AST

AST
50 . KEKACAUAN



Para prajurit menurunkan senjata mereka usai saling memberi kode lewat tatapan. Seolah sudah tidak memercayai mantan kapten aliansi barat, mereka memberikan tatapan intimidasi pada pemuda 17 tahun tersebut.


“Apa kau punya surat perintahnya?” tanya salah satu prajurit.


Adnan mengeluarkan sebuah surat dari balik seragamnya. Surat itu adalah pemberian Morgan sebelum dirinya


bertolak ke pangkalan tadi. Adnan memberikannya pada salah satu prajurit. Pria itu tampak membacanya sejenak.


“Bagaimana kami bisa memercayai pemberontak sepertimu?” tanyanya.


Semua prajurit pangkalan lantas kembali mengacungkan senjata mereka, membuat anak buah Oscar melakukan


hal yang sama.


“Adnan,” bisik salah seorang anak buah Oscar yang berdiri di belakang pemuda berambut hitam tersebut. “Jika


kita tidak menyerang, mereka akan tetap begini,” ucapnya. “Waktu kita hanya sedikit untuk menyelamatkan orang-orang yang akan kita bawa.”


Saliva Adnan tertelan sempurna. Apalagi mendengar para prajurit pangkalan yang sudah mengecap dirinya


sebagai pemberontak. Hubert pasti telah melakukan sesuatu sebelum dirinya kemari. Adnan melirik ke arah Megan yang menggeleng pelan, memberi sebuah isyarat padanya.


Namun, siapa juga yang bisa mengendalikan Adnan di situasi semacam ini? Seringai pemuda itu terukir tajam


di salah satu sudut bibirnya. Matanya yang sebiru berlian di tengah padang pasir itu seolah menghipnotis banyak orang yang memandang ke arahnya kini.


“Apa kalian ingin aku membuktikan bahwa aku bukan pemberontak untuk bisa masuk?” tegasnya.


Para prajurit yang masih mengacungkan senjata api itu melirik satu sama lain. Salah satunya berdecih.


“Untuk apa?” balasnya. “Pemberontak tetaplah pemberontak.”


Adnan tersenyum kecut. Satu tangannya terayun ke belakang punggung dan membentuk sebuah kode yang hanya


diketahui oleh anak buah Oscar. Mereka saling melirik dan mengangguk samar.


“Baiklah kalau itu mau kalian.”


Pemuda itu berjalan menuju salah satu prajurit yang mengacungkan senjata padanya.


“Jangan mendekat!” seru prajurit tersebut.


Akan tetapi, siapa yang bisa menghentikan Adnan Harris sekarang? Tidak ada.


Pemuda itu dengan sigap mengayunkan tangan, menggerakkan tubuh dan kedua kakinya demi mengunci


pergerakan prajurit tersebut. Satu tembakan melayang. Diiringi tembakan lainnya. Sebuah keributan yang tercipta hanya karena sebuah ambisi perdamaian yang tidak direstui oleh yang lain.


Pertarungan antara prajurit aliansi barat tidak terelakkan. Tembakan demi tembakan beruntun, menembus deru


pasir gurun dan membuat gema tak terarah bak konstelasi yang terbentuk secara asal di permukaan Bumi.


Adnan yang memang memiliki kemampuan bela diri yang cukup mumpuni mampu menjatuhkan beberapa lawan


sekaligus, bahkan tanpa melepaskan tembakan satu pun dari revolver yang masih setia bertengger di pinggangnya.


Dia melihat Megan yang berusaha memberontak, sampai akhirnya sebuah pukulan telak mendarat dengan


sempurna di tubuh prajurit yang mencekalnya. Dia menarik revolver di pinggang dan menembak prajurit lain yang berusaha mengungkung pergerakannya. Sampai akhirnya, gadis itu bertemu dengan Adnan.


“Kita tidak punya banyak waktu!” serunya.


Megan berlari, disusul Adnan usai pemuda itu memantau sejenak anak buah Oscar yang dibawanya. Dirasa cukup


kuat dan bertahan, Adnan segera menyamai langkah gadis berambut merah tadi.


“Di mana dia?” tanya Adnan.


“Bukan di mana dia, tapi kau harus tahu soal ini!” balas Megan.


“Apa maksudmu?”


Adnan sesaat menghentikan langkah dan menatap gadis itu. Megan sendiri berbalik dan berdecak.


“Aku harus menyamar menjadi tikus-tikus di sini setelah mereka menangkap Dokter Alan juga,” ucapnya.


Seketika, netra pemuda itu menyalang. Salivanya terteguk sekejap.


“Ayo!”


Megan kembali melanjutkan langkah. Di depannya para prajurit menghadang. Mereka terlibat pertarungan sengit. Dibantu Adnan, keduanya bisa melewati beberapa pria berotot tersebut.


“Oh, sial,” desis Megan sambil mengibaskan tangannya yang kebas dan sedikit berdenyut. “Aku tidak pandai bela


diri sepertimu, Kapten.”


Adnan mendengkus. “Aku juga tidak pandai menyamar sepertimu, Tikus 1.”


Megan hampir berteriak ketika pemuda itu justru berjalan mendahuluinya. “Tikus 1? Yang benar saja?”


“Ke arah mana?” tanya Adnan usai melumpuhkan dua pria di depannya barusan.


“Kanan.”


Keduanya berbelok ke kanan dan sampai di depan sebuah pintu. Adnan mengedarkan pandangan sejenak, lalu


menelisik pintu tersebut.


“Di dalam ada siapa?” tanya pemuda itu.


