AST

AST
PHASE 45 . SAPAAN PERTAMA




Sejak selesai mengoperasikan Paladin, Adara terus memikirkan sosok pemuda yang bertemu dengannya kemarin.


Bayang-bayang Adnan terus bergelayut dengan manja di relung otaknya, bahkan tidak bisa lenyap begitu saja. Begitupun hari ini, di saat dirinya memandang rupa Paladin di depannya, sosok pemuda itu lagi-lagi terngiang.


“Apa yang salah dengannya?” gumam Adara. “Dia … tidak berubah.”


Perlakuan Adnan yang menyingkirkan butiran salju di kepalanya kemarin membuat lekuk manis di bibir gadis itu terbentuk sekejap. Dia tertawa, lalu duduk bersila dan mendongak, menatap Paladin yang sorot matanya kosong.


“Hei,” sapanya. “Bagaimana jika Entanglement itu membuatmu juga merasakan hal yang sama seperti apa yang


kurasakan?”


Clibanarii itu membisu. Hanya suhu dingin ruangan yang membuatnya makin membeku.


“Bagaimana kalau Ayah dan Profesor Harris membuat kalian hanya sebagai kado saja?” gumam Adara. “Tapi sepertinya tidak sesimpel itu.”


Gadis itu menghela napas sejenak. “Bagaimana jika … er, aku tidak ingin bicara terlalu banyak, tetapi apa kau … bisa mengerti apa yang kuucapkan barusan?”


Paladin masih bungkam. Yang benar saja? Gadis itu sudah mulai gila dan berbicara sendiri padanya. Bagaimana


bisa sebuah robot bisa membalas ucapannya sekarang?


Adara mengembuskan udara dari lubang hidung dan mulutnya kembali. Dia bangkit dan berbalik. Namun, tiba-tiba


saja sebuah lampu menyala. Cahayanya yang memantul pada dinding ruangan di seberang Adara Nampak berkedip beberapa kali. Gadis itu sontak berbalik dan mendongak, mendapati mata Paladin hidup.


Senyum Adara merekah. Bagaimanapun, memiliki sesuatu yang bisa diajaknya bicara adalah hal yang paling


diinginkannya setelah sepeninggal Nancy. Ah, Adara mungkin sudah mengubur dalam-dalam soal temannya tersebut. Gadis itu sekarang naik ke kokpit dan melihat sebuah layar semut muncul di atas dashboard Paladin.


“Hm? Saluran komunikasi dari mana ini?” gumamnya, lalu duduk dan menekan sebuah tombol di sisi kanan dashboard.


Layar semut berubah menjadi layar bening yang menampakkan sosok pemuda dari kepala sampai dada tengah duduk di sebuah kursi. Itu bukan kursi di kokpit, melainkan di sebuah ruangan. Adara terdiam, sedikit terkejut ketika bisa melihat wajah itu untuk yang kedua kalinya setelah pertarungan mereka kemarin. Ceruk tipis terukir di bibirnya tanpa sadar. Sebentar kemudian, pemuda itu menyadari keberadaannya. Keduanya saling bersitatap.


“Hai,” sapa pemuda berambut hitam tersebut. “Are you okay?”


Adara tidak mampu berkata-kata. Dia malah menutup mulut dengan tangan, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya detik ini. Matanya yang cokelat terang mulai berkaca-kaca. Sementara itu, pemuda di layar mengubah raut wajahnya menjadi bingung.


“Kau kenapa?” tanyanya.


Meski seberani apa pun Adara di medan perang, bukan berarti dia tidak bisa menangis ketika menghadapi sesuatu yang berkaitan dengan hati dan perasaannya. Bagaimanapun, dia adalah wanita, sosok yang mudah menangis kapan pun dirinya mau. Seperti detik ini, tanpa sadar, butiran air itu jatuh dan mengalir membasahi pipi. Rasa-rasanya, pelupuk Adara sudah berubah menjadi genangan air sekarang.


“Jangan menangis,” ucap pemuda di layar. “Kalau kau menangis, aku tak bisa mengusap air matamu dari sini.”


Isakan itu keluar berbarengan dengan kekehan. Bisa-bisanya pemuda itu bercanda di saat segenting ini. Adara


mengulurkan tangan menyentuh wajah pemuda tersebut. Meski tidak bisa menyentuhnya secara langsung, tetapi dengan kondisi seperti ini, Adara bisa merasakan energi positif yang merengkuh keduanya.


