AST

AST
53 . RASA TAKUT



BUKKK!


BUKKK!


BRAKKK!


Cairan merah menetes dari sudut bibir seorang pria berambut cokelat. Tubuhnya yang sudah hampir tidak bisa bangkit itu hanya bisa pasrah terhadap apa yang dilakukan pemuda itu untuknya. Dia menyeka darah itu dan meringis, lalu menatap pemuda bermata biru di depannya dan tertawa picik.


“Apa kau mencintainya, hah?” ledeknya.


Emosi Adnan sudah mencapai *******. Dia tidak tahan lagi dengan ucapan-ucapan yang dilontarkan pria tersebut. Bahkan jika pria itu harus mati di tangannya, maka akan dia lakukan.


Hubert mencoba berdiri perlahan dengan berpegangan pada tepi jendela kaca di dekatnya. Dia kembali memandangi pemuda di depannya dengan rupa yang sudah kacau.


“Aku hanya mengatakan kebenaran itu, Adnan,” ucapnya. “Pikirmu, kenapa aku ingin kau mati bahkan membuangmu ke Cosmo, huh?”


Saliva Adnan terteguk. Isi pikirannya berkecamuk dengan para monster yang ingin merangsek keluar dari sarangnya sekarang.


Dia terdiam, mencoba mengingat kembali apa yang sudah didengarnya dari mulut pria berambut cokelat itu sejak tadi. Sisi lain dirinya berusaha menolak, tetapi bagaimana bisa? Semua hal yang selama ini dipercayai olehnya justru adalah dalang di balik semua kehancuran ini. Semua hal yang dimusuhi Adnan, malah menjadi titik balik kebenaran yang tidak pernah diungkapkan.


Bahkan, sosok yang berdiri di hadapannya saat ini … benarkah?


***


“Frederick Add … sudah mati.”


Mata biru Adnan membola. Tangannya mengepal erat, seiring erangan yang keluar dari mulutnya. Pemuda itu


mendaratkan tendangan kasarnya ke wajah Hubert, berkali-kali tanpa ampun.


Napas Adnan tersengal. Degup jantungnya memburu. Dia membalikkan tubuh Hubert dan langsung memukul wajah


pria itu. Bukan memukul, melainkan meninjunya beberapa kali hingga wajah Hubert dan punggung tangan Adnan penuh dengan noda merah.


Adnan menarik kerah Hubert dan bersiap dengan pukulan telaknya kali ini. Namun, pria itu justru tertawa dan menghentikan gerakan Adnan seketika.


“Mereka pasti sudah mencuci otakmu sejak dulu,” ucap Hubert. “Kau … dan juga semua orang.”


Mata cokelat Hubert masih bersinar terang di situasi serumit ini. Seolah ingin mengatakan sesuatu, pria itu berdecih kecut. Dia menatap pemuda yang menatap sengit padanya.


“Apa maksudmu?” Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk bicara di antara sengal napasnya yang masih memburu. “Apa maksudmu?!”


Hubert terkekeh sembari mencoba meneguk liur sesaat. Satu tangannya menunjuk ke dada Adnan. “Kawan adalah lawan,” katanya. “Lawan adalah kawan.”


Berbagai tanda tanya sontak membumbung tinggi di atas kepala Adnan saat ini. Dia benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran mantan komandannya itu sekarang.


“Menurutmu, kenapa aku berambisi seperti ini, huh?” Hubert mengendikkan sebelah alisnya. Telunjuknya mendarat di dada Adnan beberapa kali. “Semua karena ambisi manusia sepertimu yang menginginkan perdamaian, Ad.


“Perdamaian itu tidak ada,” imbuh Hubert. “Kau tidak akan bisa menemukannya di manapun, bahkan dengan


saudara, teman, atau pacarmu sendiri.”


Gigi-gigi Adnan saling bergemeretak kasar. Tangannya yang mencengkeram kerah Hubert semakin erat meremasnya hingga pria itu menderita sesak.


“Katakan padaku, apa yang kau simpan selama ini?”


Hubert menyeringai. Dengan noda merah dan lebam di seluruh sisi membuat wajahnya terlihat kacau. “Pemberontakan, pengkhianatan. Kejahatan terselubung. Semua atas dasar perdamaian,” ucapnya.


Raut wajah Adnan makin bengis ketika pria itu seolah mempermainkan dirinya sekarang. Dia mengerang, lantas


“Aku sudah memberitahumu beberapa kali, Ad,” ucap pria itu. “Kau tidak juga mengerti.”


“Apa yang kau beritahu padaku selama ini? Apa?!” gertak Adnan. “Kau hanya memanfaatkanku untuk kepentinganmu sendiri. Kau mengontrolku. Kau bahkan mengontrol putramu sendiri!”


