AST

AST
PHASE 30 . MENUJU KE PERLINDUNGAN



“ADARA!!!”


Sesuatu meledakkan misil yang diluncurkan oleh Analemma hingga menimbulkan kilau cahaya yang menerangi sekitarnya sejenak. Peluru itu gagal mengenai APC yang dikontrol oleh Jo usai terkena tembakan dari salah satu arah. Jo memicing melalui layar pengontrol di hadapannya. Matanya menyalang mendapati beberapa pesawat yang


dikenali oleh APC-nya bermanuver mendekati lokasi mereka.


Sementara itu, Jason yang memekikkan nama Adara barusan, lantas menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan jika peluru tadi mengenai APC Jo dan meledakkannya. Sekian detik kemudian, layar dashboard-nya menunjukkan sesuatu yang aneh. Beberapa sinyal titik tampak mendekati lokasinya kini, dan dia paham dengan pesawat-pesawat tempur tersebut.


“Hampir saja terlambat,” gumamnya seraya menarik napas lega sejenak.


Jason membenarkan earphone-nya sejenak. “CB-1 aktif,” lapornya pada satu jaringan komunikasi tersebut, “apa mereka sudah mengabarkanmu?”


Jo yang masih berada di dalam APC-nya lantas berdeham mendengar pertanyaan Jason. “Mereka akan mengantarkan kita menuju pusat aliansi timur mulai sekarang,” jawabnya.


“Hm? Tidak ke spot cabang dulu?” selisik Jason heran.


“Er ... aku juga tidak tahu,” timpal Jo ragu. “Mungkin karena sesuatu.”


“Kami minta maaf, Letnan!” sahut seseorang yang tiba-tiba saja menyusup jaringan komunikasi.


Jason dan Jo sontak terkejut. Kening mereka saling bertautan, penasaran dengan teknik yang dilakukan oleh bala bantuan itu hingga lancar menyusup jaringan komunikasi di antara mereka.


“Letnan!” Wanita yang barusan masuk ke jalur komunikasi itu kembali memanggil Jason.


“Ya, aku di sini,” jawab Jason membenahi earphone di telinganya.


“Tetaplah di barisan, Letnan! Kami akan menuntunmu ke pusat sekarang.”


Jason hanya diam. Pikirannya melanglang buana. Apalagi, keadaan sepelik ini menambah carut-marut isi kepala.


Dalam hening, sosok gadis menyelami pikiran pria tersebut. Jika memang sekarang mereka menuju ke pusat aliansi timur, bukan berarti gadis itu akan melihat wujud sebenarnya dari robot yang merenggut nyawa ayahnya 5 tahun lalu.


Pria itu meneguk saliva. Tangannya meraup wajah yang sudah lama tidak dibersihkan jenggotnya itu. Jason mendesah.


“Baiklah, oke-oke,” ucapnya. “Anggap saja ini pelajaran keduamu, Jason.”


***


Erick berdecak kasar, hampir saja memukul dashboard di depannya. Emosinya tidak terkendali. Dalam misinya kali ini, dia bahkan tidak bisa menahan keinginannya untuk tidak menekan tombol peluru tersebut. Namun, dengan banyaknya bala bantuan yang dikirimkan dari pusat, sudah tentu timnya akan kalah.


“Mereka sudah menyiapkannya sejak lama,” gumamnya.


Earphone-nya terdengar gemerisik sejenak, sebelum akhirnya sebuah suara menggetarkan batin pemuda tersebut.


“Kapten, tiga pesawat habis,” lapor perempuan yang sejak tadi tidak memutuskan saluran komunikasinya dengan


Erick.


Pemuda yang rambutnya sedikit terkuncir half ponytail itu mendengkus. “Keadaan darurat,” ucapnya. “Kita kembali saja.”


Gadis yang terpaut usia 3 tahun lebih tua dari sang kapten itu terdiam. “Baik, Kapten,” timpalnya seraya memutar balikkan arah pesawatnya dan memberi arahan pada anggota lainnya untuk mundur.


Beberapa menit setelah Erick memarkirkan Analemma di hangar, pemuda itu turun dan berjalan menuju ke sebuah


pintu. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang perempuan telah berdiri di sana, berkacak pinggang menunggunya.


“Kau … siapa?” tanya Erick.


Gadis berambut pirang itu menundukkan setengah kepala sejenak. “Aku Jennifer Artha,” jawabnya.


Erick lantas menyentuh dagu dan berpikir. “Kau … yang berbicara denganku tadi?” tanyanya lagi.


