AST

AST
51 . BOIKOT



Liur Adnan tertelan dengan sempurna, menerobos melalui kerongkongannya yang tercekat. Monster-monster di


dalam kepalanya merangsek brutal, saling berebut tertawa dan menangis secara bersamaan. Hal yang tidak diinginkan Adnan terjadi, bahkan ketika dia hanya memiliki satu tujuan kemari.


Erick berada di balik pintu itu dan dia harus segera masuk. Namun, pria yang kini berhadapan dengannya mengacaukan semua.


Seharusnya pria itu berada di medan perang sekarang dan melancarkan agresi militer. Kenapa dia ada di sini?


Apakah Megan dan yang lainnya tidak tahu? Apakah Oscar juga tidak mengetahuinya? Ataukah ….


Tidak. Adnan tidak boleh menjadi orang yang pesimis detik ini. Bagaimanapun kondisinya, dia tidak akan tahu apa yang terjadi di balik pintu itu sekarang. Apakah ada Erick ataukah hal lain yang mungkin membuat isi pikirannya membuncah.


Sementara itu, dua jiwa yang terpaut usia cukup jauh itu saling bersitatap. Antara komandan dan mantan kapten aliansi barat. Sungguh persaingan yang amat mengerikan mengingat keduanya pernah bekerja sama—meski Adnan terpaksa.


Pria berambut cokelat itu tersenyum sinis pada pemuda 17 tahun yang berdiri tidak jauh darinya. Dia berkacak pinggang, lalu menghela napas.


“Apa kau pikir aku akan meninggalkan pangkalan begitu saja?” tanyanya memulai percakapan.


Adnan terdiam.


“Siapa yang mengutusmu kemari?” tanya pria itu lagi. “Sebastian Morgan?” Dia tersenyum kecut. “Kau


mudah sekali dimanfaatkan.”


Kali ini, saliva Adnan terteguk.


“Apa kau pikir kau bisa memercayai ucapan pria itu selama di sana?” Pria itu kembali bersuara. Satu tangannya mengacungkan sebuah amplop yang jelas-jelas itu adalah surat perintah dari Morgan yang diberikan kepada Adnan sebelum dirinya berangkat kemari tadi.


“Sampah akan tetap menjadi sampah.”


Rahang Adnan menegang sekejap. Tangannya mengepal erat. Tatapannya tidak lepas dari pria tersebut.


“Kau sama seperti ayahmu,” ucap pria itu. “Kalian semua adalah sampah yang sudah seharusnya terurai … di dalam tanah.”


Hormon adrenalin pemuda berambut hitam itu terpacu amat intens, membuat degup jantungnya menderu tajam.


Segala hal tentang memori sosok yang baru saja disebut oleh pria itu kembali terngiang dalam ingatannya.


Pria itu merobek surat perintah dari Morgan dan menebarnya bagai kumpulan sampah dari sayap kupu-kupu yang telah mengering. “Kau ingin aku menjadi sobekan kertas ini, ‘kan?” katanya dengan kernyih terukir di bibir. “Coba saja! Jika kau tidak ingin kehilangan sahabat yang sangat kau cintai itu ….”


Gigi-gigi Adnan bergemeretak. Remasan tangan di pistol yang dibawanya merenggang. Dia menyelipkan pistol itu kembali ke sarungnya di pinggang, lalu menghela napas.


“Frederick Hubert.”


Pria yang merasa dipanggil itu hanya sedikit menelengkan kepala dengan seringai ambiguitas miliknya. Sepersekian menit kemudian, dia berlari ke arah Adnan, mengayunkan bogem mentah yang kemudian disangkal oleh pemuda tersebut. Dia kembali berotasi, melakukan gerakan demi mengunci pergerakan Adnan. Pemuda 17 tahun itu berhasil menahannya hingga kedua tangan mereka saling menahan dorongan. Kedua manik berbeda warna itu bersemuka tajam.


“Aku akan membalaskan semuanya, Hubert,” geram Adnan.


Hubert hanya meringis dan tergelak menanggapi. Dia mendorong dan melepaskan cekalan tangannya pada lengan


Adnan, lalu kembali melayangkan gerakan pada teknik bela diri yang pernah dipelajarinya. Sialnya, hal itu menjadi lawan yang sepadan bagi Adnan. Pemuda itu terpelanting hingga tubuhnya mendarat di salah satu sisi tembok. Bibir kirinya pecah.


