AST

AST
PHASE 24 . MISI GELAP



Pagi-pagi sekali Alan menuju kamar seseorang, masih di pangkalan aliansi barat di Bumi. Langkahnya dipercepat. Beberapa penghuni pangkalan yang melihatnya saling berbisik tentang sesuatu yang terjadi. Seperti dugaan dokter tersebut, mereka sudah mengetahui jika satu orang penghuni pangkalan akan dikembalikan ke Cosmo hari ini.


“Oh, kau sudah siap?” tanyanya usai mendadak menghentikan langkah.


Pemuda yang baru saja menutup pintu kamar itu lantas menoleh ke arah sang dokter dan mengangguk. “Kau sepertinya senang sekali?” sindirnya seraya melangkah menyusuri koridor.


Alan hanya meringis getir menanggapi sembari berjalan mengiringi pemuda tersebut. “Aku hanya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat wajahmu,” timpalnya, lalu menghela napas panjang.


Netra pemuda itu lantas menyebarkan pandangan usai mereka sampai di hanggar utama. Alan turut melakukan hal yang sama sepertinya.


“Siapa yang kau cari?” tanya Alan kebingungan. “Hm?”


Adnan—pemuda itu—menggeleng. “Tidak ada,” jawabnya.


Pandangannya masih menyapu keseluruhan sisi hanggar. Para prajurit dan teknisi yang bertugas di sana hampir saja tertangkap mata berusaha curi-curi pandang terhadap dirinya. Sesuatu tampak mereka sembunyikan dan Adnan sudah bisa menebak hal itu dari ekspresi aneh penghuni pangkalan. Sampai sekian menitkemudian, seorang gadis menghampiri. Adnan tahu benar siapa gadis itu.


“Pagi ..., Kapten,” sapa gadis itu tampak ragu.


“Aku bukan kapten lagi sekarang,” sahutAdnan.


Mata Alan berbinar menatap gadis itu. Dia melambaikan tangan tepat di belakang Adnan agar pemuda berambut hitam itu tidak melihat tingkah lakunya. Megan—gadis itu—tersenyum tipis merespons.


“Um, Kapten. Pesawat Anda sudah disiapkan di S-20,” ucap Megan. “Mari kuantar.”


“Sudah waktunya, ya?” gumam Adnan. Pandangannya sejenak tertunduk, lalu kembali menyebar ke seluruh sudut hanggar utama.


Sementara itu, Megan dan Alan saling bertatap muka. Mereka tahu benar perasaan Adnan kini. Sudah pasti pemuda itu tidak mungkin rela meninggalkan pangkalan tersebut. Pergi, berarti melepas tanggung jawabnya juga.


Alan menepuk pundak pemuda itu amat mantap, lalu merangkulnya. “Ayo, kuantar kau ke shed pesawatmu,” katanya.


Namun, langkah Adnan mendadak terhenti. Dia memalingkan pandangan ke pintu hanggar dari arah koridor di mana mereka masuk ke gudang pesawat itu tadi. Selama beberapa detik dirinya menatap ke arah tersebut, berharap sosok yang dinantinya berdiri melepas kepergiannya. Salivanya tertelan sempurna. Tidak ada sosok itu di pintu sekarang. Adnan menghela napas sejenak, lalu pergi menuruti langkah Alan yang menuntunnya.


Sementara itu, dari balik dinding di dekat pintu masuk, seorang pemuda berambut cokelat tampak berdiri mematung. Kepalanya tertunduk. Berkali-kali dia menelan liur, mencoba membasahi kerongkongannya, sedangkan kedua tangannya yang terkepal meninju tembok di dekatnya pelan. Erick tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Jika bukan karena keinginannya juga keegoisan sang ayah, dia tidak mungkin melakukan semuanya.


Pemuda itu masih belum beranjak dari posisinya saat Adnan telah menghilang dari hanggar utama bersama Alan dan Megan. Beberapa detik kemudian, ekor matanya menangkap sepasang sepatu yang baru saja menghampirinya. Erick tahu benar pemilik sepatu itu. Siapa lagi kalau bukan Frederick Hubert, ayahnya sendiri.


“Sudah melepasnya?” tanya pria itu dengan pandangan memicing ke arah putranya sendiri.


Erick tidak menanggapi.


“Sesuai perjanjian, Ayah takkan menjadikannya budak di Cosmo.”


Pemuda itu lantas mengangkat pandangan langsung ke arah Hubert.


“Itu, ‘kan, keinginanmu?” Hubert memandang lurus ke arah Erick hingga mereka bersemuka.


