AST

AST
PHASE 39 . HAL YANG TIDAK TERDUGA



Jason terus menghindar bahkan menghalau serangan dari robot di depannya. Pergerakan Sarkan terus membuatnya kewalahan dan hampir benar-benar tidak bisa mengontrol diri. Dia berkali-kali berpikir tentang sosok pengontrol Clibanarii itu saat ini.


Salivanya terteguk. Netranya sesekali memandangi gelang yang makin menjerat pergelangan tangan kanannya.


Sistem EWF benar-benar bisa diandalkan. Dan juga bisa membinasakan. Energinya terkuras habis sejak dirinya memutuskan untuk menggunakan sistem kendali itu tadi.


“Baiklah,” gumamnya. “Aku ingin tahu siapa yang mengontrolmu, Bajingan kecil!”


Jason menggerakkan dengan lincah Clibanarii miliknya. Bahkan, dengan kondisi yang hanya memiliki satu tangan saja, pria sepertinya bisa menahan serangan yang diberikan Sarkan. Meski sebenarnya, tangan kanannya mati rasa.


Namun, sekian detik kemudian, matanya melihat sebuah pesawat terbang dan menembakkan misil ke arahnya. Jason berdecih. Itu adalah pesawat sialan yang ingin dilenyapkannya tadi. Dia sendiri merasa aneh kenapa aliansi barat memiliki pesawat dengan desain yang dianggapnya norak itu.


“Dasar, Kecoak!” geramnya.


Jason menggeram. Tangan kirinya menekan sebuah tombol pada tuas kendali manual sebelah kiri, melepaskan


rudal dengan tajam kea rah pesawat tadi. Tentu saja dia melakukannya karena tidak bisa mengejar burung besi itu dalam keadaan segenting ini.


Pria itu mulai mengerang kesakitan. Butir keringatnya menghujani pelipis dan membasahi wajah. Gelang di tangan kanannya makin menjerat, meremas erat hingga membuat cairan merah menetes dari sana.


Jason mulai mengerti bagaimana konsep Entanglement yang diberitahu mendiang Reynald kepada Richard sebelumnya. Dia mendengarnya langsung dari Richard dan pria itu bercerita dengan mimik khawatir seolah tidak yakin dengan apa yang sudah dilakukannya dengan Reynald.


Seperti sebuah hukum tarik-menarik. Frekuensi gelombang energi mempengaruhi segala hal yang berkaitan langsung dengannya. Jika ada banyak sistem zero berada pada wilayah yang bisa dijangkau oleh sistem alpha, maka sistem zero akan dengan mudah dikendalikan oleh alpha. Mereka akan bergerak seolah sedang dikontrol, lalu berkeliling seperti melindungi sesuatu yang tidak terlihat. Hanya butuh setidaknya satu sistem yang selevel dengan sistem alpha sebelumnya agar bisa mengimbangi jumlah sistem zero, atau bahkan mengambil alih mereka secara sepihak. Sama seperti perebutan jumlah elektron yang mengitari satu atau beberapa pusat atom.


Jason merasa dirinya sudah mencapai batas. Pandangannya kabur separuh dan bisa dipastikan dirinya akan


tumbang sebentar lagi. Namun, sebelum pria itu sempat menutup mata, sebuah cahaya menyilaukan tampak di depan sana. Makin lama makin membesar seolah merengkuh apa pun yang berada di sekitarnya.


Pada saat kesadarannya pulih—meski tidak sepenuhnya—Jason ternganga. Dia menegapkan tubuh dengan bibir gemetar. Bayang-bayang persitiwa lima tahun lalu kembali menguar dengan bebas.


Sebuah Clibanarii yang dulu hancur lebur, sekarang berdiri melindunginya.


“Pa-Paladin,” gumam pria bermarga Kim tersebut.


Cairan merah tampak mengalir dari lubang hidung, membuat Jason kembali merengkuh kendali dirinya. Tangan kirinya menyeka cairan tersebut. Sebuah lampu merah berkedip pada salah satu sisi dashboard kemudian menarik perhatiannya. Dia kembali mengaktifkan saluran komunikasi—setelah sadar kalau tadi sempat memutusnya.


“Kapten Jason Kim!” seru seorang pria di seberang panggilan.


Jason menghela napas. “Aku baik-baik saja, Komandan,” ucapnya. “Tangan kanan Clibanarii ini melayang ke


angkasa dan aku tidak bisa fokus pada banyak hal sekaligus setelahnya. Aku minta maaf.”


