
Adnan terdiam. Jauh di depan sana, adalah lokasi di mana markas aliansi timur berada. Dia menghela napas, masih tidak percaya dengan yang dilakukannya sekarang. Menaiki Clibanarii yang menjadi asal muasal konflik antara dirinya dengan Erick saat itu. Clibanarii yang membuat Erick menjadi berbeda.
Pemuda bermata biru itu menghela napas. Rambut hitamnya sudah sedikit dipotong dan dirapikan. Seragam yang dikenakannya adalah lain dari miliknya yang lalu. Dia belum kembali ke pangkalan aliansi barat di Bumi sejak kepindahannya ke Cosmo sebulan yang lalu. Namun, dua hari sebelum dirinya dikirim kembali ke Bumi, tiba-tiba saja seseorang menghubunginya. Adnan masih ingat perbincangan kala itu.
***
“Kau … baik-baik saja?” tanya pemuda yang menjadi lawan bicara Adnan.
Adnan menghela napas dan mengangguk seraya berdeham lirih. Dia baru saja menyelesaikan sebuah proyek
yang diminta Oscar beberapa waktu lalu sebelum pemuda berambut cokelat itu menghubunginya untuk kali pertama.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya pemuda itu lagi. “Apa kau ….”
“Aku baik-baik saja, Erick,” jawab Adnan sambil memutar kursinya, membuatnya menghadap ranjang di dekat meja
yang berhadapan langsung dengan ruang angkasa di luar sana. “Bagaimana denganmu?”
Erick terdiam selama beberapa detik. “Aku baik juga,” jawabnya. “Aku minta maaf karena baru bisa menghubungimu. Sulit sekali karena Ayah tak mengijinkanku menggunakan saluran komunikasi ke sana.”
“Aku tahu,” ucap Adnan. “Apa kau sudah mewujudkan keinginan ayahmu?”
Pemuda berambut cokelat itu kembali terdiam. Kali ini sangat lama.
“Erick?”
“Ah, maaf.” Erick kembali membisu, lalu terdengar menghela napas. “Aku pikir, aku tidak akan pernah bisa sepertimu, Ad,” ucapnya kemudian.
“Apa maksudmu?” tanya pemuda berambut hitam itu. Satu tangannya menyisir helaian rambutnya yang sudah
dipotong. “Memangnya, apa yang membuatmu ingin menjadi sepertiku?”
Erick menghela napas. “Aku sadar akan sesuatu, tapi ….”
“Tapi?” Mata biru Adnan beralih memandang ruang angkasa. Batu-batuan melayang menarik atensinya. “Tapi apa?”
Erick lagi-lagi mendengkus. “Kau berusaha membuatku jujur, ya?!” gertaknya dan membuat lawan bicaranya
tergelak. Dia berdecih. “Begini, Ad. Aku minta maaf sebelumnya karena tidak memberitahumu. Ini soal … Adara.”
Kali ini, kening Adnan mengerut. “Dia?” Dia menegapkan tubuh yang sudah memutar kursi kembali menghadap meja kerja. “Kau menemukannya?”
Erick berdeham. “Tapi …. Aku minta maaf, Ad, aku benar-benar minta maaf.”
Adnan makin mengernyit. “Kau menembaknya?”
Pemuda seusia Adnan itu tersentak. Tebakan temannya itu selalu benar. Sial. Dia kembali fokus pada panggilan. “Er, iya, tapi aku tidak mengenainya. Jadi kau tenang saja,” ucapnya. “Tapi, Ad, aku ….”
“Kenapa lagi?”
Erick meneguk liur. “Jika kau berkesempatan mengontrol Sarkan, bisakah … bisakah kau …. Bisakah kau ….”
“Iya, Erick,” timpal Adnan, sedikit memutus keraguan temannya tersebut. “Buatlah dirimua senyaman mungkin dengan Analemma,” imbuhnya.
Pemuda bermarga Frederick itu menghela napas. “Kau … benar-benar akan mengontrol Sarkan? Kau akan membawa Clibanarii itu ke Bumi?” selisiknya.
Adnan terdiam. “Kau tahu soal itu?” balasnya retorik.
Erick berdeham. “Ayahku menyalahkanku kemarin karena aku tidak bisa sepertimu,” ujarnya. “Dan dia keceplosan tentang hal itu.”
Adnan menyandarkan dirinya pada sandaran kursi dan menghela napas. Satu sisi di mana dia juga bisa merasakan iba pada Erick. Temannya itu selama ini hidup hanya menuruti keinginan ayahnya saja, bahkan sejak Adnan mengenalnya untuk pertama kali. Kalau diingat-ingat, Frederick Hubert, seberapa besar ambisinya sampai membuat putranya menjadi boneka?
