AST

AST
PHASE 38 . KESEMPATAN



Adara memandang Li Yue, Naomi, serta Sam bergantian. Menunggu baginya hal yang mustahil, sementara di luar


sana pasukan mungkin membutuhkan bantuan, termasuk Jason. Pria itu sepertinya kewalahan menghadapi serangan Sarkan. Apalagi salah satu kameranya tampak tidak berfungsi dengan tidak menunjukkan kejadian tak berarti di dekatnya. Ini cukup membuat penghuni ruang kontrol kebingungan. Apalagi, Jason sama sekali tidak


menghidupkan saluran komunikasinya sejak pria itu diterjunkan ke medan perang.


“Komandan, bisakah kau ijinkan aku untuk ke sana?” Pertanyaan itu sontak menarik atensi semua orang yang ada


di ruangan kontrol tersebut. “Aku tidak tahu, tapi aku merasa sepertinya Paladin memberi isyarat bahwa dia harus bertemu dengan kawan lamanya.”


Naomi menggenggam erat lengan gadis itu, lalu menoleh ke arah Li Yue. “Bisakah kau menjamin keselamatan putriku?” tanyanya.


Li Yue, pria dengan pangkat tertinggi di aliansi timur itu menghela napas. “Aku tidak bisa menjangkaumu lebih banyak kalau kau turun sekarang, Adara,” ucapnya. “Ini bukan hanya berkaitan dengan konflik saat ini, tapi berkaitan dengan masa lalu keluargamu juga.”


Saliva Adara terteguk. “Aku hanya berpikir, bagaimana jika Paladin lepas kendali dan ke medan perang sendirian hanya karena sistem yang didesain padanya akan mengalami pengaktifan otomatis jika kendali pada Sarkan juga aktif,” ujarnya. “Jika aku tidak mengontrolnya, maka peristiwa 5 tahun lalu akan kembali terjadi, Komandan.”


Li Yue bahkan Naomi tersentak. Sementara itu, Sam menghampiri mereka dengan kondisi napas yang sudah normal.


“Adara benar, Pak,” ucap Sam. “Sarkan dan Paladin dikendalikan tidak hanya melalui sistem manual saja, tapi juga


melalui EWF di mana menggunakan frekuensi antar gelombang dan energi. Ini sama dengan sistem pemancar yang biasa dipakai di Tarnnet untuk mengaktifkan sarana komunikasi antar spot. Jika salah satunya aktif, maka yang lain aku turut aktif dan yang paling dominan akan berusaha mengendalikan yang lain. Aku mengetahuinya karena aku adalah teknisi.


“Jika tidak ada yang mengontrol Paladin, maka bisa saja Clibanarii itu akan keluar dari ruang privatnya dan menuju


medan perang untuk membantu Sarkan menghabisi yang lain,” imbuh pria tersebut.


Li Yue meneguk liur sesaat, lalu mengangguk. “Aku tahu,” ucapnya. “Keduanya juga menggunakan Entanglement


untuk menarik satu sama lain menggunakan sistem tersebut. Ini adalah teknik yang sama yang diaplikasikan pada Clibanarii yang dikontrol Kapten Jason Kim sekarang.”


Ketiga orang di dekatnya tersentak. Sementara itu, Li Yue tampak berpikir keras, terlihat dari otot-otot yang menegang di pelipisnya. Dia sedikit menyesal ketika memberikan ijin Jason untuk mengontrol Clibanarii baru tersebut. Pria itu melihat ke arah layar besar di mana memperlihatkan pertarungan di luar sana. Dia menghela napas, lalu menatap Adara.


“Kau lebih tahu ini dibanding diriku, Adara,” ucapnya. “Tetap aktifkan saluran komunikasi dan kamera di Paladin supaya kami bisa memantau kondisimu.”


Gadis berambut hitam itu tersentak. Dia menatap Naomi yang berdiri di sisinya dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu mengangguk.


“Jagalah kewarasanmu selama di sana,” ucap Naomi dengan bibir gemetar. Dia memeluk putri tunggalnya tersebut.


***


Yusagi Adara menghela napas ketika dia berhadapan dengan Clibanarii besar bernama Paladin itu. Mata kuning


robot itu berkilat, menyala misterius seolah ada yang memanggilnya. Benar yang didiskusikan oleh dirinya, Sam, Jason, dan Kei kala itu.


