AST

AST
56 . SEHARUSNYA



Erick menggertak dan memukul dengan keras dashboard di depannya. Rahangnya menegang ketika kekhawatirannya tentang sosok Frederick Hubert menguar. Pria itu, pria yang tidak menganggapnya anak, hari ini seolah berubah drastis. Erick ingin bertanya banyak hal, tetapi dalam kondisi seperti ini, dan dengan saluran komunikasi yang sudah tidak tersambung, mungkinkah pria itu baik-baik saja?


Pemuda itu meneguk saliva, mencoba tetap fokus pada kontrol Analemma. Pertarungan antara Paladin dengan


sebuah pesawat milik Cosmo di depannya membuatnya makin yakin. Jika saja Cosmo benar-benar menjadi tonggak perdamaian dunia, tidak seharusnya mereka mengirimkan burung besi untuk menyerang symbol dari perdamaian itu sendiri, ‘kan? Apakah mungkin ….


Sebuah ledakan tercipta. Sepertinya Paladin tidak mau menyerah. Clibanarii itu terus menghalau serangan sang burung besi yang menyerangnya dengan brutal. Pesawat itu mengincar kelemahannya pada sendi-sendi Clibanarii tersebut. Namun, sang pengontrol Paladin tidak begitu bodoh untuk menyerahkan diri begitu saja.


Erick berdecih. Mungkinkah dia harus muncul dan menyelamatkan gadis itu sekarang? Ini bukanlah pertarungan


yang harus dilakukan oleh tikus pemula sepertinya.


Pemula?


Ya, Erick menganggapnya begitu mengingat Adnan sangat menyayangi Adara seperti apa pun kondisinya. Enak sekali menjadi satu-satunya yang berada dalam pikiran pemuda tersebut seumur hidup. Sejujurnya, Erick juga menginginkannya. Namun, entahlah, hubungannya dengan Adnan pun hanya sebatas rekan militer saja. Tidak lebih dari itu.


Paladin memelesat ke satu arah, diikuti oleh pesawat Cosmo. Mereka menembus awan yang berpadu dengan


mendung kelabu yang menutup horizon. Erick melebarkan pandangan. Dia kehilangan jejak keduanya.


“Di mana mereka?” gumamnya seraya berdecih.


Pemuda itu masih fokus pada radar di layar dashboard sambil berkeliling. Sebenarnya, lancang sekali dirinya kabur dari medan perang hanya demi mengejar sebuah Clibanarii. Namun, mengingat titah dari sang ayah, Erick bisa saja tidak peduli dengan keadaan di bawah sana. Bodoh amat dengan situasi perang yang kacau karena kaptennya telah tanggal.


Tiba-tiba saja, sebuah ledakan kembali terdengar di satu arah. Erick bergegas memacu Analemma ke sana,


menyusul segala hal yang mungkin akan membuatnya terkejut sebentar lagi.


Ya, sedikit lagi.


***


“Aku tidak tahu bagaimana tikus sepertimu bisa dengan mudah dimanipulasi,” ucap seorang pria berambut hitam kepada seorang pemuda yang tengah dicekal oleh beberapa anak buahnya. Dia menyeringai picik. “Apa kau sudah tahu sekarang, siapa yang ada di pihakmu?”


Adnan berdecih. Sudah tentu, seharusnya dia tidak memercayai pria itu begitu saja. Seharusnya dia mengikuti


intuisinya sejak lama dan menyingkirkan semua ambisi itu.


Hangar utama tampak tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pasukan yang dibawa oleh pria itu dari Cosmo. Sisanya adalah prajurit dari pangkalan yang melawan, dicekal, atau … berkhianat. Seperti seorang gadis yang menghampiri mereka kali ini.


Gadis berambut merah itu menatap Adnan dengan getir. Ada sirat di wajahnya yang bisa dibaca Adnan dengan


mudah. Namun, gadis itu justru tidak menghiraukannya. Dia menghadap pria yang sejak tadi berada di dekat pemuda berambut hitam tersebut.


“Aku sudah mengecek semuanya. Tidak ada apa pun yang bisa kita dapatkan di sini,” ucapnya.


Pria itu berdecak kesal sampai berkacak pinggang. “Di mana dia menyimpannya?” gumamnya, lalu menatap Adnan. “Dia pasti tidak memberitahukan rahasia itu padamu. Kau mudah ditebak.”


“Kita akan berangkat tiga puluh menit lagi,” ucap gadis tadi, lalu memandang pemuda berambut hitam di depannya. “Apa kita akan membawanya juga?”


Hanya dehaman yang muncul sesaat. “Kita akan bawa mereka semua, termasuk gadis itu.”


Netra Adnan menyalang seketika. “Apa maksudmu?”—Pria itu hanya menatapnya— “Apa maksudmu, Oscar?!”


Pria itu tidak menyahut gertakan sang adik. Dia beralih kepada hal lain setelah meminta para prajurit membawa Adnan masuk ke sebuah pesawat pengangkut. Sementara itu, Adnan terus berteriak meminta penjelasan meski tidak digubris sama sekali.


