AST

AST
55 . SATU LANGKAH



Tidak ada yang tahu pasti bagaimana keadaan markas aliansi timur saat ini. Hanya kepulan asap yang membumbung tinggi dengan percikan api di sana-sini. Paladin terlihat mengudara beberapa menit sebelum akhirnya pasukan aliansi barat menerobos CB-222. Pengontrolnya meneguk liur, mencoba melepaskan kemelekatan dalam dirinya.


Adara benar-benar tidak tahu apa yang tengah direncanakan musuh sampai dia harus kembali kehilangan banyak


hal. Kali ini, dia tidak tahu bagaimana keadaan ibunya, Jun, Jo, Jason, Sam, Kei, dan orang-orang yang sangat dicintainya. Dengan tangan gemetar, dia memacu Paladin meninggalkan markas dengan cepat.


Namun, sebuah pesawat terlihat mengekorinya. Pada jarak yang cukup jauh, adalagi pesawat yang berusaha


mengikuti dan tidak terlihat sama sekali.


Sebuah misil meluncur dan hampir mengenai lengan kanan Paladin. Adara terkejut dan menghentikan laju Clibanarii tersebut seketika. Paladin menoleh, mengecek pada radar dan mendapati sebuah pesawat terbang mendekat.


Adara berdecih. “Kenapa mengikutiku sih?” geramnya.


Gadis itu menghalau tembakan pesawat dari aliansi barat tersebut. Dia terbang menjauh, tetapi tetap saja burung besi itu menyerangnya. Satu kali, dua kali, membuat Adara masih memegang teguh kesabarannya. Untuk ke sekian kalinya, gadis itu melepaskan misil dari salah satu lengan Paladin.


Tembakannya gagal.


Paladin kembali terbang menjauh dan semakin cepat. Ukurannya yang besar membuatnya tidak bisa bersembunyi


di manapun. Dan entah kenapa, Adara begitu penasaran. Hanya satu pesawat itu saja yang mengejarnya, sementara yang lain masih sibuk berperang di bawah sana.


Mungkinkah itu ….


“Tidak, tidak mungkin.” Adara bergumam, berusaha tidak memercayai pikirannya.


Tidak mungkin itu Adnan. Adnan mengontrol Sarkan kemarin dan juga jika pemuda itu mengendarai sebuah pesawat tempur, dia pasti tidak akan menyerang Adara secara brutal.


Pesawat itu seolah mengincarnya tanpa henti. Pengontrolnya ingin menjatuhkan Paladin dan mungkin … melenyapkan pengontrolnya.


Sibuk memikirkan berbagai tanda tanya di benaknya, Adara kehilangan kendali. Misil dari pesawat itu mengenai lengan kiri Paladin dan membuat Clibanarii tersebut oleng.


“Tidak, jangan!”


Meski pernah belajar teknik mengontrol Clibanarii sebelumnya, Adara termasuk masih pemula. Dia menanggung


banyak beban mengingat aliansi timur bergantung padanya karena dia adalah satu-satunya yang bisa mengontrol Paladin saat ini. Adara bahkan berharap jika Adnan menghubunginya saat ini, seperti kemarin-kemarin. Namun, kenyataannya, pemuda itu bergeming seolah menghilang dari peradaban kembali.


Adara memutarbalikkan Paladin menghadap pesawat tadi. Dia menghela napas sesaat, lalu membuka perban di tangan kanannnya. Luka jeratan itu masih ada, tetapi mau tidak mau Adara harus melakukannya sekarang. Jika dia tidak bisa mengontrol Paladin secara manual, maka dia harus menggunakan cara ini.


Tangan kanannya dimasukkan ke gelang di sisi kanan hingga gelang itu mengekang pergelangannya. Adara


berjengit, merasakan denyut dan nyeri secara bersamaan, menjalar dari ujung ke pangkal lengannya. Jantungnya seolah dibuat berhenti berdetak sejenak.


“Baiklah. Ayah, bantu aku.”


Mata Paladin berubah warna menjadi emas. Tampak berkilat tajam. Clibanarii itu seperti memiliki jiwanya sendiri sekarang.


***


Sementara itu, seorang pemuda yang sejak tadi menembakkan misil, meminta anak buahnya untuk berjalan sesuai


dengan rencana yang diberikan oleh komandan tertinggi aliansi barat saat ini. Burung besi yang dibawanya tampak mengitari wilayah aliansi timur. Bangunan utama itu sudah hancur sekarang. Tarnnet yang menjadi pelindungnya telah runtuh, pecah berkeping-keping. Bisa dipastikan ada banyak sekali penghuninya yang tertangkap, atau bahkan tewas di dalam sana.


Pemuda berambut cokelat itu berdecak lirih. Tangannya meremas tuas kendali. Pesawatnya yang berbeda dengan anggotanya yang lain itu masih terus memantau, sesekali membalas tembakan yang terarah padanya.


