
Manik mata seorang pemuda terbuka lebar. Ia meringis sejenak, merasakan sakit di sekujur tubuhnya usai kembali
menyelamatkan nyawa orang yang sama. Telapak tangannya meraba sekitar dengan otaknya yang perlahan merangkul kesadaran kembali.
Adnan sedikit tersentak merasakan tubuhnya yang kini berbaring di sebuah kendaraan besi yang tengah berjalan.
Samar-samar matanya terarah pada seorang gadis yang tengah bercengkerama dengan seseorang yang merupakan sopir kendaraan tersebut. Sepersekian detik selanjutnya, ia bangkit perlahan dan masih memandang gadis yang dikenalnya itu.
“Megan,” panggilnya serak.
Megan—gadis yang Adnan kenal—menoleh sigap dan menghampiri pemuda yang masih menahan sakitnya itu.
“Bagaimana, Kapten?” tanyanya cemas.
“Kau sudah sadar?” sahut sang sopir.
Adnan mengernyit dan tangkas menatap sumber suara yang ia dengar barusan. “Erick?” tanyanya ragu.
Pemuda yang masih memegang kemudi itu terkekeh. “Kenapa radarmu menghilang, Bodoh!” celotehnya sedikit kesal.
“Burung besi milik Aliansi Timur sudah mulai beroperasi, dan bodohnya, aku baru mengetahuinya sekarang,” kata
Erick, “dan kau ... ada apa dengan para prajurit? Kenapa aku hanya menemukan kau dan ... Megan?”
Adnan memandang Megan sejenak. “Kau kenal dia?” tanyanya.
“Kami barusan kenalan,” timpal Erick enteng.
“Kau kemari menyelamatkan kami?” Megan menyerobot bertanya. Keningnya mengerut sekejap.
“Tujuanku sebenarnya hanya ingin menyelamatkan Adnan. Tapi karena ia bersama denganmu, ya sudah sekalian saja,” jawab pemuda bersurai cokelat itu.
Erick memandang kaca mobil di mana Adnan yang meringis menahan sakitnya terpampang jelas di sana. “Kau terlalu berambisi menyelamatkan orang lain, Adnan. Kekasihmu tidak ketemu, tapi kau malah terkena lemparan batu dari aliansimu sendiri,” desisnya.
“Tubuhmu membentur sesuatu tadi. Setelah sampai di pangkalan, biarkan dokter langsung memeriksamu! Mungkin saja tulang punggungmu kembali retak seperti saat itu!” seru Erick kemudian.
Megan memelotot. “Kau pernah kecelakaan sebelumnya, Kapten?” tanyanya—lagi-lagi dengan mimik cemas. “Apa
pesawatmu pernah jatuh?”
Erick kembali terkekeh mendengar ucapan Megan. Gadis itu sepertinya tidak tahu apa-apa soal Adnan. Selang
beberapa detik kemudian, ia kembali fokus pada kemudi dan membawa kendaraan besi itu kembali ke pangkalan.
***
“Ayah!”
Erick tangkas masuk ke salah satu ruangan kerja dan menghadap seseorang yang ia panggil barusan. Netranya
memandang lurus ke arah pria di hadapannya.
“Apa kau sama sekali tak tahu aturan?!” Pria yang bersurai sama dengan pemuda itu sigap mematikan monitor
yang sejak tadi ia pandangi. “Kedudukanku di sini adalah komandanmu, bukan ayahmu,” katanya.
“Komandan yang bertugas di pangkalan ini hanyalah Ayah. Dan orang yang meminta para prajurit untuk bertugas hari ini adalah Ayah. Jadi—”
“Jadi?” potong pria itu.
Saliva Erick tertelan sempurna. Hubert—ayahnya itu—mungkin saja tengah merencanakan sesuatu sekarang.
“Ayah tahu jika Adnan berada dalam rombongan prajurit yang bertugas hari ini, ‘kan?” selisiknya.
Hubert bergeming seakan tidak peduli dengan ucapan putranya. Ia kembali menghidupkan monitor di hadapannya.
“Ayah jugalah yang telah membunuh semua prajurit yang bertugas, ‘kan?” selisik pemuda itu lagi.
“Bukan Ayah.” Hubert mulai membuka mulutnya. “Tapi pemimpin prajurit itu yang membunuh mereka. Dia terlalu bodoh.”
“Ayah!” hardik Erick. “Tapi Ayahlah yang merencanakan ini semua!”
“Kalau sudah tahu kenapa kau masih bertanya padaku, dan meminta bocah itu turut serta dalam tugas, hm?” Hubert memicing ke arah putranya sendiri, membuat Erick sedikit tersentak. Sepersekian detik kemudian, ia mendecih, dan kembali menghadap monitor.
