyalang tajam pada sebuah kabut asap yang datang dari salah satu sisi kamp. Kabut asap yang hampir saja tak terlihat oleh orang-orang di sana.


“Sial!” gertaknya. Dengan cekatan pemuda itu menggendong Jun dan lantas menarik lengan Adara menjauh dari tempat tersebut.


“Ada apa? Mau ke mana kita?”


“Apa kau tak lihat asap itu, huh?” Jo balik bertanya—sedikit berseru.


“Asap?” Adara menoleh ke belakang, di mana ia bisa melihat kabut asap yang makin lama semakin pekat. “A-apa itu?”


“Asap beracun,” jawab Jo masih berlari sambil menggendong Jun. Sementara tangannya yang lain menggandeng Adara yang turut berlari bersamanya.


Cukup jauh mereka berlari—sekitar lima buah kamp mereka lewati—sampai akhirnya Jo masuk ke salah satu kamp dan menghentikan langkahnya. Pemuda cekatan itu bergegas mengambil beberapa barang yang kemudian ia masukkan ransel setelah Jun dititipkannya pada Adara.


“Kita mau ke mana?” tanya Adara lagi, masih dengan polosnya.


“Apa kau pikir kita akan terus di sini?” Jo berbalik dan mendelik ke arah gadis yang tak tahu apa-apa itu.


Sejenak, sebelum akhirnya ia kembali sibuk dengan ranselnya dan mengurungkan niat untuk menjelaskannya pada Adara. Sudah tidak ada waktu lagi, dan ia harus segera membawa mereka berdua—Jun dan Adara—pergi dari kamp tersebut sebelum sesuatu yang berbahaya terjadi.


“Ayo!”


***


“Kau menemukan sesuatu di bawah?” tanya seorang pemuda di dalam kok-pit pada lawan bicara di balik panggilan.


“Sebuah kamp,” jawab lawan bicaranya—seorang pemuda berambut cokelat.


“Hm? Kamp?”


“I-iya.”


“Jadi aku tadi melepas racun ke sana?”


“Iya, Adnan.”


Adnan, pemuda berambut hitam yang tengah berada di kok-pit burung robot miliknya mengernyit aneh. Ia kembali


fokus pada kemudi dan membawa pesawatnya bermanuver di langit sebuah kamp pengungsian. Tentu saja, ia bahkan tak menyadari jika sasarannya kali ini adalah kamp pengungsian tempat di mana orang terkasihnya berada.


“Apa sudah cukup?” tanyanya kembali pada pemuda bersurai cokelat. Pemuda itu bergeming tak menyahut. “Erick?”


“Ah, maaf.” Erick tersentak menimpali.


“Ada apa?”


“Tidak. Bukan apa-apa. Kembalilah ke pangkalan sekarang!” titah Erick sebelum akhirnya Adnan memutar balik


pesawatnya menuju ke satu arah.


Pemuda berambut hitam itu sedikit menoleh ke bawah. Asap mulai bergumul tinggi. Padahal ia hanya menembakkan misil gas beracun saja, tapi efek yang ditimbulkannya justru membuat ricuh kamp tersebut. Entahlah, yang jelas, untuk dirinya yang kini berada di pihak yang bertentangan dengan kewarganegaraannya membuat ia harus menelan pil pahit. Yah, bagaimana tidak? Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya jika harus membunuh rumpun bangsanya sendiri saat ini.


Kalut.


Sesak menekan dadanya.


“Aku tak pernah menginginkan ini terjadi. Komandan harusnya tahu bagaimana ia harus berpihak dan mengambil


keputusan dengan bijak,” pikirnya, “tapi bagaimana mungkin aku menolak keputusannya jika nyawa Adara mungkin saja di genggamannya kini? Aku tak mau Adara merasakan kesakitan ini. Bahkan jika aku yang harus berkorban untuk kemerdekaan negaraku sendiri ... mungkin ini memang yang terbaik untukku ... dan juga untukmu, Adara.”


***