AST

AST
PHASE 32 . OPERASI MILITER



Adara berjalan cepat menuju sebuah ruangan, sementara dering sirine peringatan mengiringi langkahnya sejak


beberapa menit yang lalu. Dia meraih kenop pintu lantas membukanya. Menampakkan dua orang yang tengah terjebak dalam obrolan rumit.


“Adara?” Naomi menoleh.


Gadis yang rupanya kini sudah lebih rapi itu melangkah masuk. “Apa ada penyerangan lagi?” tanyanya tanpa berbasa-basi.


Naomi menoleh pada Jason. Pria itu mengangguk. Kali ini, rambutnya yang semula berantakan tampak rapi dipotong dan disisir. Dia juga telah mengenakan seragam militer, padalah tadinya pria itu menolak karena bukan ranahnya lagi untuk mengambil alih bagian di sana. Namun, karena Naomi memaksa, akhirnya dia menurut.


“Apa aku boleh ikut?” tanya Adara.


Jason menyalang. “Naik Clibanarii?” balasnya retorik.


Adara mengangguk. Sudah satu bulan dia tinggal di sini sejak terakhir kali mereka sampai di pusat aliansi timur tersebut. Gadis itu belajar banyak hal, mulai dari mengontrol Clibanarii, pesawat, bahkan bertarung dengan musuh hologram di ruangan khusus yang memang diperuntukkan untuk latihan. Dengan seragam sekolah yang berganti dengan seragam militer itu sepertinya menunjukkan bahwa dirinya telah siap terjun ke lapangan.


“Er … Ibu rasa kau—”


“Aku sudah siap kok!” sela Adara cepat. “Ibu tidak perlu khawatir.”


Naomi hanya bisa meneguk saliva. Sementara itu, pria di depannya yang tercenung sejak sekian menit yang lalu kini mengarahkan telunjuknya pada gadis 17 tahun tersebut.


“Kau … sebaiknya naik punya ayahmu saja,” katanya, merangsek ketakutan Naomi seketika. Wanita itu menarik balik tangannya dan memberinya isyarat. Jason yang sudah cukup yakin dengan kondisi Adara sekarang hanya mengendik menimpali. “Tidak usah berlama-lama, Naomi,” ucapnya. “Musuh tak akan menunggu di depan sana sampai nanti.”


“Jason, aku tahu, tapi ….” Naomi menatap putri semata wayangnya. Dia berjalan ke arah Adara dan menangkupkan kedua tangan di wajah gadis itu. “Kau baik-baik saja?”


Adara menggoreskan senyum dan mengangguk. “Aku sudah menyadari sejak awal, kalau cepat atau lambat aku pasti akan menjadi seperti Ayah,” ujarnya. “Aku sudah membulatkan tekadku untuk mewujudkan mimpi Ayah yang tertunda.”


Hati ibu mana yang tidak teriris ketika melihat anak tunggalnya pergi ke medan perang. Mereka baru bertemu,


bahkan Naomi merasa jika Adara masihlah anak perempuannya yang berusia 5 tahun. Rasa-rasanya, dia tidak ingin membiarkan Adara dengan segera pergi darinya.


Tiba-tiba, sirine lain berbunyi. Tanda bahaya.


Naomi beralih memandang layar besar yang berada di belakang meja kerjanya. Jason dan Adara juga melihat ke


arah yang sama. Layar yang menjadi pembawa informasi dari bagian luar markas itu menampakkan banyak sekali titik merah. Ada banyak titik biru yang merupakan penanda milik aliansi barat berjalan mendekati markas.


Jason berdecih. “Mereka mengincar markas kita,” desisnya.


“Apa itu dari pasukan pusat?” tanya Adara.


Naomi mengangguk. “Untuk sementara, kami menerjunkan pasukan yang sudah disiapkan sejak lama,” jawabnya.


“Tapi ….”


Tiga pasang mata itu membola menatap layar. Titik-titik warna biru makin banyak memenuhi layar.


“Apa-apaan ini?!” bentak Jason. “Naomi, ijinkan aku untuk turun.”


Naomi tersentak. “Jason!”


Pria itu menoleh dengan titik-titik merah yang mulai menghilang satu per satu. “Jika aku tidak ke sana, akan ada banyak pasukan kita yang terluka,” ucapnya. “Aku akan menuju barisan depan untuk mengurangi penggunaan pasukan. Jika tidak, mereka akan berhasil menerobos distrik Melva dan menuju markas.”


Distrik Melva adalah satu-satunya distrik terluas yang dimiliki pusat aliansi timur untuk melindungi markas dengan system tembok mengelilingi distrik utama. Wilayahnya dilindungi beberapa distrik kecil yang merupakan tempat di mana barisan depan berada. Bukan berarti dengan perlindungan sebesar itu, aliansi timur tidak kewalahan


menerima serangan dari aliansi barat. Musuh mereka yang satu itu memiliki teknologi yang jauh lebih paten daripada milik mereka. Satu-satunya penyebab kenapa aliansi barat selalu berambisi menguasai Cosmo dan juga dunia.


