
Jo menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke tanah. Embusan napas panjang menerobos sempurna dari lubang hidung dan mulutnya. Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari posisinya telah merenggut kesadaran pemuda itu kini.
“Kau menyukainya?” sahut seseorang yang langsung duduk di samping Jo.
Pemuda itu lantas mengangkat kedua alis, menatap pria yang baru saja duduk itu. Ia menggeleng.
“Apa Letnan mengenalnya? Sepertinya mereka begitu dekat,” ucap Sam—pria itu—sembari memandang ke arah Adara dan Jason di depan sana.
“Entahlah,” timpal Jo setengah melirih.
Sam bergeming. Matanya kini menatap langit di mana gelap mulai menghampiri posisi mereka. Sejenak beralih memandang keseluruhan APC dan Clibanarii yang terparkir secara acak di sekitarnya. Dokter Kei memberi tatapan sejenak untuknya, tapi ia abaikan.
“Apa spot cabang masih jauh dari sini?” tanya Jo memecah keheningan.
Pria itu berpikir sejenak. “Menurut peta sih ... iya. Masih sangat jauh. Tapi kita masih terus berusaha menghubungi pusat agar segera mengirimkan bantuan kemari. Karena jika tidak ....” Sam menggantung ucapannya. Matanya tertuju pada gadis kecil yang berlari menghampiri mereka, lalu tangkas memeluk Jo. Ia tersenyum sembari mengacak-acak rambut bocah perempuan itu.
“Kau sudah makan?” tanya Jo pada adiknya, Jun. Gadis kecil itu mengangguk cepat. “Apa makanannya enak?” tanya Jo lagi.
“Enak,” jawab Jun. “Daripada aku makan kalengnya!”
Sam lantas tertawa merespons jawaban bocah itu. Dia kembali mengacak-acak rambut Jun yang hitam legam itu, sebelum akhirnya seseorang mengubah fokus mereka. Pria itu memandang sosok yang baru saja menghampiri, lalu bangkit dari posisinya. “Istirahatlah di APC untuk malam ini,” ucap Sam sebelum akhirnya berlalu bersama Jason di sisinya.
Sementara itu, Jo memandang kepergian dua pria itu. Mereka seperti tengah membicarakan hal yang bahkan tidak dirinya ketahui. Sampai sekian detik kemudian, Adara mengurai lamunan pemuda itu.
“Kau sudah makan?” tanya gadis itu sembari berlutut di dekat Jo. Pemuda itu lantas mengerutkan kening ke arah Adara dan membuat gadis itu salah tingkah. “Kenapa?”
“Jangan menatapku seperti itu!” sergah Jo seraya bangkit dari duduknya.
Adara mengernyit. “Ada apa denganmu?” selisiknya.
Jo memandang gadis itu penuh arti. “Kau ... menyimpan sesuatu dariku, ‘kan?” ucapnya balik bertanya. “Ada apa dengan hubunganmu dan Letnan? Kalian seperti sudah mengenal lama.”
Liur Adara terteguk. Dia lantas setengah tertunduk. Benar sekali seperti dugaan Jo. Gadis itu menyimpan sesuatu.
Jo menghela napas sejenak. “Istirahatlah,” titahnya melirih. “Biar aku yang berjaga malam ini.”
“Aku minta maaf.”
Kedua alis Jo terangkat sekejap mendengar ucapan Adara barusan. “Untuk apa?” tanyanya. “Untuk rahasiamu?”
Gadis itu seketika mengangkat pandangan, menatap pemuda di hadapannya.
“Sudahlah, tak apa,” ucap pemuda itu. “Lagipula ... bukan urusanku untuk mengetahuinya.”
Gurat senyum terukir sempurna di sudut bibir pemuda itu, sebelum akhirnya ia mengajak Jun kembali ke APC. Sementara itu, Adara masih terpaku pada posisinya. Gadis itu berkali-kali mengatur ritme napasnya supaya kembali normal.
Sepersekian menit selanjutnya, pandangan gadis itu mengarah ke langit. Burung-burung tampak mulai menuju peraduannya. Dia meneguk saliva seraya memikirkan sesuatu yang masih saja mengganjal di otaknya hingga kini. Keberadaan seseorang yang masih saja menjadi misteri bagi Adara dan juga tentang respons ibunya nanti saat dia dan rombongan pengungsi tiba di pusat.
“Kau belum kembali ke APC rupanya,” ucap seseorang tampak menghampiri gadis itu.
Adara beralih memandang pria itu. Ia menghela napas panjang sejenak.
“Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan,” ucap pria itu.
“Tapi, Letnan—“
Jason mendesah panjang, memotong ucapan gadis di dekatnya itu. “Sudah kubilang, ‘kan, panggil Jason saja. Tidak usah pakai jabatan,” katanya sedikit kesal.
“Tadi kupanggil Kapten pun kau menurut saja,” gerutu Adara. “Anu ....” Adara kembali membuka mulut. “Apa sudah ada balasan dari pusat lagi?” tanyanya kemudian.
Pria itu menggeleng menimpali. “Jangankan pusat, spot cabang saja seperti kehilangan nyawanya saat ini,” katanya. “Kita Cuma punya waktu tiga jam untuk beristirahat sebelum pesawat musuh kembali menyerang. Sebaiknya kau istirahatlah!”
“Jelas saja aku menyuruhmu untuk istirahat, Adara,” ucap pria itu setengah menahan tawa. “Kalau kau sakit, lantas siapa yang memimpin kami jika pasukan musuh kembali menyerang, hm?”
