AST

AST
PHASE 12




 


Pagi-pagi sekali, Adara keluar kamar dan berkeliling spot. Ia sengaja meninggalkan Jun yang masih terlelap karena tidak ingin membangunkan gadis kecil itu. Area luas itu sudah seperti rumah baginya setelah tinggal di sana beberapa hari.


Pandangannya menyapu keseluruhan sisi spot. Ada banyak orang tengah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Sementara, sebagian yang lain sibuk mengerjakan sesuatu yang menarik perhatiannya. Seorang pemuda yang ia kenal bahkan justru menarik langkahnya menuju ke sebuah bangunan besar.


Manik matanya yang cerah itu memandang dengan saksama bangunan yang tampak tidak asing baginya. Sosok


seseorang sempat terbesit dalam ingatan. Ia mendesah sejenak, sebelum sepersekian detik kemudian melangkah memasuki bangunan besar tersebut.


“Jo?”


Adara mendekati seseorang yang tengah bercengkerama dengan seorang teknisi di bangunan itu.


“Kau ... teman Jo? Yang diselamatkan oleh Letnan Jason?” tanya pria teknisi yang tadinya mengobrol bersama Jo.


Pemuda di dekatnya turut melayangkan pandangan ke arah gadis yang baru saja datang itu.


“Masih pagi dan kau sudah bangun?” tanya Jo.


Adara tersenyum kuda. “Apa aku terlalu pagi menyergap pekerjaan kalian?” tanyanya balik.


“Tidak juga,” jawab sang teknisi seraya mengulurkan satu tangannya pada Adara. “Aku Sam, ketua teknisi di spot


ini,” katanya mengenalkan diri.


Gadis berkucir itu membalas jabat tangan Sam. “Aku Adara,” ucapnya.


Sam bergeming sejenak, memandang lekat gadis di hadapannya itu. “Ah, aku seperti mengingat seseorang saat


melihat wajahmu,” katanya kemudian.


Alis Adara naik sekejap, dengan mimik wajahnya yang sedikit penasaran itu.


“Maafkan aku,” ucap Sam.


Adara mengangguk menimpali. Sementara, bola matanya kembali memandang beberapa benda raksasa tengah


berjejer rapi di dalam bangunan besar yang ia masuki beberapa detik yang lalu. Robot humanoid raksasa berwarna abu-abu itu tampak kokoh berdiri dengan rupa yang benar-benar menarik perhatian setiap mata yang melihatnya.


“Clibanarii,” gumam Adara.


“Kau ... sudah tahu robot ini?” tanya Jo dan Sam bersamaan.


Gadis itu menatap kedua pria di depannya dan mengangguk. “Aku pernah mempelajari teknik kontrolnya. Hanya


sebentar sih, karena aku tak terlalu tertarik dengan mereka,” ulasnya.


“Aku tidak percaya ada Clibanarii disimpan di spot ini,” imbuh gadis itu.


“Tapi, apa kau bisa mengontrolnya?” tanya Jo penasaran.


“Hm?” Adara mengernyit ke arah Jo. “Memangnya kau tak bisa?”


Pemuda itu menggeleng. “Aku hanya bersekolah di sekolah umum saja,” jawabnya.


Gadis itu mengangguk mafhum. “Lalu, kenapa kau di sini? Kau ingin belajar mengontrolnya?” tanyanya kemudian.


Jo turut mengangguk mantap. “Sam yang akan mengajariku,” katanya, “kupikir ini lebih baik daripada aku harus


menunggu di kamar atau berkeliling spot dengan tujuan yang tidak jelas.”


“Kupikir, kau belajar mengontrol Clibanarii hanya karena ingin mengontrol Paladin, ‘kan?” selisik Sam setengah


bercanda sembari memicingkan matanya pada Jo.


Sementara, Adara lantas terdiam kala mendengar sebuah nama yang baru saja disebutkan oleh pria itu. Ingatannya


melanglang buana pada sosok di masa lalu gadis itu sejenak.


“Paladin,” lirihnya.


Sam memalingkan tatapannya pada Adara. “Ada apa? Kau pernah mendengarnya, ‘kan? Di materi sekolahmu pasti ada, ‘kan?” tanyanya.


“Ah, itu ....” Adara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha untuk menutupi rahasia dalam dirinya.


“Iya,” jawab gadis itu ragu. “Paladin, Clibanarii yang telah menyelamatkan aliansi timur dari kehancuran, ‘kan?”


Sam menggangguk dalam senyuman. Tangannya menepuk puncak kepala Jo seketika. “Bocah ini ingin mengontrolnya!” ledeknya hingga membuat pemuda di dekatnya itu merengut.


