
“Apa?”
Adnan semakin dibuat tidak karuan ketika mendengar ucapan langsung dari Oscar. Pria itu, tanpa rasa bersalah, menceritakan dengan lugas seluruh hal yang ada di pikirannya. Sementara itu, Adnan tidak punya pilihan lain untuk berkilah detik ini.
“Kau membunuhnya hanya karena takut semua kejahatanmu terbongkar, ‘kan?” balas Adnan picik. “Kau benar-benar lebih buruk daripada lalat yang bertelur di bangkai tikus.”
Oscar menghela napas, lantas memasukkan kedua tangannya di saku celana. “Dia memang jahat,” ucapnya. “Semuanya sudah terbukti. Kalau dia tidak jahat, kenapa dia menyiksamu di pangkalan, huh?”
Adnan menoleh cepat. “Dia punya alasan—”
“Alasan seperti apa?” potong pria bermata biru tersebut. Dia menggeleng seraya menyeringai. “Bocah-bocah seperti kalian hanyalah bidak yang bisa dimanipulasi kapan pun, Adnan.”
Saliva Adnan terteguk. Bagaimanapun, dia teringat dengan semua ucapan Hubert sebelum pria di depannya itu menembaknya hingga tewas. Sorot mata itu, Adnan bahkan tidak pernah mendapatkannya dari seorang Frederick Hubert. Dan meski pria itu terkenal kejam padanya selama ini, ucapannya yang kemarin terlihat seperti bukan sebuah kebohongan.
Adnan menatap pria yang bersandar di depannya. Oscar pasti sudah mengetahuinya sejak awal sebelum akhirnya dia membunuh Hubert demi menyembunyikan kejahatannya selama ini.
Lama berpikir, Oscar memandangi pemuda di sampingnya, melihat rupanya dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke
atas. Dia menghela napas.
“Aku minta maaf.”
Adnan lantas mengangkat pandangan. “Untuk apa?” balasnya.
“Pacarmu.”
Kembali, Adnan diliputi emosi. Kedua tangannya mengepal erat meski dia berusaha menahan untuk tidak melayangkannya ke arah pria tersebut.
“Kau melakukan itu padanya?” tanya Adnan kemudian.
“Bukan aku,” jawab Oscar. “Aku meminta Morgan untuk membawanya kemari dengan selamat. Gadis itu memberontak dan menyerang Morgan dengan brutal. Morgan sendiri juga terkejut bahwa Adara bisa menggunakan EWF dengan sempurna, padahal menurut informasi yang kami dapat, pacarmu itu bahkan tidak pernah masuk ke dunia militer.”
Adnan mendengar penjelasan Oscar dengan seksama. Kepalan tangannya merenggang, diikuti emosinya yang kian menurun.
“Penggunaan sistem EWF yang berlebihan akan mengekang lengan penggunanya dan sulit untuk dilepas,” lanjut
Oscar. “Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa merelakan tangannya untuk melepaskan diri dari Clibanarii itu.”
menggenangi sekitar yang berasal dari lengan kanan Adara yang terputus, entah sejak kapan. Dia kembali ingat dengan ucapan gadis itu ketika mereka mengobrol sebelumnya. Adara benar, mungkin dia tidak bisa mengontrol Clibanarii lagi.
Namun, benarkah kalau Adara menyerang Morgan? Bagaimana kalau itu hanyalah serangan balasan atas apa yang dilakukan Morgan padanya?
“Tapi ….” Oscar menatap Adnan dengan raut wajah serius. “Soal permintaanku tadi, aku ingin kau menyakinkan
seorang pemuda yang turut bersama dengan Adara.”
Kening Adnan kembali mengerut. “Siapa?”
Oscar mengendikkan bahu sejenak. “Kau jelas mengenalnya,” jawabnya, lalu berjalan keluar ruangan pribadinya
tersebut.
Adnan memandangi punggung pria tersebut. Di pikirannya sudah terpampang banyak nama soal pemuda yang
dimaksudnya barusan. Dan tentu saja Adnan sudah bisa menebak pemuda yang mana tengah dibicarakan oleh Oscar.
“Apa dia Erick?” laying pemuda tersebut.
Langkah Oscar terhenti. Dia sama sekali tidak menjawab dan justru berlalu ke luar ruangan. Sementara itu, Adnan
kembali berkutat denga nisi pikirannya sendiri. Dia bertanya-tanya tentang rencana dari pria tersebut. Bisa saja Oscar memintaya untuk melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Dan bisa jadi itu sangat berbahaya.
Kedua tangan pemuda bermata biru itu mengepal. Meski bekas memerah karena ikatan itu masih ada, tetapi tidak sesakit yang hatinya rasakan kini. Seolah-olah kehidupan damai yang diimpikannya sejak kecil kini menjadi sebuah angan belaka.
Memikirkan bagaimana keadaan Adara tadi saja sudah membuatnya hampir menangis. Namun, siapa yang ingin? Jika saja dia tidak terjebak dalam permainan manipulative ini, sudah tentu dirinya akan bebas mengarungi dunia di luar sana.
Dan sekarang apa?
Mereka semua terjebak di Cosmo. Torus itu benar-benar tidak bisa dianggap sebagai symbol perdamaian dunia sekarang.
***