“Kau masih terlalu bodoh melancarkan aksi laten, Erick,” katanya, “dan untuk apa kau masih mempertahankan hubungan kalian itu? Menyusahkan saja! Harris lebih baik mati daripada harus hidup mengambang di atas peperangan ini.”
Erick tersentak. “Ayah,” gumamnya bergidik.
Pantas saja aku mudah ketahuan. Astaga!
Hubert melirik putranya yang masih berdiri kaku dan kini bertingkah aneh itu.
“Ayah sudah tahu taktik bermainku, ‘kan?” Erick beralih memandang Hubert dengan sorot matanya yang tidak biasa. “Ayah hanya ingin menyingkirkan Adnan agar tak menggunakan Sarkan, ‘kan?”
Hubert sigap melemparkan pandangan kepada Erick hingga mata mereka bersirobok.
“Adnan tak tahu apa-apa soal Sarkan! Jadi kenapa Ayah terus menyingkirkannya?!” sergah pemuda itu kemudian.
Liur Hubert menerobos sempurna melewati kerongkongannya yang tercekat. Erick terlalu serius memandangnya hingga terbawa suasana yang semakin panas saja di ruangan ini.
“Dan Profesor Harris hanyalah peneliti,” ucap Erick kembali, “ia tak bisa menggunakan Sarkan. Jadi Adnan juga
tak mungkin bisa menggunakannya—”
“Apa kau pikir begitu?” sela Hubert.
Pemuda bersurai cokelat itu tersentak.
“Adnan jauh lebih profesional jika dibandingkan dengan kau yang hanya berada di ruang kendali. Ilmu dan praktik
militer ia juga jauh di atas kemampuanmu,” ujar Hubert. “Apa kau tak takut jika ia merebut posisimu demi Sarkan, huh?”
Erick kembali menelan ludah. Ia berdiri semakin kaku di posisinya. Terlebih, saat Hubert mulai bangkit dari kursi dan berjalan menghampirinya. Pria itu menepuk pundaknya.
“Pikirkanlah baik-baik ... demi Cosmo dan juga aliansi kita,” ucapnya, “pikirkan akan ke mana dan kepada siapa kau berpihak. Kepada Adnan, atau aliansimu sendiri.”
Hubert berlalu keluar ruangan, meninggalkan Erick yang masih terpaku di posisinya. Pemuda itu kalut. Otaknya
mulai penuh dengan berbagai hal rumit yang baru saja memasuki ruang berpikirnya itu dengan tiba-tiba. Tubuhnya jatuh, berlutut, dan hampir saja ambruk total. Ia meratap, memegang kepalanya yang terasa hampir pecah.
“Adnan takkan menggunakan Sarkan,” desisnya, “tidak akan. Tidak mungkin.”
***
Adnan bangkit sembari memegangi kepalanya yang kini telah diperban. “Kalau itu sih aku pasti sudah mati, Alan,”
katanya sembari mendengkus panjang.
Alan—sang dokter—memandangi pemuda itu sejenak. “Kau turut dalam tugas hari ini, untuk apa?” tanyanya menyelisik.
Pemuda bersurai hitam itu menoleh cepat ke arah Alan. Ia bergeming dengan sorot mata yang perlahan menyendu,
cukup lama.
“Apa kau mencari gadis itu?” tanya Alan memastikan.
Adnan masih bergeming. Sang dokter mengangguk mafhum.
“Kau berada di sisi lawan sekarang. Kau harus berhati-hati jika ingin mencari gadis itu,” ucap Alan. “Aku juga tak ingin mencegahmu melakukannya, meski kau hampir mati karena mencari gadis itu. Aku pun tak tahu, apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengannya. Tapi ... kau harus ingat posisimu sekarang, Adnan.”
“Aku tahu,” timpal Adnan.
“Lalu?” Alan menyelisik, memastikan jika pemuda di dekatnya itu tidak terbawa emosi.
“Aku hanya ... tak bisa melupakannya,” lirih Adnan.
Alan terdiam sejenak, lalu duduk di ranjang pemuda itu. “Yusagi Adara, ‘kan?” selisiknya lagi.
Adnan mengangguk.
“Informasi yang dikumpulkan mengenai dirinya sangatlah sedikit. Bagaimana dengan Erick? Apa dia sudah berhasil mencari info lanjutan soal gadis itu?” tanyanya.
“Entahlah. Aku tidak tahu,” jawab Adnan seraya mendesah.
“Kau tak ingin mencarinya sendiri?” tanya Alan lagi. Kali ini pertanyaannya mampu membuat pemuda itu tangkas menatapnya, sebelum akhirnya terkekeh.
“Kau bercanda?” Adnan mengerutkan keningnya.
Alan menggeleng. “Lebih baik jika kau mencarinya seorang diri,” katanya menimpali.
Adnan mendecih. “Apa kau pikir aku bisa mencari Adara dengan kondisi seperti ini? Orang-orang pangkalan dan juga komandan selalu memantau pergerakanku, Alan,” tuturnya.