“Aku bukan bocah, Sam!” ketusnya sembari menghempaskan tangan Sam yang mendarat di puncak kepalanya itu.


Sam terkikik sejenak. “Yah, setidaknya kau mau belajar mengontrol Clibanarii biasa, Jo,” ucapnya, “kau bisa


membantu Paladin jika kau hanya bisa mengontrol Clibanarii ini.”


Jo menatap pria itu dengan cermat. Sementara, Adara melihat tingkah kedua pria di depannya itu dengan tatapan


penuh arti. Selang beberapa saat kemudian, ia memilih untuk keluar dari bangunan besar itu demi mencari udara segar. Namun, seseorang menghentikan langkahnya.


“Kau sudah melihat Clibanarii?” tanya pria bersurai berantakan itu.


“Letnan Jason.” Adara melirih.


“Sudah kubilang, ‘kan, panggil aku Jason saja,” ucap Jason kesal, “kau dan Jo sama saja. Cih!”


“Maaf,” lirih gadis itu lagi.


“Bagaimana? Aku yakin di sekolahmu pasti diajarkan cara mengontrol Clibanarii. Kau sudah mencobanya?” tanya Jason kemudian.


“Aku ... tak bisa,” jawab Adara melirih.


Jason menelan liur, sejenak membasahi kerongkongannya yang tercekat. “Karena ayahmu?” tanyanya asal. Ia tahu benar perasaan gadis itu kini.


Adara bergeming.


“Sudah kuduga,” ucap pria bersurai hitam itu seraya mendesah panjang. “Lalu, bagaimana dengan Paladin nantinya?” tanyanya kemudian, “pusat pasti sudah menentukan pengontrolnya yang selanjutnya. Apa kau bersedia mengontrolnya dengan keadaan begini?”


Adara mendesah kasar, lalu memandang lurus ke arah pria di hadapannya. “Apa aku terlalu pengecut untuk


menjadi pengontrolnya?” Ia balik bertanya. “Kehilangan Nancy dan terjebak di sekolah selama beberapa waktu pun aku tak menangis. Apa aku masih dianggap pengecut?”


Jason terdiam dan berpikir sejenak. Ia menggaruk dagunya dengan santai. “Kau masih labil,” jawabnya enteng. “Lagipula, kita juga belum tahu, ‘kan, untuk siapa Paladin akan dikontrol? Jadi, menurutku kau bisa menenangkan diri di sini. Masih banyak waktu untuk kita menyusun strategi sampai pusat mengonfirmasi pesanku.”


“Strategi?” Adara memicing pada Jason.


Pria itu mengangguk. “Beberapa waktu lalu aku melihat tiga pesawat milik pusat bermanuver sangat rendah. Aku


tidak tahu untuk apa mereka terbang. Tapi yang jelas, dengan dioperasikannya pesawat itu, maka bisa disimpulkan kalau ... kita akan benar-benar bertarung dengan aliansi busuk itu nantinya,” tuturnya.


Adara bergeming, mengunci mulut selama beberapa detik. “Dengan aliansi barat, ya?” gumamnya tampak berpikir.


“Kita tak punya waktu untuk berpikir, Adara,” balas Jason seraya berbalik. “Biarkan Jo mempelajari Clibanarii itu sementara kita menyusun strategi.”


“Tunggu!” seru gadis itu. “Kau akan mengirim Jo jika waktunya telah tiba?” tanyanya ragu.


Jason beralih memandang Adara sejenak. “Semua orang akan bertarung jika waktunya telah tiba, Adara,” katanya


menimpali.


“Dan juga ... aku bahagia bisa bertemu dengan putri rekanku di tempat ini,” desis pria itu seraya berlalu meninggalkan Adara seorang diri.


***


“Dokter Kei, aku butuh obat.” Jason berjalan mendekati pria berpakaian dokter itu, lalu duduk di ranjang di dekatnya.


“Obat lagi?!” tanya Kei sedikit kesal. “Perang hampir berkecamuk dan kau malah memintaku untuk memberimu obat


terus-menerus!”


Jason bergeming. Sorot matanya yang kosong memandang lurus ke arah Kei.


“Kenapa?” selisik dokter muda itu.


“Yusagi Richard membuatku harus bertanggung jawab kali ini,” kata Jason setengah menunduk.


Kei mengerutkan keningnya, memandang serius pada pria berambut berantakan itu.


“Yusagi Adara ... adalah putrinya,” ucap Jason lagi.


“Gadis yang kau temukan beberapa waktu lalu?” tanya Kei menyelisik.