Naomi menghela napas. Dia benar-benar tidak percaya Jason begitu ingin kembali ke medan perang. “Kau sudah siap?” tanyanya, kali ini membuat pria itu terdiam sekejap.


Jason mengangguk pelan. Dia melihat tangannya sendiri. “Aku harus memanfaatkan waktu yang Richard berikan


padaku, Naomi,” jawabnya. “Aku tidak ingin menyia-nyiakannya.”


“Aku ikut!” sahut Adara, mengalihkan atensi Jason dan Naomi.


Naomi menyentuh pundak anak gadisnya tersebut. “Pergilah ke ruangan CB-222 dan tunggu perintah dari Ibu,”


pintanya.


meninggalkan ruangan tersebut.


Jason menuju hangar di mana banyak Clibanarii bersiaga di sana. Dia berjalan menghampiri Jo yang tengah


memeriksa sebuah Clibanarii. Pemuda itu menoleh dan menundukkan kepala sejenak.


“Kapten mau ke mana?” tanyanya.


Jason mengedarkan pandangan pada setiap Clibanarii dan berhenti pada sebuah Clibanarii yang tentu saja


miliknya yang waktu itu digunakan untuk mengantarkan koloni aliansi timur dari Spot Ankaa ke markas.


“Apa punyaku sudah siap?” tanyanya.


“Hah?” Jo menoleh ke arah Clibanarii yang ditunjuk Jason. “Kapten mau pakai yang itu?” tanyanya. “Untuk apa?”


Jason mendesah. “Apa kau tidak tahu kalau musuh sudah mau mencaplok kita, huh?” balasnya sedikit menggertak.


“Tidak-tidak, maksudku bukan itu,” ucap Jo. “Apa Kapten mendapat izin dari atas untuk turun? Aku dengan dari


Alan kalau Kapten masih trauma.”


Pria berambut hitam itu menghela napas, berusaha menetralisir emosinya. Memang dasar, Alan paham bagaimana kondisinya. Namun, mau tidak mau, Jason harus turun tangan mengingat hanya dia yang paham akan lokasi di luar distrik Melva. Namun, belum sempat dia berbicara, seseorang menghentikannya.


“Jason Kim!”


Jason menoleh, sedikit membungkukkan badan sejenak. “Komandan,” sapanya.


Pria berambut cokelat dan bermata sipit itu menghela napas. “Kau ingin turun sekarang?” tanyanya. Kedua mata mereka bersirobok cukup lama, sebelum akhirnya pria di hadapannya mengangguk. “Milikmu ada di CB-101,” ucapnya. “Kapten sepertimu tidak berhak menggunakan Clibanarii bekas di ruangan ini, Jason.”


Jason sedikit tersentak. Dalam hati dia berpikir apakah pria yang merupakan atasannya sekarang itu benar-benar


mengijinkan dia untuk ke medan perang kembali? Secepat itukah? Dan juga, menggunakan Clibanarii baru? Itu bahkan di luar pemikiran Jason!


“Tapi, Komandan—”


“Kau diijinkan menggunakan kembali pangkatmu mulai hari ini.”


Ucapan itu membuat seluruh tubuh Jason mendadak gemetar. Bulu romanya sedikit berdiri. Dia tidak percaya dengan perkataan pria bernama lengkap Li Yue tersebut.


***


Sementara itu, di ruangan CB-222, seorang gadis berjalan menghampiri sebuah robot besar yang belum pernah


digunakan semenjak operasi militer lima tahun lalu. Dia mendongak, menatap mata kuning yang tampak berkilat misterius.


Sudah lama, bahkan sejak terakhir kali Adara melihat wujudnya. Paladin tidak berubah sama sekali. Warnanya yang merupakan gabungan dari biru turquoise dan silver, warna favorit sang ayah.


Adara ingat sekali, kedua warna itu melambangkan kebebasan dan ketegasan. Richard pernah mengatakan padanya ketika usianya masih 5 tahun dan dibawa melihat Clibanarii yang berukuran lebih besar dari Clibanarii lain itu. Ayahnya bilang, kalau sewaktu-waktu, dia akan mengajak Adara mengudara bersama, menaiki Paladin. Membelah angkasa dan menikmati langit biru di atas sana.


“Sudah lama, ya?” gumamnya.


Tangannya menyentuh salah satu tungkai Paladin, mengusapnya pelan. Ingatan masa lalunya menguar begitu cepat, tentang bagaimana mimpi-mimpi ayahnya yang belum sepenuhnya terwujud. Tentang bagaimana sebuah perdamaian dapat tercapai hanya dengan menciptakan dua Clibanarii langka dan Cosmo di luar Bumi.


“Doakan aku, Ayah.”


Adara memejamkan mata dan menghela napas. Dia tidak tahu, siapa yang sudah menunggunya di luar sana. Di


belakang para Clibanarii hitam yang berbaris dan menyerang dengan brutal. Sebuah Clibanarii lain dengan mata merahnya telah berdiri dengan gagah, menguasai atmosfer pada wilayah bersalju tersebut. Seorang pemuda bermata biru menatap lurus dengan segala pikirannya yang berkecamuk.


Ya.


Sebentar lagi dua jiwa yang terpisah itu akan bertemu.


***