
Beberapa saat kemudian, tampak sekali pasukan aliansi barat mundur perlahan. Hal ini didukung dengan titah dari
Frederick Hubert melalui saluran komunikasinya dengan sang kapten sendiri. Sementara itu, Adnan tidak lantas menuju ke pangkalan aliansi barat di Bumi, melainkan kembali dengan Sarkan ke Cosmo. Dia tidak mungkin membawa Clibanarii itu ke pangkalan mengingat betapa Hubert benar-benar membencinya dan pasti akan muak melihat mukanya atau bahkan muka Sarkan. Tidak lupa, Erick juga mengatakan kepadanya kalau akan menghubungi dirinya jika situasi sudah kondusif.
Adnan bergegas turun dari kokpit Clibanarii-nya dan berjalan menuju pintu. Dia sedikit meringis karena pergelangan tangannya mulai sakit dan lengannya itu kebas. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang bocah laki-laki menunggunya di ujung pintu. Bocah itu serta-merta lari menghampirinya.
“Adnan!” pekiknya dengan raut wajah semringah.
Adnan mengukir ceruk tipis, lantas berlutut hingga tingginya menyamai tinggi bocah tersebut. Dia mengusap lembut puncak kepala Boris dan ingat sekali kalau bocah itu selalu mencemaskan dirinya. Adnan mengenalnya melalui Oscar, tentu saja, karena anak itu selalu mengekori ke manapun pria tersebut pergi.
“Kau baik-baik saja?” tanya bocah itu.
“Boris, tidak sopan bertanya pada orang yang baru saja pulang dari perang?” sahut seorang pria.
Adnan mengangkat pandangan ke arah pria itu. Dia adalah Oscar Harvey, satu-satunya sosok yang menunggu
kepulangannya dari medan perang. Pria itu menghampiri, sebelum akhirnya Adnan berdiri dan menundukkan sejenak kepalanya.
“Morgan ingin bertemu denganmu,” ucap Oscar.
“Papa!” Boris menyahut dengan mata berbinar-binar. Wajah inosen itu sedang tidak menyadari kalau sewaktu-waktu akan ada bahaya yang mengancamnya.
Pemuda berambut hitam itu mengangguk. “Kau ikut?” tanyanya, lalu ditimpali anggukan oleh sang kakak.
***
Tidak perlu waktu lama bagi Adnan, Oscar, dan Boris menuju ke ruangan kerja Morgan. Pria bertampang garang itu hendak melayangkan amukannya kepada Adnan, tetapi urung setelah melihat anak lelakinya terturut masuk. Dia bahkan memberikan kode kepada Oscar untuk mengajak Boris keluar ruangan. Namun, sepertinya hal itu gagal dilakukan mengingat Boris justru meminta gendong sang ayah.
Adnan menundukkan kepalanya sesaat. Atmosfer ruangan ini berbeda dari sebelumnya saat Morgan masih menaruh kebencian terhadapnya. Dia juga ingat kalau pria itu bekerja sama dengan Oscar terkait sesuatu yang belum diketahui dirinya sampai sekarang. Kalau saja kebiasaan Adnan yang asal ceplos dan tidak tahu diri masih dipelihara sampai sekarang, mungkin pemuda itu serta-merta bertanya spontan kepada pria yang merupakan atasannya tersebut.
“Aku sudah melihat semuanya,” ucap Morgan usai berdeham sejenak. “Kau menggunakan EWF untuk bertarung melawan Clibanarii itu, ‘kan?”
Pemuda bermata biru itu menahan napas dan melirik ke arah Oscar yang berdiri di sampingnya. Pria itu hanya
mengedipkan mata membalas. “Aku minta maaf,” ucapnya kemudian.
Morgan menghela napas. “Kau tahu bahwa bukan ranahmu untuk ikut campur sebelum mendapat perintah dariku,” katanya. Dia menurunkan Boris dan berdiri di depan pemuda tersebut—sedikit melirik ke pergelangan tangan kanannya yang memerah. “Obati lukamu dan temui aku nanti malam—”
“Di rumah! Rumah Boris!” potong Boris dengan semangat menggebu-gebu. Hal itu membuat ayahnya merasa
harus memasang wajah seakrab mungkin pada Adnan sekarang. Sementara itu, Oscar merunduk dan memintanya untuk diam sejenak. Bocah itu lantas mengangguk antusias dan kembali menyimak percakapan sang ayah dengan pemuda di dekatnya.
Adnan sendiri sedikit menahan tawa. Dia mengangguk. “Baik, Pak,” ucapnya.
Beberapa jam kemudian, setelah Adnan selesai mengobati lukanya dan membasuh diri, dia bergegas menuju unit
tempat tinggal Morgan dan Boris selama di Cosmo. Oscar juga bilang bahwa dirinya akan menunggu di sana tadi.
Tidak banyak yang Adnan lakukan selama di perjalanan. Dia hanya melangkah dalam diam sambil mendengarkan desas-desus dari banyak orang yang berpapasan dengannya. Dan jangan harap kalau dirinya akan menyapa orang-orang tersebut. Mereka hanya segelintir tikus yang dibesarkan dan dididik di Cosmo hanya untuk percaya pada aliansi barat, daripada menjunjung perdamaian dunia. Adnan sama sekali tidak tertarik untuk bicara pada mereka.
