
Mungkin, ada yang namanya pertemuan dan perpisahan. Setiap detik momen yang terjadi akan diiringi dengan tawa dan air mata. Setelahnya, para jiwa mengorbankan doa dan harapan agar bisa kembali bersama.
Mungkin, ada sebagian yang lupa bagaimana caranya mengenang dengan apik memori yang terkekang dalam klip-klip film dalam otak. Hanya ada beberapa yang bisa terngiang dengan baik, bahkan jika itu adalah hal menyakitkan.
Setiap saat, hal-hal seperti itu pasti akan terjadi.
***
Adnan menghela napas. Dia meletakkan sebuah foto yang digenggamnya di atas meja, lalu berbalik. Seorang pria tengah berdiri memunggunginya, berkonsentrasi pada banyak layar hologram di depannya. Seragamnya kini berganti dengan kemeja yang ditutupi oleh jas laboratorium. Rupanya, benar-benar membuat Adnan teringat dengan seseorang.
“Apa … kau akan di ruangan ini terus?” tanya pemuda berambut hitam tersebut.
Pria itu berbalik dan tersenyum. Dengan rambut hitam dan mata biru itu, membuat dirinya tidak hanya mirip dengan Adnan, juga serupa dengan sosok pria dari masa lalu keduanya. Dia berbalik memandangi layar-layar di depannya dan menghela napas.
“Aku menghabiskan waktu di sini, bahkan sejak terakhir kali bertemu dengannya,” ucapnya terdengar getir. “Sekitar 17 tahun lalu, sebelum aku dipisahkan dengan Ayah dan Ibu. Lalu Ibu melahirkanmu,” imbuhnya.
Kening Adnan berkerut, menampakkan kedua alisnya yang hampir menyatu. Sebelum masuk ke ruangan ini, setelah dia dibebaskan dari jeruji listrik itu, pria di depannya mengatakan beberapa informasi yang belum bisa diterimanya sampai sekarang. Tentang orangtua mereka yang sama.
Pria itu menoleh kepada Adnan. “Lucu sekali, bukan, kita baru bertemu sekarang?” sarkasnya. “Aku bahkan tidak
pernah berharap bisa bertemu denganmu karena ….” Dia tampak berpikir sesaat. “Karena mungkin kaulah yang membuatku kehilangan mereka,” lirihnya.
Adnan setengah menunduk. “Lalu? Sekarang apa?” tanyanya sambil mengangkat pandangan.
Kedua pasanga manik biru tersebut saling berhadapan. Cukup lama sembari mengukir detik memori yang terlewati. Bahkan, jika mereka tidak ditakdirkan menjadi kakak-beradik, keduanya juga pasti melakukan hal yang sama sekarang.
“Oscar … Harvey,” lanjut Adnan. “Itu namamu?”
Pria itu mengangguk pelan.
“Kenapa?” Adnan kembali membuka mulut. “Kenapa berbeda?”
Oscar terlihat menghela napas. Dia melepas kacamatanya, lalu bersandar pada tepian meja kerja. “Aku dititipkan
pada seorang komandan angkatan udara setelah dipisahkan dengan Ayah dan Ibu saat itu,” jawabnya. “Komandan itu bernama Jonathan Harvey. Itulah kenapa nama belakangku berbeda denganmu.”
“Tapi kenapa kau … dipisahkan?” Adnan sedikit ragu ketika bertanya tentang hal sensitif ini. Kebiasaannya yang asal nyeplos benar-benar tidak bisa dikontrol sewaktu-waktu. “Aku minta maaf kalau terlalu banyak bertanya.”
Pria berusia 25 tahun itu tertawa sejenak. “Tidak apa,” katanya. “Sudah lama sekali aku tidak berbagi informasi seintim ini dengan seseorang.” Dia memandang ke arah sang adik dengan berjuta rasa yang tidak bisa diungkapkan olehnya. “Terima kasih karena telah bertahan sejauh ini.”
Adnan sedikit merasa aneh ketika ada seseorang yang mengucapkan terima kasih kepadanya. Orang pertama
seumur hidupnya yang mengucapkan itu adalah Adara—sebelum mereka berpisah dulu—lalu Erick dan kali ini, Oscar menjadi yang selanjutnya. Dia hanya bisa mengangguk menimpali.
“Dulu, aku tidak tahu alasan kenapa dipisahkan dari mereka,” lanjut Oscar. “Tapi, makin lama, aku makin mengerti bahwa tidak semua hal bisa kuketahui secara langsung dari orangnya. Maksudku, Ayah dan Ibu punya rahasia besar waktu itu dan itu membahayakan diriku. Makanya aku dipisahkan dari mereka.
“Tapi, menurut informasi yang kudapat, ternyata harapan mereka untuk memiliki satu anak saja akhirnya pupus
karena kehadiranmu,” imbuhnya setengah menahan tawa. “Kau tahu, aku mendapatkan informasi ini 5 tahun kemudian. Jadi, waktu itu umurmu sudah—”
“Aku minta maaf,” sela Adnan. Sorot matanya berubah sendu seolah dia mengerti maksud dari ucapan pria di
depannya barusan. “Aku tahu, keberadaanku adalah ancaman bagi kalian semua. Bukankah begitu?” Dia kembali menatap sang kakak yang memandang inosen padanya. “Kalian berusaha membuatku mati berkali-kali, bahkan mungkin Semesta tidak membiarkan aku hidup. Tapi ternyata aku bisa bertahan sampai sekarang. Aku minta maaf.”
