AST

AST
PHASE 41 . KENYATAAN



Saliva Adnan tertelan sempurna. Kepalanya mulai berdenyut dengan napasnya yang tersengal. Ingatan tentang percakapan panjang antara dirinya dan Oscar menguar di dalam otaknya. Dia menghirup napas sesaat, lalu mengembuskannya perlahan.


“Erick,” panggilnya kemudian.


Suara kemeresak terdengar di earphone sebelum memunculkan suara dari lawan bicara.


“Adnan? Kau tidak apa-apa?” tanya Erick.


Pandangan Adnan setengah tertunduk di antara embusan napasnya. Dia mengangguk. “Bagaimana denganmu?”


balasnya retorik.


Erick berdecak kasar. “Aku mencemaskanmu tahu!” bentaknya seperti seorang wanita yang tengah memarahi kekasihnya. “Itu … di depanmu. Bukankah itu ….”


Adnan tidak menimpali. Dia sendiri masih menatap layar yang memperlihatkan wajah seorang gadis. Kernyih tipis tergurat sempurna di salah satu sudut bibirnya.


“Maafkan aku,” lirihnya.


Kedua tangan Adnan meremas tuas kendali. Gelang di pergelangan tangan kanannya kembali bersemu merah, bahkan lebih menyala dari sebelumnya. Pemuda itu kembali melancarkan serangan.


Paladin terlihat lihai menghindar. Kecepatan terbangnya yang ternyata jauh lebih cepat daripada Sarkan membuat kartu As aliansi timur tersebut bisa dengan mudah menjauh dan menghalau serangan yang diberikan Sarkan. Beberapa menit memunculkan rangkaian percikan api tak berarti di angkasa, menguasai atmosfer di sekitar dua robot yang tengah melakukan reuni itu.


Sarkan mengacungkan pedang tunggalnya. Dia meluncur, mengarahkan ujung senjatanya itu pada titik lemah sang


lawan. Namun, Paladin lagi-lagi bisa menghindar. Sampai pada akhirnya sebuah kilatan cahaya menyambar tubuh Sarkan seketika. Clibanarii itu jatuh sesaat, sebelum akhirnya mampu mengontrol keseimbangannya.


Tidak hanya sampai di situ. Paladin muncul dengan kecepatan kilat, mendorong Sarkan dengan pukulan angin, lantas menembaknya dengan misil biasa. Yah, setidaknya Adara tidak ingin melukai sang pengontrol saat ini.


Tujuan utamanya hanyalah satu. Menumbangkan kartu As aliansi barat tanpa menjatuhkan Adnan.


Namun, Sarkan seolah tidak mau kalah. Clibanarii itu bangkit dan memelesat ke arah Paladin. Pedangnya terayun


dan sebelum mengenai Paladin, lawannya itu telah menahannya dengan dua pedang sekaligus. Percikan api tidak dapat dihindarkan, memecah belah jarak di antara keduanya.


Mata mereka saling bersitatap, merengkuh tiap detik waktu yang terus berjalan. Entah kenapa, dorongan pada


serangan mereka merenggang. Sekian menit kemudian, Paladin melompat tinggi. Kepulan asapnya tertinggal dan dengan cepat lenyap tanpa jejak. Sarkan turut memelesat menuju lokasi Clibanarii tersebut.


***


Tiba-tiba, Adara teringat satu hal. Kenangan 4 tahun lalu di mana mereka masih bersama. Berjalan di tepi kanal


sepulang sekolah, lalu duduk sambil menikmati senja yang tampak di ujung sungai. Seorang pemuda yang sejak tadi berjalan di belakangnya ikut duduk di sampingnya. Mata birunya mengarah ke barat.


Melihat pemandangan tersebut membuat Adara mengukir senyum. Perpaduan antara warna milky-orange pada senja dengan birunya mata Adnan membuat tabrak warna estetis detik ini. Berlian milik sahabatnya itu memang sangat langka dilihat di sini. Semua orang yang melihatnya pasti akan langsung menilai kalau Adnan adalah penduduk aliansi barat yang menyusup kemari.


Adnan menyadari tatapan gadis di sampingnya, lantas mengernyit. “Kenapa?” tanyanya.


Gadis berambut hitam yang panjangnya masih sepundak itu menggeleng. “Ketika melihat matamu, aku hanya berpikir kalau kau adalah orang yang tersesat,” candanya. “Matamu sangat indah, Ad.”


Pemuda itu tertawa renyah. “Begitu, ya? Kenapa kau bisa bilang begitu?” tanyanya lagi. “Aku sendiri membencinya,” lirihnya sembari kembali menatap matahari di ufuk barat.


“Kenapa kau membencinya?” selisik Adara.


Adnan mengembuskan napas. Kepulan asap tipis itu mengudara, cukup jelas kalau musim gugur kali ini akan


“Mata ini membuatku terkungkung dalam penjara yang bernama takdir,” ucap pemuda berambut model cepak itu. “Kalau saja aku tidak punya warna mata seperti ini, aku pasti sudah bebas berkeliaran sepertimu.” Dia menoleh, meringis kepada gadis di sampingnya.


Adara berdecak seraya mengibaskan tangan. “Kita itu sama,” katanya. “Bagaimanapun rupamu, apa warna matamu, apa warna rambutmu, dan bagaimana cara kau hidup selama ini, itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa kita berasal dari benih yang sama. Hanya perjalanan hidup yang membuat kita tampak berbeda dan itu pula yang membuat kita seperti sekarang.”


