AST

AST
PHASE 43 . PERJUMPAAN PERTAMA



Tanpa sadar, butiran air itu kembali mengalir membasahi pipi Adara. Dia terisak, bahkan ketika rasa sakit pada pergelangan tangan kanannya membuatnya hampir mati rasa. Tangan kirinya yang mengepal memukul dashboard dengan sempurna.


Dia tidak bisa melakukannya setelah apa yang dilihatnya barusan. Pemuda itu menyerangnya tanpa ampun, meski


dirinya benar-benar tidak ingin menumbangkan Clibanarii tersebut. Fase yang terjadi inilah yang membuat Adara berpikir kalau Adnan tidak mungkin berubah.


Tapi, kenapa?


Kenapa pikiran itu tidak mampu membuatnya percaya akan kata-katanya di masa lalu?


Adara turun dari kokpit usai mendaratkan Paladin di antara pegunungan es yang masih diselimuti sedikit badai. Cukup membekukan jika saja seragamnya tidak setebal mantel musim dingin. Setelah meluncur membelah langit, Paladin mengepulkan banyak asap, membuat jejaknya menghilang dan berharap Sarkan tidak bisa mendeteksinya lagi. Sangat bodoh menurut Adara yang baru saja mengontrol sebuah Clibanarii langka seumur hidupnya.


Langkahnya terhenti saat mendengar langkah seseorang di depan sana. Pandangannya terangkat, melihat sesosok pemuda yang berdiri menghadapnya—sekitar 10 meter. Saliva Adara terteguk. Benar, sang pengontrol yang dilihatnya di layar kokpit Paladin tadi adalah orang yang sama dengan sosok yang berada di depannya saat ini. Senyuman gadis itu bahkan terlihat getir terukir dan tidak mampu menepis keraguan dalam benaknya.


Sementara itu, Adnan kembali melangkah. Namun, ketika jarak dirasanya hanya tersisa beberapa meter lagi, gadis itu justru beringsut mundur. Dia lantas berhenti.


“Kenapa?” Suara itu berasal dari bibir Adara yang bergetar. “Ada apa denganmu?”


Adnan hendak berbicara, tetapi gadis itu lagi-lagi merebut sesinya.


“Apa yang kau lakukan?” seru Adara dengan gemetar.


Saliva pemuda itu terteguk, cukup sulit ketika tubuhnya harus bertahan di suhu dingin seperti detik ini. Dia mengembuskan napas berkali-kali, setidaknya berusaha agar tubuhnya tetap hangat.


Adnan terdiam. Dia maju beberapa langkah, memotong jarak di antara mereka. Yakin kalau gadis itu tak lagi mundur, dia tersenyum getir dan sedikit menunduk. Jemarinya yang sudah merona merah hendak mengepal, tetapi urung karena suatu hal.


Pemuda itu kembali mengangkat pandangan. Sisi lain dirinya yang akan bicara sontak tersentak ketika melihat Adara kini berjalan menghampiri. Hidung dan pipi gadis itu telah memerah. Matanya pun sudah sembab, entah sejak kapan dirinya menangis. Dan itu membuat hati Adnan berdesir.


Mulut Adnan terbuka, kini dengan tangan yang mengepal erat. Dia memberanikan diri membalas tatapan gadis di depannya.


“Ad—”


Sial. Seharusnya, momen ini bisa jadi sesuatu yang membuat Adnan bicara terlebih dahulu sebelum gadis di depannya. Namun, kenapa gadis itu juga ikut membuka mulut sepertinya?


Adnan berusaha agar tetap menatap gadis di depannya. Rambut Adara yang terkuncir dan terhempas embusan angin dengan butiran salju yang mulai menumpuk di puncaknya itu menarik atensi pemuda tersebut. Dia menghela napas, lalu mengulurkan satu tangan ke kepala gadis di depannya.


Dalam diam, Adara mengerti satu hal. Sisi lainnya membenarkan pernyataan jika pemuda itu tidaklah berubah. Dia membiarkan Adnan menyingkirkan butiran salju di rambutnya dan malah tidak peduli dengan kondisi dirinya sendiri.


“Adara.” Sebuah suara memanggil nama gadis itu.