“Ah ….” Oscar sedikit menggigit bibir, sadar jika ucapannya salah dan yah, memang sisi lain dirinya masih belum mengakui bahwa yang berdiri di depannya sekarang adalah adik kandungnya sendiri. “Aku juga minta maaf,” katanya. “Harusnya aku bisa menekan egoku.”
Adnan tersenyum getir. “Bukankah ego yang membuat kita begini? Bukankah ego yang akhirnya mempertemukan kita?” celosnya. “Kita kalah karena ego, tapi kita juga menang karena ego.”
Akhirnya, pria itu mengangguk. Dia menghampiri sang adik dan menepuk pelan kedua pundaknya.
“Apa kau siap dengan segala hal yang akan kau hadapi nantinya?” tanyanya. “Aku agak sedikit kecewa dengan syarat yang kuberikan padamu. Jika saja Morgan tidak mengintimidasiku, mungkin aku tidak akan melayangkan perjanjian itu padamu.”
Adnan berdecih di sela seringainya yang tiba-tiba terukir cukup tipis di salah satu sudut bibir. “Apa aku terlihat tidak siap untukmu?” balasnya retorik. “Bahkan jika aku tidak bertemu dengan Adara, aku akan selalu siap menghadapi kematianku.”
Oscar terdiam. Benar, pemuda itu sudah mengalami kematian berkali-kali—mungkin seperti kucing yang punya Sembilan nyawa. Namun, jauh di dalam hati pria bermata biru itu terasa berdesir. Ada rasa yang baru kali ini bertandang di sana dan dia cukup mengerti, karena perasaan ini adalah perasaan yang sama ketika dia melepaskan kedua orangtuanya demi perpisahan itu.
Pria itu menggeleng cepat, berusaha menyingkirkan monster di kepalanya yang mulai berisik. “Pokoknya, aku ingin
kau kembali,” ucapnya. “Setelahnya, terserah padamu.”
“Apa aku juga harus menghancurkannya?” tanya Adnan.
Oscar kembali terdiam. Dia terlihat berpikir sejenak. “Sepertinya, hal itu tidak bisa,” jawabnya. Satu tangannya menunjuk ke arah layar hologram. “Aku sedang mengecek ulang sistem yang ada di Sarkan dan ada hal yang harus kau tahu sebelum berangkat ke sana, Adnan.”
“Apa? Apa itu? Pemuda itu sedikit merngubah raut wajah dan turut melihat ke arah layar. “Sistem apa?”
“Sedikit berbeda dengan pesawat yang biasa kau kendalikan, seperti Falcon atau Analemma,” timpal Oscar.
“Kau … kau tahu Analemma?” selisik Adnan. Dia melepaskan genggaman tangan Oscar dari pundaknya.
Oscar tersenyum getir. “Aku yang membuat dan merancang desainnya,” jawabnya. “Kuberikan untuk hadiah kenaikan pangkatmu.” Dia berbalik dengan cepat, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai Nampak di kedua pipi.
“Hah? Kau?”
Pria itu mendengkus, lalu berbalik lagi. “Apa kau masih tidak memercayaiku, huh?” balasnya sedikit menggertak. Dia meraup wajahnya sejenak. “Aku sudah memberikannya cuma-Cuma untukmu dan responsum malah seperti ini,” gumamnya kacau.
Namun, di luar dugaan. Adnan justru tergelak dan hal itu menarik atensi Oscar. “Aku … ah, astaga,” gumamnya. Dia memandang kembali pria di hadapannya tersebut. “Terima kasih,” ucapnya.
Sayangnya, Oscar hanya menghela napas kasar menimpali. “Dan sekarang kau meninggalkanya seperti sampah, ‘kan?”
“Hah? Mana ada?” Adnan lantas berjalan menghampiri layar hologram. “Ada seseorang yang kupercayakan bisa
menggunakannya kok.”
“Benarkah? Siapa?”
Senyum pemuda 17 tahun itu kembali terukir. “Frederick Add,” jawabnya seraya menoleh kepada Oscar. “Putra dari … mungkin dia adalah orang yang kau benci.”
Oscar berdecih. Kedua tangannya masuk ke saku jas, lalu dirinya menghela napas. “Aku masih tidak percaya dia masih hidup,” gumamnya. Sekian detik kemudian, dia memulai kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
“Apa maksudmu?”
“Kau … apa kau tidak tahu soal operasi militer lima tahun lalu?” Oscar kembali menatap pemuda yang berdiri di
sampingnya.
Kerutan di kening Adnan makin menjadi-jadi. “Apa? Soal Apa?”
“Hah, sudah kuduga,” balas Oscar. “Mereka pasti menyembunyikan fakta soal sabotase yang dilakukan Frederick Hubert lima tahun lalu dan menewaskan ayah pacarmu.”
***