AST

AST
PHASE 29 . DI BALIK COSMO



Alan menjatuhkan punggungnya dengan kasar di sandaran kursi yang didudukinya sejak tadi. Matanya beralih memandang seorang gadis berpakaian prajurit khas aliansi barat yang berdiri dan bersandar pada tepi meja pengontrol saat ini. Pria itu mengguratkan senyum penuh arti.


“Baru beberapa hari, tapi kerjamu bagus,” ucapnya. “Terima kasih atas kerja samanya ..., Megan Crush.”


Gadis itu tersenyum lebar merespons. “Tentu, Dokter,” timpalnya enteng. “Mencari informasi semudah itu ... sebelumnya kau pasti meremehkanku, ‘kan?”


Alan berdecih. “Kemampuanmu memanipulasi pikiran orang lain, kau pelajari dari mana, hm?” selisiknya.


Megan menggumam panjang seolah tengah berpikir keras. Sepersekian detik kemudian, dia mengangkat telunjuknya. “Seseorang,” jawabnya. “Aku hanya suka mengamati, tapi dia malah mengajariku banyak hal.”


“Apa sebelumnya kau sudah tahu kalau Adnan ikut dalam misi yang hampir menewaskan kalian beberapa waktu lalu?”tanya dokter itu lagi.


“Oh, itu aku tidak tahu,” jawab gadis itu hingga membuat kening Alan mengerut. “Aku dikirim kemari beberapa hari setelah Kapten dan Erick. Sebelumnya aku tidak tahu jika Kapten ditugaskan di sini, jadi ... ya ... tentu saja aku terkejut saat bertemu dengannya waktu itu.”


“Jadi ... siapa yang mengajarimu?”


Megan menghela napas. “Kubilang, seseorang yang mengajariku.”


“Di mana dia sekarang?”


Megan bergeming, lalu menggumam lagi dan mengedipkan sebelah matanya. “Ra-ha-si-a ...,” desisnya.


Alan lantas berdecak. “Dia ada di Cosmo, ‘kan?” tanyanya lagi, kini beralih fokus pada layar monitor di hadapannya.


Gadis itu setengah terlonjak, kaget jika pria di dekatnya mampu menerka sesuatu yang tengah dia sembunyikan.


“Katakan padaku ... bagaimana dia?”


“Dia adalah salah satu orang penting di Cosmo,” kata gadis berambut merah itumulai membuka mulut kembali. “Banyak orang di sana yang mengenalnya, tapi dia lebih memilih untuk menyamarkan identitas bahkan nama aslinya demi sesuatu yang sampai sekarang belum aku pahami. Dia hanya memberitahuku beberapa hal yang


memang seharusnya kulakukan setelah pengirimanku kemari—”


“Apa kau termasuk kaki tangannya?” potong dokter berkacamata itu, lagi-lagi membuat Megan tersentak.


“Tidak,” lirih gadis itu.


“Tidak salah.”


Lagi, ucapan Alan membuat Megan mengerucutkan bibir. “Apa gunanya bertanya seperti itu padaku?” tanyanya mengubah topik pembicaraan.


“Kau tak ingat bagaimana obrolan kita waktu itu, huh?” Alan balik bertanya, “Kau begitu polos seolah kau adalah orang yang tidak tahu apa-apa mengenai Sarkan dan Paladin, dan juga operasi militer lima tahun lalu. Sebenarnya, kau pun tahu bagaimana hubungan kami bertiga, ‘kan?”


Sekian detik selanjutnya, pria berjas putih itu memalingkan wajah pada gadis di sampingnya. Sorot matanya hampir tidak terlihat sama sekali karena pantulan sinar layar monitor.


“Kau ....”


***


Seorang pria berambut hitam tampak berjalan menyusuri koridor gelap. Mata gelapnya sesekali membinar


kala tersorot berkas cahaya dari lampu-lampu mungil yang sengaja dipasang di sepanjang jalan antar ruangan di Cosmo itu. Langkahnya terhenti saat mendapati seorang bocah yang sebelumnya berlari dari salah satu cabang koridor, lantas menatap dirinya. Senyuman lebar terbentuk amat jelas di bibir bocah laki-laki itu. Dia berlari menghampiri pria yang dilihatnya barusan.