Jason mengangguk. “Richard benar-benar membuatku harus mengulang tragedi lama,” katanya. Ia semakin


tertunduk, dengan salah satu tangan memegangi kepala. “Aku tidak ingin perang ini terjadi sampai harus menerjunkan Paladin kembali ....”


Kei memandangi pria itu seraya berpikir. “Ketakutan atas dasar trauma masa lalu masih saja menguasai dirimu,


Jason,” katanya, “tapi perang tetap akan terjadi karena aliansi barat telah memutuskannya beberapa waktu lalu. Cosmo yang menjadi torus perdamaian pun tak bisa mengelak. Terlebih lagi, kesempatan kita untuk pergi dari spot ini menuju pusat beresiko sangat besar karena seluruh wilayah kemungkinan telah dikuasai oleh aliansi barat.”


“Jika kita menerjunkan Clibanarii untuk mengungsi ke pusat, rasanya tidak mungkin,” ucap Jason melirih.


“Kita harus bisa meminimalisir penggunaan Clibanarii, Jason,” timpal Kei. “Clibanarii hanya digunakan jika perang benar-benar sudah berkecamuk—”


“Apa menurutmu sekarang bukan perang, huh?!” sergah Jason seketika, hampir berjingkat dari ranjang yang ia duduki.


Dokter muda itu tersentak.


“Aliansi barat semakin memperburuk keadaan setelah bencana besar itu terjadi. Mereka menyerang seluruh spot lemah dan membunuh seluruh penduduk. Apa kau pikir ini masih belum perang?!” Jason kembali menyergah, sejenak sebelum kembali tertunduk memegangi tulang tengkoraknya. “Saat itu pun aku dan yang lain mencoba menghalau mereka. Tapi, hanya akulah yang tersisa. Padahal aku berlari untuk menyerang balik ke arah mereka akhirnya mereka malah menyerang kubu bertahan dan menghancurkannya. Dan aku kembali ke spot ini seorang diri. Sementara rekan-rekanku telah hancur lebur. Kau bilang ini belum perang, huh?!”


“Operasi militer lima tahun lalu pun sama saja. Semua hancur lebur. Tak ada yang diselamatkan, tak ada yang


berhasil dikuasai. Hanya aku pula yang selamat. Semua prajurit mati sia-sia. Clibanarii ... dan juga Paladin, semuanya hancur dalam sekali ledakan. Rekan-rekanku semua mati. Bahkan Richard pun ... mati ....” Jason tertunduk, merintih dalam kekalutannya sampai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


“Semuanya mati. Hanya aku ... hanya aku yang tersisa.”


Kei menelan liur sejenak, membasahi kerongkongannya yang mengering seketika.


“Jika kau tak ingin semuanya terulang, kali ini buatlah sesuatu yang berbeda,” ucap Kei seraya bangkit dari


kursinya dan kembali memandang Jason. “Seseorang bisa saja mengulangi kesalahan yang sama, Jason. Aku tak bisa sepenuhnya mengatakan jika kematian mereka karena kesalahanmu. Tidak. Namun, jika memang semua benar kesalahanmu, kau bisa merubah keadaan dengan mengubah kesalahanmu menjadi sebuah pelajaran. Kesalahan adalah pemantik dari sebuah proses menuju ke arah yang lebih baik. Aku yakin, kau bisa melalui semua ini.”


Kei menepuk mantap pundak Jason, mengalirkan sugesti positif pada pria tersebut. Sementara, Jason kini


mengangkat pandangan. Lurus. Ia mencoba merangkul kesadarannya kembali.


“Aku ....”


***


 


Seorang pemuda terlihat sedang berjalan di sebuah koridor panjang bertepi kaca tebal hingga menampakan


pemandangan di luar gedung. Manik matanya memandang cermat setiap jengkal aktivitas manusia yang tengah sibuk di luar sana. Sebagian prajurit sedang mengangkut beberapa peti ke beberapa kendaraan besi. Sementara yang lain seperti mempersiapkan sesuatu yang akan terjadi beberapa waktu ke depan.


Adnan Harris—pemuda itu—kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda beberapa detik. Kini, netra


terangnya itu tertuju pada seorang pemuda bersurai cokelat yang berjalan ke arahnya.


“Erick!” panggilnya.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Erick, pemuda bersurai cokelat itu.


“Aku baik-baik saja,” jawab Adnan canggung.


Sudah beberapa hari sejak dirinya dirawat sepulang dari tugas konyol itu, mereka tidak bertemu. Adnan hanya


merasa bahwa Erick sedikit berbeda. Pemuda itu tidak seperti biasanya yang selalu peduli pada dirinya, bahkan di saat ia tidak menghiraukan siapa pun. Kali ini, Adnan memandangi tubuh Erick dengan teliti. Matanya menyelisik setiap jengkal rupa pemuda yang kini menatap kikuk ke arahnya.