Hubert terkikik sejenak. “Kau pikir begitu?” selorohnya melirik pemuda berambut hitam itu dengan senyuman picik. “Aku tidak memanfaatkanmu dan aku tidak mengontrolmu,” katanya. “Aku juga tidak mengontrol orang yang selalu kalian anggap sebagai putraku.”


Adnan tercekat seketika. “Apa maksudmu?”


Pria itu tersenyum kecut. “Menurutmu, apa yang membuat aku dan Erick tampak mirip?” balasnya retorik. “Hm?”


Detik ini, Adnan hanya bisa terdiam. Kepalan tangannya merenggang, seiring dengan berbagai rasa kalut dan


kebingungan yang bertandang di benaknya.


“Frederick Add … bukanlah anakku,” lanjut pria tersebut. “Dia adalah anak yatim-piatu yang dititipkan di Cosmo, sama sepertimu.”


Hubert menyandarkan diri di dinding yang berbatasan langsung dengan luar sana. Dia menghela napas sejenak, lalu kembali membasahi kerongkongannya yang mengering setelah perhelatan tadi.


“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai putraku meski kuberikan nama keluargaku untuknya,” ujarnya kemudian. “Kalianlah selama ini yang terlalu berekspetasi kalau aku dan dia adalah ayah dan anak. Iya, ‘kan?”


Adnan masih bungkam. “Lalu, apa yang kau lakukan padanya sekarang?” Tangannya menunjuk ke arah pintu yang


masih tertutup. “Dia ada di sana, ‘kan?”


Hubert menoleh ke pintu yang ditunjuk Adnan, lalu kembali memandang pemuda tersebut. “Begitukah menurutmu?” tanyanya. “Siapa yang bilang padamu kalau dia ada di balik pintu itu? Siapa yang menyuruhmu ke ruangan itu? Apakah dia temanmu yang lain? Ataukah … dia adalah lawan yang memang seharusnya berhadapan denganmu sekarang?”


Netra pemuda bernama lengkap Adnan Harris itu menyalang. Keyakinannya seolah diruntuhkan oleh ucapan-ucapan Hubert padanya.


“Bagaimana dia bisa tahu ada orang lain di balik pintu itu?” Hubert menunjuk pintu yang diyakini Adnan sebagai lokasi disekapnya Erick. “Apa dia sudah menguasai tata letak pangkalan ini sebelumnya? Apa dia pihak yang merestorasi markas ini sebelumnya? Ataukah … ada yang menyuruhnya untuk mengatakan hal ini padamu?”


“Tapi kau juga menyekap Alan juga?!” sergah pemuda 17 tahun tersebut dengan tangan mengacung ke arah Hubert. “Kau membuangku ke Cosmo supaya aku mati di sana. Kau mengurung Erick. Dan kau menyekap Alan juga. Kau bisa saja memutarbalikkan semua fakta ini agar aku menolak rencana Cosmo dan kembali padamu. Begitu, ‘kan?”


Hubert terdiam, lantas tergelak lepas. Sampai-sampai dia memegangi perutnya yang terasa sakit.


“Apa aku terlihat sedang memanipulasimu?” tanyanya setengah tertawa. “Bagaimana kalau aku membuangmu ke


Cosmo hanya agar kau mengetahui kebenaran yang terkunci di sana? Dan juga, bagaimana mungkin dan untuk apa aku menyekap Alan dan Erick? Pikirmu, untuk apa aku melakukan itu? Apa aku terlihat memusuhi mereka selama kau berada di sini? Begitukah?”


“Hubert ….”


Adnan mengepalkan tangannya. Dia berjalan ke arah pria itu dan langsung mendaratkan bogem mentah di wajahnya. Berkali-kali dan beruntut sampai membanting pria itu ke sisi tembok lain hingga kembali tumbang. Adnan juga menendang tubuhnya berkali-kali, melampiaskan seluruh emosi yang terkurung dalam dirinya.


Sementara itu, Hubert hanya bisa terkikik. Dia meringis, memegangi bekas tendangan Adnan di perutnya yang


terasa nyeri.


“Bunuh aku sekarang,” desisnya, lalu melirik kepada pemuda bermata biru tersebut. “Bunuh aku sebelum mereka


sampai kemari, jika kau tidak ingin semua kebenaran ini terkuak.”


Adnan kembali tersentak. Matanya yang sebiru berlian di dasar samudera itu memerah tanpa sebab yang jelas. Dia


berlutut di dekat pria yang sudah lemas itu. Terlihat dari sorot mata Hubert yang ingin membicarakan sesuatu padanya.


“Bukan aku ….” Suara Hubert terdengar serak. “Bukan aku yang memulai peristiwa lima tahun lalu.”


***