
Oscar terdiam. Satu tangannya memegangi dagu sejak beberapa saat yang lalu. Otaknya tengah kalut, memikirkan
sesuatu yang tiba-tiba saja mengurai fokus dan tujuannya. Tampak pula dari dadanya yang naik-turun, menghela napas berkali-kali meski sebenarnya dia jengah dengan situasi semacam ini.
Seorang pemuda tampak masuk ke ruangan dan langsung mengerutkan kening menatapnya. Tidak biasanya sang kakak memasang tampang seperti itu. Pemuda tersebut berjalan mendekati pria tadi.
“Ada apa?” tanyanya.
Pria bermata biru itu sontak menoleh. “Ah, tidak,” katanya. “Bukan apa-apa.”
Kerutan di dahi Adnan makin tajam hingga membuat kedua alisnya hampir menyatu. “Aku bisa membaca kebohongan orang lain hanya dari sorot matanya saja,” ujarnya. “Apa yang kau sembunyikan dariku detik ini?”
Helaan napas menguar bebas ke udara. Oscar berdecak lirih, kesal karena sang adik ternyata lebih pintar darinya. Dia menatap lurus ke arah Adnan sesaat.
“Temanmu,” jawabnya. “Sesuatu terjadi padanya. Anak buahku baru saja melaporkannya.”
Adnan langsung terkesiap. Dia meremas pundak sang kakak yang masih terduduk di kursi itu. “Ada apa?” tanyanya
menggurui. “Ada apa dengan Erick?”
“Kau tenanglah dulu,” ucap Oscar.
“Bagaimana aku bisa tenang, Oscar? Dia sahabatku!”
“Iya, aku tahu, Adnan.”
Oscar bangkit dari posisinya dan kembali menatap layar di depan. “Ada sesuatu yang tidak beres di pangkalan,”
ucapnya, lalu menoleh kepada sang adik yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya dan kekhawatiran yang tinggi. “Jika kita tidak membuat rencana cadangan, maka kedatangan Anthony akan menjadi bidak selanjutnya bagi Hubert untuk melancarkan ambisinya.”
Saliva Adnan terteguk sempurna. “Apa … apa maksudmu ….” Otaknya berpikir dengan cepat, merengkuh keadaan yang sebenarnya dia sendiri harus terpaksa ikut campur di dalamnya. “Jangan-jangan ….”
Kedua mata biru Adnan membola ketika mendapati sorot keseriusan di netra sang kakak. Oscar mengangguk pelan. Adnan tercekat, hampir menutup mulut. Dia bahkan belum memberitahukan hal ini kepada Erick, tetapi ….
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya kemudian.
Oscar menggaruk dagunya sesaat sembari mengamati layar yang menunjukkan berbagai elemen berupa angka dan huruf yang saling berkaitan membentuk jarring virtual—entah apa artinya, hanya dia yang tahu. Dia terdiam cukup lama sampai membuat Adnan hampir frustrasi.
“Oscar!”
Pria itu menoleh. Sungguh, ini benar-benar di luar perkiraan. Dia tahu bahwa ada banyak pengkhianat di sekitarnya
yang membuat Hubert bisa mengetahui rencana kunjungan Anthony besok. Dan juga, keberadaan Erick mungkin menjadi ancaman bagi ayahnya sendiri mengingat pemuda itu tidak pandai berbohong. Ini semua saling berkaitan dan Oscar tidak boleh salah mengambil langkah.
Sedikit saja meleset, maka kejadian lima tahun lalu akan terulang kembali.
“Oscar, aku ….” Adnan menggantung ucapannya. Dia sedikit ragu, bahkan dengan pola pikirnya sendiri. “Apakah
ini akan berhubungan dengan aliansi timur?” tanyanya kemudian.
Oscar tidak mengangguk. Dia justru kembali berpikir, terlihat dari sorot matanya yang melihat ke sana-kemari seolah mencari jawaban dan solusi atas semua masalah semrawut ini.
“Oscar, bagaimana jika—”
“Semuanya pasti berkaitan, Adnan,” sela pria berambut hitam tersebut.
Adnan tersentak. Tangannya hampir mengepal.
“Kau tahu soal kejadian lima tahun lalu? Bahkan sebelum itu?” Oscar menyandarkan bokongnya di tepi meja, melipat kedua tangan di depan dada, dan menatap sang adik yang berdiri mematung di dekatnya. Namun, sorot matanya berubah sendu sekian detik kemudian. “Kejadian yang merenggut nyawa ayah kita,” imbuhnya. “Itu juga sudah direncanakan oleh ayah dari rekanmu.”
Pemuda bermanik biru itu terkejut bukan main. Rahangnya menegang. Otot-ototnya mulai menyembul dengan
“Kita tidak bisa menangkapnya karena lemahnya bukti-bukti serta kepangkatan yang dimiliki oleh Hubert,” ujar
Oscar. “Dan juga, ada banyak pembelot di sekitar kita. Bahkan, orang terdekat kita pun bisa menjadi seekor tikus yang termakan oleh hasutan sang ular.”
