AST

AST
52 . RASA GUNDAH



Adara melihat ke kejauhan. Asap mengepul di udara di tengah badai salju. Tangannya mencengkeram erat tepi


balkon gedung utama pusat aliansi timur. Kubah tranparan yang melindunginya masih terlihat kuat dengan bayang-bayang mirip aurora yang terkadang muncul beberapa menit sekali.


Sekitar dua jam sudah dia berdiri di sana. Hatinya berdesir, bergetar ketika teringat suara sirine bahaya yang berbunyi tanpa henti. Dia keluar dari unit hendak menemui sang ibu, tetapi justru berpapasan dengan Jason. Pria yang masih berada di masa pemulihan itu tampak tergesa berjalan ke satu arah.


“Apa yang terjadi?” tanya gadis itu.


“Agresi militer,” jawab Jason. “Semuanya mendadak dan pasukan di barisan telah dibabat habis.”


Netra Adara membola. Baru beberapa hari perang berakhir dan sekarang sudah ada serangan mendadak dari musuh. Pertahanan aliansi timur yang semakin lemah karena terhimpitnya wilayah terkadang tidak bisa bersinergi dengan strategi yang sudah diberikan.


“Kau akan ke sana? Dalam keadaan begini?”


Gadis itu masih mencekal lengan Jason, melihat lengan kanan pria itu yang masih terlilit perban. Sistem EWF membuat banyak saraf di pergelangan tangannya mati rasa dan sebenarnya Jason harus rawat inap selama satu bulan ke depan. Namun, pria itu tampaknya kukuh ingin menuruti ambisinya.


Seorang pria berjas putih yang mengejar Jason sejak tadi langsung berhenti ketika melihat mereka berdua.


“Jason, kembalilah ke kamarmu!” pintanya.


Pria itu menyisir rambutnya sesaat. “Pasukan membutuhkan bantuanku, Kei,” ucapnya. “Aku tidak bisa diam begitu saja.”


Kei menghela napas. “Kalaupun kau ikut terjun, kau belum bisa menggunakan EWF lagi,” katanya seraya menunjuk


ke lengan Jason.


“Aku baik-baik saja.” Jason berkilah. “Aku masih bisa menggunakan cara lain selain EWF.”


Tak lama, pria itu berbalik dan berlalu meninggalkan Adara dan Kei. Seolah tidak ada yang bisa menghentikannya, Adara hanya bisa terdiam.


“Dia kembali menjadi Jason Kim yang dulu,” ucap Kei sembari memasukkan kedua tangannya di saku jas. Dia


melihat Adara yang mengepalkan tangan di mana tangan kanan gadis itu juga masih dililit perban. “Naomi tidak mengijinkanmu untuk turun ‘kan?” tanyanya.


Gadis berambut hitam itu mengangguk tertunduk.


“Ibumu sangat cemas padamu,” katanya.


Adara menatap dokter tersebut. Rambutnya yang tergerai tampak sedikit menutupi wajahnya. “Tapi aku tidak bisa


membiarkan Jason sendirian di luar sana,” balasnya.


“Dia tidak sendirian, Adara.”


Kening gadis itu berkerut. Setidaknya, kalaupun ada banyak pasukan yang menemani Jason, jika dia ikut pula, dia bisa menghentikan pria itu kalau-kalau dia menggila lagi dengan Clibanarii miliknya.


“Siapa?” selisiknya kemudian.


“Sam bilang kalau Jo ikut dalam barisan kali ini.”


Tak pelak, netra gadis bermarga Yusagi itu menyalang. Dia menggenggam dan meremas lengan Kei.


“Apa kau gila?” tanyanya. “Dia masih punya Jun!”


Kei tidak banyak berkilah. Dia sendiri tidak punya wewenang apa pun di sini mengingat dirinya hanyalah seorang


dokter. Pria itu hanya menghela napas, tidak menimpali gadis yang meremas kedua lengannya itu sekarang.


Adara berdecih. Dia lantas meninggalkan pria tersebut dan berlari menuju arah yang sama dengan Jason tadi dan menuju ke sebuah ruangan. Lebih tepatnya, gudang Clibanarii. Gadis itu menemui seorang pria yang masih berkutat dengan gawai penting di depannya demi menguji coba sebuah Clibanarii di sebuah ruangan kaca.


