AST

AST
PHASE 27 . JARAK TERJAUH



“Brengsek!” Morgan berdecak kesal sekaligus menggeram saat Hubert memutus panggilan secara sepihak. Ia terdiam sembari mengatur ritme napasnya yang tersengal. “Lihat saja! Apa kau pikir bisa menyaingiku dengan bonekamu itu, huh?! Cih!”


Pria itu kembali berdecak sebelum akhirnya keluar ruangan. Sementara itu, seorang pemuda yang baru saja sadar dari pingsannya memandang lurus ke arah perginya pria itu. Mata gelapnya memandang sayu ke arah pintu sebelum akhirnya menyadari jika kini kedua tangannya terikat oleh rantai yang tertanam di dinding belakangnya.


Beruntung sekali pria tadi tidak mengikat tungkainya juga.


Dia bersandar perlahan pada dinding dan mencoba merengkuh keadaan sekitar. Ruangan yang hanya berukuran 2x2 meter itu terlihat sama seperti bilik bui pada umumnya. Barisan besi vertikal menjadi pembatas jeruji sempit itu dengan ruangan utama tempat di mana pria tadi tengah menghubungi seseorang.


Adnan paham benar sosok yang barusan Morgan hubungi. Siapa lagi jika bukan orang yang dengan sengaja membunuhnya melalui tangan putranya sendiri. Frederick Hubert.


Pemuda itu berdecak lirih, setengah terkekeh. Ia sadar betul jika keberadaannya mungkin adalah malapetaka bagi sebagian orang, seperti Hubert atau mungkin Morgan. Namun, dirinya tidak menyadari sesuatu, jika ego dari sosok seperti merekalah yang justru berhasil menuntunnya bertemu dengan seseorang yang kini masuk ke ruangan menggantikan Morgan.


Pria berambut hitam itu menghampiri jeruji Adnan dan berlutut setelah berada di dekatnya. Sorot salah satu mata birunya yang sama persis dengan milik pemuda itu memandang lurus dengan seringaiterukir di sudut bibir.


“Selamat datang kembali ..., Adnan Harris,” ucap pria itu. “Lakukan sesuai yang kami perintahkan, dan kau akan dapatkan kembali semua yang kau inginkan.”


Adnan mengangkat pandangan hingga keduanya bersemuka. Diatidak mengenal pria itu dan belum pernah bertemu sebelumnya. Namun, sorot matanya yang tidak mengenakan eyepatch itu  mengingatkan Adnan pada seseorang yang dicarinya selama ini.


Bukan Adara, melainkan sosok lain yang seharusnya melindunginya sejak kecil.


“A ... yah ...?”


***


“Kau sudah mendengar informasinya?” tanya Kei pada seorang pria yang tengah menyeruput kopinya. “Jason?”


Pria itu menoleh ke arah Kei. Lingkar hitam sedikit terlihat di sekitar kelopak matanya. Jason sepertinya mendadak insomnia karena memikirkan pesan dari pusat aliansi timur semalam.


“Jika memang begitu, seharusnya mereka telah mengirimkan bantuan kepada kita, ‘kan?” tanya Kei lagi.


Jason mengangguk. Matanya kini menatap lurus ke depan di mana dirinya bisa melihat para pengungsi tengah bersiap memasuki APC.


“Apa pusat tidak memberitahu kita tentang Paladin?” gumam sang dokter yang kini turut mengarahkan pandangan yang sama dengan Jason.


Pria yang rupanya sudah berantakan itu malah justru mengacak-acak rambutnya. “Entahlah,” timpalnya. “Biarkan saja dia rusak.”


Kei mengamati tingkah laku Jason yang kini berlalu darinya. Seperti beberapa tahun yang lalu, Jason masih saja tidak bisa bangkit dari keterpurukan. Kehilangan rekan-rekan seperjuangannya bahkan membuat pria itu malah semakin jatuh ke dalam lubang hitam. Meski dirinya tidak menjabat sebagai letnan lagi, jiwa ksatrianya justru masih ada walau terkadang terselimut oleh bayang-bayang masa lalu.


Dokter muda itu menghela napas. Udara di area ini sangatlah kering dengan panas terik menyertainya. Matahari seakan tidak pernah terlelap walau gelap berusaha menyingkirkannya.  Kei hampir saja dehidrasi jika dia tidak menghalau kondisi ekstrem itu dengan skill pekerjaannya sendiri.


Kenapa dunia tidak berakhir saja sih?


Langkah kakinya tercekat kala mendapati sosok gadis menghampirinya. Kei terdiam seraya menatap Adara yang kini memandanginya. “Sudah makan?” tanyanya membuka mulut.


Kening gadis itu mengerut sekejap. “Apa tidak ada pertanyaan lain selain itu, huh?” celetuknya setengah kesal.