“Tuan Harvey!” pekiknya, lantas memeluk erat pria yang spontan berlutut menangkap tubuh mungilnya itu.


“Hati-hati, Boris. Kau bisa jatuh nanti,” ucap pria yang memakai eyepatch di salah satu matanya itu.


Boris—bocah itu—sontak mengerucutkan bibir seraya menatap pria yang dipeluknya. “Ayah bilang tulangku kuat. Jadi, kalau aku terjatuh pun itu takkan melukaiku,” katanya.


Pria yang dipanggil ‘Harvey’ itu terkekeh menanggapi. Satu tangannya terayun dan mengacak-acak rambutpirang bocah tersebut. Mata biru Boris semakin bercahaya kala tersorot berkas lampu di dekat mereka.


“Jangan panggil aku seperti tadi, ya.”


“Hm?” Boris mengangkat kedua alisnya seketika. “Memang kenapa? Aku lebih suka memanggil Paman seperti itu,” katanya.


“Panggil saja seperti biasanya. Tak usah repot menuruti ayahmu.”


Boris memandangi sejenak raut wajah pria di dekatnya itu dalam diam. Sekian detik kemudian, ia tersenyum lebar dan mengangguk. “Baik, Paman Oscar!”


Oscar Harvey, seperti biasanya, dia tersenyum sembari mengacak-acak rambut Boris kembali. Salah satu matanya yang tidak memakai penutup itu tampak menyipit menuruti gurat yang terbentuk di wajahnya.


“Ngomong-ngomong, Paman.” Boris kembali membuka mulut mungilnya. “Kakak yang itu terus berteriak. Teriakannya memenuhi lorong sampai yang lain ketakutan,” katanya melanjutkan.


“Memangnya terdengar sampai keluar?” Oscar mengerutkan sedikit dahi. Bocah itu mengangguk menimpali.


“Boris tak berani mendekati Kakak itu, tapi dia sepertinya kesakitan,” ucap bocah itu sedikit berbisik pada Oscar.


Pria itu mengayunkan telunjuknya tepat di depan wajah bocah laki-laki itu. Boris mengangguk dan bergegas meninggalkan Oscar seorang diri. Pria itu bangkit dari posisi, lalu meneruskan perjalanannya yang sempat tertunda.


Oscar masuk ke sebuah ruangan yang dikenali olehnya. Matanya mengerjap sejenak kala mendapati seorang pria yang lebih tua darinya itu tengah berdiri menatap sesuatu di balik jeruji besi.


“Bagaimana?” tanyanya seraya menghampiri pria itu.


“Dia benar-benar tidak tahu soal itu,” timpal pria berambut pirang itu.


Oscar mendekati bui dan menggenggam salah satu besi vertikal yang menjadi pembatasnya. Matanya menelisik ke dalam jeruji tersebut di mana dirinya bisa melihat sosok pemuda tengah tertunduk lesu.


“Matikan aliran listriknya, dan biarkan aku yang berbicara padanya,” pintanya kemudian.


“Untuk apa dimatikan?! Percuma saja, dia tidak tahu apa pun soal—”


“Morgan.” Oscar membuka mulut tanpa sekali pun menatap pria di sampingnya. “Jika kau menginginkan informasi itu, maka kau harus paham bagaimana taktik permainan ini,” lanjutnya.


Morgan tersentak, lantas mengunci mulutnya seketika.


“Matikan dan tinggalkan ruangan ini,” titah Oscaryang masih terpaku pada posisinya itu.


Morgan tidak menyahut. Dia melangkah ke luar ruangan usai mematikan sakelar listrik yang menyala sejak beberapa waktu lalu demi menyengat sosok pemuda yang tengah tertunduk di balik sel tersebut. Sementara itu, Oscar membuka pintu sel dan bergegas menghampiri pemuda itu.