Para prajurit mengikat tangan dan kedua kaki pemuda itu dan mendorongnya secara asal sampai pemuda itu hendak bangkit dan harus berulang kali mendapatkan bogem mentah agar dirinya bisa diam.


“Lepaskan aku!” pekiknya.


“Siapa yang ingin melepaskanmu sekarang, hah?” sahut seorang prajurit.


“Tenangkan dia,” sahut yang lain.


Prajurit itu berdecih. “Dasar bajingan kecil!”


***


Mata biru Adnan menatap sekeliling dengan samar. Entah sudah berapa lama dirinya tidak sadarkan diri. Satu jam atau beberapa jam. Pukulan di kepalanya masih terasa sakit dan wajahnya rasanya sudah kacau. Nyeri tak berujung. Mungkin ada banyak lebam di sana akibat pukulan para prajurit selama dirinya memberontak tadi.


Kali ini, dia sadar bahwa dirinya tidak berada di pesawat pengangkut lagi. Dia berada di sebuah ruangan yang gelap. Benar-benar gelap. Tidak ada apa pun yang bisa dilihatnya di sana selain kehampaan yang terasa mencekat.


“Kau sudah bangun?”


Sebuah suara menarik perhatian pemuda berambut hitam itu. Dia menoleh ke sana kemari mencari asal suara.


“Aku di ruangan sebelahmu.”


Suara itu kembali menyahut. Adnan mengenali sang pemiliknya.


“Kau ….” Adnan sedikit berbisik.


Pemuda itu masih berusaha bergerak meski sulit, mencari dinding atau semacamnya. Namun, sangat sulit melakukan gerakan ketika kedua tangan dan kakinya terikat sempurna. Bukan dengan selotip hitam atau borgol milik polisi biasanya. Pengikatnya seperti dari sebuah gelang aluminium atau besi yang bisa mencekat kedua indera gerak saat pergerakan si empunya makin brutal.


“Sejak kapan kau di sini?” tanya Adnan dengan suara sedikit parau.


Tidak ada sahutan.


“Adara?”


Hening. Adnan kembali berkutat bersama pikirannya yang berlebihan. Apakah gadis itu baik-baik saja sekarang?


Bagaimana bisa dia tertangkap? Apakah Oscar juga turut menangkapnya? Namun, dengan siapa? Maksudnya, siapa yang sudah menangkap Adar ajika Oscar saja bersama dengan dirinya tadi?


“Ad—” Suara mereka keluar serempak, kemudian kembali diam.


“Kau duluan,” ucap Adnan.


Sepi lagi. Namun, terdengar suara kemeresak. Mungkin gadis itu tengah mengubah posisinya sedikit.


“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara lirih yang masih bisa didengar oleh Adnan.


Pemuda itu berpikir sejenak. Dia membenahi posisi dan jelas bersandar pada dinding di dekatnya. “Pemberontakan,” jawabnya.


“Siapa yang memberontak siapa?” ulang Adara.


“Entahlah.” Adnan mengendikkan bahu meski tidak terlihat sama sekali. “Aku tidak tahu siapa yang salah di sini,” ucapnya kemudian.


“Lalu?”


“Aku mengikuti semua aturan dan berakhir di sini,” balas pemuda itu. “Harusnya aku percaya diri sejak awal dan memercayai kalau intuisiku lebih tahu dan benar dari segalanya.”


Adara terdengar mengembuskan napas, atau lebih tepatnya gadis itu mendengkus kasar sekarang. “Apa aku terlalu inosen sampai tidak tahu apa pun?” Dia bermonolog. “Aku berusaha menjadi anak yang baik untuk siapa pun selama ini. Apakah itu masih kurang?”


Adnan meneguk saliva. “Kau pikir, untuk apa selama 4 tahun ini aku pergi meninggalkanmu?” balasnya. “Aku ingin memberitahu semua hal yang kutahu padamu, tapi ….”


“Tapi?”


“Sesuatu mencekalku dan merenggut kepercayaanku,” jawab pemuda bermata biru tersebut.


Keduanya kembali terdiam. Menyesap keheningan atmosfer. Adnan berpikir mungkin saja dia bisa bebas dari sini sekarang. Namun, bagaimana dengan Adara? Apa gadis itu baik-baik saja?


“Adara?” panggilnya kemudian.


Gadis itu berdeham menimpali.


“Kau bisa bergerak?” tanya Adnan.


Adara terdiam. “Kalau pun aku bisa bergerak, mungkin tidak leluasa seperti biasanya,” jawabnya getir.


“Maksudnya?” Adnan menempelkan telinganya pada dinding. “Adara, jawab aku. Apa yang mereka lakukan padamu?”


Gadis itu masih membisu. Membuat pemuda yang berada di ruangan sebelahnya mendadak diliputi kekhawatiran yang beranak-pinak. Sebuah suara yang berasal dari gadis itu kembali terdengar. Lebih seperti gadis itu sedang menyedot ingus yang tiba-tiba saja keluar dari hidungnya.


“Kau baik-baik saja?” tanya Adnan lagi.


Tidak ada jawaban.


***