
Suara gebrakan kasar diiringi dengan bertebarnya barang-barang yang berada di atas meja membuat Erick terkejut. Baru saja beberapa menit yang lalu dia diminta untuk menghadap komandan, sekarang ruangan itu sudah seperti gudang saja. Berantakan.
Mata cokelat Erick menatap ke arah Hubert yang berjalan menghampiri. Kedua alis pria itu menyatu amat tajam.
“Kenapa kau mematikan saluran komunikasinya?” tanya pria berperangai sangar itu.
Tentu saja Erick ingat kalau Adnan-lah yang mematikannya ketika dia mendekati pemuda itu dan melihat Adara
serta seorang pria di sana. Di balik pegunungan salju tersebut. Namun, dia lebih memilih untuk diam. Erick tidak akan memberitahukan hal ini pada Hubert meski pria itu adalah ayahnya.
“Jawab Ayah, Erick,” desis Hubert menekankan kalimatnya.
Netra mereka saling bertemu, sama sekali tidak memperlihatkan bahwa mereka terikat dengan hubungan ayah dan
anak. Siapa pun pasti paham bagaimana hubungan mereka berdua. Tidak ada kedekatan sama sekali.
“Erick!” sentak Hubert.
Erick menghela napas. “Aku minta maaf,” ucapnya.
“Kau tahu, kan, apa yang kau lakukan?” balas Hubert. “Kau melanggar aturan!”
Saliva Erick terteguk sempurna. Dia tahu, mau bagaimanapun dia mengelak, ayahnya tidak akan memercayai ucapannya.
“Apa sampah itu yang mematikannya?” Hubert mulai berbicara lagi. “Kalian melarikan diri dari medan untuk apa? Ada sesuatu yang kau rahasiakan dariku, ‘kan?”
Pemuda berambut cokelat itu menegapkan tubuh. Membentuk sebuah boundaries tak terlihat yang bisa dirasakan
oleh pria di depannya itu. “Aku tahu ini salah, tapi ini tidak ada hubungannya dengan sampah yang Ayah maksud,” ujarnya. Dia mafhum benar siapa sampah yang dimaksud sang ayah.
Siapa lagi kalau bukan Adnan?
“Apa Ayah masih belum puas mengirimnya ke Cosmo?” tanya Erick. “Ayah masih ingin menyiksanya lagi? Kenapa
Ayah tidak menghubungi pihak Cosmo saja untuk bertanya soal diri—”
“Cukup, Erick!” sela Hubert dengan nada bariton.
“Aku benar, ‘kan?” balas Erick. “Kalau Ayah penasaran, kenapa Ayah tidak bertanya dengan pihak Cosmo?”
Mata Hubert memicing tajam. Dia terdiam sejenak, berusaha menelisik isi pikiran putranya. Namun, sesaat kemudian dia menelan liur dan berbalik menuju meja kerjanya.
“Keluarlah sekarang!” pintanya.
Erick tersentak. Tidak biasanya sang ayah tidak memarahinya. Ada yang aneh dengan pria tersebut.
“Keluarlah, Erick!”
Sesaat setelah putranya keluar ruangan, Hubert berdecih. Dia bungkam sejenak, lalu kembali menatap pintu ruangan yang sudah tertutup.
“Tugasmu sudah selesai, Nak,” desisnya.
***
Pemuda berambut cokelat itu berjalan di koridor, tepatnya menuju ke ruangan Alan. Ada hal yang harus dia
bicarakan selain untuk meminta obat pengurang pegal-pegal. Diberi mandat sebagai kapten bukan berarti dia sehat-sehat saja. Erick bahkan merasa tubuhnya makin jompo sejak Adnan meninggalkannya.
“Aku akan ke ruanganmu sekarang,” ucapnya pada Alan melalui earphone.
“Aku sudah di ruangan, Erick,” balas Alan.
Erick terus menyusuri koridor dan berbelok ke kiri di persimpangan. Beberapa orang mengikutinya, entah untuk apa. Langkah pemuda itu terhenti. Dia hendak membuka pintu ruangan di depannya, tetapi urung. Helaan napasnya terembus begitu saja. Dia justru beralih meneruskan perjalanannya di koridor tersebut. Sampai di titik di mana posisinya sudah benar, pemuda itu kembali berhenti. Manik cokelatnya melirik.
“Kenapa kalian bersembunyi?” gumamnya lirih.