“Kau mendengarku waktu itu, ‘kan?” tanyanya mulai membuka percakapan. “Lalu kenapa kau berbohong?”


Pemuda itu masih tertunduk dalam diam. Ritme napasnya terlihat lemah, bahkan Oscar bisa memastikan sebentar lagi dia akan pingsan. Oscar menggerakkan satu tangannya memegang ujung dagu pemuda tersebut, lalu


mengangkat pandangannya agar mereka bersemuka.


“Adnan,”panggilnya.


Tidak ada yang bisa Adnan lakukan kini selain memandang Oscar dengan tatapan kosong. Penampilannya yang lusuh benar-benar membuatnya seperti seekor kucing yang terjerat dalam jebakan. Lagi, Oscar masih menatapnya penuh curiga. Ketidakpercayaan pria itu pada Morgan membuatnya berkali-kali lipat harus menyusun ulang strategi demi melancarkan sesuatu.


“Aku tidak mengenalmu, kenapa aku harus memercayaimu?” desis pemuda itu.


Embusan napas lolos dari lubang hidung Oscar. “Aku tahu kalau kau mencari gadis itu. Kau tahu tujuanku seperti apa. Kita bisa bekerja sama dalam hal ini,” ucap pria itu menimpali.


Adnan terkekeh, lalu kembali menatap pria di hadapannya. “Aku tak butuh dia,” lirihnya.


“Kau membutuhkannya,” sangkal Oscar tangkas. “Dia pasti juga sedang mencari—”


“Dia sudah mati,” sela pemuda itu.


Oscar tersentak. Otaknya hampir merumit sebelum menahan gejolak emosinya yang hampir meledak karena sejak beberapa waktu lalu, Adnan masih tidak menyetujui rencananya. Soal kematian gadis itu, pasti pemuda itu pun berbohong.


“Baiklah. Kuubah rencanaku,” ucapnya kemudian seraya beringsut mundur hingga bisa menatap seluruh tubuh Adnan yang bertelanjang dada itu. “Kau dikirim kembali kemari bukan karena alasan yang tidak jelas. Jadi, jika aku boleh tahu, apa tujuan Hubert membuangmu kemari?” tanyanya.


“Tidak ada,” jawab Adnan. Mata gelapnya melirik ke arah pria tersebut dari balik helaian rambutyang hampir menutupi setengah wajahnya.


“Apa dibuangnya dirimu berhubungan dengan putranya?” tanya Oscar lagi.


“Tidak.”


“Apa kau melakukan kesalahan selama di pangkalan darat?”


“Aku tidak tahu.”


“Semua ini ada hubungannya dengan ayahmu, ‘kan?”


Pertanyaan terakhir Oscar sukses membuat Adnan mengangkat pandangan. Keduanya bersemuka cukup lama, sampai akhirnya tawa pria itu mengurai keheningan.


“Aku benar, ‘kan?” Oscar memicingkan satu matanya dengan seringai yang terukir jelas di sudut bibir. Dia berkacak pinggang mengamati dengan jeli setiap inci tubuh pemuda di depannya itu.  “Kau amat mirip dengannya,” gumamnya kemudian.


“Yah, mau bagaimana pun kau adalah putranya, wajar saja kalian mirip,” sambung Oscar. Pria itu kembali


mendekati Adnan yang masih memandang lurus kepadanya. “Jika memang karena ada hubungannya dengan ayahmu, aku sangat paham inti masalahnya. Jadi ....” Dia mendekatkan wajahnya tepat beberapa senti dari wajah Adnan. “Kita punya tujuan yang sama.”


Adnan mengerutkan kening. Pria itu kembali menyeringai sebelum akhirnya menjauh beberapa langkah darinya. “Operasi militer lima tahun lalu yang menewaskan ayahmu,” ucap Oscar. “Kau ingat soal itu?”


Adnan bergeming, bahkan tidak percaya dengan ucapan Oscar barusan. Sementara itu, pria itu menoleh kepadanya.


“Kuanggap kau tidak tahu apa pun soal itu. Aku akan menceritakan semuanya padamu sekarang.”


***