AST

AST
PHASE 16



Adnan membuka kedua matanya perlahan. Ia menyadari bahwa kini tubuhnya terbaring di sebuah ruangan di sela


penglihatannya yang masih samar. Sesekali dirinya berdecih saat mendengar suara berisik yang berasal dari luar ruangan berukuran 5x5 meter persegi itu. Pemuda itu ingin bangkit, tapi kesakitan yang ia dapatkan beberapa waktu lalu masih mencengkeram erat dirinya. Sampai akhirnya, seorang dokter memasuki ruangan tersebut.


“Alan?” Adnan mengernyit memandang pria yang kini menghampirinya itu.


“Kecil sekali, ya, ruangan ini?” Alan balik bertanya. Ia duduk di samping pemuda yang berusaha bangun itu.


“Sebaiknya jangan bangun dulu,” katanya kemudian, “lukamu belum sembuh benar.”


Adnan masih mengernyit menahan rasa sakitnya. Alan sendiri menghela napas panjang, memandang tegar pemuda di dekatnya itu.


“Apa yang Hubert lakukan padamu sudah di luar batas,” ucapnya, “harusnya ia tak memperlakukanmu seperti seorang budak.”


Pemuda bersurai hitam itu mengernyih sejenak. “Aku memang budak di sini, Alan,” timpalnya.


“Tapi ini benar-benar keterlaluan, Adnan!” sergah Alan, “tak seharusnya seorang pemimpin menindas bawahannya


seperti ini!”


“Tak apa,” lirih Adnan. Ia kembali berbaring setelah beberapa kali gagal mencoba bangun dari posisinya. Embusan


napas panjang menerobos dari lubang pernapasannya sejenak.


“Ini juga untuk mempertanggungjawabkan tindakan ayahku yang lalu,” lanjutnya.


Alan melebarkan bola matanya. Pikirannya bertaut pada sesuatu yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Sepertinya, pemuda di dekatnya itu sudah mulai mengetahui alasan keberadaannya di sini. Selang beberapa detik, Adnan terkekeh seakan menertawakan dirinya sendiri.


“Tapi ... ini lucu, ‘kan?” tanyanya pada dokter tersebut. “Apa menurutmu aku harus mempertanggungjawabkan


kesalahan ayahku di masa lalu, huh? Aku bahkan tak tahu apa yang dia perbuat saat itu.”


Dokter itu bergeming. Ia bingung harus melakukan apa di saat seperti ini. Ia hanya tidak ingin terlalu banyak bicara. Karena jika begitu, tentu Adnan akan banyak bertanya padanya soal rahasia yang ia pendam.


“Ngomong-ngomong ....” Adnan mendongak, mengalihkan pandangannya ke arah pintu, “di luar ada apa? Berisik


sekali!”


Alan mengerutkan kening seraya mengalihkan perhatiannya ke arah yang sama dengan Adnan. “Hubert melancarkan serangan setelah ia hampir membunuhmu,” katanya, “kupikir, ini akan jadi cerita yang amat panjang mengingat Hubert begitu egois dan ingin semua impiannya tercapai.”


Liur Adnan tertelan sempurna. Bola matanya sedikit melebar. “Serangan?” selisiknya.


Dokter itu mengangguk dan kembali menatapnya. “Serangan ke aliansi timur,” timpalnya.


Adnan terkesiap. Netranya kembali menyalang seketika. Dalam keadaan seperti ini, tentu ia tidak bisa melakukan


apa pun. Sudah tentu—menurutnya—yang memimpin pasukan penyerangan itu adalah rekannya sendiri. Frederick Add.


“Aku sudah menduganya,” ucap Alan, “Erick memang diterjunkan untuk memimpin serangan ini.”


***


Misil terus diluncurkan sejak beberapa waktu lalu ke sebuah spot besar. Tarnnet yang melindungi spot hampir musnah saat beberapa pesawat berhasil menemukan titik pemancarnya. Sedangkan Clibanarii yang berjaga di sana, kini memilih untuk melindungi APC yang membawa para pengungsi. Sebagian Clibanarii menembak balas para burung besi yang menyerang mereka sejak tadi.


“Mereka ngotot sekali, sih!” sungut seorang pemuda yang tengah mengontrol salah satu pesawat. “Sial!!!”