Selama sekian detik menunggu, tidak ada yang berkutik. Erick melanjutkan perjalanan. Namun, sepersekian menit
selanjutnya, dia sigap berbalik, satu tangannya menarik revolver yang terselip di pinggang, lantas menembak ke arah orang-orang yang mengikutinya.
Satu tembakan melukai pundak salah satu orang. Erick bergegas berlari meninggalkan mereka. Namun, harapannya untuk bebas pupus begitu saja. Sebagian orang tadi mengejarnya dan begitu cepat menyusul.
juga diburu, sama seperti putra Profesor Harris tersebut. Dan sudah pasti dia tahu siapa dalang di balik semua konflik ini.
Ya. Ayahnya sendiri.
Tembakan meluncur dengan keras dan hampir mengenai Erick. Pemuda itu berbalik sesaat dan melepaskan pelurunya, masih sambil berlari. Nahas, tidak ada yang mengenai mereka.
Erick mengaktifkan saluran komunikasinya dengan Alan kembali. Suara kemeresak terdengar sejenak.
“Alan!” serunya setengah berbisik supaya orang-orang di belakangnya tidak mendengar.
“E-Erick? Kau di mana? Kenapa belum sampai?” tanya Alan dari seberang panggilan. Suara tembakan kembali
memelesat, membuat Alan memelotot. “Erick! Jawab aku!”
Pemuda berambut cokelat itu berdecih. “Aku dikejar!” jawabnya. “Aku tidak punya banyak waktu sekarang.”
Alan yang sejak tadi duduk di kursi kerjanya langsung bangkit. Degup jantungnya memburu seolah turut merasakan hal yang sama dengan pemuda Frederick itu.
“Erick, beritahu aku lokasimu sekarang!” titahnya.
“Aku tidak bisa!”
“Erick!”
Sekian detik selanjutnya, saluran komunikasi terputus. Atau lebih tepatnya diputus oleh Erick.
Saat ini, dia berhenti dan berhadapan dengan beberapa orang, sementara di belakangnya 3 orang juga menghadang. Erick menyeringai di sela senyum kecutnya.
“Apa Ayahku yang menyuruh sampah-sampah seperti kalian menangkapku?” selisiknya.
Orang-orang itu tidak menimpali. Mereka mulai melayangkan bogem mentah ke arah pemuda itu. Perkelahian tak
terelakkan. Erick mengayunkan tinjunya, menangkis, serta menghalau serangan dari mereka.
BUKKK!
Sial. Sebenarnya, meski Adnan sudah berkali-kali mengajarkannya teknik bela diri, tetapi tetap saja Erick tidak bisa menyamai levelnya. Tendangan maut itu mengenai perutnya, berangsur tendangan keras yang mendarat di punggung. Erick tersungkur.
Sebuah pukulan terarah padanya. Dia menghindar dengan cepat dan membuat pukulan itu menghantam permukaan lantai. Pemuda itu bangkit dan berusaha melawan. Nahas, pukulan demi pukulan didapatkan olehnya. Dia kembali jatuh.
Sedikit cairan merah mengalir dari beberapa luka di wajah, termasuk sudut bibirnya yang pecah. Erick mendongak,
melihat beberapa netra menatapnya. Namun, sesuatu menghantam tengkuknya dalam sekejap mata.
Pemuda itu tersungkur sempurna dan tidak sadarkan diri.
***
Alan yang tergesa-gesa hendak ke luar ruangan. Namun, langkahnya terhenti ketika seorang gadis memasuki
ruangannya. Dia sedikit tersentak.
“Ada apa?” tanya gadis itu.
“Megan ….” Alan menghela napas sesaat. “Erick. Dia dalam bahaya!”
Manik gadis itu menyalang. Dia berbalik dan berlari ke luar ruangan. Alan turut menyusulnya ke satu arah. Namun, yang mereka dapatkan hanya sebuah koridor kosong yang terarah menuju ke gudang penyimpanan.
Megan merunduk, mendapati bercak darah di sekitar. “Ada pertarungan di sini beberapa saat yang lalu,” ucapnya.
Alan mengatur ritme napasnya. Sebagai seorang dokter sebenarnya dia tidak pandai berlari secepat anggota militer yang lain. Keningnya berkerut.
“Seseorang pasti menangkap bocah itu sekarang,” desisnya geram. Kedua tangannya mengepal erat.
Lain halnya dengan Megan. Dia berdiri sembari berpikir. “Dokter, sebaiknya kita ke ruangan sekarang,” pintanya.
Mereka saling bersitatap. Seolah tahu maksudnya, keduanya mengangguk.
***