Adnan segera bangkit. Dia berlari ke arah Hubert dan langsung melayangkan bogem mentah kepada mantan


komandannya tersebut. Hubert berhasil mengelak, tetapi ketika Adnan berputar dan mengunci satu lengannya, pukulan telak sontak diterima oleh pria itu. Dia mundur beberapa langkah karena pukulan itu mengenai sudut bibir.


Belum cukup sampai di situ. Adnan berlari, melompat dengan gerakan berputar dan mendaratkan kakinya di


pelipis pria berambut cokelat itu hingga terpelanting. Pemuda itu masih berdiri, bersiap untuk segala sesuatu yang bisa dilayangkan oleh Hubert selanjutnya. Pria itu tampak berbalik dengan wajahnya yang sudah kacau. Dia meringis.


“Kau masih bersemangat rupanya setelah kehilangan ayahmu,” desis Hubert.


Emosi Adnan memang hampir terpancing, tetapi dia berusaha untuk mengontrol hal itu. Dia terus mengingat


Hubert kembali melancarkan aksi. Dia berlari dan kembali bergelut dengan pemuda yang seumuran dengan putranya tersebut. Pukulan dan tendangan berkali-kali mendarat di wajah dan tubuhnya, membuatnya tersungkur setengah sadar. Hubert menyeka darah yang mengalir di sudut bibir dan matanya. Namun, sebelum dirinya bangkit, sebuah suara membuatnya terpaku.


Pria itu menyeringai menatap pemuda bermata biru yang mengacungkan revolver ke arahnya.


“Kau tidak akan dapat apa pun kalau membunuhku sekarang, Anak muda,” desisnya.


Adnan lagi-lagi membisu. Ucapan Hubert barusan ada benarnya. Para petinggi Cosmo sedang memburunya sekarang dan jika dia membunuhnya, bukan Hubert yang akan dipenjara, melainkan dirinya.


“Kenapa?” tanya Hubert. “Kenapa kau diam saja?”


Pemuda itu mengatur ritme napas. Dia menekan tombol di earphone dan berbicara; “Orang itu ada di hadapanku sekarang.”


***


Kondisi di medan perang benar-benar kacau. Seolah tidak ada yang menahkodai, semuanya tampak menyerang


dengan brutal. Terlebih lagi pasukan aliansi timur yang seperti dipaksa mundur kali ini.


Morgan dengan burung besinya terbang dengan beberapa pasukannya. Dia berdecih kesal dengan pola penyerangan yang dilancarkan oleh pasukan aliansi barat saat ini. Hasrat ingin menembaki kawanannya sendiri semakin memuncak. Namun, pria itu masih berusaha menahan diri.


Tiba-tiba saja suara kemeresak lirih terdengar di earphone miliknya. Belum sempat Morgan berbicara, suara seorang pria menyelanya.


“Dia tidak ada dalam pasukan.”


Manik pria itu membola. Dia mengecek layar dashboard sesaat, lalu memukul dashboard dengan kepalan tangannya.


“Brengsek!!!”


Suasana hening. Peperangan masih berlanjut di bawah sana. Morgan masih mengatur napasnya yang sempat


memburu. Dia berdecih.


“Akan kubereskan yang di sini dulu,” ucapnya kemudian.


***


Adnan masih mengacungkan pistolnya ke arah pria berambut cokelat itu. Mata birunya menatap tajam. Alih-alih merasa ketakutan, Hubert justru terkikik.


“Ada apa dengan wajahmu, huh?” tanya pria itu. Dia menatap pemuda di depannya. “Apa kau masih belum puas sudah kubuang ke Cosmo? Ingin kubuang lagi?”


Hubert berdecih. Dia memalingkan wajah sejenak, lalu kembali menatap pemuda tersebut. “Seharusnya kau memang sudah mati seperti ayahmu,” ucapnya. “Apa yang kalian inginkan dari dunia yang sudah rusak ini, hah? Kedamaian? Sepenting itukah rasa cinta bagi kalian?”


Helaan napas Adnan lolos begitu saja menyatu bersama atmosfer koridor. “Di mana Erick?” tanyanya.


Pria berambut cokelat itu hanya menyeringai.


“Kutanya sekali lagi. Di mana Erick?” Adnan menaikkan intonasinya yang sedikit menggeram.


Namun, Hubert hanya terkikik seolah tidak ada beban di pundaknya. Dia menghela napas panjang dan menatap


lurus pemuda 17 tahun itu.


“Mau kuberitahu soal temanmu itu?” tanyanya. “Mau kuberitahu soal … putraku itu?”


Kening Adnan sedikit berkerut. Fokusnya makin tajam ketika seringai pria di depannya makin lebar. Pria itu terkekeh sesaat.


“Frederick Add … sudah mati.”


***