Adara tangkas menatap Jason. Pria itu mengedikkan alisnya sejenak, mengisyaratkan ucapannya yang penuh arti. “Aku ... masih belum bisa,” lirih gadis itu. Helai rambuthitamnya menari anggun terhempas angin. “Aku pasti tidak akan bisa,” lanjutnya, masih dengan nada yang sama.
Jason memandang gadis di depannya itu. Kesunyian merengkuh keduanya selama sekian menit. “Tenangkanlah
dirimu dahulu,” ucap pria itu kemudian. Diamemandang ke berbagai arah, enggan menatap Adara.
Sementara itu, gadis berkuncir itu kini memandang Jason dan menunggu pria itu kembali mengatakan sesuatu padanya, seperti beberapa saat yang lalu sebelum dia menghampiri Jo.
“Kau pikir ... Paladin menunggu siapa sekarang, hm?” Pria itu kembali membuka mulut, dan melontarkan sebuah pertanyaan yang langsung menohok gadis di hadapannya. Gurat kernyih terukir jelas di sudut bibir Jason dan Adara bisa melihatnya dengan jelas.
“Aku tak mungkin mengontrol Clibanarii itu dengan tangan kotorku, Adara,” lanjutnya. “Jadi, kuharap kau mempersiapkan dirimu mulai saat ini.”
Adara mengangguk mengerti sebelum Jason menepuk mantap pundaknya dan berlalu. Memang sudah menjadi tanggung jawab gadis itu untuk saat ini, melindungi koloni aliansi timur yang tersisa. Namun, di lain sisi, dia tidak ingin menorehkan kembali luka lama karena kehilangan ayahnya akibat peperangan lima tahun lalu. Goresan itu masih terasa perih dirasanya dan Adara sungguh tidak ingin mengukirnya semakin dalam.
Netranya kembali memandang langit jingga yang semakin menggelap. Liurnya beberapa kali tertelan, sembari mencoba menafsirkan sosok yang selama ini masih terkunci erat di pikirannya.
Di mana kau sekarang?
***
Seorang pemuda tampak membuka mata. Sesuatu tiba-tiba saja bertandang di otaknya. Bayang-bayang akan sosok gadis yang selama ini ia cari, lagi-lagi muncul di mimpinya.
Adnan sigap bangun dari tidurnya dengan tertatih. Rasa sakit di punggungnya masih mendera sampai sekarang. Berkali-kali ia berusaha untuk sekadar berdiri dan berjalan keliling ruangan, tapi sepertinya rasa sakit memenangkan taruhan mereka kali ini. Pemuda itu menyerah dan kembali terbaring di ranjangnya. Sekarang pun, Adnan hanya bisa terduduk di kasur medis yang bahkan tidak cocok untuk pesakitan sepertinya. Hubert benar-benar membuat pemuda itu merengkuh derita semakin banyak kali ini.
“Sudah bangun?” sahut seseorang yang baru saja memasuki ruangan.
Pemuda itu menoleh ke arah pintu dan mendapati orang yang sama dengan pendatang kamar rawatnya beberapa waktu lalu. “Sudah jatahnya periksa lagi?” tanyanya ragu.
Alan terkekeh sejenak menanggapi pertanyaan Adnan. Pemuda itu sepertinya bosan berada di kamar, terlihat dari ekspresi kusutnya saat ini. “Belum,” jawabnya. “Aku hanya ingin kemari saja.”
Adnan tidak menanggapi. Ia hanya memandang sang dokter yang kini duduk di tepi ranjang dan membalas tatapannya.
“Memikirkan sesuatu?” selisik Alan, membuat pemuda itu lantas bergeming. “Adara. Kau memikirkannya?”
Adnan masih terdiam. Pandangannya diarahkan keluar jendela kamar yang terbuat dari kaca tebal. Sementara itu, Alan terturut memandang ke arah yang sama.
“Erick berhasil menyelesaikan misinya,” ucap pria itu, merengkuh fokus Adnan untuk menatap dirinya. “Spot Ankaa milik aliansi asalmu berhasil dihancurkannya.”
Bola mata biru pemuda itu melebar seketika. Napasnya terasa mencekat sekejap, teriring emosinya yang siap meledak kapan pun dia menginginkannya. Sang dokter kembali memandang lurus ke arah pemuda itu sebelum akhirnya mendaratkan salah satu tangannya tepat di pundak Adnan.
“Kau ... sudah paham maksudku, ‘kan?”
Adnan masih bergeming dalam keterkejutannya. Ia mafhum benar alasan Erick menghancurkan spot milik aliansi timur. Apalagi kalau bukan pemuda itu menuruti keinginan atau persyaratan ayahnya sendiri.
“Adnan?” Alan menepuk pundak pemuda itu, berusaha mengurai lamunannya karena sang dokter melihat napas Adnan semakin memburu.
Selang beberapa detik, Adnan merunduk, mendaratkan kepala di antara kedua lututnya yang bertekuk. Dia tidak peduli dengan rasa sakit di punggungnya. Kesakitan akan perlakuan Erick padanya kini jauh lebih perih jika dibandingkan bekas kecelakaan itu. Berkali-kali satu tangannya yang lain terkepal dan menghujam kasur amat keras.
Sementara itu, Alan sendiri memilih diam. Ia sudah tidak bisa mencegah semua hal yang telah terjadi kini. Embusan
napas panjang menerobos sempurna dari hidungnya. Pria itukembali melemparkan pandangan ke luar jendela.
Kau benar-benar telah membawa sahabatmu sendiri ke lubang neraka, Erick.
***