Namun, tiba-tiba saja atensinya tertuju pada sebuah Clibanarii yang mengudara. Beberapa menit kemudian, sebuah pesawat yang entah milik siapa turut membuntutinya. Pemuda itu mengecek keadaan sekali lagi, sebelum akhirnya terbang mengikuti Clibanarii dan pesawat tadi.


“Apa yang dilakukannya?” gumam pemuda itu. “Bukannya itu … pesawat Cosmo?”


Pemuda tersebut mengecek sesuatu melalui dashboard. Tidak ada sahutan di earphone-nya. Rasa gundah mulai


merambati batin.


“Ke mana Ayah?”


“Apa yang ….”


Pemuda bernama lengkap Frederick Add itu menggigit bibir bagian bawah. Matanya melihat ke arah Paladin yang tengah dikejar oleh pesawat tempur dari Cosmo tersebut. Akhirnya, dia memacu Analemma mengikuti mereka dengan menjaga jarak agar tidak terdeteksi oleh radar keduanya.


Manik cokelatnya melihat pertikaian itu. Mereka mulai saling menembak dan menyerang satu sama lain meski


sebelumnya Paladin tampak menghindari pertarungan. Clibanarii itu kembali terbang, lalu berotasi dengan cepat dan menembak dengan brutal pesawat yang mengejarnya.


Erick bisa melihatnya dengan jelas. Mata dari Clibanarii itu bahkan terlihat hidup. Keningnya berkerut tipis menyaksikan perhelatan yang terjadi di depan matanya. Ini bukanlah sesuatu yang diinginkannya, bahkan setelah dirinya mengingat percakapannya dengan sang ayah sebelum dia dikirim kemari.


***


“Ini misimu yang terakhir.”


Netra Erick melebar tatkala mendengar pria di depannya mengucapkan hal itu. Kepalanya mulai berpikir berlebihan,


takut kalau-kalau dia akan dibuang ke Cosmo sama seperti Adnan atau disiksa sampai mati setelah misi selesai.


Pemuda itu masih memiliki banyak pertanyaan yang bertandang di benaknya. Dia pikir, pria itulah yang menyekapnya sejak kemarin. Dia pikir, pria itu pula yang menculiknya dan mengurungnya di sini. Namun, melihat bagaimana sorot matanya sekarang, seolah pikiran negative itu berubah seketika.


Erick butuh jawaban kini.


“Ayah,” panggilnya.


Frederick Hubert masih berdiri dengan salah satu tangan memegang pistol yang digunakannya untuk melepas rantai yang mengekang Erick. Hal itu pula yang menjadi pertanyaan Erick sekarang. Jika memang pria itu yang menyekapnya, seharusnya dia bisa dengan mudah melepaskannya dari sini tanpa harus menggunakan senjata.


“Ayah—”


“Pergilah!”


Erick tersentak. Tatapan tajam Hubert berubah menjadi sebuah kode yang harus dijawabnya sendiri.


“Kenapa?” tanyanya seraya berdiri. Kedua tangannya masih terasa nyeri karena jeratan rantai tadi. “Apa


yang sebenarnya dilakukan Ayah? Untuk apa?”


Hubert terdiam sesaat, menatap sepasang mata yang hampir mirip dengannya itu. “Hancurkan markas aliansi timur,” titahnya. “Selamatkan Yusagi Adara.”


Saliva pemuda itu tertelan sempurna. Ini tidak biasa. Pria itu seperti bukan Frederick Hubert yang biasanya. Seperti bukan ayahnya yang arogan dan bertindak seenaknya. Pria itu menghampiri Erick, lantas menepuk kedua pundaknya.


“Ayah, apa maksudnya?” tanya pemuda tersebut. “Kenapa Ayah ….”


“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tapi ….” Hubert menggantung ucapannya sesaat, lalu menghela napas. “Jadilah putraku mulai sekarang.”


“A-apa?”


Erick benar-benar tidak mengerti. Dia seperti dibuat bingung dengan ketidaktahuan yang terjadi sekarang. Semuanya terjadi begitu cepat. Apa yang seharusnya dianggap salah seolah berbalik arah dan membuatnya berada dalam dilema.


Erick bahkan baru kali ini mendengar Hubert mengucapkan permintaan itu padanya.


“Ayah,” ucapnya dengan nada bergetar. “Apa? Apa yang Ayah sembunyikan dariku?”


Suara sirine tiba-tiba mengurai fokus keduanya. Lampu di sudut ruangan berkedip merah, sebagai pertanda bahaya. Erick kembali menatap pria di depannya, meminta jawaban. Namun, hal yang dilakukan pria itu justru berada di luar ekspetasinya.


Hubert memeluk Erick, menindik dengan cepat sebuah chip berbentuk mirip tindik di belakang telinga pemuda tersebut. “Semuanya ada di sini,” bisiknya kemudian, sebelum akhirnya melepas pelukan.


Pria itu mendongak, menatap langit-langit ruangan. “Sebentar lagi dimulai,” ucapnya, lalu menatap Erick. “Bawalah


Analemma dan bawa pergi Adara.”


***