AST

AST
63 . KONDISI KRITIS



Sampai di pintu sel yang terbuka karena keberuntungan Adnan yang membawa id card salah satu petugas tadi. Dan kini, Adnan memberikan id card itu pada Erick untuk digunakan masuk ke ruangan kontrol. Pemuda itu melihat punggung Erick yang lamat-lamat menghilang di balik koridor yang berlawanan dengan tujuannya. Terbesit sebuah


rasa yang bercampur aduk dalam benak, tetapi Adnan harus bergegas menuju lokasi lain di sana.


Dia harus segera menemui Adara.


Setelah melewati beberapa lorong, tiba-tiba saja langkah Adnan terhenti. Beberapa petugas menghadangnya. Seperti yang diduga, petugas pertama tadi yang sudah sadar pasti langsung menghubungi jaringannya yang lain untuk melancarkan aksi ketika menemui Adnan.


Adnan tidak punya senjata apa pun sekarang. Kecuali tubuhnya sendiri yang … mungkin masih berenergi. Dia


bersiaga dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi padanya. Seperti tertembak, mungkin.


“Tangkap dia!!!”


Para petugas itu maju dan melayangkan serangan pada pemuda tersebut. Adnan berputar dan menendang. Satu-dua petugas berhasil dilumpuhkannya. Namun, seorang petugas menembakkan peluru hingga hampir melukainya.


Pemuda itu berdecak. Dia kembali membalas dengan alakadarnya. Menarik senjata api dari salah satu petugas dan menembakkan beberapa kali hingga melukai para petugas tersebut. Mereka terjerembab dengan luka di tubuhnya.


Adnan mendaratkan bogem mentah, ketika petugas yang lain mencoba melumpuhkannya kembali. Satu tendangan


mengenai perutnya dan membuatnya beringsut.


Sial! Ini sakit!


Berapa kali pun Adnan mencoba untuk menahan diri, tetap saja, tubuh para petugas itu lebih kekar darinya. Dia


lagi-lagi membalas pukulan demi pukulan hingga berhasil melumpuhkan mereka semua.


Liur merah keluar dari mulut Adnan. Rasa asin itu tidak bisa menipu kalau salah satu pukulan petugas tadi benar-benar membuat sudut bibirnya pecah.


“Adnan?”


Pemuda itu menoleh ketika mendengar suara yang memanggil namanya. Mata birunya tampak berkilat, menyalakan api kebencian.


Pria berjas putih yang hendak membeli kopi di kantin itu melangkah mundur. “K-kau?”


Adnan mengulurkan tangannya yang memegang revolver ke arah pria tersebut.


“Adnan, jangan!” seru pria itu seraya mengangkat kedua tangan. “Jangan lakukan hal yang tidak ingin kau lakukan. Oke?”


Pemuda itu tersenyum kecut. “Bagaimana aku bisa memercayaimu sekarang?”


Alan—pria berjas putih itu—meneguk saliva. “Aku bisa menunjukkan ruangan Adara padamu. Sekarang.”


Adnan terdiam. Tangannya masih terulur.


“Kau tidak akan menarik pelatuknya, ‘kan?” Alan bertanya.


“Aku akan menariknya kalau kau sudah menunjukkan Adara padaku.”


Lagi. Liur pahit Alan tertelan. “Baiklah. Aku akan menunjukkannya.”


Alan berbalik ketika Adnan memberikan isyarat padanya. Dia tidak punya pilihan lain karena sebenarnya dia tidak benar-benar membenci Adnan. Alan ikut kemari hanya untuk melihat keadaan pemuda itu.


Iya, itu memang benar. Selain karena ada sesuatu yang membuatnya penasaran.


“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.


Adnan tidak menjawab. Membuat Alan menjadi semakin merasa bersalah.


“Aku minta maaf soal … yang terjadi di pangkalan,” ucap dokter itu lagi. “Aku yakin kau tidak memercayaiku lagi sekarang, tapi … apa yang dikatakan Hubert itu benar. Kecuali dia tidak mengatakannya padamu sebelum kematiannya.”


Tentu saja Adnan mengingatnya. Kematian pria yang berhasil mengubah pola pikirnya sekarang.


Langkah Alan terhenti, terturut Adnan di belakangnya.


“Kuharap kau sudah tahu kemauan kakakmu itu,” ucap pria itu sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya. “Lalu, apa kau mendukungnya?”


Adnan masih bergeming.


“Kuharap kau tetap kukuh pada keinginanmu yang pertama, Ad,” lanjut Alan.


Adnan menghela napas. Sulit sekali membenci orang lain ketika dia tahu bahwa sebenarnya tidak ada yang bisa


didapatnya dengan saling membenci.


“Kau cerewet sekali,” rutuk pemuda tersebut.


Alan terkekeh. “Maaf, aku jadi semakin merasa bersalah kalau begini jadinya,” katanya, lalu berhenti ketika mereka sampai di persimpangan. Dia menoleh ke salah satu koridor di sampingnya. “Kurasa bocah itu sudah kembali ke ruangan kontrol,” katanya.


“Siapa?” tanya Adnan.


“Megan,” jawab Alan. “Aku dan dia bersekongkol kemari hanya untuk memeriksa apakah Cosmo masih aman atau


tidak.”


“Apa maksudmu?” selisik pemuda bermata biru tersebut.


“Erick mengirim pesan padaku sebelum misi terakhirnya,” ucap Alan. “Pada saat misi itu dijalankan, dia juga mengirim pesan padaku melalui Analemma kalau komandan militer di Cosmo, Morgan, turut terjun dalam penyerangan ke aliansi timur itu. Dari situ aku paham kalau keadaan Cosmo benar-benar kacau.”


Adnan menyipitkan pandangannya.


“Tapi Megan mengatakan kalau aku tidak ikut serta dengannya, maka kalian mungkin tidak bisa keluar dari sini,” lanjut pria itu, lalu menoleh kepada Adnan. “Semuanya sudah direncanakan oleh kakakmu dan Megan adalah—”


“Kaki tangannya yang berkhianat,” potong Adnan.


Alan mengangguk.


“Kau akan ikut denganku setelah ini?” tanya pemuda itu.


Dokter itu berpikir sejenak. “Kalau kita membawa kabur pesawat pengangkut, mungkin aku bisa ikut—”


“Kita tidak kabur dengan pesawat pengangkut,” sela Adnan. Dia meminta Alan untuk melanjutkan langkahnya.


“Lalu dengan apa?”


“Black Death-333.”


***