
Erick melangkah menghampiri sahabatnya itu. Raut wajahnya amat cemas, takut kalau terjadi sesuatu pada Adnan hingga dirinya masuk ke dalam sel ini.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya.
Adnan mengangguk, masih tersenyum getir.
“Lalu, kenapa? Kenapa kau dimasukkan kemari? Kau tertangkap juga oleh mereka?” berondong pemuda berambut
cokelat tersebut.
Kali ini Adnan meneguk liur pahit. Dia menghela napas. “Sejujurnya, iya,” jawabnya.
“Syuk—”
“Tapi ….” Belum saja Erick menamatkan ucapannya, Adnan menyela. “Aku punya misi kali ini.”
Erick sedikit tersentak. “Apa? Misi apa?” tanyanya.
Mereka saling berpandangan, menyusup udara hampa di ruangan 5x5 meter persegi itu. Seluruh dinding berwarna
putih dan tidak ada apa pun di dalamnya. Hanya sel kosong. Warna putih didoktrin bisa membuat penghuninya berhalusinasi dan menggila tanpa sebab. Salah satu warna suci yang bisa mematikan siapa pun.
“Jika aku mengatakannya, maukah kau mengakuiku sebagai sahabat lagi?”
Pertanyaan pemuda berambut hitam itu membuat Erick sedikit tercenung. Berkali-kali dirinya menerka, tetapi tidak bisa. Isi pikiran Adnan selalu saja tidak mudah ditebak.
“Apa maksudmu?” tanya pemuda Frederick itu lagi.
Adnan diam sesaat, lalu menghela napas panjang. Lagi.
“Aku tidak ingin mengorbankan siapa pun lagi,” ucap Adnan kemudian. “Kau benar, harusnya aku tidak memercayai
siapa pun di dunia ini.”
Erick kembali tersentak. Butir keringatnya menetes karena gugup menyimak ucapan rekannya itu.
“Aku terlalu naif. Kau benar,” lanjut Adnan. “Aku tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”
“Adnan—”
“Harusnya aku bisa mengakhirinya sejak awal,” sela pemuda itu. Mata birunya berkilat misterius.
“Adnan, ceritakan padaku. Beritahu aku apa yang sedang kau pikirkan?” Erick maju, menggenggam kedua pundak pemuda tersebut. “Siapa yang memaksamu? Siapa yang membuatmu seperti ini?”
Adnan tahu, ada banyak hal yang ingin dia curahkan semua pada Erick—seperti biasanya. Namun, dia tidak ingin mengorbankan siapa pun lagi. Dia juga tidak ingin memercayai siapa pun. Otaknya benar-benar kacau. Melihat bagaimana Erick sangat khawatir padanya kini sangatlah jelas. Erick adalah satu-satunya orang yang bisa dia percayai detik ini. Namun, bagaimana selanjutnya? Apakah setelah menceritakan semua, Erick bisa selamat?
Frederick Hubert bahkan meregang nyawa.
Adara bahkan kehilangan lengannya.
“Adnan.” Pemuda berambut cokelat itu melirih. “Aku tahu.”
Dia melepaskan cengkeramannya dari pundak Adnan dan tersenyum miris. Tatapan mereka kembali bertemu untuk yang ke sekian kalinya.
“Apa yang mereka mau?” tanyanya kemudian.
Adnan bergeming. Dia menunduk sejenak, lalu kembali menatap Erick dengan beribu keributan di dalam pikirannya.
“Apa mereka mau informasi yang kubawa?” tanya Erick, memperjelas semuanya.
Tatapan Adnan tidak bisa berbohong. Dan Erick sudah mafhum hal itu. Pemuda itu mengangguk.
“Ayah tidak bilang apa pun padaku,” ucapnya.
“Kau sudah tahu?”
Mata cokelat itu kembali memandangi Adnan. Dia mengangguk pelan, membuat Adnan menunduk dengan ratusan
monster menertawai dari dalam kepalanya. Mereka berpesta pora karena berhasil membuat sang empunya kembali dirundung duka dan rasa bersalah.
“Lagipula, dia bukan ayah kandungku,” ujar Erick. “Kami tidak punya ikatan apa pun.”
Tatapan itu. Tatapan yang sering diberikan Adnan untuk Erick. Lalu sekarang, pemuda itu memberikannya pada Adnan.
“Aku mulai mengerti kenapa Ayah selalu membuatmu terluka,” lanjut Erick. “Dia hanya tidak ingin kau mengecap ini semua.”
Adnan menyimak dengan serius. Dia tahu kalau benda di cuping telinganya bisa menerima semua gelombang suara yang didengarnya sekarang dan seseorang tengah mendengarkan dari ruangan lain dengan seksama.
“Sebelum aku ke medan untuk misi terakhirku, aku sudah tahu bahwa Ayah merencanakan ini semua bukan untuk
sebuah ambisi yang hanya dimilikinya saja.” Erick menatap lurus pada rekannya yang berdiri di depannya itu.
“Tapi aku tidak tahu kalau ternyata Ayah melakukannya seorang diri, sejak peristiwa lima tahun lalu … sampai sekarang. Tidak ada yang mau membelanya. Karena … memang benar, tidak ada yang namanya perdamaian. Dan Ayah hanya ingin membuat semuanya kembali seperti awal. Tidak ada peperangan. Tidak ada teknologi. Tidak ada perbudakan.”
Kedua tangan Adnan mengepal erat. Dadanya sesak seketika.
“Tapi semuanya gagal.” Erick menghela napas panjang. Kepulan asap tipis dari hasil respirasinya bahkan tak terlihat di udara. “Dan kita … akan kembali menjadi budak di sini. Seperti 4 tahun yang lalu. Kau ingat?”
Saliva Adnan terteguk. Tentu saja. Empat tahun lalu adalah momen di mana keduanya bertemu pada satu divisi
yang sama di pendidikan militer di tempat ini. Di Cosmo. Pemuda bermata biru itu mengangguk.
“Iya. Aku ingat itu.”
***