“A—apa yang kau lakukan?” tanya Erick sembari memandangi dirinya sendiri.


“Dengan seragam itu, kau mau ke mana?” Adnan balik bertanya dengan tatapan seriusnya.


Erick tersentak. Bibirnya terkatup rapat sejenak. “Ah, anu ... apa kau lupa kalau hari ini ...  Komandan kembali meminta kita untuk bertugas?” tanyanya, memastikan Adnan tidak lupa dengan tugasnya sendiri.


“Apa?” Pemuda itu kembali bertanya balik sembari menggaruk telinganya yang tidak gatal. “Kita kembali ke Cosmo, ‘kan?”


Erick mengangkat kedua alisnya setengah terkejut. Sempurna. Pemuda itu seperti ingin mengetes dirinya sekarang.


“Pesan dari Cosmo,” katanya kemudian, “kau tahu kalau aliansi kita berhasil menguasai torus perdamaian itu. Tapi beberapa waktu lalu, seseorang mengirim sebuah surat kaleng berisi ancaman ke sana.”


Adnan menautkan dahinya seketika.


“Masih diduga kalau pengirimnya adalah orang aliansi timur yang menyusup ke Cosmo.” Erick melirik pemuda di


hadapannya. “Tapi itu pasti bukanlah dirimu, karena sudah jelas bahwa kau berada di pangkalan ini.”


“Lalu, apa masalahnya?” tanya Adnan, membentuk mimik muka bodoh.


Embusan napas kasar menerobos dari lubang hidung Erick sejenak. Sementara, matanya memandang kesibukan di luar gedung tersebut. “Pihak Cosmo mengirim surat kaleng itu kepada Komandan, karena dia yang menjadi penghubung antara aliansi barat yang berada di Bumi dengan yang ada di Cosmo. Yang jadi masalah di sini adalah ...,” ujarnya seraya beralih memandang lurus kepada Adnan, “... dendam Ayah terhadap operasi militer lima tahun lalu masih berkecamuk. Dan ia menugaskan kita sekarang untuk memburu orang-orang aliansi timur, dan membawa mereka kemari.”


Adnan tersentak. Bola matanya melebar sekian detik dalam keterpakuan yang seketika membelenggu pergerakannya. Ia menggeleng, membuka mulutnya, dan terkekeh geli.


“Kau ... gila!” ceplosnya enteng. “Apa kau pikir ada manusia di tanah tandus itu, huh?! Tidak ada, Erick!”


“Kita tidak memburu di daratan, Adnan,” sela Erick, masih tampak serius. “Kita mengudara sekarang.”


Lagi-lagi pemuda bersurai hitam itu mendadak bergeming, menahan emosinya yang telah terpancing.


“Mengudara, katamu?” tanyanya masih tampak bodoh.


Erick mengangguk.


“Aku telah melapor pada Komandan mengenai pesawat milik aliansi timur yang menyerangku saat menolongmu waktu itu,” katanya, “untuk itulah kita ditugaskan sekarang. Kita akan memburu burung besi milik musuh.”


Liur Adnan tertelan sempurna. Beruntung tidak menyangkut pada ruang kerongkongannya yang tercekat.


“Kau bercanda, ‘kan, Erick?” selisiknya masih tidak percaya. “Musuh kau bilang?”


Pemuda bersurai cokelat itu memandang tajam pada Adnan yang turut menatapnya. Hatinya menahan gejolak emosi yang benar-benar tidak ia duga sebelumnya. Degup jantung kian memburu, berusaha menggertak emosi bersamaan dengan napasnya yang kini beritme tidak teratur.


“Bersiaplah!” titahnya seraya melangkahkan tungkainya hingga melewati pemuda itu. “Pesawatmu sudah disiapkan,


Tuan muda Harris.”


Erick berlalu meninggalkan Adnan yang masih terpaku di posisinya. Pemuda itu tidak mempercayai perkataan Erick


yang amat berbeda dari biasanya. Erick yang dikenalnya, adalah pemuda yang mempercayai perkataannya dan hanya ingin hidup dalam kedamaian. Pemuda bersurai cokelat itu tidak pernah menginginkan perang, sekali pun ia harus membela aliansinya. Atau lebih tepatnya, ia membenci aliansinya sendiri. Namun, kali ini berbeda.


Adnan sama sekali tidak menemukan Frederick Add di hadapannya tadi.


***