“Menurut hasil pelacakanku, mereka mengurung Dokter Alan di sini,” jawab Megan.


Adnan hendak menekan tombol password di salah satu sisi pintu. Namun, Megan menahan legannya. Gadis itu menggeleng. Dia mengeluarkan sebuah  kantung yang didesain seperti pelindung jemari untuk melindungi sidik jari agar tidak aus karena menyentuh layar gawai. Tidak lama, dia menekan beberapa angka demi membuka password pintu tersebut.


“Aku sudah coba berkali-kali, bahkan ketika aku mengendap-endap ke sini. Tapi gagal, tidak ada satu pun password


yang sesuai,” gerutunya.


Adnan terdiam dan berpikir sejenak. Dia kembali menyebarkan pandangan ke segala arah dan mendapati sesuatu


yang aneh di salah satu sisi langit tembok. Pemuda itu menarik pistol di salah satu pinggang, lantas menembak ke arah yang menarik perhatiannya, sebanyak tiga kali tembakan.


“Apa yang kau lakukan?” sela Megan setengah kaget.


“Pasword akan diganti ketika mereka mengetahui ada tikus yang berusaha mencuri makanan di kulkas,” ucap


pemuda berambut hitam itu.


Megan terdiam. Dia memandang benda sekecil tanda titik yang jatuh dari bekas di mana Adnan menembak barusan. Gadis itu berlutut. “Kamera pengintai?” gumamnya.


“Lebih tepatnya itu CCTV,” timpal Adnan. “Cukup kecil dan dia dilengkapi dengan Tarncase[1] agar tidak terlihat oleh kacamata orang normal.”


Pemuda itu berbalik dan mengarahkan pistolnya ke penunjuk password. Megan bergegas mencekalnya lagi.


“Kenapa menahanku lagi?”


Gadis itu terdiam sesaat. Dia menghela napas, lalu melepas cekalannya pada lengan Adnan. “Silakan, Kapten.”


Satu tembakan meluncur dengan cepat hingga merusak layar penunjuk password. Bunyi sirine terdengar sekian


detik selanjutnya hingga pintu yang tadinya terkunci pun terbuka. Adnan tidak peduli mau sebanyak apa pun prajurit di pangkalan yang akan menghalangi jalannya. Tujuannya hanya satu, menyelamatkan sesegera mungkin ornag-orang yang bisa dibawanya.


Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria yang tengah dikunci di dalam sebuah kamar kaca. Pria yang kedua tangannya digantung pada rantai itu mengangkat pandangan dan membelalakan mata melihat seorang pemuda telah berdiri di balik kaca.


“Ad ….”


Adnan meneguk saliva dan menghela napas sejenak. “Megan, berdirilah di belakangku,” pintanya.


Gadis berambut merah itu segera beralih ke belakang Adnan. Pemuda itu kembali mengulurkan tangannya yang


memegang pistol ke salah satu sisi kaca.


DORRR!


PRANG!


Tak perlu waktu lama. Adnan tahu, mau setebal apa pun kaca yang mengunci Alan di dalam sana akan pecah


hanya dengan satu tembakan saja. Namun, belum sempat dia melangkah, sebuah sirine mengejutkan ketiga orang yang berada di ruangan tersebut. Adnan mendongak menatap langit-langit ruangan yang gelap.


“Pergilah, Ad!” seru Alan, semakin mengacaukan pola pikir Adnan saat ini sampai akhirnya mereka bersitatap.


“Erick dalam bahaya.”


Adnan mengernyit. “Kau pikir aku akan meninggalkanmu?” balasnya kecut. “Aku tidak ingin kau mati seperti ayahku, Alan!”


Netra Alan membola sekejap. Dua buah tembakan langsung melepaskan kungkungan rantai dari kedua tangan dan


membuatnya hampir tersungkur sebelum akhirnya Adnan menangkap tubuhnya yang lemas.


“Aku baik-baik saja,” ucap dokter itu mencoba berdiri dibantu Megan. Dia menatap Adnan. “Jemput Erick sekarang,”


pintanya. “Kaca yang kau pecahkan barusan menghubungkan jerat listrik yang mengurung temanmu itu, Ad.”


“A-apa?” Adnan seketika bungkam.


“Pergilah, jemput Erick sekarang!”


Adnan sedikit mematung dengan segala hal yang menguasai isi kepalanya sekarang.


“Pergilah, Kapten! Biar aku yang urus sisanya,” ucap Megan. “Kau hanya harus berjalan lurus sampai ke ujung


koridor.”


Pemuda itu mengangguk. Dia berbalik dengan cepat dan ke luar ruangan, menuju arah yang ditunjukkan Megan


barusan.


Namun, ketika dirinya telah memastikan melangkah pada arah yang benar, langkah Adnan terhenti. Matanya


menangkap sosok yang berdiri di ujung koridor temaram tersebut. Seorang pria berjalan ke arahnya perlahan, menampakkan rambut cokelatnya yang khas.


Adnan tercekat seketika. Tangannya mengepal erat dengan satu tangan lain yang masih menggenggam pistol


lantas meremas senjata tersebut. Mata birunya bersinar kacau. Hal yang tidak diinginkannya terjadi.


Pria itu menyeringai. Barisan giginya bergemeretak kasar. Langkahnya semakin dekat ke arah putra kedua Reynald


Harris tersebut.


“Nice to meet you, Adnan Harris.”


***


[1]


Tarncase :


Selubung tidak terlihat yang digunakan untuk melindungi sebuah benda penting


(kamera) untuk melacak atau mengintai serta merekam sesuatu. Komposisi serta


cara kerjanya sama seperti Tarnnet.