Sistem EWF (Energy Wave Frequency) tidak hanya digunakan untuk menjaga saluran komunikasi antar unit,


melainkan digunakan pula untuk mengendalikan Clibanarii-Clibanarii ini. Pencetusnya adalah orang yang sudah tiada, Reynald Harris. Entah apa tujuannya menciptakan robot-robot dengan kekuatan yang begitu magis tersebut. Seolah bagi Reynald, dengan ciptaannya itu, maka dua aliansi yang berkonflik akan segera berdamai.


Adara mulai naik ke kokpit Paladin menggunakan katrol otomatis. Dia masuk sekian menit kemudian. Aroma besi yang baru saja dipoles terhidu penciumannya.


Gadis itu ingat sekali, operasi militer lima tahun lalu benar-benar telah menghancurkan robot tersebut. Benar-benar hancur dan hanya tersisa beberapa kepingan potongan tubuhnya saja. Perlu beberapa tahun untuk merenovasi kembali tubuh aslinya sampai menjadi sesempurna saat ini.


Adara menggerakkan tangannya, menyentuh dashboard di hadapannya. Matanya mengedarkan pandangan ke segala inci kokpit yang bisa dijangkaunya. Jadi, tempat inilah yang menjadi ruangan terakhir ayahnya mengabdikan diri saat itu. Sebuah kilasan ingatan kembali menguap, tetapi Adara berusaha setegar mungkin untuk tidak menggalau karenanya.


Netranya mendapati Sam yang masih berdiri di depan sana. Pria itu melambaikan tangan dan memberikan sebuah


kode. Adara lantas mengenakan earphone hingga suara kemeresak terdengar.


“Nah, tetap begini, ya?” Sam tampak mengacungkan jempolnya. “Aku akan membuka pintu utama CB-222 dan pergi ke ruang kontrol.”


Adara mengangguk. “Oke.”


Sam pergi beberapa menit kemudian, meninggalkan Adara sendirian. Gadis itu memejamkan mata, berusaha


mengontrol monster-monster di kepalanya agar tidak mengajak dirinya baku hantam dengan pikiran sekarang. Dia membuka mata dan menghela napas sejenak.


Pintu utama CB-222 terbuka perlahan. Butiran salju bagai badai tampak jelas di atas sana, diiringi desiran angin yang merasuk ke ruangan pribadi Paladin tersebut. Adara mulai menghidupkan sistem manual Paladin, membiarkan mesinnya hangat untuk sesaat. Namun, sebuah gelang biru yang berada di samping tuas manual menarik perhatiannya.


“Apa ini?”


Ingatannya tentang fase diskusi saat itu kembali terngiang. Sistem Entanglement yang dimaksud Jason, Kei, bahkan Li Yue tadi, kemungkinan bisa digunakan melalui gelang tersebut. Namun, bagaimana? Bagaimana bisa?


“Adara.” Suara Li Yue terdengar melalui sambungan earphone.


“Iya, Pak, aku di sini,” jawab Adara.


“Berhati-hatilah.”


Gadis itu tidak menimpali. Dia hanya terdiam. Ketika pintu utama benar-benar terbuka lebar, Adara mulai memegang penuh kendali manual Clibanarii tersebut.


Adara tercenung. Ini bukan tentang bagaimana dia menggantikan peran sang ayah setelah lima tahun berlalu. Namun, ini tentang bagaimana dia bisa menahan berbagai resiko yang akan muncul ke depannya jika saja sosok yang dirindukannya selama ini tengah bergelut di luar sana, tanpa bisa mengendalikan dirinya.


Energi itu bisa melakukan tarik-menarik secara tidak sadar, bahkan ketika bayang-bayang anti materi bisa bekerja sekali pun, semua hal yang berkaitan dengan konflik di luar sana pasti akan terjadi. Adara tidak ingin menumbangkan siapa pun lagi.


Cukup ayahnya dan ayah Adnan saja.


Ujung telapak kaki Paladin mengeluarkan asap dan sedikit percikan api, sebelum akhirnya kartu As aliansi timur tersebut menembus badai salju. Di luar sana, teman lamanya telah menunggu untuk berjumpa kembali dengan dirinya, termasuk sang pengontrol Clibanarii bernama Sarkan tersebut.


Mata birunya berkilat, menatap bengis lawannya sekarang. Siapa pun tidak akan tahu bagaimana akhirnya dia bisa


menggunakan, bahkan memegang kendali penuh Clibanarii tersebut.


***