AST

AST
PHASE 36 . EKSPETASI



Clibanarii merah itu memelesat ke satu arah, mendekati sebuah pesawat yang dicengkeram paruhnya oleh Clibanarii berukuran ramping. Dia menghunuskan pedang, lantas mengarahkan langsung ke lengan Clibanarii berwarna oranye itu hingga terputus sepenuhnya. Burung besi di genggamannya itu pun jatuh dan bisa kembali mengangkasa.


Sebuah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Jason sebelumnya. Rasa kejut itu bertandang dalam dirinya, merangsek semua kenyataan pada ekspetasinya yang terlalu berlebihan selama ini. Dia tahu tentang fakta Clibanarii yang dikontrolnya sekarang. Namun, entah kenapa ambisi dan rasa takut itu tidak mau pergi begitu saja dari dirinya.


Sosok Clibanarii bermata merah itu tampak menatap tajam ke arahnya. Pedangnya yang super besar terayun dengan cekatan, memotong jarak di antara mereka berdua. Dan merengkuh semua ketakutan tak bersyarat.


Jason geram. Tangan kanan Clibanarii-nya telah putus. Si Brengsek berbadan merah itu tau letak kelemahan dari semua Clibanarii yang pernah ada. Robot itu tidak pernah dilengkap dengan pelindung keras di bagian engselnya.


Pria bermarga Kim itu melompat menjauh, menghindar dari serangan Clibanarii milik aliansi barat yang kini menyerangnya dengan brutal. Dia sampai penasaran, siapa sosok di balik robot itu?


Jason berdecih. “Kenapa aku bisa berhadapan denganmu lagi, Brengsek?” gertaknya seorang diri.


Tangan kanan Jason mulai memerah ketika gelang yang melingkarinya menjerat begitu dalam, bahkan terlihat berulir di sana. Pria itu tidak peduli. Dia hanya kesal dan baru menyadari kalau dirinya harus berhadapan langsung dengan Sarkan. Clibanarii itu membuat masa lalunya kembali menguap dengan cepat.


“Argh!!! Brengsek!!!” gertak Jason, lalu mencoba berkonsentrasi pada misinya kali ini.


Pria itu menggerakkan laju Clibanarii miliknya, menghindari serangan yang dilayangkan Sarkan. Ketika jarak dirasa


cukup, dia menembakkan beberapa misil sekaligus. Meski menurutnya sudah tepat sasaran, tetap saja gerakan Sarkan yang tampak manipulative membuat Jason kewalahan.


Dia hanya berpikir, sebisa mungkin kartu As milik aliansi timur tidak dikeluarkan sekarang.


***


Adara sontak membuka mata ketika seseorang masuk ke CB-222. Dia berbalik dan mendapati Naomi sudah berlari menghampirinya. Wanita itu lantas menggenggam pundaknya.


“Ibu?” Adara setengah melongo. “Kenapa kemari?”


Naomi menghela napas. “Ibu pikir kamu benar-benar ke medan perang,” katanya.


“A-aku masih di sini … sejak tadi,” timpal Adara kebingungan. “Ada apa?”


Wanita itu menatap lurus ke arahnya. “Jason dikirim ke barisan depan dan dia tengah bertempur dengan Sarkan


sekarang.”


Netra gadis berambut hitam itu membola sekejap. Dia tahu bagaimana sosok Sarkan yang menghantui hidupnya sejak kematian sang ayah. Kartu As milik aliansi barat itulah yang melenyapkan Richard. Clibanarii itulah yang membuat hidup Adara berada dalam ambang kehancuran.


“S-sekarang?” Gadis itu memandang getir ke arah sang ibu. Dilihatnya Naomi mengangguk.


“Ibu mohon, sebisa mungkin jangan ke sana,” ucap Naomi, lalu memeluk anak gadisnya tersebut.


Meski tadi Naomi sempat mengijinkan Adara untuk ikut dalam operasi militer itu, bukan berarti dia benar-benar menginginkan anak tunggalnya menghadapi langsung peperangan di luar sana. Sisi lainnya masih menolak keinginan Adara itu. Selain karena mereka baru bertemu setelah sekian lama, Naomi juga tidak ingin kehilangan orang tercintanya lagi.


Cukup Richard saja.


Adara menghela napas pelan. Dia melepas pelukan sang ibu dan menatap jauh ke dalam bola mata perempuan


tersebut. “Apa Ibu sudah melihat siapa yang mengontrolnya?” tanyanya.