Jenn mengangguk. Matanya berbinar-binar. “Aku tidak percaya bisa bertemu dengan Anda secara langsung,” ucapnya.


wajahnya seketika. Seperti baru bertemu idolanya saja.


“Maaf, tapi aku harus kembali ke ruangan,” ucap Erick kemudian.


“Mau saya antar, Kapten?” tawar Jenn.


Erick mengangkat sebelah tangan, menolak dengan halus tawaran gadis itu. Dia sendiri merasa aneh ketika teringat kalua gadis yang kini di depannya itu tadi sangat informal pada saat misi berlangsung. Aneh saja menurut pemuda seperti Erick berhadapan dengan gadis berkepribadian ganda tersebut.


Pemuda itu lantas berjalan mendahului Jenn. Dia tidak peduli jika Jenn kini melihatnya dengan raut yang kembali serius. Seringai tipis terukir jelas di sudut bibir.


Erick berjalan menuju ruangan sang ayah. Namun, belum sampai dia ke ruangan itu, seseorang memergokinya.


Dokter berkacamata itu sepertinya ingin menanyakan tentang hasil misinya kali ini.


“Aku tidak melukainya,” ucap Erick sebelum pria itu membuka mulut.


“Kau mau ke mana?” Alan justru menanyakan hal lain, di luar dugaan pemuda bermarga Frederick tersebut. “Ke


tempat ayahmu dan mengadu?”


Erick meneguk saliva, sama sekali tidak ingin menatap pria di sampingnya itu. Namun, sekian detik kemudian, dia menatap Alan. “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Bisakah?”


Alan tersenyum dan mengangguk. “Ikut aku.”


Pria yang berprofesi sebagai dokter itu mengajak Erick ke ruangannya. Dia hanya memberikan alasan untuk


pemeriksaan kesehatan pemuda itu ketika ada yang berpapasan dan bertanya padanya. Sungguh, pekerjaan terberat bagi seorang dokter adalah berbohong dan itu sebenarnya tidak dibenarkan karena melanggar kode etik.


“Duduklah, Erick!” pintarnya.


Namun, Erick tidak langsung duduk. Dia masih memandangi Alan bahkan ketika pria itu telah duduk dan bersandar di sofa salah satu ruangan pribadinya.


“Dengan siapa kau melakukan pelacakan tadi?” tanya Erick sekejap. “Dari mana kau tahu kalau kita bisa mendeteksi keberadaan Adara melalui radar pemancar?”


“Sst. Kau buru-buru sekali,” gumam Alan menyahut.


Seperti biasa, seorang Frederick Add tidak suka basa-basi. Dia ingin mengetahui secara gamlang jawaban atas rasa penasarannya. “Aku hanya ingin mengetahuinya, Alan,” balasnya sedikit menurunkan nada bicara. Dia duduk di sofa di seberang pria tersebut. “Kau … punya akses khusus ke ruang pelacakan?”


Kernyih tipis terbentuk sempurna di salah satu sudut bibir Alan. “Aku ini hanya dokter, Erick,” jawabnya. “Bagaimana mungkin aku punya akses ke sana?”


“Tapi, setahuku hanya orang-orang yang diberi izin khususlah yang bisa memasukinya,” sahut Erick. “Atau … kau punya kenalan dari salah satu operator?”


Alan bergumam panjang. “Sepertinya yang terakhir benar,” jawabnya.


“Lalu, bagaimana? Bagaimana kau tahu soal—”


“Pelacakan itu?” potong Alan. Kacamatanya yang tersorot lampu ruangan tampak berkilat.


Erick mengangguk menimpali. Dia menatap Alan dengan penuh keseriusan.


“Aku hanya ingat kalau waktu itu aku dihadapkan pada sebuah penelitian yang sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak dulu,” ujar Alan. “IDMC. Kau pernah dengar?”


Erick mengernyit. “IDMC?”


“Identification Microchip,” jawab Alan. “Teknologi penanaman microchip yang digunakan untuk mengidentifikasi sesuatu, entah untuk perilaku atau keberadaan penggunanya. Profesor Harris adalah pencetusnya dan dia mengusulkan hasilnya kepada salah satu temannya yang berada di aliansi timur.”


“S-siapa? Siapa dia?” selisik pemuda bermata cokelat terang tersebut. “Apa aku mengenalnya?”


Alan tertawa kecil. Dia sedikit menegapkan diri dan kembali menatap pemuda di seberangnya. “Yusagi Richard. Ayah dari Yusagi Adara, gadis yang kau dan Adnan cari selama ini.”


***