“Sam!” seru Adara, membuat pria berbaju jumpsuit biru itu menoleh. “Apa kau yang merekomendasikan Jo untuk


ke lapangan hari ini?”


Sam mengernyit. Dia melepas kacamatanya sejenak, lalu kembali menatap gadis yang baru saja datang. “Jo?”


Sam terlihat berpikir. “Aku tidak merekomendasikannya,” ucapnya. “Dia sendiri yang mengajukan diri.”


“Hah? Apa?”


“Itu benar, Adara,” ucap Sam. Dia menghela napas dan bangkit dari kursi.


“Bagaimana dengan Jun?” Adara kembali bertanya.


“Jun … apa dia tidak bersamamu?” balas Sam retorik. “Aku pikir dia di unitmu karena tadi sewaktu aku bertanya soal Jun pada Jo, dia bilang kalau Jun ada padamu.”


“Hoax,” seloroh gadis bermata cokelat itu. Dia mengdengkus kesal, memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut.


“Adara.”


Gadis itu kembali menatap pria di depannya.


“Aku ingat, Jo pernah bilang padaku bahwa dia ingin berada di barisan itu,” ujar Sam. “Mungkin, inilah saatnya bagi dia untuk mengabdikan diri.”


Adara terdiam. Helaan napasnya hampir saja kembali memburu, tetapi urung. Sia-sia saja dia berusaha untuk


melarang pemuda itu. Dia pasti sudah berangkat bersama pasukan lain sekarang.


“Aku pikir, Jun tidak apa soal ini,” lanjut Sam. “Kau tak perlu khawatir.”


“Bagaimana aku tidak khawatir, Sam,” timpal Adara setengah berdecak. “Jo hanya satu-satunya yang dimiliki Jun


setelah orangtua mereka tiada. Bagimana aku tidak mencemaskan Jo?”


Kedua pasang mata itu saling bertemu. Helaan napas yang mengudara lolos begitu saja. Sam tahu bagaimana


Adara masih menderita traumatis akibat kematian Richard dan bencana besar beberapa waktu lalu. Ingatan itu belum sepenuhnya bisa sembuh dalam memorinya dan sewaktu-waktu bisa membuat gadis itu jatuh.


“Terkadang, kita tidak bisa menghindari suatu hal yang seharusnya menjadi kewajiban kita, Adara,” ucap Sam. “Ada kalanya kita harus tetap bergerak untuk melindungi negara dan melepas orang-orang yang kita cintai demi kewajiban itu. Dalam situasi seperti sekarang, kau perlahan akan mengerti kenapa semua orang bahu-membahu bahkan mengesampingkan rasa cinta itu sendiri.”


Saliva Adara terteguk. Dia menghela napas panjang.


“Kau … kembalilah ke unitmu,” pinta Sam. “Ibumu pasti mencarimu.”


***


Kini, gadis itu hanya terdiam. Pikirannya kacau. Takut kalau-kalau Jason atau bahkan Jo menyerang orang yang


salah. Menyerang Adnan.


Adara takut Adnan berada dalam barisan musuh saat ini. Pemuda itu pasti tidak punya pilihan lain selain mengikuti aturan yang berlaku di sana.


“Oh, ayolah!”


Gadis itu memukul pagar balkon dengan gemuruh di dada. Dia ingin sekali keluar, tetapi kalau semua orang tidak


mengijinkannya, dia bisa apa. Katakanlah, Yusagi Adara adalah satu-satunya kartu As yang dimiliki aliansi timur saat ini. Jika dia secara sembarangan ke luar dan lenyap oleh musuh, sudah bisa dipastikan aliansi timur akan berada di ambang kehancuran.


Kini, dirinya hanya bisa pasrah memikirkan rekan-rekannya yang berada di barisan depan. Matanya memandangi


tangan kanannya yang masih diperban. Perlahan, ingatan tentang perang beberapa waktu lalu kembali terngiang. Begitupun komunikasinya dengan Adnan untuk kali pertama yang bahkan tidak diketahui oleh siapa pun sampai sekarang.


Ada banyak pertanyaan yang bernaung, tetapi tidak bisa diucapkannya. Adara takut kalau keputusan yang diambil akan berpengaruh besar terhadap pondasi aliansi timur. Dia baru pertama kali mencium peperangan dan ini membuat kenangan masa lalu akan kehilangan sang ayah membuat dirinya depresi.


“Ayah,” gumamnya. “Apa yang harus kulakukan?”


***