Naomi meneguk saliva. Dia menggeleng. “Komandan Li juga belum mendapatkan laporan lanjutan terkait keberadaan Sarkan sampai sekarang,” jawabnya. “Tapi …, Ibu hanya takut kalau ….”


Tidak.


Naomi menggeleng cepat. Dia tidak ingin ekspetasinya menjadi kenyataan.


“Apa? Takut kenapa?” Adara menyelisik.


Wanita itu tidak menjawab dan semakin membuat Adara penasaran setengah mati. Dia yang memang tengah


Adara kembali menatap Naomi dengan kepercayaan dirinya yang hampir hilang. “Ibu,” panggilnya. “Apa menurut Ibu … yang mengontrol Sarkan sekarang adalah ….”


Naomi membalas tatapan Adara dengan penuh kemisteriusan. Dia menggeleng, mencoba tidak memercayai


ekspetasinya sendiri. Tidak sekali pun, bahkan jika putrinya turun ke medan perang saat ini, dia benar-benar belum berkeinginan mempertemukan mereka berdua dalam keadaan segenting kini.


Sibuk beradu dalam pikiran masing-masing, sirine bahaya berbunyi dengan keras. Adara tersentak seraya menoleh ke arah pintu ruangan.


“Ada apa?” tanyanya.


“Ikut Ibu ke ruang kontrol sekarang!”


Naomi menarik lengan putrinya dan langsung mengajak Adara meninggalkan CB-222. Meninggalkan sejuta pengharapan bagi sebuah Clibanarii biru yang tengah membisu dalam dinginnya ruangan. Mata kuningnya bersinar, berkilat misterius, seolah merespons sesuatu yang menarik energi di dalam dirinya.


***


Seorang pria bermata sipit tengah melihat ke arah layar. Salivanya terteguk ketika mendapati satu per satu titik merah milik aliansi timur mulai berkurang. Namun, perhatiannya teralihkan ketika dua orang perempuan masuk ke ruangan kontrol. Dia menoleh, sedikit mengguratkan senyum.


“Profesor Yusagi,” panggilnya.


Naomi dan Adara serentak menundukkan sejenak kepala mereka. Pandangan keduanya kemudian beralih pada layar besar di depan sana.


“Komandan, apa yang terjadi?” tanya Naomi.


Li Yue kembali menatap layar. Keningnya sedikit berkerut. “Perbandingan pasukan sekarang sama besar,” ucapnya. “Sesuatu terjadi pada Jason, tapi dia tidak mengirim laporan sama sekali kepada kami.”


Naomi dan Adara saling bersitatap sesaat, lalu kembali memandangi layar.


“Kita harus menunggu hasil investigasi mendadak terkait kondisi di lapangan,” ujar Li Yue. “Saluran komunikasi dengannya juga terputus sejak tadi.”


Adara mendapati pandangan yang sedikit sendu dari pria tersebut. Dia kembali menatap layar yang menyajikan


titik-titik berkedip itu. Entah di mana dan bagaimana kondisi Jason sekarang. Seharusnya, Adara-lah yang ke medan peperangan sekarang, bukan pria dengan kondisi trauma berat seperti Jason.


“Adara,” panggil Li Yue. Pria itu menoleh kepada gadis berambut hitam yang berdiri di sebelah ibunya. “Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, maukah kau menjadi kartu As kami?”


Gadis 17 tahun itu sontak meneguk liur. Dia memang menginginkannya, bahkan sebelum dirinya ke CB-222 dan


Jason dikirim ke barisan depan tadi. Namun, setelah tahu jika Sarkan muncul seperti sekarang, rasa sakit akan ingatan masa lalu itu kembali membumbung tinggi merengkuhnya.


“Komandan, bisakah kita tidak mengirim Paladin?” tanya Naomi dengan mimik cemas. “Kita masih bisa bertahan


dengan Jason dan yang lainnya, ‘kan?”


Li Yue menatap layar sejenak. “Sekali pun kita mencoba bertahan, bahkan jika kita paham medannya, hal-hal di luar ekspetasi terkadang terjadi kapan saja, Profesor,” jawabnya. “Ini hanya rencana cadangan saja, jika memang dibutuhkan nantinya.”


Gadis yang rambutnya dikuncir kuda itu setengah menunduk. Memang, yang tadi itu hanyalah ekspetasi dia dan


ibunya saja. Bukan berarti yang mengontrol Sarkan adalah pemuda yang menjadi biang rindu di benaknya. Bisa jadi orang lain yang memang ditakdirkan untuk mengontrol Sarkan.


Sisi lain Adara masih berusaha untuk tidak memercayai dugaannya.


Adnan tidak mungkin mengontrol Sarkan.


***