Adara menoleh, mendapati seorang pria menghampirinya. Dia tidak ingat, sejak kapan Jason meninggalkan barisan depan dan mengikutinya. Sementara itu, tangan Adnan yang terulur lantas tertarik kembali. Adnan dan pria yang baru pertama kali dilihatnya itu saling bersitatap. Liur pemuda bermata biru itu terteguk ketika mendapat tatapan mengintimidasi dari pria yang kini berada di samping Adara.


“Adnan!” Lagi, sebuah suara megalihkan perhatian mereka.


Kali ini, Adnan justru hampir berdecak kesal, sekaligus kebingungan. Bagaimana tidak? Kapten aliansi barat itu malah meninggalkan pasukan dan menyusulnya kemari. Apa-apaan ini? Kenapa dia kekanakan sekali?


Erick berlari mendekati tiga orang, yang mana hanya satu orang yang dikenalnya. Dia memandangi dua orang di depannya yang berbeda seragam dengannya itu. “Mereka …,” gumamnya.


Jason berdecih lirih. “Pemandangan macam apa ini?” celetuknya sembari melipat kedua tangan di depan dada.


“Kita harus kembali, Adara,” ajaknya kemudian. Tidak lupa, dia menoleh ke arah dua pemuda di depannya. “Kalian


juga kembalilah.”


Adnan menatap pria yang rambutnya terlihat berantakan itu. Dia terdiam dan menghela napas, lalu mengangguk. Adnan kembali memandangi gadis yang masih melayangkan tatapan penuh ambiguitas tersebut.


“Perintahkan pasukan untuk mundur, Erick,” ucap Adnan, membuat pemuda yang berdiri di sampingnya sedikit tersentak.


“Tapi, Komandan—”


“Tidak ada waktu lagi,” potong Adnan, lalu berbalik setelah dirasa sudah ‘cukup puas’ memandangi gadis bermata


cokelat tersebut.


Erick turut berbalik dan menyusul langkah rekannya itu. “Komandan belum meminta kita untuk mundur, Ad,” ucapnya.


Adnan lantas menghentikan langkah dan mendengkus. Dia menatap tajam pemuda berambut cokelat itu. “Ada yang harus kuurus setelah ini,” ucapnya. “Aku harus kembali ke Cosmo dan bertemu dengan seseorang.”


Frederick Add akhirnya hanya bisa membisu seraya mengangguk menimpali. Dia berbalik sesaat, berusaha mengecek gadis dan pria tadi. Namun, mereka sudah tidak berada di sana seolah lenyap ditelah salju yang makin pekat.


Sebuah kilas ingatan menguar di pikiran Erick. Dia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.


Namun, saat melihat bagaimana reaksi Adnan ketika dirinya dan pria tadi datang, rasanya aneh sekali. Ada apa


dengan bocah itu? Kenapa langsung pergi begitu saja?


“Adnan! Hei, Adnan!” serunya seraya menggapai pundak pemuda yang telah berjalan mendahuluinya. “Adnan, stop!”


Adnan menghentikan langkah dan beralih menghadap rekannya itu. Sejenak dia melirik ke titik di mana dia bertemu dengan Adara tadi. Gadis itu sudah tidak berada di sana.


“Kau … kau tidak ingin bertemu dengannya?” tanya Erick.


Pemuda berambut hitam itu menghela napas. Satu tangannya terulur ke arah telinga Erick, lebih tepatnya dia mematikan saluran komunikasi yang masih aktif di pemuda tersebut.


“Aku tidak ingin membuat kelemahan aliansi timur diketahui oleh pihak kita,” ujarnya kemudian.


Erick tertegun. Jadi begitu alasannya.


Adnan lantas menepuk pundak pemuda di depannya itu. “Tidak apa,” katanya. “Setidaknya aku tahu kalau dia baik-baik saja.”


Sentuhan Adnan merenggang dan perlahan terlepas dari pundak Erick. Adnan berbalik dan menuju Sarkan yang


terparkir tidak jauh dari posisi mereka sekarang. Badai salju makin pekat. Embusan anginnya mengempaskan rambut hitam Adnan dan membuat punggung tegar pemuda itu perlahan menghilang di telan kebungkaman.


Erick meneguk saliva. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan temannya itu sekarang. Bukan pertemuan seperti ini yang diinginkannya. Yah, mereka bahkan tidak punya hak untuk mengatur perjumpaan itu.


***