Pemuda itu berbelok ke kiri setelah sampai di sebuah persimpangan. Dia melihat Boris sedang memainkan bola
di ujung koridor. Bocah itu menoleh ke arahnya.
“Adnan!” pekiknya senang. Dia melemparkan bola dan langsung ditangkap oleh pemuda berambut hitam tersebut.
“Bermain,” jawab bocah itu dengan tampang polosnya. Wajahnya mirip sekali dengan mendiang ibunya.
Boris diboyong ke Cosmo beberapa bulan usai dirinya dilahirkan dan sang ibu meninggal. Hanya Morgan yang membesarkannya di sini—Adnan tahu ketika dirinya masih menempuh pendidikan militer di Cosmo—sebelum akhirnya bertemu dan berhubungan dekat dengan Oscar. Sekarang, bocah itu sudah berusia 5 tahun dan entah sampai kapan dia akan terus berada di Cosmo. Adnan sendiri pertama kali bertemu dengannya ketika dirinya telah
berada di ruang rawat—setelah keluar dari bui—dan makin akrab sampai sekarang.
“Adnan mau ketemu Papa?” tanya Boris.
Adnan mengangguk. “Kau ikut?”
“Iyalah!”
Pemuda bermata biru itu terkekeh menimpali. Dia menuntun Boris agar berjalan di sisinya, sementara bola anak itu dibawanya. Mereka berbelok ke kanan dan berhenti di depan sebuah pintu. Sekian detik kemudian, keduanya masuk.
Tiga pria yang tengah mengobrol lantas menoleh ke arah pintu, sementara tiga pria lain berdiri seolah tengah berjaga. Ruangan ini memang unit yang menjadi tempat tinggal Morgan, tetapi entah kenapa Adnan merasa ruangan ini berubah menjadi kamar rapat. Dia melihat Morgan dan Oscar, serta satu orang pria asing. Sesaat kemudian, Oscar meminta dirinya untuk mendekat, sementara Boris menghampiri Morgan dan duduk di pangkuan ayahnya.
“Dia adalah Anthony Christian,” ucap Oscar memperkenalkan pria berambut blonde yang duduk di sebelahnya. Pria itu menundukkan kepala sebentar ke arah Adnan. “Pak, dia adalah Adnan Harris, putra Reynald Harris.”
Pria itu terlihat tercengang. “Ah, benarkah?” tanyanya sembari menelisik setiap jengkal rupa pemuda di depannya itu. “Dia sudah tumbuh dewasa rupanya.”
Sementara itu, Adnan sedikit tidak percaya dengan sosok di depannya saat ini. Siapa pun pasti mengenal Anthony
Christian. Dia adalah pemimpin aliansi barat saat ini. Entah mimpi apa pemuda itu semalam sampai-sampai bisa bertemu dengan petinggi dari aliansinya tersebut. Adnan dengan cepat membungkuk sejenak.
“Duduklah, Ad,” pinta Morgan yang langsung dituruti oleh pemuda itu.
Adnan lantas duduk di sofa tempat di mana Morgan juga duduk di sana. Seorang pria yang sejak tadi berdiri bersama dua lainnya langsung menuangkan secangkir teh dan menyodorkannya pada pemuda tersebut.
“Tadi sampai di mana pembicaraan kita?” tanya Anthony.
“Oh, tentang ….” Oscar mengambil sebuah dokumen yang memang sejak tadi berada di atas meja. “Tentang perdamaian? Mobilisasi perdamaian?”
Pria berambut blonde itu mengangguk. “Bagaimana soal penyebab konflik 5 tahun lalu? Apa sudah ditemukan?”
tanyanya.
Oscar menatap Morgan sebelum akhirnya pria yang duduk di seberangnya itu menghela napas. “Kami sudah tahu,
tapi sangat sulit untuk menemukan buktinya,” jawabnya. “Kita tidak bisa menahannya tanpa bukti yang jelas. Selain itu, dia juga adalah orang penting di aliansi kita saat ini.”
Anthony mengangguk. Dia menatap cangkir-cangkir teh yang tertata di meja. “Jika tidak segera ditindaklanjuti, ini akan jadi konflik yang sangat panjang,” ucapnya. “Sudah cukup lama kita mengalami krisis ini dan akan sangat menyakitkan kalau kita tetap harus hidup dalam kondisi buruk yang bisa mengancam sewaktu-waktu. Secepat mungkin, kita harus bisa menemukan bukti tersebut dan melakukan mobilisasinya.”
“Um, maaf.” Adnan menginterupsi. “Sebenarnya, apa yang sedang kalian bicarakan?”
Oscar lantas menatap lurus padanya, sementara dua pria lain terdiam. “Ini soal keinginan ayahmu dan ayah pacarmu yang belum terselesaikan, Ad,” jawabnya.
Pria itu terlihat tidak sedang bercanda meski jawaban yang dilontarkannya membuat Adnan ingin meninju wajahnya
sekarang. Bisa-bisanya dia masih bisa mengeluarkan kalimat semacam itu? Dasar!
“Dan juga soal Hubert,” imbuh Oscar, lalu melirik ke arah Morgan. “Sahabat dari atasanmu itu sangat sulit untuk didekati kembali,” ucapnya seraya mengukir kernyih di salah satu sudut bibir. “Benar, ‘kan?”
***