Kei terkekeh menanggapi. “Kau harus makan supaya sehat,” timpalnya.


“Kenapa harus aku? Mereka juga butuh makan, ‘kan?” Adara mengarahkan pandangannya pada para pengungsi.


Adara termenung.


“Kenapa?”


Gadis itu sedikit tersentak lalu kembali menatap pria di depannya. “Tidak apa-apa,” katanya.


“Memikirkan sesuatu?” selisik Kei. Adara tidak menimpalinya. “Aku dengar kau sempat mencoba menghubungi temanmu. Apa itu benar?” tanya pria itu lagi.


Embusan napas kasar menerobos keluar dari hidung gadis itu. Ia berdecak seraya bersandar pada body APC di dekatnya. “Mungkin dia sudah mati,” gumamnya kemudian.


“Cih, kau ini ...,” sahut Kei setengah mencubit pelan lengan gadis itu. “Aku melihat keraguan di wajahmu.”


Adara kembali menatap sang dokter dengan senyuman tipisnya. “Aku hanya ... selalu merasa sakit di sini,”—menunjuk ke dadanya—“tapi aku tidak tahu penyebabnya.”


Kei mengerutkan dahi. “Kau tidak punya riwayat asma, ‘kan?”—Gadis itu menggeleng—“Penyakit lain?”


Adara menggeleng lagi. “Aku cukup nutrisi dan olahraga meski tinggal berpisah dengan Ibu,” katanya. “Tapi di sini selalu saja sakit. Lalu, aku selalu berpikir kalau ada yang memanggil namaku terus-menerus, dan itu juga selalu membuat dadaku sakit,” lanjutnya.


Kei mengangkat sebelah alisnya. “Itu hanya derita rindu tiada akhir, Nak,” ucapnya sembari mengayunkan satu telunjuknya ke arah gadis itu.


“Hm?”


Pria itu terkekeh merespons keluguan Adara. “Ya sudahlah, nanti kau juga akan mengerti,” katanya seraya melangkah meninggalkan gadis itu.


“Kau masuklah di APC yang dikontrol Jo!” seru dokter tersebut kala jaraknya sudah beberapa meter dari Adara.


Sementara itu, Jo justru berjalan mendekati gadis itu. Matanya mengarah pada sang dokter yang baru saja menyebut namanya, sebelum akhirnya mengamati Adara. “Ada apa?” tanyanya bingung.


“Apa nama rasa sakit yang menjangkiti area sini?” Adara balik bertanya tanpa basa-basi sambil menunjuk dadanya.


Jo mengernyit. Pikirannya menerka hal yang tidak-tidak pada gadis itu. Namun, ia terdiam sembari berpikir sejenak. “Itu ....” Pemuda itu mengangkat telunjuknya. “Aku pernah merasakannya saat teringat mendiang orangtuaku,” jawabnya. “Mungkin kau sakit karena merindukan pacarmu.”


Jo lantas berlalu meninggalkan Adara yang justru tercenung dengan sejuta tanda tanya di otaknya kini. Ia bergeming memegangi dada. Rasa sakit itu kembali menyerang. Makin lama semakin sesak. Adara menggeleng seolah menyalahkan dirinya karena memang pada kenyataannya, dia merindukan sosok itu.


***


Pangkalan darat aliansi barat masih saja berdiri kokoh saat ini. Embusan angin kering yang membawa serta debu dan pasir berkali-kali menerpa bangunan berdesain futuristik itu. Tanah dan bebatuan di sekitarnya sudah hampir tertutup oleh hasil deburan ombak pasir kering bak neraka itu dan hanya tampak beberapa plot tanaman yang berhasil bertahan di sana.


Erick mengamati keseluruhan pemandangan di luar pangkalan itu sejak beberapa saat yang lalu. Sebuah memo tampak tergenggam di tangannya, sesekali hampir diremas. Pemuda itu masih mengatur ritme napas agar emosinya tetap stabil.


Sudah satu minggu dia tidak mendapatkan kabar dari sahabatnya yang kini berada di Cosmo. Erick bisa menduga jika Adnan—sahabatnya itu—pasti mendapat perlakuan buruk di sana. Semuanya terlihat sejak Hubert mendapat panggilan dari Morgan yang merupakan mantan komandannya saat dirinya dan putra Profesor Harris itu masih berada di Cosmo. Berkali-kali dia sudah mencoba untuk menghubungkan jaringan komunikasi miliknya dengan Cosmo, tapi gagal.


Lamunan Erick terurai tatkala sebuah amplop besar putih tersaji sekejap di hadapannya. Pemuda itu setengah melonjak dan tersadar jika seorang pria yang ia kenal kini telah berada di dekatnya, menyodorkan berkas itu.


“Apa ini?” tanyanya sembari menerima dan membuka amplop itu. “Tugas dari Ayah lagi?”


***