Mata biru Oscar tampak berkilat. Relung ruangan itu mendadak hening, menguasai atmosfer ruangan yang
semakin membeku karena pendingin ruangan. Pria itu menghela napas panjang dan sedikit menggigit bibir bagian bawahnya. Dia kembali melihat layar, menekan sebuah tombol di keyboard hingga memperlihatkan sesuatu di sana.
“EWF?” gumam Adnan.
Oscar berdeham menimpali. “Hubert tahu soal ini,” ujarnya. “Dan dia menggunakan kesempatan operasi militer 5
tahun lalu untuk memakai sistem ini, melenyapkan kunci yang lain, dan mengambil alih tatanan dunia … ah, tidak, lebih tepatnya, Hubert ingin menguasai kepemimpinan dunia.”
Adnan meneguk liur, membasahi kerongkongannya yang mengering sejenak. “Jadi, yang membunuh ayah Adara juga dia, ‘kan?” tanyanya yang ditimpali dehaman lagi oleh kakaknya.
“Tapi, dia cukup bodoh.” Oscar menatap Adnan yang lurus memandanginya. Seringai terbentuk di salah satu sudut
bibir pria tersebut. “Dia tidak tahu kalau ada aku di sini,” lanjutnya.
Adnan terdiam. Dia cukup mengerti kenapa selama ini seorang Oscar Harvey disembunyikan oleh banyak orang, termasuk orangtuanya sendiri. Bakatnya sudah terlihat sejak dini dan dia diramalkan akan menjadi penyelamat dunia di masa depan. Seperti sekarang, Oscar tampaknya memiliki banyak andil. Apalagi sejak dirinya kembali ke Cosmo dengan identitas baru yang bahkan tidak banyak orang yang tahu kalau dirinya adalah putra pertama dari Profesor Reynald Harris. Hanya Morgan dan Anthony yang tahu, selebihnya orang-orang di Cosmo hanya kacung-kacung dari Hubert dan pengkhianat massal dari aliansi timur. Mereka tidak tahu soal identitas asli Oscar.
Suatu keberuntungan pula bagi Adnan bertemu dengannya di sini. Benar yang dikatakan pria itu barusan, Hubert
mungkin tidak tahu kalau Oscar ada di Cosmo. Dan kemungkinan lainnya adalah komandan aliansi barat di bumi itu tengah kebingungan saat ini dan mulai sadar kalau ada pembelot yang tengah berusaha mengancam kedudukannya.
Hanya saja, Adnan memikirkan sesuatu. Apakah Adara bebas dari para pengkhianat selama di aliansi timur?
Apakah gadis itu sudah tahu tentang kenyataan pahit soal kematian ayahnya?
***
Memikirkan beberapa hal sekaligus membuat Adnan tidak bisa tidur. Isi otaknya penuh. Jam di bumi sudah
menunjukkan pukul sebelas malam dan matanya masih terang benderang saja.
Dia terduduk setelah gagal memaksa kedua berlian birunya untuk menutup sempurna. Selimut putih yang menyelimuti tubuhnya tergerai, menampakkan tubuh bagian atasnya yang telanjang. Suhu dingin makin bergelayut manja meski Adnan sudah menyetel penghangat ruangan.
Pemuda itu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju jendela kaca di samping kanan tempat tidur. Dia menatap ke luar kaca yang langsung menampakkan ruang hampa di luar sana. Bebatuan melayang bebas, sedikit kacau karena ada sampah antariksa di sekitarnya. Bayangan planet biru Nampak begitu eksotis. Entah untuk berapa lama
lagi warna indah itu akan terpupuk di sana.
Adnan duduk di kabinet jendela. Satu tungkainya dinaikkan ke atas hingga tangannya bisa bergelantung manja pada puncak lututnya yang bertekuk. Netra birunya yang melihat ke luar menampakkan pemandangan dengan jelas. Sedikit kosong, karena memori masa lalunya kembali terngiang.
Senyuman terakhir Adara untuknya sebelum dirinya berangkat ke Cosmo, berubah menjadi raut menyedihkan
gadis itu di perjumpaan pertama mereka kemarin setelah sekian lama. Adnan tercenung, membayangkan betapa banyak penderitaan yang sudah dilewati gadis itu sampai wajahnya yang lugu berubah menjadi tegas dan penuh dengan rasa amarah.
“Kau baik-baik saja?”
“Ya sudah. Aku akan menjemputmu sepulang sekolah nanti.”
“Besok? Hanya butuh dua sampai tiga jam perjalanan kereta ke sana, ‘kan?”
“Tak apalah. Aku kan bilang ingin menjemputmu, bukan ingin ketemuan denganmu.”
“Tunggu aku, ya!”
***