“Kau sudah makan—” Menyadari sesuatu yang salah, pemuda itu tampak menepuk jidar. “Harusnya aku punya


pertanyaan lain selain itu,” katanya menahan tawa. Dia berpikir sesaat. “Apa meatball di sana rasanya masih enak?”


Adara sontak tertawa pelan. Dia menyeka air mata sejenak. “Apa kau pikir aku bisa makan meatball dalam kondisi seperti ini?” balasnya. Lawan bicaranya hanya terkekeh menimpali. “Di mana kau sekarang?” tanyanya kemudian.


Adnan—pemuda bermata biru itu—sigap mendongak ke sekitar, lalu kembali menatap layar. “Aku di ruangan kerja


kakakku,” jawabnya.


Kening Adara lantas berkerut. “Kakakmu?”


“Apa kau akan menceritakannya sekarang?”


“Tidak,” jawab Adnan cepat. “Er, sebenarnya, aku hanya ingin mencoba apakah saluran komunikasi di Cosmo bisa


tersambung dengan private-com milik Paladin.”


“Kau di Cosmo?”


Adnan terlihat menggaruk kepalanya yang tidak tinggal seraya mengangguk. Sebuah kebiasaan ketika seseorang


tengah kebingungan mencari bahan obrolan. “Kubilang, ceritanya sangat panjang,” katanya.


Gadis berambut hitam itu hanya mengangguk. Dia sendiri juga bingung dan tampak kikuk karena ini kali pertamanya mereka berkomunikasi setelah sekian lama berpisah, meski tidak secara langsung.


“Kau—” Lagi-lagi mereka bicara bersamaan.


“Kau dulu,” ucap Adnan.


Adara berpikir sejenak. “Apa kau … bisa mengajarkanku bagaimana cara membuat saluran komunikasi seperti ini?”


tanyanya. Sepertinya, topik ini lebih penting dari sekadar bertanya soal makanan atau sedang apa dan di mana yang biasa menjadi topik awal obrolan antar kekasih.


Pemuda itu tampak berbicara dengan seseorang di dekatnya sejenak—meski tidak tampak di layar milik Paladin.


Dia kembali memandang ke arah layar. “Kalau kau mengenal teknisi Clibanarii di sana, cobalah untuk menanyakan hal ini padanya, Adara,” ujar Adnan. “Dia mungkin bisa membantu kita lebih mudah untuk berkomunikasi.” Namun, orang di dekat Adnan lagi-lagi mengajaknya bicara selama sekian menit. “Ah, dia …,” gumamnya.


“Dia?” sahut Adara. “Dia siapa?”


Adnan tersentak. Fokusnya kembali ke layar. “Ah, tidak. Tiba-tiba aku teringat soal pengontrol Clibanarii jenis baru milik aliansimu,” katanya. “Apa kau mengenalnya?”


Gadis berambut hitam itu berpikir selama beberapa detik. “Oh, itu,” timpalnya. “Tentu saja aku mengenalnya. Dia kapten kami sekarang.”


“Kapten?” Adnan menyatukan kedua alis seketika.


Adara mengangguk. “Jason Kim,” ucapnya, lalu mendekatkan wajah ke layar hingga tersisa sekian sentimeter. “Dia


mengenal ayah kita,” imbuhnya setengah berbisik.


Raut wajah Adnan tampak berubah. Sorot matanya tampak berkeliaran tak tentu arah seolah menyadari sesuatu. Dia menatap seseorang di dekatnya yang masih belum diketahui Adara. Sekian menit berlalu, pemuda itu kembali memandangi layar.


“Kau tahu sesuatu tentangnya?” tanyanya.


“Kalau kuberitahu, apa itu akan membuat kalian mencari titik kelemahan kami?” balas gadis bermata cokelat tersebut, membuat sang lawan bicaranya sontak meneguk saliva. “Aku tidak mungkin memberitahukannya, ‘kan?”


Adnan menatap seseorang di dekatnya sebentar. “Harusnya kau tanyakan sendiri padanya,” katanya.


“Kau bicara dengan siapa?” Adara menginterupsi karena dirinya penasaran dengan sosok tak terlihat di layar.


“Ah, dia—”


Belum sempat Adnan bicara, seorang pria menyerobot dan kini wajahnya memenuhi layar. Dia tersenyum lebar,


lantas melambaikan tangan. Sementara itu, Adara langsung terlonjak dari kursi, hampir saja jatuh.


“K-kau siapa?”


Pria itu tertawa. “Aku Oscar Harvey, kakak pacarmu,” jawabnya. “Salam kenal, Adik ipar!”


***