Adnan hanya terdiam. Sesekali dia memandang gadis yang memiliki warna mata cokelat terang yang berpadu dengan rambut hitamnya. Sangat cantik.


“Kalau saja kau mengeluh soal hidupmu yang tidak bisa berkeliaran seperti kucing liar, apa aku boleh ikut mengeluh soal … kenapa ayahku harus gugur?” lanjut Adara, kali ini membuat pemuda di sebelahnya sedikit tersentak. “Apa aku juga boleh meminta supaya ayahku bertukar jiwa denganku?”


“Eh, mana bisa?” sela Adnan. “Kau ini ada-ada saja! Kalau memang boleh, aku juga mau meminta ayahku hidup lagi!”


Adara sontak tertawa. “Makanya, kita tidak bisa mengubah takdir seenaknya, ‘kan? Kalau memang skenario yang


diberikan Semesta kepada kita sesulit ini, yakin saja kalau Semesta itu percaya kita bisa melewatinya,” ujarnya. “Itu berarti, kita jauh lebih kuat dari apa yang kita atau orang lain pikirkan soal kita.”


Pemuda itu menghela napas. “Kau benar,” timpalnya, lalu menatap Adara. “Tapi, tetap saja, siapa yang ingin dilahirkan sepertiku? Menurutmu siapa?”


“Pasti ada orang di luar sana yang menginginkan hidup seperti kita, padahal kita ingin hidup seperti orang lain.” Adara memeluk kedua lututnya yang bertekuk, lantas tersenyum pada pemuda tersebut. Kemudian, sorot matanya sedikit berubah sendu. “Takdir itu seperti dua kutub magnet yang sama, lalu saling didekatkan, maka akan terjadi


tolak-menolak. Sama saja dengan harapan. Semakin kita ingin mendekati harapan, maka semakin jauh pula hal itu dari jangkauan kita.”


Desir angin berembus pelan, menerpa helaian rambut dua remaja tersebut. Kicau burung makin menghilang seiring


terbangnya mereka, menjauh menuju peraduan. Sebentar lagi, gelap akan menguasai dunia dan merengkuh kesadaran setiap jiwa untuk terlelap dalam gundah tak bersisa.


Adnan kembali memandangi gadis di sampingnya yang masih memeluk dan menyandarkan kepala di lutut. Cukup banyak rintangan yang dilewati Adnan seumur hidupnya. Namun, dia masih beruntung bertemu dengan gadis tersebut. Adara menemaninya sejak kecil, bahkan sejak dirinya belum memahami arti dari sebuah kehidupan.


Ayah Adnan yang super sibuk bahkan jarang kembali ke rumah. Asistennya bilang pada Adnan, bahwa hal itu terjadi setelah ibunya meninggal dunia—tepat beberapa hari usai melahirkan dirinya. Hal ini membuat Adnan selalu dirundung rasa bersalah yang amat besar. Dia selalu menyalahkan kehadirannya di dunia yang mungkin telah melenyapkan kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Terlebih lagi ketika ayahnya benar-benar meninggalkannya, bahkan setelah pria itu memberikan sebuah wasiat kepadanya.


“Sebentar lagi, aku akan pergi dari sini.” Pemuda itu kembali membuka obrolan. “Menurutmu, apakah aku harus menuruti wasiat ayahku itu?”


Adara mengangkat pandangan ke arah Adnan. “Kalau semua untuk kebaikanmu, kenapa tidak?” balasnya. “Bahkan


ketika kita sendiri tidak menginginkannya, akan ada hal baik yang muncul setelah kita mencobanya, ‘kan? Setidaknya, kalau memang hal baik itu tidak menghampiri kita, kita bisa sedikit belajar dari apa yang sudah kita lewati.”


Gadis itu menegapkan diri, kini bersandar pada kedua lengannya yang menapak di rerumputan yang menjadi pembatas kanal tempat mereka duduk sejak tadi. “Kalau memang perpisahan ini yang terbaik, maka pasti akan ada pertemuan lagi, ‘kan, nanti?” Dia menoleh, menatap Adnan.


Pemuda itu mengangguk pelan. “Hanya empat tahun,” balasnya. “Setelahnya, aku akan kembali kemari.”


“Apa yang akan kau pelajari di sana nantinya?” tanya Adara terlihat antusias. “Bagaimana kalau kita bertukar informasi? Apa itu diperkenankan?”


******* lirih terembus dari mulut pemuda berambut hitam itu. “Sayangnya, hal itu tidak dibolehkan untuk para murid,” jawabnya, membuat Adara turut mendesah kesal. “Tenang saja, aku tidak akan selingkuh selama di sana,” candanya kemudian.


Adara berdecih. “Kita hanya bersahabat, kau tahu?”


“Aku tidak ingin terjebak dalam konsep friend-zone, bahkan setelah melihatmu menolak beberapa pria kemarin.”


Ucapan Adnan membuat gadis itu sontak terdiam. Dia menghela napas, lalu tersenyum dan membuat sudut bibirnya terangkat ke atas hingga matanya menyipit. Satu telunjuk Adnan terjulur padanya.


“Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba,” ucap pemuda tersebut. “Dan lihat apa yang akan kuberikan


padamu.”


***