
Adnan mengekori Oscar menuju ke salah satu arah. Dia tidak pernah berada di koridor ini sebelumnya meski sudah bertahun-tahun berada di Cosmo, bahkan sejak dirinya menempuh pendidikan militer di sini. Punggung Oscar terlihat tegap, berjalan beberapa jarak di depannya, sementara beberapa petugas berada di sisi mereka.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besi yang warnanya selaras dengan warna dinding di sekitarnya. Adnan mengikuti langkah Oscar dan yang lain masuk ke balik pintu tersebut. Ketika salah seorang petugas menekan tombol di sisi dinding, semua lampu menyala dan terlihat jelas kalau itu adalah koridor kosong.
Kening Adnan semakin mengerut, membuat lipatan tak bertuan. Dia kembali menjelajahi koridor kosong itu bersama dengan yang lain. Sampai akhirnya, mereka kembali berhenti ketika sudah sekian waktu berjalan. Mereka kembali masuk ke sebuah ruangan yang menghubungkannya dengan beberapa pintu menuju ke ruangan-ruangan lain.
Dari sini, Adnan mulai mengetahui kalau sejak tadi Oscar dan para petugas mengajaknya memasuki ke sebuah penjara. Ya. Penjara di Cosmo berbeda dengan bui di Bumi pada umumnya. Di sini di desain dengan cat berwarna putih, bahkan lampu pun berwarna serupa. Hingga pada akhirnya, langkah pemuda bermata biru itu terhenti ketika melihat seorang pemuda dari balik kaca di salah satu sel.
“Erick?” gumamnya.
Adnan meletakkan tangannya di jendela kaca sel tersebut. Netranya menyelisiki oemuda yang tengah duduk termangu di sudut ruangan.
“Dia tahu semua informasi mengenai Hubert selama ini,” ujar Oscar. “Dan kemungkinan besar, Hubert memberikannya informasi yang tidak bisa kami temukan di manapun.”
Adnan menoleh ke arah sang kakak. “Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?”
Oscar menghela napas sejenak. “Kalau kau ingin perdamaian, maka kau harus mencari informasi sampai ke akar-akarnya,” jawabnya seraya menatap pemuda di sampingnya. “Segala hal yang bertentangan ataupun yang sejalur dengan pola pikir yang sudah ada, sebaikanya harus dilenyapkan dan diganti dengan sistem yang baru dan lebih masuk akal.”
“Apa maksudmu?” selisik pemuda bernetra biru tersebut. Dia berdiri menghadap pria yang berbeda beberapa tahun
dengannya itu. “Kau … kau ingin mengubah semuanya?”
Mereka berdua terkunci dalam diam. Menguasai atmosfer hampa di sana.
“Seharusnya kau sudah tahu keinginanku sejak awal, Adnan,” ucap Oscar dengan tatapan lurus pada sang adik.
“Seharusnya kau juga sudah paham kenapa Ayah dan Ibu membuangku sejak kecil.”
Rahang Adnan kembali mengeras. Dilema yang menguasainya sejak tadi kini mulai terjawab satu per satu.
“Kau ….”
Oscar hanya mengendikkan sebelah alis. Reaksi yang sebenarnya sudah cukup Adnan dapati selama dirinya
mengenal pria tersebut.
“Aku akan menjanjikanmu apa pun. Apa pun yang kau inginkan, asalkan kau mau bekerja sama denganku,” ujar
Napas Adnan tercekat. Beribu kali sampai dadanya terasa sesak. Bagaimanapun, kepicikan itu jelas terlihat di wajah Oscar detik ini dan itu tidak bisa menipu dirinya.
“Setelah Anthony gagal mengunjungi pangkalan, akan kubuat dia juga harus mempertanggungjawabkan kejahatan yang dilakukan sistem yang sudah dilakukan dia dan pihaknya bertahun-tahun lalu … sampai merenggut kebebasan kita semua. Semuanya harus dihancurkan … dan dilahirkan kembali dengan sistem yang lebih baik dari
sebelumnya.”
Ucapan yang dilayangkan Oscar barusan menjadi batu yang menghantam pola pikir Adnan seketika.
Mengubah sistem? Apa dia sudah gila?
Sepasang mata biru itu menatap Adnan dengan penuh arti. “Kalau kau mau, kita bisa mencari tahu kebenaran di
balik penciptaan Cosmo dan juga dua Clibanarii itu. Benda-benda yang mungkin kau pikir hanyalah benda mati dan dijadikan senjata biasa, nyatanya menyimpan banyak sekali rahasia dari semua konspirasi yang sudah beredar bahkan sejak dirimu masih kecil,” lanjutnya. “Perdamaian yang sesungguhnya, sebenarnya bukan dimulai sejak mereka diciptakan. Perdamaian yang sesungguhnya, dimulai dari sekarang.”
Oscar ….
Adnan tidak bisa berpikir jernih. Ucapan Oscar barusan seolah merusak cara pandang dirinya selama ini terhadap dunia. Terhadap segala perdamaian dan semua hal yang dianggapnya akan bisa mewujudkan mimpi serta kebebasannya.
“Aku sudah berbicara dengan temanmu tadi,” ucap Oscar. “Tapi dia sama sekali tidak mau memberiku informasi.
Makanya, aku butuh bantuanmu.”
Saliva Adnan terteguk, membasahi kerongkongannya yang mengering sejak tadi.
“Tolong, galilah informasi sebanyak apa pun darinya,” kata pria itu sembari memasangkan sebuah alat di cuping telinga Adnan. Alatnya cukup kecil sampai tidak terlihat sama sekali karena tertutup oleh helaian rambut pemuda tersebut. “Aku akan meninggalkan kalian sementara di sini. Akan kuurus pacarmu.”
Pintu sel terbuka, sebelum akhirnya Adnan melangkah masuk. Dia berbalik sejenak dan mendapati pria itu telah meninggalkannya. Pintu itu tertutup sekian detik kemudian, menyisakan kehampaan yang bergelung dengan semua perasaan berkecamuk di diri pemuda itu sekarang.
“Adnan?”
Pemuda itu menoleh dan tersenyum tipis. Mata birunya tidak bisa menyembunyikan perasaan itu. Begitu banyak monster yang berkelahi, bahkan berpesta pora di dalam otaknya kini. Dia hanya bisa berbalik dan menghela napas panjang.
“Selamat datang, Erick.”
***