Pria berkacamata itu tersenyum tipis meresponsnya. “Kalau mendengar kau berkata seperti itu, aku tidak
benar-benar menemukan jiwa Profesor Harris dalam dirimu, Adnan,” tukasnya sembari bangkit dari posisinya.
Adnan menoleh, memandang Alan lekat dengan keningnya yang saling bertaut seketika.
“Apa?” Alan turut menatap pemuda bersurai hitam itu dengan seringainya yang terukir jelas. “Aku benar, ‘kan?
Profesor Harris tak sepengecut dirimu,” celanya seraya berjalan menuju pintu ruangan.
Langkah dokter berkacamata itu terhenti sejenak. Embusan napas menerobos keluar dari lubang hidung dan mulutnya dengan kasar.
“Adnan,” panggilnya. “Jangan membuat dirimu larut dalam masalah. Ada banyak urusan yang harus kau selesaikan
mulai detik ini. Ini bukan perihal ayahmu. Tapi tentang siapa dan untuk apa kau di sini.”
Pemuda yang masih terduduk di ranjang itu memandang punggung Alan dengan cermat. “Aku tahu,” ucapnya, “terima kasih sudah mengingatkan.”
Alan bergeming. Tungkainya melangkah kembali keluar ruangan. Pikirannya kalut dan tidak ingin menekan emosinya menghadapi pemuda yang amat mirip dengan orang yang pernah ia kenal itu. Liurnya tertelan, membasahi kerongkongan sejenak. Embus napas lagi-lagi keluar dari lubang pernapasannya.
“Dokter Alan?”
Seseorang melihat pria berkacamata itu dengan raut wajah penasaran. Ia menghampiri Alan yang masih berdiri di
pintu ruangan yang sudah ditutup sebelumnya.
“Kau sudah memeriksa Adnan?” tanya pemuda bersurai cokelat yang barusan datang itu.
Alan mengangguk. “Kau sendiri ... dari mana?” tanyanya.
“Komandan,” jawab pemuda itu. “Aku menemuinya barusan.”
“Bukan untuk urusan ayah dan anak, ‘kan?” selisik Alan dengan keningnya yang saling menaut.
Erick—pemuda itu—tersenyum tipis. “Entahlah,” jawabnya. “Menurutmu?”
Alan mendecih sejenak. “Ayahmu itu ....” Ia menatap lurus ke arah Erick. “Ia ingin menyingkirkan Adnan dan
memintamu menggunakan Sarkan, ‘kan?” selisiknya lagi, menekankan setiap kata dalam ucapannya barusan.
Erick hampir saja tersentak. Pria di hadapannya itu sepertinya tahu rencana picik sang ayah, atau bahkan dirinya.
Saliva tertelan sempurna saat mengetahui Alan melemparkan sorot mata serius dan penuh kerahasiaan itu kepadanya.
“Kau tahu apa soal Sarkan, huh?” Erick balik melontarkan pertanyaan kepada pria berkacamata itu.
Alan menunjukan seringai tipisnya. “Apa aku harus menjawab pertanyaan bodohmu itu?” tanyanya balik. “Kau harus mengasah kemampuanmu lebih keras lagi dari Adnan jika ingin mengontrol Sarkan. Clibanarii sejenisnya takkan berguna di lapangan jika dipegang oleh orang yang tidak profesional.”
Pria berkacamata itu melangkah menuju Erick hingga berhasil melewatinya, setelah sebelumnya ia menepuk mantap pundak pemuda itu dan berkata; “pikirkan baik-baik posisimu sekarang, Erick.”
Erick menggertak, kesal terhadap semua orang yang memperlakukan dirinya seperti itu. Baik ayahnya ataupun Alan, semua dianggapnya sama.
Matanya memandang pintu ruang rawat Adnan sejenak. Ia menggeram kasar sampai membenturkan kepalan tangan ke dinding di dekatnya. Otaknya lagi-lagi kalut dan memaksanya untuk tidak masuk ke ruangan itu.
Kesal. Amat kesal.
Pemuda itu berjalan kembali, tidak menuju ruang rawat, tapi berjalan lurus, mengabaikan pintu ruangan yang
tertutup rapat di mana ada seorang pemuda yang sejak tadi mendengar percakapan dirinya dan dokter berkacamata itu.
Adnan tercenung. Ia meringkuk, merangkul kedua lutut dengan kepalanya yang sengaja ia sandarkan di sana.
Matanya menyendu, memandang daun pintu yang tertutup. Aroma cemara masih bisa ia hirup dengan sempurna meski pikirannya kini gundah. Sosok seseorang sempat terlintas dalam benak, dan membuatnya semakin kacau.
“Sebenarnya ... maumu apa, Ayah?” gumamnya.
***