AST

AST
57 . PENGKHIANAT



Belum juga Adnan berbicara kembali, pintu ruangan gelap itu terbuka. Pemuda itu menatap seseorang yang


memasuki ruangan. Hanya berupa siluet, tetapi dia sudah bisa menebak siapa orang tersebut.


“Kenapa kau kemari?” tanya Adnan setengah ketus. “Apa kau belum puas?”


Siluet pria itu membisu.


“Apalagi yang kau inginkan dariku?” ulang Adnan. “Kau ingin mempermainkanku lagi? Memanfaatkan kesempatan


dengan menggunakan identitas bodohmu itu?”


Embusan napas terdengar kasar dari dengkusan pria tersebut. Dia berkacak pinggang dengan masih memandangi


pemuda yang tidak bisa bergerak di depannya.


“Aku menyelamatkanmu. Kenapa kau tidak berterima kasih padaku?” katanya.


Adnan tersenyum picik. “Apa kau buta?” balasnya. “Mata itu benar-benar tidak cocok untukmu.”


“Adnan—”


“Memang benar, sejak awal aku tidak usah memercayaimu,” potong pemuda berambut hitam itu. “Kita tidak cocok dan selamanya akan begitu.”


Pria itu meneguk saliva. “Aku minta maaf,” katanya. Mendapati pemuda di depannya tidak menyahut, dia menghela


napas panjang. “Kau bisa membenciku sampai kapan pun, tapi untuk kali ini … bekerjasamalah denganku.”


Adnan terdiam. Melihat rupa pria itu saja dia sudah muak, apalagi bekerja sama dengannya. Pemuda itu bahkan


ingin segera bebas dan mengajak kabur Adara ke manapun jika saja ikatan yang membelenggunya sudah terlepas.


“Tidak ada yang akan membebaskanmu kalau kau tidak menuruti rencanaku,” ujar pria itu.


Pemuda bernama lengkap Adnan Harris tersebut mendongak. Menelisik sedikit ucapan pria yang dianggapnya kakak itu.


“Aku bisa menjanjikan kalian kebebasan,” imbuh pria tersebut.


Hening.


Adnan tengah berpikir, berusaha mencari jawaban yang sekiranya bisa membenarkan perkataan pria itu barusan. Beberapa menit kemudian, dia kembali menatap pria itu.


“Kau mau apa?” tanyanya.


Oscar Harvey tampak membisu sesaat. Dia berdeham. “Jadilah tanganku.”


***


“Kau akan membebaskan Adara juga?” tanyanya usai melihat pergelangan tangannya yang sedikit memerah.


Oscar terdiam.


“Oscar?”


Pria itu menoleh pada pemuda di sampingnya. Dia menghela napas. “Dia akan bebas,” ucapnya. “Tapi kalian tidak bisa bertemu untuk sementara waktu.”


Adnan mengernyit. “Kenapa?”


Oscar mulai melangkah mendahului, sementara Adnan tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Beberapa petugas terlihat berjalan di sekitar mereka. Sampai akhirnya, Oscar berhenti di depan sebuah ruangan dengan jendela kaca gelap. Kedua alis Adnan bertaut.


“Ruangan apa ini?” tanyanya.


Oscar menoleh, lantas mengangkat sebelah alis. “Kau akan tahu alasan kenapa kalian belum bisa bertemu


setelah melihat ini,” jawabnya.


Pria itu meminta salah seorang petugas untuk melakukan sesuatu pada sebuah kotak kecil di samping pintu besi. Jendela kaca yang mulanya gelap, perlahan menjadi terang dan transparan. Adnan mungkin bisa melihat sosok yang berada di dalam ruangan itu, tetapi tidak dengan sosok yang berada di sana.


Netra biru pemuda itu menyalang sekejap. Kedua tangannya sontak mendarat keras di jendela kaca dan menggedornya berkali-kali.


“ADARA! ADARA!!!” pekiknya.


Percuma. Gadis itu tidak akan mendengarnya, kecuali beberapa petugas justru mencekal pergerakan Adnan sekarang. Pemuda itu memelototi Oscar yang masih berdiri dengan wajah inosennya.


“Apa yang kau lakukan padanya?!” gertak Adnan. Kedua matanya memerah, terturut wajahnya yang berubah muram. “APA YANG KAU LAKUKAN?!!!!”


Oscar hanya menatapnya penuh ambigu. “Kalau kau bersedia, kau dan dia akan kubebaskan,” katanya. “Kau bisa


pegang ucapanku.”


Rahang Adnan menegang, keras. Gigi-giginya saling bergemeretak. Dia melirik, melihat kembali sosok yang


tengah duduk di dalam ruangan dengan cairan merah menggenangi sekitarnya. Wajahnya pucat pasi dengan kedua mata terpejam.


“Dia akan segera ditangani medis kalau kau setuju dengan permintaanku tadi.”


Adnan menoleh dengan bengis ke arah kakaknya itu. Dia memberontak dan melepaskan kasar petugas yang


mencekalnya. Kedua pasang mata biru itu bersitatap cukup lama.


“Katakan, apa yang harus kulakukan kalau aku menyetujuinya?”


***