“Kapten!” seru salah seorang rekannya dari pesawat yang lain.


Clibanarii itu seharusnya bisa dihancurkan dengan peluru biasa, ‘kan?


“Kapten Add!” seru rekannya lagi.


Frederick Add—pemuda itu—tersentak. Ia mengembuskan napas sejenak sebelum akhirnya merespons rekannya yang berada di pesawat lain.


“Ada apa?” tanyanya.


“Tidakkah kita harus berpindah haluan?” Rekannya balik bertanya. “Jika kita tak merubah formasi, mereka bisa saja membaca taktik dan melemahkan kita.”


Erick bergeming. Pikirannya masih bertaut pada hal lain, bukan pada penyerangan ini. Tentu saja, ia menginginkan


jabatan yang sengaja ayahnya berikan itu. Sebagai seorang kapten yang memimpin sebuah misi, Erick tentu tidak akan menolaknya. Namun, sisi pikirannya yang lain memikirkan nasib rekannya yang kini terlunta di pangkalan dan menunggu keputusan akhir ayahnya. Pemuda itu tidak mungkin begitu saja melepaskan Adnan untuk dikembalikan ke Cosmo.


Otaknya masih mengingat pertemuan ia dengan ayahnya beberapa waktu lalu setelah dirinya mengantarkan Adnan ke medis untuk mendapat perawatan.


“Ke Cosmo, dan Ayah langsung menyetujuinya begitu saja?!” ucap Erick setengah membentak ayahnya.


Hubert yang menyandarkan bokongnya pada meja kerja itu menghela napas sejenak.


“Ini lebih baik daripada ia terus menganggu pemandangan di sini,” katanya kemudian.


“Ayah!” hardik Erick. “Sarkan berada di sana! Sadarlah!”


Pria bersurai cokelat itu menoleh kepada putranya yang berdiri tidak jauh darinya. “Aku jauh menyadarinya lebih awal dari dirimu,” timpalnya, “Adnan takkan mengetahuinya kalau orang-orang Cosmo bisa mengunci mulut mereka.”


“Kalau mereka tak bisa melakukannya, maka Ayah akan membuat bocah itu juga tak bisa melakukannya,” jawab Hubert. “Dengan fisik selemah itu, apa kau pikir ia bisa mengontrol Sarkan jika keduanya berhasil bertemu, hm?”


“Ayah tak bisa memastikannya, ‘kan? Jadi untuk apa Ayah melakukannya?” selisik pemuda berambut cokelat itu.


Hubert bergeming, tidak menimpali pertanyaan putranya.


“Ayah,” panggil Erick. “Adnan adalah rekanku, bahkan sampai sekarang. Jika Ayah melakukan apa pun yang


membuatnya harus meregang nyawa seperti kejadian tadi, maka aku takkan segan-segan memberi peringatan pada Ayah.”


Erick menatap tajam ayahnya sendiri. Sementara, Hubert mengernyih dan terkekeh sejenak.


“Kau harus tahu diri, Erick,” ucap Hubert memalingkan tubuhnya hingga berhadapan dengan pemuda tersebut. “Tanpaku, kau takkan mencicipi jabatanmu itu, Nak—”


“Dan tanpa Profesor Harris, Ayah juga tak bisa menjadi komandan seperti sekarang,” potong Erick dengan tangkasnya. Ia masih memandang lurus ke arah Hubert, hingga membuat mereka tidak tampak seperti ayah dan anak yang saling bercakap.


Hubert melebarkan bola matanya sejenak. Kata-kata Erick barusan mampu mencekat ruang bicaranya. Pria itu seperti sebuah paku yang kokoh berdiri di titiknya berada kini.


Beberapa detik keduanya bergeming, hening, dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hubert mulai melangkahkan, berjalan menuju putranya. Sampai saat dirinya berada di samping Erick, langkahnya berhenti. Tangannya menepuk pundak pemuda itu sejenak.


“Misi,” katanya, “jika kau berhasil menyelesaikan misi ini, maka aku takkan menyiksa putra Harris selama dirinya berada di Cosmo.”


Erick masih membungkam, bahkan tidak menatap sang ayah yang berada tepat di sampingnya.