“Apa Ayah sudah memberitahukan pihak Cosmo tentang kembalinya Adnan ke sana?” tanya Erick memecah keheningan.


“Ayah!” gertak pemuda tersebut. “Aku perlu tahu soal itu!”


Hubert lantas terkekeh merespons Erick yang memberinya tatapan gusar. Seperti biasa, mereka bahkan tidak terlihat seperti ayah dan anak yang saling mencintai. “Pertanyaanmu akan kujawab nanti,” timpalnya kemudian. “Setelah kau menyelesaikan misimu kali ini.”


Erick hampir saja berdecak kasar. Dia menatap tajam Hubert dengan tangannya masih terkepal kuat.


“Cek dashboard Analemma,” titah Hubert. “Gunakan pesawat itu untuk menjalankan misinya.”


Hubert memungkasi ucapannya sebelum berlalu dari hadapan Erick. Sementara, pemuda itu masih bergeming. Kedua tangannya pun terkepal semakin erat usai dirinya beranjak dari titik tersebut menuju shed di mana Analemma—pesawat milik Adnan—terparkir manis di sana.


***


Erick masih menyebarkan pandangan ke sekitar sembari melacak situasi berdasarkan layar monitor mungil di meja kokpit Analemma. Jemarinya berkali-kali mengetuk dashboard, sambil berharap dia tidak menemukan apa pun di wilayah kering nan tandus itu kini. Sementara itu, otaknya masih merumit, memikirkan memo yang Hubert letakkan di pesawat itu.


Tidak ada sebuah tulisan lain selain ayahnya itu meminta dirinya untuk meluncurkan misil ke arah pesawat hitam yang mengudara hari ini.


Pesawat hitam?


Bibirnya sesekali mengerucut karena otaknya penuh tanda tanya sekarang. Erick pun tidak mengerti kenapa sang ayah memintanya untuk menggunakan Analemma. Pesawat yang pernah dia gunakan sekali saat saling kejar dengan Adnan waktu itu bahkan sepertinya tidak tahu-menahu soal urusan mereka sekarang.


Sesekali Erick meneguk liur, sambil berusaha menimbang-nimbang misinya kali ini. Tentu saja ia hanya ingin tahu seperti apa jawaban Hubert soal pertanyaannya tadi. Lagi-lagi, jika bukan karena keinginannya, Erick tidak mungkin melakukan hal sekonyol ini.


“Aku hanya harus fokus pada pesawat hitam, ‘kan?” gumamnya seorang diri. “Baiklah. Hitam ... hitam ... hitam ....”


Bola matanya melebar seketika saat sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah pesawat yang barusan meluncur dari arah yang tentu dirinya pahami tampak dengan jelas oleh matanya. Erick mulai menggerakkan tuas pengontrol Analemma agar bermanuver menuju pesawat berwarna hitam tersebut.


“Memang itu pesawat siapa?” gumamnya lagi. “Bukannya itu dari pangkalan?”


Pesawat hitam bermoncong tajam itu memelesat ke langit, dan semakin meninggi. Erick lantas mempercepat Analemma menyusul burung besi tersebut. Cukup tinggi, dan yang dirinya tahu, pesawat bermesin biasa tidak akan bisa terbang sampai setinggi ini.


Analemma memang didesain khusus dan hanya beberapa orang yang diijinkan untuk mengontrolnya. Adnan berkesempatan membawanya usai jabatan kapten disematkan. Dan Erick, tentu ia bisa duduk di kursi manis burung besi itu dengan ijin ayahnya yang seorang komandan. Pemuda itu bahkan tidak peduli jika dirinya kini menjadi kapten, menggantikan posisi putra Tuan Harris.


Netra Erick menyipit, mengumpulkan fokus pada pesawat hitam yang sekarang terbang di dekatnya. Burung besi hitam itu dilengkapi dengan jendela mungil yang berwarna senada. Siapa yang menyangka jika pemuda sepertinya tidak pernah melihat pesawat seaneh itu sebelumnya.


Erick mengalihkan jalur terbang Analemma, menjauh sejenak dari pesawat hitam tersebut. Dia tidak menyadari jika ada seseorang yang melihat keberadaan dirinya dari dalam burung besi itu.


Seorang pemuda berambut hitam meletakkan kedua telapak tangannya di kaca jendela pesawat yang kini ia


tumpangi. Pandangannya melebar usai melihat burung besi yang dikenalnya mendekat, lalu menjauhi pesawatnya. Ia juga tahu persis pilot pesawat tempur tersebut.


“Apa yang Erick lakukan?” gumamnya.


***