Li Yue yang masih berada di ruang kokpit berdeham menimpali. “Kembalilah ke pasukan,” titahnya. “Biarkan ini menjadi reuni mereka berdua.”


Jason kembali memandang punggung tegap Clibanarii biru-silver tersebut. Tampak masih licin dengan tidak adanya


goresan di sana-sini. Sangat berbeda dengan kondisinya lima tahun lalu.


sosok yang sudah pasti ditakdirkan mengontrol Clibanarii itu. Gadis itu pasti sudah melepas banyak hal hingga bisa sampai di titik ini.


Jemari Jason menekan sebuah tombol yang menghubungkannya langsung kepada pengontrol Paladin. Cukup mudah mengingat sistem yang digunakan pada Clibanarii mereka adalah sama. Suara kemeresak terdengar melirih sebelum akhirnya lenyap. Jason terkekeh sejenak.


“Kau sudah siap?” tanyanya pelan.


Hening, lalu terdengar embusan napas. “Ayah benar,” ucap gadis itu.


“Soal apa?” Jason kembali bersuara.


Adara tersenyum tipis. Butiran air mata menetes, mengalir di pipinya. Matanya yang cokelat terang melihat ke depan, ke arah di mana Clibanarii berwarna merah itu berada. Dia menghela napas panjang. Ingatan tentang masa lalunya lagi-lagi menguap, menguasai atmosfer.


“Bagaimanapun cara kita berpisah, ikatan itu masih tetap ada karena benang merah takkan selamanya bisa putus dengan mudah,” ucapnya. “Kita pasti akan dipertemukan kembali dalam sebuah momen yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ayah benar, sebaik-baiknya kami berpisah, belum tentu kami dipertemukan dalam keadaan baik-baik saja. Ayah benar soal alur Semesta yang tidak bisa kuubah, bahkan hanya dengan doa dan harapanku selama ini.”


Jason tersentak. “Adara.”


Gadis itu sedikit tertawa di sela getir yang dirasakannya. “Apa Kapten tidak tahu siapa yang berhadapan dengan Kapten sejak tadi?” tanyanya. “Dia adalah orang yang selama ini kucari-cari.”


“Adara.” Jason mencoba mengendalikan diri. Bagaimana pun, dia tidak percaya dengan kalimat gadis itu barusan.


“Dia adalah Adnan Harris,” imbuh Adara.


Kedua tangan gadis itu mengepal erat di atas tuas kendali. Dia memejamkan mata, meremas semua hal yang


membuat emosinya membuncah. Entanglement itu bekerja dengan cepat seolah menyatukan energi yang sama secara bersamaan. Begitulah kenapa dirinya tahu siapa sosok di balik Clibanarii merah itu.


“Adnan,” lirihnya. “Ini aku … Adara.”


***


Sementara itu, di dalam kartu As aliansi barat yang kini berdiri melayang tidak jauh dari Clibanarii yang baru saja datang dan membuatnya mundur itu, seorang pemuda terdiam dengan wajahnya yang sudah basah dengan keringat. Mata birunya menatap ke depan. Kosong, yang kemudian kembali normal seolah jiwanya kembali. Bibirnya gemetaran. Tangan kanannya yang sudah dijerat hingga berlumuran cairan merah oleh gelang hitam itu terulur menuju ke salah satu layar kosong di depannya.


Tidak.


Sebenarnya, layar itu tidak kosong bagi pengontrolnya. Layar selebar 21 inci itu memperlihatkan sosok yang menjadi lawannya kini. Hanya Adnan dan Adara yang bisa melihatnya dan siapa pun di luar sana tidak akan bisa meretasnya. Sebuah alasan kenapa Sarkan dan Paladin dianggap berbeda sejak kali pertama diciptakan.


Kedua Clibanarii tersebut memang sengaja dibuat seolah memiliki hubungan jiwa yang kuat satu sama lain.


Liur Adnan terteguk sempurna. Napasnya bahkan tercekat seolah menggambarkan bagaimana perasaannya kini.


Tangannya menyentuh layar yang memperlihatkan wajah gadis yang dicarinya sejak lama. Gadis itu masih hidup … dan kini berhadapan dengannya.


“Adara,” lirih pemuda tersebut. Mata birunya terlihat memerah. “Aku minta maaf.”


***