“Hancurkan Spot Ankaa,” ucap Hubert lagi. “Dia adalah spot terbesar milik aliansi timur yang masih tersisa saat ini.”


Erick berteriak, berkali-kali, menggertak dirinya sendiri. Ruang kokpit yang hanya muat untuk satu orang itu pun terasa seperti ruang hampa baginya. Tidak ada yang bisa mendengar geramannya, kecuali rekan-rekannya yang berada di pesawat lain yang bisa mendengarnya melalui earphone. Mereka saling membisu dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang tahu permasalahan seperti apa yang tengah melanda otak sang kapten baru sampai ia bisa berteriak begitu kencangnya, padahal penghubung komunikasi masih aktif bekerja.


“Kapten,” panggil salah seorang pilot pesawat.


Erick bisa mendengarnya. Suara seorang wanita yang mungkin saja lebih tua darinya. Ia berdeham, dan kembali


menegapkan tubuhnya.


“Fokuslah pada misimu,” ucap wanita itu. “Kami akan membantumu.”


Pemuda bersurai cokelat itu kembali terdiam. Matanya memandang lurus ke arah kaca depan kokpit. Embusan napas panjang menerobos sempurna dari lubang hidungnya sejenak.


“Hancurkan spotnya,” lirihnya menitahkan.


Wanita tadi meneguk liurnya sejenak. “Kau tak ingin menghancurkan tikus-tikus itu juga?” tanyanya ragu.


“Tidak,” jawab Erick tegas. “Misi kita hanya menghancurkan spotnya, bukan mereka.”


Wanita itu mendecih. Kesal karena keinginannya yang terdalam harus urung dilakukan hanya karena titah dari pemuda yang lebih tua darinya itu.


“Baiklah,” timpalnya sembari membenahi alat komunikasi yang tertaut di telinga. “Hancurkan spotnya!!!”


“Dimengerti!!!” sahut rekan-rekannya yang berada di pesawat lain.


Jason masih berusaha melindungi APC saat para burung besi itu menembak ke arah mereka. Namun, suatu keanehan terjadi. Pesawat-pesawat itu bermanuver mendekati spot dan langsung meluncurkan peluru kendali ke wilayah yang menjadi pelindung mereka tersebut.


Netranya menyalang seketika. Jason hanya mampu menelan saliva dan merelakan spot itu hancur lebur. Gumulan asap tebal terbentuk sesaat setelah dentuman besar terjadi. Beruntung, ia dan rombongannya telah berada cukup jauh dari jangkauan ledakan itu.


“Letnan!” seru seseorang yang menampakan setengah tubuhnya keluar dari APC yang ia naiki sejak tadi. Jalur


komunikasinya terhubung dengan earphone milik Jason.


Jason beralih memandang gadis itu. Adara seperti tidak gentar menghadapi kenyataan ini. Entah karena ia sudah


terbiasa, atau karena sesuatu yang bahkan tidak bisa ia jelaskan sekarang.


Adara membenahi earphone-nya agar sambungan komunikasi tetap berjalan. “Kau bisa mendengarku?” tanyanya pada pria yang masih mengontrol Clibanarii di dekat APC itu.


Jason berdeham sejenak. “Ada apa?” tanyanya.


“Lindungi kami selama di perjalanan,” titah gadis itu. “Kita akan menuju ke arah selatan di mana pangkalan


cabang berada di sana.”


Pria bersurai acak-acakan itu bergeming. Ia bisa memandang wajah gadis itu dari layar kokpit dengan jelas. Jason mulai membayangkan bagaimana jika suatu saat nanti Adara menggantikan posisi mendiang ayahnya. Menurutnya, gadis itu telah cocok mengontrol Paladin sekarang. Namun, ia sendiri tidak berharap jika perang benar-benar terjadi. Ketakutannya akan perang yang telah lalu mungkin saja harus ia pertanggungjawabkan saat ini.


“Kapten, kau bisa mendengarku, ‘kan?” tanya Adara, memastikan jika sinyal tidak terputus begitu saja.


Jason berdeham mengiyakan. Ia tersenyum tipis, masih memandangi wajah gadis tersebut.


“Kau mirip seperti Richard,” gumamnya, “tidak mudah ditebak.”


***