Adnan bahkan pernah berusaha melupakan hal tersebut, meski pada akhirnya sekarang seolah membuatnya kembali menelan pil pahit. Bertengkar dengan sahabatnya sendiri, lalu … ya, dirinya juga sedang menjadi boneka seseorang selama berada di Cosmo. Dan orang itu adalah sosok yang kini masuk ke kamar dan telah berdiri di belakangnya.
Pria yang memiliki rupa sama persis seperti Adnan itu mengangguk. Sudah sebulan sejak Adnan kemari, disiksa
“Aku ada urusan penting,” ucap Adnan pada Erick. “Nanti kuhubungi lagi.”
Sekian menit setelah panggilan dimatikan, Adnan bangkit dari kursi dan menghampiri pria bernama Oscar Harvey
tersebut. Oscar tersenyum masygul. Dia menepuk mantap pundak pemuda di hadapannya.
“Kau tidak lupa, bukan?” tanyanya.
Adnan mengangguk. “Apa hanya dengan operasi besok aku bisa bertemu dengannya?” balasnya.
Oscar mengangguk sembari berpikir. “Hanya ada dua pilihan terbaik, ‘kan?” katanya. “Kembali ke pangkalan dan dimanfaatkan Hubert, tetapi kau tidak bisa bertemu dengan pacarmu. Atau tetap di sini dan menurut padaku, tetapi kau bisa bertemu dengannya?”
Kedua mata biru itu saling bersitatap. Terbesit sebuah kebencian setipis sutra di lubuk hati masing-masing ketika sebuah ingatan menguar begitu hebatnya. Tentang sosok pria yang menjadi satu-satunya masa lalu mereka berdua. Tentang pria yang menyembunyikan rahasia besar yang baru saja diketahui oleh keduanya setelah bertemu sebulan yang lalu.
Adnan menelan saliva sejenak. Dia mengangguk. “Terima kasih,” ucapnya.
Oscar terkekeh. “Tidak usah formal, Ad,” katanya, lalu mengulurkan telunjuk kepada pemuda 17 tahun itu. “Ucapan itu, seharusnya tidak keluar sangat resmi dari seorang adik sepertimu.”
***
Adnan mendesah lirih. Seharusnya, dia tidak berada di sini sekarang. Seandainya saja, bencana itu tidak terjadi. Mungkin dia dan Adara sudah bertemu tanpa banyak rintangan yang menghalangi. Namun, seperti banyak kisah cinta yang pernah Adnan dengar selama hidupnya.
Tidak ada yang namanya jatuh cinta tanpa pengorbanan. Sekali pun kita terjatuh, jika kita ingin menggapai dia yang kita cintai, maka kita akan bangkit lagi untuk yang ke sekian kalinya. Sampai kita dan dirinya bisa dipertemukan.
“Adara,” gumam Adnan. Mata birunya melihat lurus ke depan, di mana sebuah layar menunjukkan beberapa titik
hitam dan merah berhadapan di luar sana. “Apa kau bagian dari pasukan itu?” sambungnya. “Haruskah kita berakhir seperti ini?”
Tangannya mengepal ketika pemuda itu tertunduk. Dia menghela napas. Getir. Merasakan bagaimana masa lalu
membelenggu mereka dalam ketidakadilan yang terjadi sampai sekarang. Tentang hubungan orangtua mereka dan soal semua hal.
Adnan masih tidak mengerti, untuk apa. Untuk apa ayahnya melakukan ini semua? Dengan alasan apa?
Bahkan jika Sarkan dan Paladin tidak diciptakan, apakah kedamaian masih bisa digapai?
Apakah dia dan Adara masih bisa bermain dan berjalan di jalur yang sama? Seperti dulu?
Bisakah?
Pemuda itu memejamkan mata sejenak, lalu kembali memandangi layar. “Ayah,” gumamnya. “Jika aku gagal, apa
yang harus aku lakukan? Bisakah aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku selama ini?”
Diam.
Hanya diam yang merenggutnya.
Sampai pada detik di mana seorang gadis membuka matanya yang cokelat terang. Memandang getir Clibanarii
raksasa yang berdiri kokoh di depannya. Sebentar lagi, jika saja barisan depan membutuhkan bantuan, maka dia sendirilah yang akan mengontrol Clibanarii buatan ayahnya ini.
Paladin masih terdiam pada atmosfer dingin CB-222. Dia tidak berkutik sama sekali. Namun, satu hal yang mungkin masih diingat oleh Clibanarii yang hanya bisa dikontrol oleh orang-orang terpilih itu.
Peristiwa lima tahun lalu.
Paladin tidak akan melupakan momen itu, bahkan ketika dirinya sudah membekas di hati setiap jiwa nantinya.
Adara menghela napas, menatap Clibanarii tersebut. “Aku tahu, kau masih menyimpan dendam yang sama,” ucapnya. “Tapi, untuk kali ini, aku mohon ….
“Jika aku diijinkan untuk mengontrolmu,” lanjutnya. “Bisakah kau memberiku jawaban atas pertanyaanku kepada Ayah di masa lalu?”
***